
Rangga mulai mengambil satu per satu lauk dan menaruhnya ke piring. Akibat salah tingkah nya kuah gulai ikan terciprat sedikit ke wajahnya hampir mengenai mata.
"Hais!" batin kesalnya langsung mengusap cepat dengan tisu. Namun Miranda tetap fokus kepada piringnya.
Keduanya makan malam bersama dalam suasana yang membisu.
"Kenapa makannya sedikit!" tegur Pria itu dalam nada lembut dan wajah yang manis sebagai memecah keheningan mereka.
"Tadi di pesawat sudah makan!"
"Ouh!"
Rangga mulai makan dengan kaku, ia sedikit grogi dan perutnya tiba-tiba terasa kenyang. Sesekali dua bola matanya mencuri-curi ke arah wajah Miranda yang bersikap dingin.
Makanan Miranda terlihat sudah hampir habis.
"Kenapa dia makannya cepat sekali!" batin Rangga yang masih dua suapan.
"Em, terima kasih. Kamu sudah berkenan kembali lagi ke rumah ini, soal kemarin, aku minta maaf atas semua tuduhan dan perkataan kasar ku kepada mu!"
"Iyah Tuan, tidak apa-apa, semua sudah berlalu tidak perlu di bahas lagi!" jawab Mira dalam senyum yang dipaksakan.
"Aku baru sadar, ternyata Olivia sangat membutuhkan kamu?"
"Mira juga senang, bisa di percaya lagi untuk mengurus Olivia?" Jawab singkatnya, dua bola mata Rangga yang tidak pernah lepas memandang wajah manis mantan istrinya itu. ia terlihat seperti Bucin yang tidak berdaya.
"Apa kau masih marah dengan ku?"
"Tidak!" Miranda menggeleng.
Suasana meja makan kembali hening.
"Bagaimana, jika aku bertanya tentang hubungannya dengan Vino? Arkh, tapi ini terlalu cepat!" Batin Rangga.
"Emm, Bagaimana dengan kuliah kamu?"
"Sudah mulai menyusun skripsi Tuan?"
"Panggil Mas saja Mir! Jangan Tuan?" pinta Rangga membuat wanita itu hanya diam saja. Ia ingin bangkit namun Rangga terus melontarkan pertanyaan.
"Kirimkan saja judulnya skripsi mu kepada ku, aku akan membantu mu sampai selesai?"
"Tapi, Mas Vino sudah membantu Mira, Mas!"
"Ahahahahaha!" Reflek Rangga langsung tertawa.
"Kamu tau tidak? Vino itu tidak akan wisuda jika bukan aku yang membuat skripsinya, bahkan dia hampir saja di drop out oleh Universitas sebagai Mahasiswa yang sudah karatan. Heh😏 yang benar saja kamu harus belajar menyusun skripsi dengannya," jawab sombong Rangga yang merasa cemburu saat Miranda lebih memilih Vino.
"Vino lagi...Vino lagi, apa secepat itu kah ia jatuh cinta kepada laki-laki playboy itu, aku tidak boleh kalah!" batin Rangga😡.
"Tidak apa-apa Mas, Mira sendiri juga bisa kok!"
"Aku hanya takut kamu tidak bisa fokus mengurus Olivia, karena membuat skripsi itu tidak lah mudah, butuh waktu yang banyak dan juga fokus!" Bantah Rangga.
"Insya Allah, Mira tidak akan mengabaikan Olivia?"
"Pakaian kamu semua ada di kamar ku, belum sempat memindahkannya, untuk sementara ganti pakaian saja di kamar ku!"
"Dasar si otak mesum, apa ia masih menganggap aku ini istrinya!" batin kesal Mira ingin mencekik Rangga😡
"Iyah Mas!" jawabnya singkat, Miranda tidak ingin berdebat lama denga Rangga meski hatinya terlihat kesal.
Saat Rangga mulai diam, Miranda hendak berdiri mengangkat piringnya.
"Ini?" Rangga menyodorkan kartu debit Gold kepada Miranda.
"Pakai itu jika kamu ingin belanja!"
"Tidak usah Mas!" Miranda kembali menyodorkannya kepada Rangga.
"Apa masih kurang?" Rangga ingin mengeluarkan kartu tambahan lain.
"Bukan Mas, akan banyak nanti yang salah paham jika aku menerima ini. Kehadiran ku disini hanyalah sebagai pengganti Babysitter, cukup gaji saja Miranda per/ bulan sama seperti Kiandra."
"Mira permisi dulu Mas!" Jawabnya bergegas bangkit tidak ingin berlama-lama di hadapan Rangga, ia melangkah cepat ke arah dapur lalu kembali menuju kamar Olivia.
"Yayayaya.. belum selesai bicara ia sudah pergi!" kata Rangga dalam wajah melompong😳
"Aku harus segera sadap ponsel Mira, mau tau apa saja yang mereka bicarakan (Miranda dan Vino) bicarakan!" ucap Rangga dengan kesal.
***
Malam itu Rangga terlihat di rumah saja berbincang-bincang santai di area teras taman belakang bersama kedua orang tuanya. Sambil menghirup udara malam yang segar. Rangga khusus memberikan disain terbaik untuk rumahnya agar senyaman mungkin ditinggali oleh keluarganya.
"Selagi Ibu dan Bapak di Jakarta, Rangga ingin buat syukuran sekaligus memperkenalkan Olivia kepada rekan bisnis ibunya, semua hak waris Tasya sudah resmi di limpahkan kepada Olivia!"
"Ouh, yah! baguslah jika begitu Nak!" sambut Kasiman.
"Kamu mau buat acaranya di rumah ini?" Tanya Rianti.
"Tidak Bu, Rangga akan mengadakannya di Ballroom Hotel!"
"Ouh!"
"Karena akan banyak rekan-rekan bisnis keluarga Tasya yang akan menghadirinya!"
"Ouh begitu!"
Rangga memerintahkan Iroh agar memanggil Miranda untuk membicarakan acara penting itu.
"Maaf Tuan, Tuan Putri sudah tidur dan Nona Miranda sedang sibuk dengan kuliahnya?"
"Yah sudah, jangan di ganggu!" sambut Rianti.
Rianti dan Kasiman sedikit pun tidak membahas masalah hubungan Rangga dan Miranda.
"Bapak berharap besar kepada kamu, agar lebih dewasa menghadapi kehidupan rumah tangga setelah menemukan istri yang baru!"
"Iyah Pak!"
Mulut Rangga seolah-olah terkunci mati padahal ia ingin sekali bertanya? Layak kah jika ia menikah resmi kembali dengan Miranda untuk membangun keluarganya yang baru bersama Olivia.
*
"Ibuuuu, Ayaaaaah?" teriak Intan baru saja sampai di rumah adiknya itu dan langsung memeluk kedua orangtuanya. Ia datang membawa kedua anak dan suaminya.
"Kamu baru datang setelah ibu dan Bapakmu sudah lama sampai disini!" tegur Kasiman
"Maaf Pak! Hayo salam Kakek dan Nenek!" perintah Intan kepada anak-anaknya.
keluarga kecil itu pun berkumpul dengan riang.
Namun Rangga tampak murung dan tidak bersemangat dengan perlakuan Miranda yang tidak respon kepadanya sore tadi.
"Intan, Miranda sudah kembali ke sini untuk mengasuh Olivia, tolong jaga sikap kamu kepada-nya?"
"Iyah Pak!"
("Jadi Perempuan itu sudah balik kerumah ini lagi, selama di desa dia langsung mengadu kepada Bapak, huh, dasar bocah. Tapi baguslah aku jadi tidak repot mengurus bayi, lagian mana bisa dia lepas dari Rangga yang sudah menjadi konglomerat, ini momen yang pas menunjukkan foto calon istri Rangga kepada Ibu" batin Intan)
Disaat perbincangan hangat keluarga itu mulai rame Intan mulai buka suara dengan lantang.
"Bu, Pak coba lihat, ini adalah daftar-daftar calon menantu hebat kalian setelah Tasya."
Intan mulai sibuk menggeser layar tablet canggihnya agar Rianti dan Kasiman bisa melihat para calon pengganti Tasya.
Rangga mulai melirik dengan mata tajamnya.
"Cantik-cantik loh Buk, kaya, pintar, punya usaha dimana-mana!" ucap Intan dalam logat bahasa jawanya.
Rianti dan Kasiman hanya bisa melihatnya dengan keluguan wajah mereka.
Rangga bangkit dan merebut tablet Intan dari tangan kakaknya itu, lalu menghempaskannya di atas meja.
"Jangan pernah menjodoh-jodohkan aku dengan wanita manapun, aku tau siapa yang akan aku nikahi!" ucap marah Rangga dengan wajah memerah lalu pergi meninggalkan forum bincang keluarganya itu, kemudian berjalan cepat menuju kamarnya.
Sontak yang lain merasa terkejut sampai terdiam.
***
"Tlililit" Ponsel Miranda berdering-dering panggilan dari Vino Febian.