MIRANDA

MIRANDA
Bab 47-MRD



"Iyah benar, saya Babysitter Olivia, maaf mengganggu kalian!" jawab cepat Miranda dengan senyum lebarnya, lalu pergi meninggalkan mereka.


"Ouh!" ucap Tiara.


Mendengar ucapan Miranda, Rangga terheran-heran.


"Sekarang kamu pulang?" Bentak Rangga menarik tangan Tiara.


"Enggak mau!" Rengek manja Tiara.


"Tiara, kamu jangan pernah mengaku-ngaku kalau aku ini calon suami kamu!" tunjuk Rangga dengan wajah sangat marah.


"Kenapa? Memangnya salah! Tasya kan sudah meninggal, wajar dong kalau aku deketin kamu sayang! Kalau kamu keberatan aku akan bilang pada Papa, putuskan kerja sama perusahaan kamu yang baru bernama RM Group!"


"Terserah! Bawa dia keluar!" Jawab Rangga tegas memerintah petugas keamanan lalu masuk kembali ke ruang kerjanya.


"Rangga!" Jerit Tiara.


"Ayo keluar!" paksa para petugas.


"Ih, lepasin, aku bisa pulang sendiri!"


Para petugas tetap memaksa Tiara keluar dari rumah Rangga.


Miranda masuk ke kamar Olivia.


"Nona! Olivia sudah bangun!" ucap Kiandra Asisten Miranda dalam mengasuh Olivia.


"I..Iyah!" Ibu pengganti Olivia itu langsung sigap mengangkat anaknya dalam keranjang bayi, suara tangisan Olivia yang begitu kuat tetapi menggemaskan.


Miranda menimang Olivia dengan penuh kasih sayang.


"Saiyaaang, sepertinya dia haus. Kia! Tolong buatkan susu yah!"


"Baik Nona!"


Terlihat Rangga memantau Miranda dari kamera saat menimang Olivia. Kamera khususnya yang di letakkan di dalam kamar dan ruang kerjanya, tersambung juga ke ponsel pribadi Rangga, untuk memantau sistem kerja Babysitter.


"Apa dia benar-benar tidak cemburu? Ia juga mengatakan tidak mencintai ku, tapi mengapa hati kecilku mengatakan tidak, dari cara ia memeluk dan mencium ku saja, aku bisa merasakan jika ia mencintai ku!" sambil memegangi dahinya Rangga mulai tidak konsen dengan pekerjaan.


"Aku masih belum siap menikahinya secara sah. Hati ini masih teras sakit dan merasa takut jika kisah kemarin akan terulang lagi. Miranda, aku ingin sekali ada perasaan menyesal di dalam dirimu karena telah membuang ku dulu, sekaligus ingin mengajarkan kepada kamu, tidak semudah itu untuk kembali lagi kepadaku, karena saat ini banyak wanita yang lebih baik dari diri kamu antri minta di nikahi."


Rangga yang masih tetap kukuh dengan gengsi rasa sakit hatinya meski ia mencintai Miranda tapi ia tidak ingin mengemis cinta kembali dengan wanita yang pernah meninggalkan dirinya itu.


Sejak menjadi kaya dan di tinggal Miranda, Rangga banyak dikejar-kejar wanita dan ia pun senang memberikan harapan palsu kepada para wanita sebagai hiburan dirinya meski sudah menikah dengan Tasya.


"Karena Miranda perasaanku menjadi hampa kepada Wanita!"


"Entahlah, tapi nyatanya aku tidak bisa berpaling seutuhnya dari wanita itu!" Rangga menyandarkan diri di kursi kerjanya yang empuk.


***


"Tlilit!" (Rangga Menelpon petugas yang mengawal rumahnya)


"Siap Bos!"


"Pastikan tidak ada lagi wanita-wanita yang datang ke rumah ini, aku tidak ingin kehidupan pribadi ku terganggu, jika kalian tidak bisa menjalankan tugas, segera tinggalkan pekerjaan ini?"


"Siap Bos! Perintah di jalankan!"


***


Terlihat Bayi Olivia mulai tertidur kembali dalam gendongan dan nyanyian kecil Miranda setelah diberi susu.


"Bahagianya aku bisa memiliki anak secantik ini, wajahnya mirip dengan kak Tasya, syukurlah, jangan sampai mirip dengan si kecoa gosong, bisa-bisa tingkahnya jadi amburadul, cukup kecerdasannya saya yang di ambil yah nak!" senyum Miranda.


"Aku baru mengerti, mengapa kak Tasya memisahkan diri dari rumah pribadi Rangga, ternyata ia tidak nyaman dengan para perempuan-perempuan Rangga yang sering datang dan pasti ia cemburu, dasar para plakor, tidak ada rasa sungkannya sedikit pun menggoda suami orang dan si kecoa gosong itu selalu menggemaskan, tidak bisa tegas dengan statusnya!"


"Tapi aku tidak ingin bersedih memikirkan kaum laki-laki, lebih baik selalu ceria sambil mempercantik diri, meskipun aku gadis desa dan tidak punya kelas, tapi aku yakin aku lebih baik dari mereka!" Batin Miranda.


"Kiandra!"


"Saya Nona!"


"Hari ini saya ada jadwal kuliah! Tolong kamu perhatikan keperluan Olivia yang sudah saya susun yah!"


"Baik Nona!"


"Di dalam buku agenda ini saya sudah menuliskan, pukul berapa kamu wajib memberikan ia susu dan tepat jam 5 sore Olivia harus sudah bersih mandi dengan air hangat" perintah Miranda.


"Baik Nona!"


"Tlilit!" Tiba-tiba bunyi pesan WhatsApp di ponsel Miranda.


Sebuah pemberitahuan baru di grup


"Mohon Maaf Jadwal kuliah khusus kelas X terpaksa di undur besok hari pukul 11.00 wib karena Dosen pembimbing sedang berhalangan hadir!"


"Hem, syukurlah, hari ini aku lelah sekali!" batin Miranda.


Rangga bangkit lalu keluar dari ruang kerjanya.


Langkah kakinya berhenti di depan kamar Olivia yang persis berada di kamarnya.


"Dia lagi ngapain yah? Hari ini malas banget ke kantor, ingin bersantai di rumah!" batin Rangga, merasa tidak percaya jika Miranda sudah tinggal bersamanya.


"Kiandra!"


"Iyah Nona, saya tidak jadi pergi, ternyata jadwal kuliahnya di undur besok siang!"


"Baguslah Non, Olivia baru saja tiba di rumah, kasihan jika langsung di tinggal!"


"Tlek!"


"Nona, Tuan Rangga masuk!" bisik Kiandra.


"Apa kasurnya sudah tersedia?" tanya Rangga.


"Sudah Tuan, baru saja Ibu Iroh mempersiapkannya!" jawab Kiandra.


Pandangan Rangga langsung tertuju kepada Miranda, lalu menarik keluar wanita itu tanpa kata. Ia juga mengambil sidik jari Miranda sebagai password membuka kamarnya.


Saat pintu kamar terbuka.


"Ganti pakaian mu, mulai hari ini kau bisa bebas masuk ke kamar ku?" ucap Rangga.


Miranda hanya diam saja. Perlahan langkahnya masuk menuju ruang pakaian sambil memilih pakaian rumah yang sangat cocok untuknya.


"Ok Baiklah, aku bisa lebih cantik dari seorang plakor?" batinnya.


Mulai merapikan rambut dan merias wajahnya.


"Meski tidak di akui sebagai istri dan pada akhirnya Rangga tidak memilih ku, aku akan mencoba menjadi istri yang baik untuknya, seperti yang di ucapkan Ibu Rianti, sampai waktu ku menjadi istri sementara itu selesai, sekaligus menjalankan amanah kak Tasya sebagai balas budi untuknya?" batin Miranda memandangi wajah manisnya di depan cermin.


Sejenak Miranda terbayang dengan ucapan kesedihan Tasya saat menyisir rambutnya yang sudah berguguran;


"Pada dasarnya tidak ada wanita yang ingin di madu Miranda! Namun Poligami ini adalah pilihan terbaik, meski aku sangat cemburu, aku merasakan sakit hati, tapi aku harus berkorban demi cintaku kepada Rangga dan Olivia.


Di luar sana banyak sekali wanita-wanita yang menginginkan kekayaan dan ketampanan Rangga. Aku yakin, ia tidak mudah tergoda seperti Rusdy, tetapi yang namanya lelaki, tidak bisa dipastikan bisa bertahan dengan godaan seorang wanita. Biarlah aku saja yang merasakan seperti apa sedihnya memiliki ibu pengganti yang tidak pernah perduli dengan anaknya dan sangat gila dengan harta. Aku tidak ingin Olivia melaluinya juga.


Miranda, jika kau ingin balas Budi kepadaku, menikahlah dengan Rangga, puaskan segala hasratnya di atas ranjang sebagai kewajiban kamu dan perhatikan juga kesehatannya. Rangga harus tetap hidup dan sehat, cukuplah Olivia nantinya kehilangan ibunya saja, jangan sampai ia juga merasakan kehilangan Ayah!"


Miranda hanya diam saja sambil mengepal tangannya.


"Tetapi dia sangat membenci ku kak, kenapa kakak begitu optimis!"


"Rangga itu memang mudah marah, tetapi dia baik hati!" jawab Tasya dengan tersenyum.


***


Ponsel Rangga berbunyi ketika ia sedang turun dari Tangga.


"Tlilit!"


"Vino!" gumam Rangga.


"Lagi dimana Bro!"


"Ada di rumah?"


"Oh Iyah, gua lupa jika Olivia hari ini sudah bisa pulang?" kata Vino.


"Apa ada kabar tentang Jane?"


"Dia lari ke Australia bersama mantan kekasihnya dulu bernama Gani castou yang juga seorang pengusaha minuman beralkohol, ia juga salah satu Mafia barang-barang ilegal dan sepertinya wanita itu minta perlindungan dengan lelaki itu dengan menawarkan kemolekan tubuhnya!"


"Apa kau takut mengejarnya?"


"Tidak juga!"


"Hanya saja, jika dia tidak mengganggu kita, tidak perlu mengusiknya lagi!"


"Iyah, benar juga, aku ingin fokus kepada Miranda...eh Maksud aku, Olivia?"


"Hahaha, fokus buat anak lagi, Bro!"


Rangga salah tingkah dengan garuk-garuk kecil kepalanya.


"Bebaskan saja Sania, aku rasa dia juga tidak salah, tapi berikan ancaman keras kepada perempuan itu!" pesan Rangga.


"Biarkan itu menjadi urusan ku!"


"Apa kau menyukainya?"


"Heh, Dia bukan tipe ku, tenang saja!" ucap santai Vino.


"Hahaha!"


"Hari ini aku tidak bisa melihat Olivia, karena Kakek dan Nenek datang dari Tokyo!"


"Tidak masalah!"


"Sampai detik ini belum ada kabar Rusdy?" tanya Vino.


"Aku rasa sebentar lagi pria itu akan gila, bagaimana tidak, sang istri kesayangan sedang mengobral tubuhnya dengan pria lain!"


"Iyah bisa jadi!"


"Sudah dulu yah Bro!"


"Ok!"


"Trup!"


Saat Rangga mematikan ponselnya, Miranda keluar dari kamar dengan penampilan yang menarik sebagai ibu dan istri yang teduh, berjalan dan mendapati Rangga lalu menyentuh lembut bahu sang suami?"


"Mas Rangga, mau makan malam di rumah atau di luar!"


Seketika itu Rangga sedikit terkejut lalu berbalik cepat memperhatikan Miranda dari atas sampai bawah.


"Jika seperti ini terus, tentu aku bisa betah di rumah saja?" batin Rangga.