MIRANDA

MIRANDA
Part 51-MRD



"Lepaskan!" Jane berusaha memberontak dan memaksakan tubuhnya untuk melihat si pelaku.


"Hei siapa kau?" hentak Jane.


"Jangan pernah mengganggu Miranda dan cucu ku Olivia jika kau masih ingin hidup!"


"Lepaskan aku Rusdy, tidak perlu kau mengurus surat perceraian kita, karena aku pun sudah bosan dan muak denganmu. Kau suami yang tidak bisa menyenangkan istri, kau juga sangat lemah di atas ranjang dan tidak punya uang yang banyak untuk bisa lebih dari mencukupi ku!"


"Diam kau perempuan murahan, aku menyesal telah mementingkan dirimu dari pada keluarga ku!"


"Hahahaha!" Jane masih sempat tertawa.


"Jadi lebih baik kau mati saja!" ucap Rusdy dalam bibir bergetar! Menguatkan tali mencekik kuat istrinya itu.


"Uhuk... uhuk..." Jane mulai terbatuk-batuk merasakan jeratan kuat Rusdy yang amat sakit di tenggorokannya, wanita itu terus melawan dan berusaha diam-diam mengambil pisau lipat kecil dari sakunya, lalu menusuk kuat area perut Rusdy sebelah kanan. Kekasih baru Jane, membekali ia pisau lipat untuk berjaga-jaga.


"Aaaaaark!" pria itu mengeluarkan suara kesakitan, mulai terlihat darah yang keluar akibat dari tusukan pisau silat yang sangat tajam sehingga Jane sangat mudah menolak tubuh Rusdy.


"Kau pikir, kau bisa membunuh ku, kau itu terlalu lemah!" ejeknya.


Pria itu terus memegangi perutnya yang terasa sakit.


Jane kembali menusuk kaki Rusdy.


"Aaaaaaark!" jerit pria itu.


"Dengar yah lelaki peot, aku bukan istri yang rela mengurus sisa hidup kamu yang sudah sakit-sakitan ini, kau sudah tidak berguna lagi, alangkah baiknya jika kau juga ikut mati menyusul keluarga mu di Neraka! Hahaha!" Tawa Jane memecah ruangan berjalan melenggang meninggalkan Rusdy.


Rusdy berusaha bangkit mengejar Jane, namun kondisi usianya yang sudah berusia lebih dari setengah abad, di tambah lagi dengan penyakit yang sering ia derita seperti asam urat, asam lambung, kolesterol, kesemutan, ejakulasi dini dan lain-lain, membuat ia tersungkur sendiri, jatuh menahan rasa sakit serta penyesalan diiringi linangan air matanya.


"Andai saja dulu aku lebih fokus kepada penyakit kedua putriku, Tasya dan Miranda. Mungkin mereka masih hidup saat ini, aku menyesal tidak pernah perduli dengan kesehatan mereka, membiarkan Tasya berjuang sendiri mengurus perusahaan ibunya, sungguh sebuah penyesalan yang tidak bisa lagi aku kembalikan...hiks...hiks... Lebih mementingkan setan dan membuang malaikat-malaikat kecilku," Rusdy berusaha merangkak meraih ponselnya.


"Vino, tolong Om!" pinta Rusdy dengan suara bergetar di dalam telpon lalu mengirimkan cepat titik lokasinya.


"Rusdy!" gumam Vino merasa terkejut, ia yang ingin berangkat ke kantor langsung memutar haluan dan bergerak menuju titik lokasi Rusdy.


***


"Sudah sampai!" ucap Rangga dengan lembut.


"Terima kasih Mas!" Miranda mulai membuka safety belt nya. Merasa kesulitan dengan sigap Rangga membukakannya.


"Pulang jam berapa?"


"Mira pulang sendiri saja Mas!"


"Aku bilang pulang jam berapa?" Tanya Rangga lebih tegas lagi.


"Em, jadwal kuliah hanya dua jam saja."


"Yah sudah, akan aku jemput!"


Miranda keluar dari mobil lalu Rangga dengan cepat mengemudikan mobilnya.


***


Rumah sakit


"Tolong jangan beritahu Rangga, aku tidak ingin mengganggu dirinya!"


"Apa yang terjadi Om!" tanya Vino.


"Saat aku ingin membunuh Jane, ia melakukan ini kepadaku?"


"Membunuh Jane?"


"Iyah, sepertinya ia ingin melukai Miranda dan cucu ku, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan lagi, aku ingin Olivia tetap hidup seperti mimpi Tasya, kelak malaikat kecil kami itu bisa memimpin perusahaan. Aku khawatir jika Olivia jatuh ke tangan Jane, ia akan memanfaatkan Olivia ketika sudah besar nanti juga memperbudak cucuku itu!"


"Jadi perempuan itu masih juga mengusik dan menginginkan harta?" batin Vino.


"Vino, om Mohon bantulah Rangga untuk melindungi Miranda dan Olivia?"


"Baiklah Om!"


"Terima kasih Vino! Terima kasih banyak!" ucap Rusdy dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iyah Om!_


***


Dua jam kemudian.


Miranda sudah keluar dari kelasnya.


"Baru hitungan jam, sudah Rindu berat dengan Olivia!" batinnya membereskan buku dan leptop di atas meja.


"Miranda!" panggil seorang Dosen.


"Saya Bu!"


"Nilai ujian kamu bagus, kamu bisa mengambil jadwal kuliah lebih maju lagi dan mulai sekarang sudah bisa mengajukan judul skripsi mu!"


"Terima kasih Bu!"


"Sama-sama!" sang Dosen pun melangkah pergi dengan membawa buku serta tablet kecilnya.


Wanita itu berjalan cepat keluar dari gedung kampus. lalu tiba-tiba langkahnya berhenti saat melihat mobil Rangga sudah terparkir di depan. Rangga tidak ke kantor, ia menunggu Miranda selama dua jam di halaman parkiran kampus sambil bekerja dari ponsel pintarnya.


"Apa dia tidak sibuk mengantar dan menjemput ku seperti ini!" batin Miranda.


Otomatis pintu kaca mobil Rangga terbuka habis.


"Naiklah!"


Dengan langkah gugup, Miranda masuk ke dalam mobil.


"Apa Mas tidak sibuk?"


"Yah sibuk-sibuk sedikit lah!"


"Miranda tidak ingin merepotkan Mas Rangga!"


Rangga mengambil buket bunga dari belakang bangkunya lalu memberikannya kepada Miranda.


Reflek wanita itu terkejut sampai matanya melotot.


"Selamat yah! Nilai ujian kamu bagus!"


"I...ini buat Mira Mas!"


"Em!"


"Artinya bunga ini bukan untuk para kekasihnya?"


"Pasti harganya mahal!"


"Enggak ah, paling juga 10 kg beras!" ucap ceplos Rangga.


Miranda tersenyum geli bercampur senang yang luar biasa, baru kali itu ia menerima buket bunga yang indah dan mahal dari seorang pria yang benar-benar ia harapkan.


"Coklatnya boleh Mira makan Mas!"


"Enggak!"


"Kenapa?"


"Cukup di lihat saja, pasti nanti kamu sudah kenyang sendiri!" jawab Rangga tersenyum geli.


"Apaan si Mas!"


"Prak!" akibat salah tingkah, Miranda memukul keras paha Rangga.


"Aw!" jerit pria itu kesakitan.


"Ouh! Maaf Mas!"


"Bukannya dapat ciuman malah pukulan keras" batin Rangga dengan wajah menahan pedasnya pukulan di area pahanya.


"Terima kasih yah Mas!" Miranda mencium cepat pipi Rangga.


"Wow...Ow...😍"


Keduanya tersenyum bahagia.


"Mas Mira ingin ke Babyshop, untuk beli mainan buat Olivia!"


"Bukannya di rumah sudah banyak mainan?"


"Hahaha!" Miranda tertawa.


"Kok! Malah ketawa?"


"Mas, kamu lucu banget sih, mainan perosotan, Barbie dan rumah-rumahan itu kan buat mainan anak satu tahun ke atas! itupun belum begitu mengerti" jawab Mira merasa lucu.


"Hehehehe, benar juga yah!" Rangga tertawa cengengesan.


Keduanya melangkah menuju Babyshop yang menjual lengkap perlengkapan Bayi.


Sambil memilah mainan Bayi yang lucu-lucu. keduanya sempat bertingkah kekanak-kanakan di dalam toko.


"Buaaah!" suara kejutan Rangga memakai topeng bayi lucu membuat Miranda terkejut lalu tertawa bahagia.


Rangga memakaikan topi imut lucu di kepala Miranda sambil tertawa cekikikan.


Miranda memukul kecil suaminya itu. Namun keduanya tetap merasa geli sampai mengabadikan momen kecil itu di dalam kamera ponsel pintar Rangga.


***


Vino berusaha menelpon Rangga, namun tidak di angkat.


"Huuft, dimana si kecoa gosong ini!" gerutunya dalam hati mencoba menelpon Lukas (Sekretaris Rangga)


"Maaf Pak, Pak Rangga sedang tidak ada di kantor kalau tidak salah ia pulang ingin mengantarkan Nona Miranda ke kampusnya!"


"Ouh begitu, baiklah!"


***


"Huuft, si kecoa gosong sedang mabuk cinta atau lagi demam janda! Sampai-sampai ia tidak tau jika mertuanya sedang sekarat?" keluh Vino.