MIRANDA

MIRANDA
Part 56-MRD



Pukul 09.00 wib malam hari, Miranda telah memastikan Olivia tidur dan tugas kuliahnya juga sudah selesai. Rumah megah Rangga terlihat senyap, sebagian pelayan sudah tertidur pulas.


Miranda duduk santai di teras balkon kamar Olivia sambil menunggu kepulangan Rangga, sejak kecil wanita itu tidak memiliki banyak pergaulan di luar. Jika tidak ada kegiatan yang mengharuskan ia untuk keluar. Miranda lebih suka berdiam diri di dalam rumah, sampai Rangga tidak begitu mengenali Miranda sejak remaja meskipun mereka satu kelurahan.


"Tliit"


Ponsel Miranda berbunyi, pesan dari sang suami, dengan cepat Miranda membukanya.


"Sayang! 15 menit lagi aku sampai di rumah, tiba-tiba tadi ada meeting, maaf! Aku jadi telat pulang!"


"Iyah tidak apa-apa, Mas!"


Rangga membalas emot ciuman.


😘😘 Kangen MI-OL😘😘


Miranda langsung membalas cepat.


😘😘Kangen cintaku Rangga Dewa😘😘


Jantung keduanya sama-sama berdetak lebih cepat dan tersenyum sendiri menatap layar ponsel masing-masing, Indahnya jatuh cinta berjuta rasanya.


Sangking gregetannya Miranda berlari ke cermin dan merapikan penampilannya yang sempat kusut akibat menggendong dan bermain dengan Olivia. Kembali memoles wajahnya dengan bedak dan pelembab bibir, menyemprotkan parfum khusus untuk tidur. Ia ingin tampil sempurna di hadapan suami dengan berputar-putar centil di depan cermin, memperhatikan penampilan yang kurang dari atas sampai-bawah, kanan-kiri, depan-belakang.


Wanita itu benar-benar sudah jatuh cinta, tiada hari tanpa tersenyum membayangkan wajah, tubuh kekar, sampai otong yang gagah milik Rangga.


Begitu mobil Rangga terdengar tiba di rumah, Jantung Miranda semakin kencang.


"Mengapa aku jadi gregetan lebai begini!" Batinnya tersipu malu.


Miranda keluar dari kamar dan berlari menyambut kedatangan Rangga. Mirip artis bollywood yang lagi kasmaran sampai ia sedikit tersandung.


"E-eh awas jatuh!" seru Rangga ingin mengejar.


"Enggak apa kok Mas!"


"Excited banget?"


Lagi-lagi Miranda tersipu malu dengan pipi merah jambu.


"Mas, kamu lelah yah!"


"Lumayan!" jawab Rangga menggandeng Miranda menuju kamarnya.


"Olivia sudah tidur?"


"Sudah Mas!"


sampai di depan kamar.


"Aku mandi dulu yah!"


"Bajunya Mira siapin yah? Tidak usah sayang! Aku bisa sendiri! Lihat saja Olivia nanti dia bangun!"


"Baiklah Mas!"


Tidak berapa lama kemudian.


Rangga masuk ke kamar Olivia, terlihat ia sudah mandi, bersih, harum, memakai piyama tidur.


"Mas!" Sapa Miranda langsung memeluk Rangga.


Pelukan yang langsung di terima oleh pria itu.


"Sory yah! Aku pulang telat!"


"Enggak apa-apa Mas yang penting kamu pulang!"


"Hahaha!" tawa Rangga.


"Tadi di ruangan aku, banyak wanita-wanita sexy di kantor!"


Miranda langsung cemberut.


"Hahahaha, becanda sayang, bagaimana aku bisa lari, hatiku sudah kamu penjara disini!"


"Hihihi!" Tawa romantis keduanya.


"Mas mau makan apa?"


"Ehm, apa saja deh yang penting kamu yang buat!"


"Ehm, masak apa yah?"


"Yah, sudah Mira lihat ke dapur dulu!"


"Eits," Dengan cepat Rangga menarik dan merangkul istrinya.


"Tidak usah repot-repot, aku hanya bercanda. Sudahlah, kamu juga lelah, Ayo sini aku punya kabar bagus untukmu!" Rangga menarik Miranda ke teras balkon.


"Kabar apa Mas!


"Besok, kita diundang makan malam di rumah Vino, kamu mau ikut kan!"


"Iyah, Olivia juga ikut?"


"Tentu! Mereka ingin melihatnya!"


"Baiklah!"


"Dulu saat pertama kali aku menginjak Jakarta, sebelum tinggal di asrama, aku sempat tinggal di rumah Vino, kedua orag tuanya baik banget dan aku sudah menganggap mereka sebagai keluarga ku, Vino juga sudah seperti adikku!"


"Iyah Mas!" Angguk Miranda dengan senyuman.


"Emmm, ada kabar baik lagi yang ingin aku sampaikan!"


"Apa itu?"


"Cium dulu dong!" Rangga menyodorkan pipinya.


Dengan cepat kilat Miranda mencium pipi Rangga.


"Cepat amat!"


"Beneran yah!"


"Hem um!" Angguk Miranda.


Rangga mendudukan wanita itu di pangkuannya.


"Aku ingin menikahi kamu lagi, sah secara hukum, ingin membuat pesta yang sangat megah, benar-benar istimewa, persis seperti pernikahan Raja dan Ratu!" bisik Rangga mengelus manja rambut Miranda.


Tanpa sadar perempuan itu langsung meneteskan airmata haru.


"Loh mengapa malah menangis, apa kamu tidak suka?" tanya Rangga terkejut.


" Apakah aku sedang bermimpi? Jika sedang bermimpi aku mohon sadarlah?" Gumam Miranda.


"Haha, ini airmata kebahagiaan, Mas! Aku hanya merasa tidak percaya!" jawaban rasa haru Miranda.


Rangga hanya tersenyum manis mengelus rambut Miranda.


"A...apa ini serius Mas?" tanya Miranda memastikan ucapan Rangga.


"Aku tidak pandai berbohong dengan kamu Mira, karena aku tau bohong itu pasti menyakitkan hatimu!"


"Terim kasih yah Mas, aku benar-benar bahagia sekali?" Jawab Miranda kesenangan bangkit dan menatap langit.


Rangga memeluk Miranda dari belakang. Wanita itu reflek berbalik mencium bibir Rangga.


"I Love You!"


"I love you too!"


"Masih ada kejutan lagi!"


"Ouh Iyah, apa itu Mas?"


"Eits, kejutan ini, khusus untuk besok pagi saja!"


"Loh! Kenapa begitu!" Raut wajah Mira memelas manja membuat Rangga tersenyum lebar.


"Biar setiap hari ada kejutan untuk kamu?" Jawab Rangga mengusap puncak kepalanya.


"Iyah sudah deh!"


Rangga mengangkat Miranda sambil berputar-putar dalam tawa kebahagiaan mereka.


"Aku bahagia sekali Mas!"


"Aku juga, sayang!"


"Ahahahahaha!"


"Hihihihihihihihi!"


Cinta yang begitu indah semoga tidak ada lagi penghalang diantara kami. Kak Tasya, maafkan aku telah benar-benar jatuh cinta dengan suami kamu. Setelah dua kali menikah dengan Rangga, baru kali ini aku merasakan cinta bersamanya dan aku berjanji, akan menjaga cinta ini untuk selamanya.


***


Pukul 11.00 siang yang cerah di rumah Vino, terlihat keluarganya mulai sibuk dalam menyambut kedatangan keluarga kecil Rangga.


Sementara Vino masih terlihat baru bangun tidur, namun tetap keren dan tampan, ia langsung duduk di meja makan mencicipi cemilan enak.


"Astaga, jam segini kamu baru bangun sayang!" ucap Melani


"Sory Mi, tadi malam ada pertarungan game bareng teman. Seru abis, sampai enggak ingat waktu!"


"Sudah mandi dulu gih, masih jorok sudah makan!"


"Itu siapa Mi?" tunjuk Vino pada seorang wanita di ruangan sedang mengatur dekorasi.


Melani menoleh ke arah wanita yang di tunjuk oleh Vino.


"Sania, kenapa?"


"Ouh, kirain siapa?"


"Ibu membelikannya pakaian yang lebih bagus dan sedikit meriasnya, agar nanti ia bisa mengurus banyak pekerjaan. Soalnya pakaian tidak ada yang bagus, Kumal semua. Dia juga tidak pandai berdandan.


"Ehm, lumayan!"


"Lumayan apa?"


"Ouh, enggak!"


"Lumayan cantik sampai kamu tidak mengenalinya?" Kata Melani tersenyum menatap anaknya.


"Heh, sudah bosan Mah, lihat wanita cantik apalagi model seperti itu!" Kata Vino bangkit menuju kamar mandi.


Sang Bunda hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya.


***


Dalam jatuhan air membasahi sekujur tubuh Vino yang kekar ia berkata dalam hati;


"Aku harus bisa melupakan Miranda!"


"Harus!"


"Sudah hampir 3 tahun berlalu, aku masih saja ada dalam masa lalu yang membuatku tidak bisa berpikir tentang cinta yang lain! Aku juga sudah lelah mencari karakter Miranda di setiap wanita."


Vino terbayang dengan ucapan Tasya Kamila sebelu meninggal.


{"Vino, aku sudah menganggap kamu sebagai adik ku juga, Aku tau kau sangat mencintai Miranda, Jika kau ingin bahagia dan bisa melupakan dia, Tolong berhentilah mencari karakter Miranda. Carilah wanita yang sama sekali tidak mirip dengan Adikku, kau harus keluar dari masa lalu dan menjadi Vino di masa depan bersama wanita lain!"}


"Huuuft!"


Selesai Mandi.


"Astaga, mengapa aku lupa bawa handuk!" kata Vino menepuk jidatnya, ia sibuk mencari handuk di bawah wastafel. Hanya ada handuk kecil. Sementara handuk besar tersusun di lemari.


Pria itu melenggang keluar tanpa busana. Tiba-tiba Sania masuk buru-buru ke kamar Vino ingin mengambil sesuatu. Sania berpikir Tuannya itu ada di Apartemen.