
Vino kembali memakai lengkap pakaiannya.
"Aaaaaarh!" hembusan berat nafasnya sambil bersandar duduk di sofa kamar hotel menjambak kecil rambutnya, lalu menghidupkan sebatang rokok sambil memandangi wajah cantik menggoda Sania yang sedang tertidur.
"Mati aku, apa iya aku sudah tertarik dengan pelayan ku sendiri!" batin Vino berkecamuk, kemudian ia terbayang dengan kesehariannya bersama pelayan pribadinya itu.
***
"Benarkah si Sania memiliki hubungan spesial?" teriak Rangga di perjamuan makan malam.
"Anjing gua saja kagak selera dengan penampilannya yang butek, apa lagi gua?" ucap sombong Vino bicara di depan Rangga dan teman lainnya saat Sania menjadi supir pribadi Vino dalam perjamuan makan malam itu dengan teman bisnisnya.
"Hahahaha!" Rangga tertawa lalu berkata menepuk kecil pundak Vino.
"Bro jangan terlalu di caci nanti kamu cinta!" Kata Rangga memperingatkan Vino.
Sontak putra tunggal Melani itu tertawa terbahak-bahak bahkan ia menyuruh teman pria dan wanitanya juga ikut tertawa bersamanya.
Tawa Vino melukiskan seakan-akan ia tidak akan mungkin jatuh cinta dengan tipe wanita seperti Sania, sementara ia di kelilingi banyak wanita sempurna saat itu.
Sania hanya menahan malu berat dengan kepala tertunduk sambil berkata dalam hatinya.
"Tidak masalah, tapi jika nanti kau tau penampilan ku tidak seperti ini kau akan menyesal!" Sania berlari ke kamar mandi mengusap air matanya dan selalu sabar dengan omongan sombong Vino.
***
"Tapi kenapa selama ini ia memperjelek penampilannya, apa hari ini aku mendapat bonus!" kata Vino bicara sendiri.
Tiba-tiba Sania bangun dan bangkit sambil melucuti pakaiannya hingga berdiri di depan Vino tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya, terpampang nyata kemolekan asli tubuh Dokter muda cantik itu yang mampu membuat dua bola mata Vino melebar dan berkali-kali menelan air liurnya.
Sania begitu agresif menarik Vino ke atas ranjang lalu melucuti semua pakaian pria itu.
"Aku ingin bebas darimu, tolonglah!" ucap sendu Sania yang siap menunggangi Vino.
"Ta...ta...tadi itu aku hanya bercanda!" ucapnya cengengesan Vino yang terlihat pasrah.
("Jika sudah seperti ini, apa ada manusia yang bisa menolak untuk berbuat dosa, aduh... aku benar-benar tidak tahan! Sumpah, ampuni aku Tuhan," Batin Vino)
Sania dengan agresifnya bak berperan sebagai wanita bayaran terus beraksi di atas tubuh Vino. Ia dalam kondisi mabuk mulai berhayal berat jika Vino adalah Raka.
Dosa itu pun tidak terhindari, akhirnya dua insan manusia yang sedang melakukan bercocok tanam di sebuah kamar hotel yang mewah.
Suara-suara des*han Sania dan Vino terus berpacu di ruang itu. Ada jeritan kecil Sania saat keperawanannya terpaksa harus sobek dengan Otong milik Vino hanya demi sebuah kebebasannya sebagai seorang budak. Sania benar-benar sudah kehilangan kendali dan putus asa. Ia ingin segera bebas dari jeratan waktunya bersama sang pria. Wanita itu begitu semangat memuaskan Vino malam itu. Panas bercinta keduanya membuat panggilan Rangga terabaikan.
***
"Kemana Vino!" Batin Rangga yang sedang berbahagia. Ia ingin segera mengurus pernikahan resminya bersama Miranda.
***
Malam itu mereka habiskan bercinta layaknya sepasang pengantin yang baru melakukan malam pertama. Meski Vino terkenal memiliki banyak pacar dan calon tunangan tetapi baru kali itu ia melakukan hubungan badan secara langsung dengan seorang wanita. Cinta itu berhasil menggoyang pertahanan keperjakaannya yang sudah ribuan kali ia tangkis dari para kekasihnya yang ingin sekali melakukannya dengan Vino. Si pewaris tahta tunggal itu menjadi incaran manis dari para gadis-gadis bangsawan, selain kaya, tampan Vino juga selalu memanjakan pacarnya dengan kemewahan. Malam itu, pertama kalinya ia berhasil melupakan total kehadiran sosok Miranda Agustina sang mantan kekasih.
***
Pagi yang indah hembusan air ombak menyapu pasir putih pantai. Burung-burung bangau putih berterbangan bak lukisan hidup menghiasi alam.
Sania terbangun oleh pancaran cahaya dari luar jendela, sudah tidak ada Vino di sampingnya, dalam kondisi remuk redam ia memaksakan diri untuk bangkit. Mulai menyadari ternyata dirinya sudah melakukan hal terlarang dengan pria yang sangat ia tidak suka.
"Tidaaaaaaaaaaaak!"
Sania menjerit dan menangis histeris, ingin sekali ia mengakhiri hidup namun ia masih memikirkan sang Ayah. Membasuh tubuhnya dengan air bercampur airmata.
"Aku ingin sekali menyusul ibu, Kak Juno, tapi bagaimana dengan Ayah!" Menangis sambil merasa jijik dengan sentuhan Vino yang masih ter-cap di sekujur tubuhnya.
*
"Ting tong!" Suara bel kamar hotel berbunyi.
Perlahan Sania berjalan membuka pintu yang kebetulan ia juga ingin keluar.
Terlihat seorang ajudan wanita berpakaian rapi berdiri tegap di depan pintu.
"Pagi Nona!" sapa nya dengan senyuman.
"Iyah!"
"Ini ada titipan dari Tuan Vino?"
(Si ajudan memberikan kunci dan sebuah amplop)
"Apa ini?" tanya Sania dengan wajah lesunya.
"Itu kunci mobil dari Tuan Vino khusus buat Nona, mobil sport ternama keluaran terbaru! Untuk isi amplop saya tidak tau, Nona bisa membukanya langsung!"
Dengan raut ragu Sania membuka isi amplop berisi sebuah kartu debit Gold dan selembar kertas bertuliskan;
Di dalam kartu itu berisi 2 Milyar lebih plus mobil, kau bisa pakai untuk apa saja yang kau mau, untuk gedung klinik akan aku buatkan khusus untukmu.
Itu semua karena
Mulai hari ini aku bebaskan kamu menjadi budak ku dan berbanggalah karena mulai hari ini juga kau resmi menjadi kekasih ku, tapi kekasih yang masih urutan bawah. Urutan itu akan naik tergantung sikapmu kepadaku.
Tertanda emoticon cinta dari Vino🥰☺️
"Tunggu sebentar, jangan pergi dulu yah?" Kata Sania kepada si Ajudan.
Sania Masuk ke dalam kamar, membalas tulisan dari Vino.
"Terima kasih atas pemberian Tuan, tapi aku yang si buruk rupa ini tidak ada pantas-pantasnya menjadi kekasih seorang Pangeran. Pembebasan ini sudah lebih dari segalanya bagiku. Terima kasih. Transaksi kita sudah selesai. Semoga Tuan mendapatkan jodoh yang terbaik dan bahagia selalu."
Sania mengembalikan semuanya kepada sang Ajudan.
"Tolong kembalikan semua ini kepada Tuan kamu, saya tidak ingin menerimanya!" Terima kasih yah. Sania keluar dari hotel dengan langkah terburu-buru.
Sania kembali menghidupkan ponselnya yang sudah semalaman tidak aktif.
"Tlililit!"
"Miranda!" Batin Sania.
Sania menolak panggilan Miranda.
Lalu melangkah cepat menuju Rumah sakit tempat ia bekerja.
**
kediaman Rumah Rangga.
"Kenapa sayang?" tanya Rangga yang melihat Miranda berkali-kali mencoba menelpon Sania.
"Sania tidak menerima panggilan ku!"
"Yah, sudah. Mungkin dia lagi sibuk! Nanti aku coba tanya kepada Vino!"
"Baiklah Mas!"
"Kamu jangan khawatir sayang, aku akan mencarikan dokter wanita khusus mengontrol kesehatan kamu, yang penting kamu jangan bawel, melakukan segalanya sendiri, fokus anak-anak kita, soal skripsi aku akan urus sampai masalah wisuda nanti?"
"Alhamdulillah, sudah 90% selesai Mas!"
"Iyah, Nanti aku cek lagi!" ucap Rangga sambil mengelus manja rambut Miranda.
Keduanya tersenyum saling cinta penuh kebahagiaan.
Lama-lama Rangga ingin mencium bibir Miranda, nyosor begitu saja.
"Mas, tapi kan kita sudah bercerai?"
"Iyah, tapi aku rasa perceraian itu tidak sah, kan kamu terlanjur hamil!"
"Mira mau kita nikah dulu!" ucapnya dalam raut memohon.
"Baiklah Nyonya!" ucap senyum Rangga.
"Mas, apa kamu sudah kasih kabar ke desa?"
"kamu saja yang bicara sama ibu, aku malu!"
"kenapa malu, nanti mereka pikir, Mira ini hanya mengarang cerita!"
"Meskipun aku anak kandungnya, ibu itu paling percaya sama kamu bahkan Intan sekalipun."
"Yah sudah!" senyum Miranda.
Sebelum berangkat kerja Rangga selalu menyempatkan diri menggendong Olivia.
"Sebentar lagi, Kakak Olivia akan punya adik?" Rangga mencubit tipis hidung putrinya.
keluarga kecil itu kembali berbahagia.
Rangga menunduk lalu mendekati perut Miranda.
"Papa pergi dulu yah sayang!"
"Hihi, masih kecil loh Mas!"
"Hehehe! enggak apa-apa sayang!" tawa cengengesan Rangga yang tidak lama lagi akan memiliki dua orang anak.