
Sania juga menghidangkan cemilan ringan untuk Rangga dan Miranda.
Miranda ikut membantu Sania di dapur.
"Mba, bukannya Sania tidak ingin merawat kehamilan mba Mira, tapi Sania tidak lagi bekerja di Rumah Sakit X, Sania belum memiliki perlengkapan medis pribadi."
"Iyah tidak apa-apa Sania!"
"Mba Mira enggak marah kan?" raut wajah sedih Sania menatap Miranda.
"Enggak apa-apa sayang! Mba mengerti kondisi kamu!"
"Sania senang banget, akhirnya kalian bisa bersatu kembali, Mas Rangga itu benar-benar cinta mati dengan Mba, jadi tolong jangan di tinggal lagi yah!"
Miranda hanya tersenyum lebar.
"Iyah sayang!"
"Sepertinya ini akan lahir jagoan Mas Rangga!" kata Sania dengan senyumnya yang ceria.
"Amin!"
"Olivia kenapa di tinggal yah Mba!"
"Tadinya mau di bawa, tapi setelah ini Mas Rangga ada urusan ke kantor lagi!"
"Oouh!"
"Oh Iyah San, bagaimana hubungan kamu dengan Vino?"
sedikit lama menjawab.
"Sania sudah bebas!"
"Benarkah!"
"Dia sudah melepaskan ku?"
"Syukurlah!"
"Aku tidak paham, kenapa aku jadi bermasalah dengan pria itu padahal aku hanya bermasalah dengan Mas Rangga dan Kak Tasya."
"Ehm...Mungkin, dia mulai jatuh cinta dengan kamu, tapi dia malu mengatakannya!" jawab senyum Miranda.
Sania terdiam 😳
"Apa Mba lagi melucu!" bantah Sania.
"Loh, kok melucu!
"Meskipun itu terjadi, Sania tidak mencintai Vino!"
Miranda diam menatap wajah Sania.
"Aku hanya ingin mencari yang benar-benar mencintai, Vino itu tidak pernah serius dengan perempuan manapun, ia masih tenggelam dengan cinta mantannya yang lama dan tidak akan pernah mencintai lagi."
"Tapi Mba rasa bukan begitu juga, terkadang ada tipe pria yang sulit untuk jatuh cinta, sekali jatuh cinta ia akan terlihat sangat bodoh!"
"Mba, yuk kita ke depan, saat ini Sania hanya ingin memikirkan karir dan Ayah saja, tidak ada yang lain!"
"Baiklah!"
Sania juga sudah menyiapkan kado spesial untuk Rangga dan Miranda.
Lama mengobrol, Rangga dan Miranda akhirnya memilih pulang.
***
***
pesta pernikahan
Suasana Pesta Rangga dan Miranda yang ramai dan mewah. Vino yang sudah berkali-kali berfoto dengan sahabatnya itu tetap saja tampak lesu kurang bersemangat.
Sampai di akhir Pesta, Vino masih menunggu dan berharap dengan kedatangan Sania yang menjadi pasangannya di pesta itu.
Rangga tidak memberitahukan alasan Sania kepada Vino, karena ia berpikir tentu Vino lebih tau.
**
Melani dan suami terlihat memperkenalkan Vino dengan putri-putri kalangan bisnisnya. Namun pria itu tetap tampak tidak bergairah, Melani memperhatikan raut wajah sendu putranya.
"Senyum ramah kepada mereka, jika kau memiliki masalah pribadi, tolong jangan kau bawa-bawa disini!" bisik Melani.
Vino langsung merespon apa yang di minta oleh sang Bunda.
**
Pesta telah berakhir. Rangga dan Miranda bersiap di dalam mobil untuk kembali pulang.
"Bagaimana sayang, apa kau bahagia!" tanya Rangga.
"Aku sangat-sangat bahagia Mas, bahagia yang tidak terkatakan!" jawab Miranda dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu ingin apa!"
"Enggak ingin apa-apa lagi, Mas!"
"Kebahagiaan ini sudah sempurna!"
Rangga mencium mesra dahi istrinya saat Miranda menjatuhkan kepalanya di bahu sang suami. Pria itu juga mengelus manja perut Miranda.
"Aku juga sangat bahagia dan tidak percaya kita bisa menikah lagi!" ucap Rangga dalam dekapannya.
"Aku takut ada takdir yang akan memisahkan kita!"
"Selama kita saling percaya, semoga saja tidak, kita akan memiliki dua anak yang jauh lebih penting!"
"Iyah Mas!"
***
Di penghujung acara, Vino melajukan mobil sportnya menuju rumah Sania, mencari keberadaan dan alasan mengapa ia tidak hadir dalam pesta Rangga dan Miranda.
Vino juga sudah mendapatkan kabar jika Sania sudah di drop out dari Rumah Sakit tempat ia bekerja, hal itu membuat Vino semakin bersalah dengan kehidupan wanita itu.
Sesampai di rumah tujuan, ia memperlihatkan rumah Sania yang tampak sepi.
"Apa yang terjadi dengannya? Apa ia sakit lagi?" batin Vino mulai cemas lalu bergegas menelpon Sania.
Dua kali panggilan terabaikan dan akhirnya terjawab.
"Tolong keluar rumah sebentar, aku ingin bicara?" kata Vino.
"Aku tidak di rumah!"
"Lalu?"
"Berikan alamatnya!"
Dengan berat hati Sania memberikan alamat tempat ia sedang pelatihan.
**
Keduanya akhirnya bertemu atas izin pihak penyelenggara, dengan ketentuan bertemu di luar gedung.
Si sebuah parkiran mobil, Sania menemui keberadaan Vino.
"Bukan kah urusan kita sudah selesai!" ucap wanita itu.
"Jadi karena pelatihan ini kamu tidak datang ke pesta Rangga!"
"Iyah!"
"Bukan karena alasan kebencian!"
"Yang lalu tidak lagi menjadi topik utama, mungkin kak Juno adalah satu satu korban kebodohan cinta!"
"Wanita jauh lebih tegar menghadapi kegagalan cinta tetapi tidak dengan pria!" jawab cepat Vino.
"Tolong beritahu aku apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku kepadamu, aku sudah menyebabkan kehidupan mu hancur!"
Sania terdiam.
"Aku tidak bisa menghilang dari mu!" kata Vino.
Keduanya saling menatap.
"kenapa? Bukan kah kau sangat membenciku, hancur atau tidaknya hidupku apa urusannya dengan mu!" tantang Sania.
Pria itu terdiam dalam tatapan fokus menatap dua bola mata Sania yang berkaca-kaca.
"karena mencintai kamu!" jawab cepat Vino menyambar bibir Sania.
"Ehm!" Sekuat tenaga Sania mendorong tubuh Vino.
"Dasar pria mesum!" Sania tampak marah dan ingin pergi.
Vino menarik cepat tangan Sania agar tetap di tempat.
"Wanita mana yang tidak kamu cintai, apa perempuan-perempuan disana tidak cukup untuk mencintai mu!" hentak Sania.
"Aku bukan seperti yang kau pikirkan! Mencintai itu tidak mudah!"
"Aku capek Vino, Tolong...tolong...lepaskan aku, aku ingin kebebasan, tidak ingin yang lain!" jawab Sania sambil berderai airmata.
Vino terlihat sangat tidak tega melihat tangisan Sania yang terlihat jelas di dua bola matanya.
"Aku mohon, lepaskan lah aku, aku ingin sekali bahagia!" ucap Sania kembali, membuat rasa iba Vino dalam hati yang remuk dan tak mampu lagi menahan langkah sang pujaan...
Sampai akhirnya melepaskan tangan Sania.
Sania meninggalkan Vino yang masih diam terpaku, lama berdiri dengan satu batang rokoknya, Vino akhirnya pulang dalam raut yang sangat galau.
**
Sesuai permintaan Ibundanya, Vino pulang ke rumah orang tuanya.
Saat melangkah ingin masuk ke dalam kamar.
Melani diam-diam langsung menjewer telinga anaknya.
"Haduh duh, Apaan sih Mi?"
"Kamu bicara apa sih dengan semua kekasihmu, kamu tau enggak, sudah 10 perempuan yang datang ke rumah minta di lamar!"
"Aduh Mi, Vino enggak janji apa-apa, mereka saja yang terlalu heboh!"
"Terus kamu kemana saja, sudah dua Minggu ini enggak pernah pulang!"
"Vino sibuk Mi! Banyak yang harus di kerjakan!"
"Alasan saja kamu!"
"Mami jangan marah-marah dong! Vino capek banget!" langsung memeluk manja ibunya.
"Begini ni, kalau di marahi, langsung peluk-peluk dan cium maminya!"
"Lalu mau peluk siapa lagi!" jawab mewek Vino
"Kenapa, lagi galau?"
Vino mengangguk.
"Pasti karena urusan perempuan lagi!"
"Mami kok tau?" kata Vino dalam nada seraknya.
Melani melepas pelukan sang anak.
"Hanya seorang ibu yang mengerti apa yang sedang di rasakan anaknya dan hanya wanita pula yang bisa membuat kamu galau."
"Iyah Mi!"
"Mi, tolong lamar Sania untuk Vino!"
Melani sempat terkejut namun ia sudah curiga.
"Apah! Jadi kamu benar-benar sudah jatuh cinta dengan wanita itu!"
Vino mengangguk malu.
"Mami tidak setuju yah?"
Terlihat Melani menghela nafas.
"Dari awal, Mami sudah bisa merasakan, kau akan larut dengan wanita itu!"
Vino hanya terlihat menunduk.
"Yah sudah, apapun yang membuat kamu bahagia, Mami akan lakukan!"
"Makasih Mi!" Vino kembali memeluk bahagia ibunya.
"Sejauh ini, Masih Sania yang terbaik, dan aku rasa ia cocok dengan Vino." batin Melani yang sudah sangat mengenal wanita itu.
***
***
***
Visual Sania dan Vino bisa di lihat di Expart-MRD pertama yah guys, Sory telat🙏