MIRANDA

MIRANDA
Expart-MRD



"Emm, Nama yang indah sekali!" komentar Vino dengan senyumannya.


"Mira haus, apakah om punya sesuatu untuk di minum? tanya Miranda.


"Oh, Om juga haus, bagaimana jika kita beli saja!" Ajak Vino.


"Tapi Mira tidak punya yang Om!"


"Karena kamu sudah menghibur, om akan belikan minuman yang paling enak!"


"Horeeeee!" Miranda kegirangan, membuat senyum Vino semakin lebar.


(Vino yang sangat suka anak kecil)


"Tapi Apa tidak sebaiknya Miranda permisi dulu kepada Mama, Om takut ia akan mencari mu?"


"Mira pikir itu tidak masalah, karena jika ia sudah bicara kepada orang lain, dia pasti akan melupakanku!"


"Ahahahahaha!" tawa bahagia Vino melihat celoteh Miranda cilik yang sangat lancar. Terdengar suaranya yang nyaring meski sedikit celat.


"Kita Jangan membeli minumannya terlau jauh Om, setelah itu, kita kembali lagi kesini!"


"Ouh, begitu yah, Baiklah!"


Miranda yang polos langsung melompat kegirangan berjalan dalam genggaman tangan Vino.


"Mengapa aku begitu bahagia bertemu dengan bocah cilik ini! kebahagiaan yang aku sendiri tidak tau itu apa?" batin Vino.


"Hem...ngomong-ngomong, kenapa Mira begitu percaya dengan Om, apa Mira tidak takut, jika ternyata Om adalah orang jahat yang ingin menculik Miranda!" uji Vino menampilkan wajah jeleknya.


Sontak bocah kecil itu berhenti dan menyuruh Vino menunduk sejenak, lalu berbisik di telinga pria itu;


"Orang ganteng itu tidak akan berbuat jahat!"


"Wuhahahaha...gokil...gokil!" teriak Vino kegirangan. Ia tampak begitu bahagia bertemu Miranda kecil yang cerdas.


"Ihihihihihihihihihi!" tawa imut Miranda menutupi mulutnya.


"Haduh, kaki om lemes nih karena godaan kamu! Ampun!" Vino geleng-geleng kepala.


"Bapak emaknya benar-benar luar biasa bisa, nyetak anak secerdas ini!" batin geli Vino.


Keduanya pun terus berjalan menuju tempat Swalayan yang tidak jauh dari lokasi pembangunan.


Vino membelikan banyak minuman dan jajanan kepada Miranda.


"Tapi ini terlalu banyak, Om!" protes Mira.


"Tidak apa-apa, nanti kamu bisa memakannya lagi!"


"Terima kasih Om!" Hati bocah cilik itu kegirangan dengan melompat-lompat kecil.


Vino menatap bahagia wajah Miranda dan mengusap-usap kecil kepalanya.


"Apa kita langsung kembali?" tanya Vino.


"Ayo kita duduk dulu disana!" Miranda sambil berlari menarik tangan Vino.


Keduanya meneguk minuman bersama.


"Om masih penasaran, siapa sih yang ngajarin kamu bicara, bisa lancar seperti ini!"


"Ehm, sebelum tidur, Mama selalu memberikan aku Vitamin, lalu kakek ku suka ngobrol dengan ku, kami saling cerita, cerita apa saja!"


"Ouh, Bagaimana dengan Papa mu? Apakah ia lebih tampan dari Om?"


Tiba-tiba Miranda menampilkan wajah lesu.


"Sejak lahir, Mira belum pernah bertemu dengan Papa, dulu aku pikir, Kakek adalah Papa, ternyata bukan!"


"Oh, Apa, dia sudah meninggal?"


"Tidak tau, Mama bilang dia sedang pergi jauh mencari uang untuk biaya hidup Miranda!"


"Begitu yah! Artinya Papa kamu masih hidup, apa kau ingin bertemu dengannya!"


Miranda Bella mengangguk dengan cepat.


"Miranda ingin sekali bertemu dengannya! Tapi Mama bilang nanti saja jika aku sudah dewasa! Aku ingin tau seperi apa wajah Papa, apakah dia baik-baik saja, apa dia tidak merindukan? ku!" celoteh Miranda dengan bibir yang tebal, Vino tertegun mendengar harapan bocah itu.


"Apakah Kakek dan Nenek mu bekerja?"


"Kakek tidak bekerja, dia sudah sakit dan tua, dia bilang istrinya sudah meninggal!"


"Begitu, Jadi ibumu yang bekerja sendiri!"


Miranda mengangguk!


"Bagaimana jika kamu bermain sebentar!" Vino menunjuk tempat mainan anak di swalayan terdekat itu.


"Benarkah!"


"Ayo...!" Ajak Miranda tidak sabar.


**


Akhirnya Sania deal membeli ruko mewah impiannya, ia juga langsung melengkapi berkas-berkas yang di butuhkan.


Sania yang tidak terbiasa membawa anak, ia lupa jika hari itu Miranda Bella ikut bersamanya. Sania dan Naya melenggang santai keluar dan mulai menyadari jika Miranda Bella sudah tidak ada lagi di sekitarnya.


"Haduh, Miranda kemana Nay!" tanya Sania.


"Loh, bukannya tadi ada bersama kamu!"


"Nay! Kamu jangan buat aku mati berdiri, benaran dia enggak ada!" Miranda mulai panik berlari ke mobil mencari-cari putrinya.


Jantung Sania terus berdetak kencang, ia terlihat ketakutan ketika Miranda tidak di temukan.


"Naya...dimana anakku! Hiks...Hiks...Hiks..!"


tangis Sania semakin histeris membuat para marketing pun di buat heboh. Mereka meminta bantuan kepada satpam untuk mencari putri semata wayangnya.


Kaki Sania terasa lemas, wajahnya sangat pucat, ia begitu takut dan mulai berpikir yang tidak-tidak tentang maraknya penculikan anak.


"Naya kalau sampai aku melihat mayat Miranda mending aku mati aja deh, aku ibu ceroboh yang pernah ada!...Hiks...Hiks..!" Sania tidak bisa menahan tangisnya di pos satpam.


"San, kamu tenang dulu yah, jangan mikir yang aneh-aneh!" Naya berusaha menenangkan Sania.


"Gimana aku bisa tenang Nay, Anakku hilang, Miranda kamu di manaaaaa hiks...hiks...?" raungan Sania.


"Semua tampak heboh membantu mencari bocah lincah itu!"


"Harusnya tadi kamu jangan bawa dia, apa tidak bisa di tinggal sebentar saja dengan Kakeknya!" tegur kesal Naya.


"Hiks...Hiks...Hiks....Aku yang teledor, aku ini benar-benar ceroboh!" Tidak henti-hentinya Sania menyalahkan dirinya.


Tiba-tiba seorang satpam berlari memberi kabar bahwa ada seorang pria yang membawa Anak perempuan kecil menuju ke arah Swalayan.


Mendengar seorang lelaki, Jantung Sania semakin berdetak kencang. Ia berlari cepat menuju lokasi yang disebutkan oleh penjaga keamanan setempat.


"Sania tunggu!" teriak Naya yang jauh tertinggal.


Terlihat kepanikan, ketakutan seorang ibu yang terus berlari kencang mencari anaknya.


"Tuhan tolong anak saya, Jangan sampai terjadi apa-apa kepadanya, aku lebih baik mati jika itu sampai terjadi (pembunuhan dan pemerkosaan bocah)"


Sania Langsung berlari memasuki Swalayan mencari dan memanggil nama Miranda. Ia tidak melihat di sebelah Swalayan, putri kecilnya itu sedang asyik bermain permainan mobilan koin yang ada disana.


Vino dan Miranda saling tertawa.


Sampai akhirnya Sania menemukan Miranda, tiba-tiba kakinya berhenti melihat sosok Vino yang berdiri sangat waspada mengawasi sang putri. Nafas Sania terlihat masih terengah-engah.


"Mamaaaaaaa!" Miranda turun dari mainan mobilan itu lalu berlari memeluk Sania.


Sontak Vino pun terkejut lalu menatap wanita masa lalu yang berhasil menggetarkan hatinya.


Keduanya terpaku saling memandang.


Vino yang berdiri gagah dan terlihat tampan begitu juga Sania berbusana sopan namun sangat cantik dan mempesona.


Keduanya saling menatap manis jantung keduanya berdetak lebih cepat.


"Jadi itu anaknya? benar kata Rangga, Sania sudah memiliki anak perempuan, artinya dia sudah menikah!" batin Vino.


"Kenapa dia ada disini?" gumam Sania.


"Miranda!" ucap Sania lemas memeluk putrinya.


"Kenapa kamu tidak bilang sama Mama jika kamu pergi kesini!"


"Aku sangat haus, Om itu baik sekali, dia mau membelikan aku minuman dan mengajak ku bermain disini!" ucap polos Miranda.


"Tapi kan kamu bisa izin dulu sama Mama sayang!"


"Mama lama, bosan!" jawab ketus Miranda.


"Yah sudah, kita pulang yah! Kasihan Kakek sudah menunggu kamu!"


Sania langsung menggendong Putrinya.


"Terima kasih sudah menjaga anakku!" ucap Sania kepada Vino yang masih berdiri terpaku.


Dalam perasaan terkejut bertemu dengan Vino kembali, Sania pun berbalik menggendong Miranda.


Sania dan Vino terlihat salah tingkah namun keduanya saling menutupi.


"Sampai jumpa om ganteng...Mama ku membeli ruko di sana, Nanti kita bisa bertemu lagi!" teriak polos Miranda melambai-lambaikan tangannya ke arah Vino.


Sontak Vino langsung tersenyum dan membalas lambaian dari Miranda.