
"Em, Oh Iyah om, Apakah Sania masih memiliki hutang?" tanya Vino begitu serius.
Antonius tampak diam dan hanya menampilkan raut wajah tidak ingin mengatakan.
"Katakan saja om?" desak Vino.
"Masalah hutang Sania, saya kurang tau, tapi...Saya masih terjerat hutang dengan seorang Rentenir. Setelah kematian Juno, ibunya terus sakit-sakitan, dia benar-benar tidak terima anaknya mati dan saat itu pula Sania lagi membutuhkan uang untuk membeli buku dan membayar praktek kuliahnya. Saya terpaksa meminjam uang kepada Rentenir sebanyak 200 juta, namun bunganya begitu cepat berkembang menjadi dua kali lipat hanya karena tersendat membayar dan saya sangat menyesal.
Hiks...hiks..., Semua harta saya sudah saya jual sampai saya pun jatuh sakit juga dan tidak bisa bekerja lagi. Saya sudah katakan pada Sania jangan memikirkan kesehatan saya, lebih baik fokus untuk bayar hutang saja dan lanjutkan sekolahnya lagi, tapi dia marah dan bersikeras tetap mengutamakan kesehatan saya...Hiks...hiks...
Saya sangat kasihan dengan putri saya itu, dia begitu lelah, padahal ia tidak pernah bekerja sekeras ini, Sania adalah kesayangan kami, Kakaknya begitu memanjakannya. Setelah kematian Juno, kehidupan kami terus terpuruk!" Antonius terlihat berkali-kali mengusap air matanya membuat Vino sangat iba dan menyesal telah banyak menyita waktu Sania dalam mencari uang di rumah sakit.
"Apa Sania banyak mengeluh tentang saya Om!"
"Tidak, Sania tidak banyak cerita tentang nak Vino, Sania hanya mengatakan jika Tuannya satu keluarga itu orangnya baik-baik, Nak Vino juga akan segera menikah, jadi dia sudah bisa fokus bekerja."
"Ehm, Itu saja Om?"
"Iyah, Sania itu tidak terlalu terbuka dengan masalah pribadinya, ia selalu tampil ceria, tersenyum meski banyak masalah yang ia hadapi. Belakangan ia mengeluhkan jika teman-temannya di rumah sakit tidak ingin berteman dengannya, memandang dia sebelah mata dan selalu merebut pasien VIP yang lebih memilih Sania, sehingga ia hanya sedikit mendapat uang masuk. Dokter baru seperti anak saya ini gajinya belum besar, uang masuknya dari pasien VIP yang tarif bayarannya lebih tinggi. Ia juga mengatakan kepada saya.
"Kenapa yah! Banyak orang yang tidak suka dan selalu marah-marah jika bicara dengan Sania, aku ini salah apa, Ayah!"
Saya hanya bisa bilang sabar Nak dan jika sudah tidak betah, pindah Rumah Sakit saja."
Mendengar hal itu, Vino langsung mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan kartu debit beserta password-nya kepada Antonius.
"Om, Bayarkan semua hutang-hutang keluarga Om!"
Antonius langsung terkejut.
"Ouh tidak usah nak Vino, ini saya hanya cerita saja, sa...saya bukan ingin minta uang!" Antonius menolak sampai tangannya terlihat bergetar.
"Mohon jangan di tolak Om, ini upah Sania selama bekerja dengan saya. Saya yang salah Om, saya sudah banyak sekali menyita waktu bekerja Sania, sehingga ia sering absen dan bolos bekerja!"
"Tapi...!"
"Saya ikhlas Om, saya mohon jangan di tolak!"
Antonius tertegun memandangi Vino dan berkata dalam hati;
"Sania benar, Majikannya baik sekali!"
"Kalau begitu saya pamit dulu yah Om, jika Sania sudah sembuh, saya akan datang lagi, ada hal penting yang ingin saya bicarakan!"
"Baik Nak!"
"Terima kasih banyak Nak Vino, semoga Nak Vino dan keluarga sehat selalu, bahagia dengan pernikahannya nanti!"
"Hehehehe!" Vino hanya tertawa cengengesan.
Pemuda itu akhirnya pulang meski hatinya masih terselip rasa khawatir, ia harus kembali mulai fokus mengerjakan persiapan pernikahan Rangga dan Miranda.
***
Pukul 20.00 malam hari.
Sania terbangun, ia berusaha bangkit membersihkan wajah dan berganti pakaian.
"Siapa yang datang?" batinnya melihat sebuah parcel mewah berisi buah terletak indah di atas meja riasnya.
dan mulai melihat ponselnya ada banyak panggilan tidak terjawab dari Vino.
"Mau apalagi pria ini, apa dia kurang puas menyiksa hidupku!" gerutu Sania.
Sania meletakkan ponselnya begitu saja, sama sekali tidak berniat melakukan panggilan ulang kepada Vino dan melangkah keluar.
**
Antonius masih memperhatikan kartu debit hitam mewah berkilat dengan logo platinum yang Vino berikan.
"Ayah!" panggil Sania dari pintu kamarnya membuat Anton buru-buru mengantongi kartu itu. Perempuan cantik itu terlihat sudah lebih segar dan kuat.
Sania Berjalan lambat menuju meja makan lalu duduk disana.
Sang Ayah tampak sigap mengambilkan makanan dan minum untuk putrinya.
"Ayo makan dulu! Ini madu hangat!"
"Terima kasih Ayah!"
Sania mulai makan sedikit dan Antonius terus memperhatikan putrinya, pandangan sosok iba sang Ayah melihat anak kesayangannya menjadi tumpuan hidupnya.
"Apa tadi ada yang datang Ayah dan siapa yang membawa buah itu!"
"Tadi, Majikan kamu yang bernama Vino Febian datang menjenguk mu dan ia begitu khawatir!"
"Sudah ku tebak?" gumam Sania.
"Apa yang ia katakan, Ayah!"
"Tidak ada hanya mengkhawatirkan kondisimu saja!"
"Syukurlah, jangan sampai ia mengatakan, jika kami sudah melakukan hal terlarang!"
"Dia juga memberikan ini!" Anton mengeluarkan kartu debit pemberian Vino.
"Apa Ayah cerita dengan masalah hutang kita, bukankah Ayah mengajarkan kepada Sania, agar tidak perlu meminta-minta uang kepada orang lain!" Sania terlihat marah.
"Nak, Ayah tidak meminta uang, ia bertanya apakah kita masih memiliki hutang atau tidak, lalu pria itu memberikan kartu ini kepada Ayah dan mengatakan, uang yang ada di kartu ini adalah upah kamu selama bekerja dengannya, lalu Ayah menerimanya, Apa Ayah salah?"
"Tapi Ayah tidak perlu mengatakan hutang kita dengannya, semua upah Sania sudah di bayar. Ayah tau tidak, mulai hari ini Sania sudah tidak bekerja lagi dengan pria itu, jadi tolong jangan cari masalah lagi dengannya," ucap Sania dengan wajah stres, wanita itu tampak marah kepada Ayahnya.
Antonius hanya terdiam.
"Kamu tidak pernah terbuka, jadi Ayah tidak mengerti, Ayah melihat anak itu baik, seperti yang kamu katakan!" jawab Anton dalam wajah kesedihan.
Merasa kasihan, Sania langsung berlutut di pangkuan Ayahnya.
"Maafin Sania Ayah, sebaiknya kartu ini kita kembalikan saja, karena ini berisi Milyaran rupiah!"
Antonius terkejut,
"Milyaran???"
Sania mengangguk.
"Aku takut, ini akan menjadi hutang budi di kemudian hari. Ayah jangan khawatir, Sania optimis bisa membayar hutang kita sampai tuntas. Meski ia terlihat baik, tapi kita tidak tau apa niat terselubung dia. Sudah cukup hutang-hutang ini membuat hidup kita terpuruk, Jika kita terus larut dalam hutang, orang akan terus menindas kita, Ayah!"
"Ayah hanya tidak tega melihat kamu kelelahan Nak!"
"Tidak apa-apa Ayah, biarlah hari ini Sania lelah, asalkan esok kita bahagia!" ucap wanita itu menjatuhkan kepalanya di pangkuan Ayahnya.
Antonius mengelus manja rambut putri kesayangannya.
"Ayah, berjanjilah untuk tidak pergi dari Sania, jangan tinggalkan Sania, di luar sana banyak sekali orang-orang yang jahat, kejam, hanya Ayah satu-satunya tempat ku bersandar dan hanya ayah pula satu-satunya orang yang bisa aku percaya?" ucap Sania meneteskan airmata di pangkuan Ayahnya.
"Aku tidak ingin perjuangan dan pengorbanan ku menjadi sia-sia, aku ingin terus maju!" tekad Sania.
***
Setelah membantu Rangga dalam mempersiapkan pernikahannya, Vino mampir sejenak di sebuah klub Biliar ternama, melepas kejenuhannya.
Ia mulai bermain Billiar bersama teman-temannya. Meski asyik bermain di temani oleh wanita-wanita sexy namun pikirannya tetap mengkhawatirkan Sania.
Vino melihat ponselnya.
"Apa ia sudah benar-benar baikan, kenapa sampai saat ini, ia masih belum memberi kabar!"
Rasa khawatir dan keinginan bertemu yang tidak terbendung memaksa Vino melakukan panggilan lagi.