
"Mba Mira yang sabar yah? Jika kalian berjodoh, biar jalannya terjal dan berliku-liku, pasti akan bertemu kembali!" ucap Sania menguatkan Miranda.
"Aku tidak apa-apa Sania, aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku, tanpa memiliki cinta Rangga sekalipun, aku sudah cukup bahagia bisa bertemu dengan orang-orang hebat, karena aku hanya gadis desa biasa. Jauh sebelum ini aku juga sudah mempersiapkan diri, tidak berharap penuh bisa kembali kepada Rangga lagi.
Aku pikir ia sudah berubah, tetap saja masih sama seperti yang dulu. Aku tidak tau apakah ia benar-benar mencintaiku atau tidak? Ia tidak bisa mempercayai ku, ini yang membuat aku tidak pernah nyaman bersamanya? Cinta yang tidak didasari kepercayaan, bagai menu makanan tanpa garam, tidak bisa di nikmati. Dia harus tau, aku juga punya hati yang bisa merasakan lelah, jika bukan karena kak Tasya, aku tidak ingin menikah lagi dengan pria manapun!" kata-kata Miranda yang membuat Sania takjub dengan perempuan desa itu.
"Syukurlah, jika Mba sudah bisa berpikir seperti itu. Sania takut Mba Mira seperti Kak Juno yang terlalu mendewa kan cinta. Kehidupan ini akan terus berjalan, kita tidak mungkin berhenti hanya karena seseorang yang belum pasti mencintai dan berkorban untuk kita. Masih ada yang lebih pantas untuk menerima cinta dan kasih sayang ini, seperti orang tua, adik ataupun teman dekat dan cinta tidak harus memiliki atau mungkin dia bukan yang terbaik!"
"Terima kasih yah Sania!"
Keduanya saling berpelukan.
Sania masih memandangi wajah tegar Miranda.
"Tapi, aku tidak bawa pakaian ganti!"
"Tenang, disini ada pakaian wanita Mba!" ucap Sania yang sudah hapal setiap sudut ruang Apartemen Vino.
"Apa kalian satu Apartemen dengan Vino!"
"Tidak, Tuan Vino punya beberapa Apartemen, jika Apartemen ini sudah kotor, ia baru memanggil ku tidur disini untuk membersihkan semuanya, sementara Tuan Vino bisa tidur di Apartemen lain atau di rumah orang tuanya.
Apartemen ini sering di pakai untuk meeting internal dengan teman-teman bisnisnya, para bodyguard, termasuk Mas Rangga. Selain Sania, Mami dan Papinya, Mas Rangga juga bisa masuk kapan saja di Apartemen ini. Kapan Tuan Vino membutuhkan Sania, saya harus segera datang. Selain Dokter, saya ini seorang pesuruh yang tidak bisa membantah! Hehehehe!" Tawa polos Sania.
"Tidak bisa membantah?" tanya Miranda mengerutkan dahinya.
"Maksud Sania, perintah yang masih dalam lingkaran positif yah Mba, jangan mikirnya kemana-mana?" tegur Sania membuat Miranda tersenyum.
"Apa Tuan kamu itu sering membawa pacarnya ke Apartemen ini!"
"Untuk masalah pribadinya itu, Sania tidak pernah bertanya mba dan tidak ingin kepo, yang Sania tau, pacarnya selalu berganti-ganti!"
"Kamu di gaji disini?"
"Jika Tuan Vino memberinya, Sania terima, tapi semua hutang-hutangku dan biaya praktek kedokteran ku sudah di bayarkan oleh Tuan Vino!"
"Oouh, Begitu!"
Miranda memperhatikan Sania yang sedang membersihkan Apartemen yang berantakan.
"Aku bantu ya Sania!"
"Jangan Mba!"
"Aku yakin kisah perjalanan hidup gadis ini juga tidak kalah keras dengan ku, tetapi ia tetap tersenyum bahagia!"
(Miranda semakin bersemangat menjalani hidupnya)
"Artinya kamu masih tetap beruntung menjadi tahanan Vino kan?"
Sania hanya tersenyum.
"Apa kau menyukainya?"
Sania terkejut dengan pertanyaan Miranda yang membuat bibirnya tersenyum merekah.
"Sama sekali tidak Mba!"
"Yakin?"
"Budak seperti saya tidak pantas menyukai pria terhormat seperti Tuan Vino!"
"Memangnya salah? Kamu juga seorang dokter kan?" Bantah Miranda.
"Sania ingin mencari yang biasa-biasa saja Mba, yang terlalu tinggi itu tidak mungkin tergapai. Saya juga bukan seorang Dokter yang bergaya kehidupan mewah seperti teman-teman lainnya! Untuk membeli buku dan membayar biaya pelatihan praktek di rumah sakit harus berhutang!"
"Jangan pesimis seperti itu!"
Sania hanya tersenyum saja.
"Meskipun Tuan Vino itu seorang pria playboy, tetapi ia sangat menjaga kehormatan perempuan, tidak habis pikir mengapa Mas Rangga begitu mudah percaya dengan jebakan ini!"
"Mungkin karena aku mirip dengan Miranda Agustina, mantan Vino!"
"Ouh, begitu! Bisa jadi yah? Ini vitaminnya Mba, sudah bisa di minum!" Sania menyodorkan kepada Miranda.
"Iyah!"
"Terima kasih yah Sania!"
"Iyah!"
***
Lokasi Jane dan Fernando.
(Komunikasi menggunakan bahasa Inggris)
"Bagaimana cara kerjaku sayang? Bagus tidak?" ucap Fernando kepada Jane.
"Sungguh luar biasa sayang, kamu tidak hanya perkasa di atas ranjang juga hebat banget di lapangan," Jane memeluk Fernando dan mencium dahi botak lelaki itu.
"Hahaha!" Tawa Fernando kegirangan.
"Besok Kiandra tinggal menculik Olivia, kita mainkan lagi drama seru ini! Hahaha!" Kata Jane dalam Tawa bahagia keduanya.
"Tapi apakah kamu yakin Vino sudah tidak akan membantu Rangga lagi?" tanya Jane.
"Yakin sayang!"
***
Kediaman Rangga.
Terlihat Olivia sedang menangis histeris, hasrat seorang bayi yang merindukan pelukan kasih sayang yang lebih tulus ia rasakan.
Intan, Kiandra, Iroh, juga sudah berusaha menenangkan bayi itu bahkan Rangga juga terlihat sibuk.
"Aku juga punya anak, tapi tidak se-rewel ini, di kasih apa dengan si Miranda atau memang tingkah bayi-bayi premium seperti ini!" gumam Intan mulai kelelahan.
"Untuk mendapatkan milyaran, aku harus cari akal menculik Olivia besok. Bodyguard juga sudah tidak ada di rumah ini!" Batin Kiandra.
"Enggak mungkin Nona Miranda melakukan perbuatan terhina seperti itu!" gumam Iroh masih percaya dengan Miranda.
Dengan kerja keras mereka bertiga akhirnya Olivia tertidur dalam pangkuan Iroh, si kepala pelayan yang baik hati.
"Apa ia sedang merindukan ibu angkat yang sangat menyayanginya, kasihan sekali Olivia!" Batin Iroh.
***
Tidak menunggu hari esok. Pukul 02.00 dini hari. Vino mengirimkan semua video-video ilustrasi sistem kerja jebakan Fernando itu. Untuk lebih meyakinkan Rangga. Vino menangkap dua orang pelaku yaitu anak buah Fernando, menyiksanya sampai akhirnya mereka mengakui.
Kelebihan Apartemen Vino sebagai markas besar yang tidak diketahui oleh musuh adalah mulai dari titik lorong menuju Apartemennya sampai dengan area-area tertentu di dalam ruang Apartemen ada fasilitas kamera kecil tersembunyi yang di pasang oleh sang Ayah untuk melindungi anak semata wayangnya karena Vino sering berada di Apartemen itu. Hal itu lah yang memudahkan sistem kerja Detektif sehingga bisa cepat mengungkap kasus jebakan tidur bersama antara Vino dan Miranda.
Dalam video itu terlihat jelas, awal mulanya anggota Fernando yang menyamar menjadi pelayan pengantar makanan mendorong masuk langsung menuju dapur dan meneteskan cairan khusus ke dalam minuman Vino dan Miranda, setelah itu tiga orang pria dan satu wanita masuk melucuti pakaian Rangga dan Miranda lalu menggotong dan menyatukan mereka di kamar utama tanpa terbangun sedikit pun.
Rangga hanya terdiam memperhatikan Video itu di tengah malam yang sepi sambil melamun kan diri dengan rokoknya.
"Mengapa aku terlalu emosi dan begitu takut kehilangan Miranda lagi?"
"Apa karena peristiwa masa lalu itu, semua seperti de Javu, Vino seperti Damar yang jauh lebih kaya dari aku. Aku takut sekali masa lalu itu muncul kembali, dimana aku benar-benar tidak berdaya saat ditinggal oleh Miranda! Berbulan-bulan menangisi cinta yang tidak pernah terbalas!"
Batinnya mulai muncul rasa penyesalan dan mulai bingung harus berkata apa. Ia sudah terlanjur mengusir dan menceraikan Miranda.
Malam yang begitu sepi, dimana Rangga, Vino juga Miranda terlihat galau dengan peristiwa yang sudah menghancurkan hubungan mereka.
***
.
.
.
.
Bukan Novel Sarah Mai jika jalan ceritanya tidak berbelit-belit dan rumit yah. Hehehe.
Bagi kalian yang masih menikmati kisah yang rumit ini dan penasaran dengan akhir yang seperti apa? Jangan lupa terus support author dengan memberikan Like, Gift, vote, bintang lima serta do'a😄 agar masih tetap bertahan di Noveltoon yah 🤗
Terima Kasih.