
Hampir 2 tahun berlalu, Rangga terus menuai kesuksesan bak roket yang terbang melepas landas dari permukaan bumi begitu cepat menembus angkasa.
Pelanggan pertamanya seorang artis hebat di Negeri Eropa menjadi gerbang besar bagi Rangga, untuk menuai kesuksesannya yang terkesan instan. Hasil jerih payahnya, ia gunakan untuk mulai menjalin kerjasama atau aliansi bisnis dengan banyak pengusaha muda khususnya bidang properti baik Nasional hingga Internasional.
Rangga sudah memiliki perusahaan arsitek sendiri, khusus disain interior dan bangunan juga gallery. Meskipun begitu, Rangga tetap bergabung dalam komunitas pertamanya, ia tidak ingin disebut kacang lupa pada kulitnya. Rangga terpilih menjadi senior yang jejaknya patut untuk dicontoh sebagai panutan junior lainnya, ia juga diangkat sebagai pembimbing dan donatur dalam komunitasnya.
Uang bukan menjadi penghalang lagi bagi sosok Rangga, selain perusahaan, ia memiliki rumah mewah, serta koleksi mobil dengan harga terendah 1 Milyar rupiah. Lahan perkebunan juga masih banyak usaha lainnya.
Sungguh prestasi gila juga spektakuler yang diraih oleh Rangga hanya dalam waktu yang cepat, terlihat tidak masuk akal tapi menjadi kenyataan. karya-karyanya dibeli dan dihargai dengan ratusan bahkan ada yang sampai jutaan dolar.
Kasiman dan Rianti juga menjadi orang paling kaya di desa mereka, selain memiliki rumah paling mewah juga banyak aset lainnya di desa, membuat orang semakin bertanya-tanya tentang pekerjaan Rangga selama di Jakarta, namun tidak ada yang berani berkomentar jelek.
***
"Semua demi kak Tasya!" Miranda berlari memasuki pesawatnya.
Saat kondisi kesehatan Tasya menurun, wanita itu lebih suka menyendiri di rumahnya yang mewah dan memilih berpisah dari Rangga, hanya ada pelayan disana.
Sejak penyakit lupus itu menyerang Tasya, perasaan wanita itu sangat sensitif, mudah marah, apalagi melihat banyak rekan-rekan wanita Rangga yang mulai datang menghampiri suaminya.
***
Seorang wanita sexy begitu bernafsu mencumbui Rangga.
"Aku tidak bisa tidur denganmu!"
"Kenapa sayang! Bukan kah Mas Rangga sangat menginginkan hasrat itu?"
"Tasya lagi sakit."
"Justru itu!"
"Tidak!" Rangga berusaha mendorong wanita rekan bisnisnya itu jatuh ke sofa ruang kerjanya, lalu pergi begitu saja.
"Meskipun akhir-akhir ini hubungan ku dengan Tasya semakin memburuk, tapi aku tidak bisa bersenang-senang dengan wanita lain di saat Tasya sedang berusaha kuat melawan penyakitnya, aku tau benar seperti apa sakitnya ketika sedang berjuang sama sekali tidak mendapatkan dukungan justru malah terkhianati"
Batin Rangga mengingat kisah sedihnya di tinggal Miranda.
***
"Kakak!" Suara lembut Miranda berdiri terpaku di depan pintu kamar Tasya yang sedang duduk di kursi roda, melamun menatap ke arah jendela.
Begitu mendengar nada suara Miranda yang lembut. Perasaan Tasya serasa campur aduk.
Selangkah demi selangkah Miranda mendekati Tasya dan ingin menyentuh lembut bahu sang kakak.
"Jangan sentuh aku!" Hentak Tasya langsung berbalik cepat.
"Kakak!" Mata Miranda langsung berkaca-kaca.
Tasya menatap Miranda dengan matanya yang tajam.
"Maaf, aku benar-benar tidak tau jika kakak sedang sakit!"
"Miranda, mengapa kamu pulang? Apa kau takut aku tidak akan membayar semua kebutuhan kamu!"
"Kakak, apa yang kau katakan!"
"Tinggalkan aku sendiri, aku tidak butuh siapa-siapa, aku hanya Ingin menunggu anak ku lahir, aku ini sudah tidak berguna lagi, aku sudah seperti bangkai hidup yang menjijikkan."
"Kakak...kakak...kak...hiks...hiks...hiks!" Miranda menangis tersedu-sedu berlutut di kaki Tasya.
"Aku sudah terlanjur menyayangimu sebagai kakak, tolong biarkan aku disini!" Pinta Miranda, aku ingin menemanimu, kau adalah sosok yang sangat berarti untuk ku kk, kau telah memungut ku dari kubangan sampah hingga aku menjadi wanita yang terpandang.
"Mengapa kakak tiba-tiba marah seperti ini kepada Ku dan membenci ku, bahkan sama sekali tidak ingin datang lagi melihat ku, aku salah apa kak? Sumpah aku benar-benar tidak tau jika kakak sedang sakit!" Tangis Miranda.
Tasya hanya diam saja dengan wajah masamnya, matanya terlihat berkaca-kaca menahan tetesan air mata.
"Bukankah kita sudah berjanji akan susah senang bersama kak?" Kata Miranda.
"Karena Rangga terlalu mencintaimu Miranda, aku sangat cemburu dan merasa tidak bisa mendapatkan cinta suamiku sendiri, perasaan ini terasa sakit hingga membenci kalian berdua!"
Ketika Rangga sedang tertidur lalu mengigau memanggil-manggil nama Miranda sambil berkata-kata di alam bawa sadarnya ;
"Miranda aku sangat mencintaimu!"
"Aku masih menginginkan dirimu!"
"Kau masih istriku!"
(Tasya yang tadinya tidak berniat mencari identitas mantan istri Rangga pertama namun saat mendengar kata-kata itu ia merasa penasaran dan akhirnya mendapatkan informasi dari banyak pihak, salah satunya dari Rianti, sang ibu mertua. Rianti yang lebih menyukai karakter Miranda dari pada Tasya yang lebih tegas dan Arogan)
"Jawab kk? Mengapa tiba-tiba kakak mengabaikan Mira?"
"Karena kau ternyata mantan istrinya Rangga dan tidak pernah jujur tentang hal ini."
"Apah😳!"
"Pergilah, aku tidak membenci mu, aku juga tidak menyalahkan mu, tapi aku tidak ingin kau ada disini dan jangan takut, semua biaya pendidikan dan kebutuhan kamu akan tetap aku tanggung!" ucap Tasya dengan tegas.
"Kakak! Apakah Ini arti bersaudara bagi mu! Kau sangat membenci ku hanya karena aku adalah mantan istri Mas Rangga? Itu semua sudah masa lalu ku kak dan kami tidak mungkin kembali lagi, saat ini Mas Rangga itu milik kakak bukan milik ku?" Miranda mencoba menjelaskan dengan linangan airmata.
"Tidak ada yang bisa ku percaya lagi di dunia ini?" Tasya mendorong kursi rodanya sendiri meraih gagang telpon. Memanggil pelayannya agar mengusir Miranda pergi dari rumahnya.
sang pelayan terus mendorong Miranda keluar.
"Kakak, Mira ingin merawat kakak, tolong jangan usir Mira kak,"
"Hayo pergi, Nona tidak ingin di ganggu!"
"Mira sudah pindah kampus ke Jakarta kak, agar bisa merawat ka...kak!" teriak Miranda terdengar sayup-sayup di telinga Tasya saat si pelayan terus mendorong tubuh Miranda keluar dan menutup cepat pintu kamar Tasya.
***
"Suara itu mirip sekali dengan Adikku, tatapan wajah sayu Miranda dan ia sangat tulus Hiks...Hiks...!
Benarkah jiwa adikku ada di tubuh Miranda? Mengapa meraka seperti pinang di belah dua, haruskah aku membenci Miranda? Perasaan ku sangat kacau? Hatiku benar-benar kecewa...hiks...hiks...aku ingin bahagia?
"Aku juga tidak boleh egois seperti ini...Hiks...hiks..!" Isak tangis Tasya.
***
Flashback Masa lalu Tasya dengan Miranda.
"Miranda, mengapa kau juga pergi meninggalkan kakak? Apa kau tidak sayang kepada kakak!"
isak tangis Tasya saat menghadapi Sakaratul maut Miranda Agustina.
"Kakak ku sayang, percayalah, suatu hari nanti jiwaku akan hadir kembali untuk mu! Aku akan datang di saat kau membutuhkan kan ku!" pesan terakhir Miranda Agustina, adik kandung Tasya Kamila.
***
📱"Hari ini, adik angkat Nona Tasya datang dari Kuala Lumpur dan sekarang ada di rumah ini Tuan!" ucap salah satu pelayan di rumah Tasya menghubungi Rangga Dewa.
"Ok!"
"Tapi...!"
"Tapi Apa?"
"Nona mengusirnya? dan ia masih menunggu di luar?"
"Mengusirnya, Ada masalah apa?"
"Saya kurang tau Tuan?"
"Baiklah, saya akan kesana?"
***
Miranda hanya diam berdiri terpaku tak ingin pergi dari rumah Tasya sampai sore menjelang malam sampai hujan membasahi tubuhnya. Ia masih tampak duduk meringkuk di area halaman rumah Tasya.