
Terlihat Jane Anita berbincang dengan seorang pria bayaran.
"Jangan takut, saya akan bayar sesuai dengan permintaan kalian!"
"Masalahnya bukan pada bayaran Nyonya."
"Lalu apa?"
Kedua pria bayaran itu saling memandang hingga salah satu diantara mereka mulai angkat bicara.
Pengawalan ketat dari si Tuan Rangga berlapis tinggi dengan datangnya bantuan seorang pria yang bernama Vino Febian. Dia adalah sahabat dekat Rangga dan juga Tasya. Vino berasal dari keluarga Bangsawan yang sangat kaya. Pemuda itu salah satu pewaris tahta ke lima dari kakek dan neneknya (keluarga Ayah Vino) yang berasal dari Jepang.
Jika tidak salah, mereka memiliki kelompok bodyguard terkuat masuk kategori Gangster yang paling ditakuti dikalangan bisnis. Tak banyak yang tau identitas pria itu.
Ayah dan ibunya juga memiliki banyak perusahaan Arsitektur dan Properti yang tak lain sahabat dekat sekaligus rekan bisnis Nyonya Arini, ibu Tasya dan Miranda."
Mendengar hal itu Jane Anita langsung tercengang dengan dua bola matanya yang sedikit melotot, lalu menelan paksa ludahnya.
"Be...benar kah?"
"Benar Nyonya, pekerjaan ini sangat beresiko bagi kami! Kemungkinan besar, kami terpaksa menolaknya! Permisi."
"Ta...tapi! Hei tunggu...!"
Dua pria bayaran itu tidak menghiraukan panggilan Jane, mereka pergi begitu saja, meninggalkan istri Rusdy itu di sebuah cafe yang menjadi tempat perbincangan mereka.
"Sial! Kenapa si es Vino itu bisa muncul dan menjadi penghalang terbesar ku saat ini," gumam kesal Jane.
Wanita itu menyadari kelemahan finansial suaminya tidak sehebat kekayaan Arini yang jauh lebih menjanjikan. Jane mengira dulunya harta kekayaan Arini adalah milik Rusdy Hamzah yang sudah menjadi suaminya.
"Huuft!" Sejenak Jane terbayang dengan cerita masa lalu.
***
Terlihat Tasya menarik-narik rambut Jane di rumah orang tuanya. Setelah kematian Arini dan juga pernikahan Rusdy dan Jane Anita.
"Dasar kau plakor Jahan*m! Kau memang perempuan sampah yang tidak tau diri!" terjadi perseteruan hebat Antara Tasya dan Jane.
"Kau hanya bermodalkan tempe mu yang busuk itu, dasar kau parasit!" Jerit Tasya sangat geram menarik-narik rambut Jane.
"Aaarrkh, lepaskan aku anak kurang ajaaaaar!" Jerit Jane tidak mau kalah.
"Kak Tasya sudah, hentikan kak!" tangis Miranda Agustina berusaha melerai mereka.
"Perempuan ini harus di kasih pelajaran!" ucap geram Tasya menampar keras pipi Jane.
"Prak!"
"Aw!" Reaksi shock Jane.
"Tasya!" Bentak Rusdy dari kejauhan, pria itu berjalan dengan cepat mendatangi istri kedua dan dua putrinya itu.
Tanpa kata lagi
"Prak!" Rusdy langsung menampar pipi Tasya.
"Paaapah!" Jerit Miranda Agustina tidak terima kakaknya di tampar oleh sang Ayah.
Baru kali itu Rusdy memukul putrinya, dari kecil ia tidak pernah memukul anak-anaknya.
Tasya terbengong hingga air matanya menetes lebih cepat.
"Enggak apa-apa kok Pah! Tasya terima dengan tamparan ini, artinya Papa lebih sayang dengan plakor murahan yang sudah tega menghancurkan keluarga kita dari pada darah daging Papa sendiri!" ucap Tasya dengan perasaan hancur berlinang air mata.
"Papa hanya mengajarkan kepada kalian agar sedikit sopan dengan ibumu yang baru," Peringatan keras Rusdy kepada putrinya.
Jane tersenyum kesenangan mendapat pembelaan dari sang suami sambil berkata dalam hati;
"Rasain kau, anak kurang ajar!"
"Heh,😏 layak kah ia di sebut ibu? Sopan? Papa yang harus ajarin dia untuk sopan terlebih dahulu kepada orang lain. Ajarkan kepadanya untuk tidak merebut suami teman sendiri dan menjadi parasit di keluarganya, apalagi sampai tega menampar Miranda. Siapapun yang berani menyakiti adikku, aku akan membuat perhitungan kepada orang itu tanpa terkecuali," bentak Tasya kepada ayahnya dengan nada lantang juga keras serta mata yang melotot lebar.
Rusdy terdiam.
"Tapi Mas..." Rengek Jane ingin menyangkal ucapan Tasya.
"Diam kamu!" Bentak keras Tasya dengan cepat menunjuk bengis ke arah Jane.
"Tasya!" Hentak balik Rusdy tetap membela istri barunya.
"Dengar baik-baik Pah! Tasya bersumpah, sampai kapanpun, Tasya tidak akan menginjak rumah ini lagi dan akan membuktikan kepada Papa jika kami bisa sukses tanpa bantuan siapapun! Papa jangan lupa, ada uang mama untuk membeli rumah ini!" Peringatan keras Tasya menatap tajam sang Ayah.
"Ayo Mira, kita pergi!" Tasya menarik cepat tangan Miranda.
Rasa sakit hati Tasya kepada Ayahnya membuat ia terus memacu karir hingga menolak banyak lamaran pria sampai usianya 30 tahun, ia juga tidak menyia-nyiakan kekayaan ibunya. Hingga suatu hari Tasya dan Rangga di pertemukan oleh Vino. Keduanya merasa cocok dan memiliki visi dan misi yang sama, yaitu ingin balas dendam kepada seseorang dengan cara membuktikan kesuksesan diri yang tidak tertandingi.
***
"Aku yakin Mas Rusdy akan tetap ada di pihak ku!" Batin Jane tersenyum sinis, mencari siasat baru ingin mencelakai keluarga Tasya.
***
"Kalian tau apa alasan Pak Atar di pecat?" Tanya Miranda.
"Soal itu kamu tidak Nona, jadi kami mohon menurut lah pada kami, kami sangat butuh pekerjaan ini!"
"Ada masalah apa yah?" Batin Miranda bertanya-tanya juga merasa iba dengan para pelayan.
Para pelayan itu menarik cepat tangan Miranda agar segera mandi dan makan.
"Hei!" ucapnya terkejut.
***
Sehabis mandi, Miranda masih memperhatikan suasana kamar Rangga.
"Mereka sudah menikah tetapi tinggal di rumah masing-masing? Sesibuk itu kah Keduanya?" gumam Miranda.
"I...Iyah!"
Sehabis makan, pelayan mengarahkan Miranda agar memakai gaun yang bangus.
"Mengapa saya harus memakai pakaian seperti ini!"
"Tolong menurut saja kepada kami! Kami tidak ingin di pecat?" jawab mereka dengan nada memohon, membuat Miranda tidak bisa berkutik.
"Astaga, Rangga dari dulu memang suka berlebihan, pakai gaun bagus seperti ini memangnya mau kemana?" Pikiran Miranda terus bertanya-tanya.
Lanjut merias wajah Miranda dengan menghadirkan perias profesional.
"Tapi saya tidak biasa berdandan seperti ini?" ucap polos wanita desa itu.
Pelayan tidak menghiraukannya mereka tetap menjalankan perintah.
"Bi, bisakah kau mengatakan saya akan di bawa kemana setelah ini, saya harus pulang, banyak sekali tugas kuliah yang harus saya kerjakan!"
"Sabar Nona, sebentar lagi, Tuan Rangga pulang, Nona bisa bertanya langsung kepadanya!"
Miranda terdiam dalam raut wajah kebingungan.
"Sudah selesai!" seru sang perias.
"Cling...cling...cling!"
"Wah, Nona cantik sekali!" Puji para pelayan sambil berbisik-bisik.
***
"Tidak kalah dengan Nona Tasya!" Bisik mereka
"Bahkan lebih cantik!"
"Pantas Tuan langsung jatuh cinta!"
"Tapi kasian juga dengan Nona Tasya!"
"Sssssst, Nona Tasya sudah merestui!"
***
"Terima kasih Nona, tugas kami sudah selesai, tetap berdiam diri di kamar ini yah, 10 menit lagi Tuan kami akan datang!" ucap mereka dengan senyum terbaik.
Miranda masih duduk terbengong.
"I...Iyah!"
Para pelayan dan penata rias pergi meninggalkan kamar Rangga.
Terdengar suara.
"Trit" Sebuah sensor penutup pintu kamar. Tanda kepala pelayan menguncinya.
"Hah! Apa mereka mengunci ku!"
Miranda langsung berlari ke arah pintu.
Mencoba menggedor pintu.
"Prok...prok...prok!" ((Bukan suara Pak Tarno yah guys! Anggap ini suara gedoran pintu,🤭🤭))
"Hei, buka pintunya? Mengapa kalian mengunci ku!" teriak Miranda semakin ketakutan.
***
"Aku tidak ingin mengambil resiko, dengan begitu, ia tidak bisa lari lagi, hihi!" Gumam Lucu si kepala pelayan yang bekerja sesuai perintah."
***
"Haduh, ini apa-apa in sih?" Miranda semakin gelisah mulai mondar-mandir mencari akal keluar dari kamar.
Tiba-tiba langkahnya berhenti, terpaku di depan cermin besar, merasa takjub dengan perubahan dirinya yang sangat cantik dan anggun.
"Ini mewah sekali?" Batinnya.
"Tapi...!"
"Rencana apa lagi yang akan di lakukan si kecoa gosong itu kepada ku, apa ia akan menjual ku seperti yang pernah di lakukan Damar? Mengapa aku merasa Ini seperti de Javu, aku trauma sekali.
Waktu itu, tiba-tiba saja Damar bersikap baik ia berjanji berubah menjadi suami yang baik, memberikanku pakaian yang mahal juga merias ku seperti ini, membawaku jalan-jalan, makan bersama lalu menggiringku ke sebuah hotel yang mewah dan ternyata ia berniat ingin menjual ku kepada pria hidung belang!" Miranda terbayang dengan masa lalunya yang menyedihkan.
"Aaarkh, tidak-tidak!"
"Tiiiiiiiiiiiiiiiin!" terdengar suara klekson Rangga yang lebih cepat sampai dari perkiraan.
"Hah? Di dia...su...sudah datang! Mati aku😲!" seketika Miranda terserang sindrom de javu, trauma dengan masa lalu.
Wanita itu semakin panik berlari ke arah jendela.
***
.
.
.
.
.
Mohon maaf tidak bisa up setiap hari tetapi Author usahakan, tetaplah kalian bermurah hati untuk tetap like, vote, memberikan banyak gift dan lainnya. Anggap itu bayaran author yah. agar meng halu nya semakin kencang,😄😆
terimak kasih🙏🙏