
"Mamak mu copot!!!"
Latah Miranda terkejut hebat saat menubruk tubuh Rangga. Ia membayangkan Rangga masih berdiri jauh di belakangnya.
Ayah Olivia itu tersenyum malu-malu.
"Di belakang baju kamu ada kecoa besar?" Bisik manja Rangga menakuti.
"Hah! KECOA!!" Miranda histeris melompat kecil.
"Sudah sini biar aku yang ambil!" perkataan lembut Rangga menarik manis tangan Miranda.
"Jangan bercanda kamu Mas, mana ada kecoa di rumah kamu yang mewah ini!" jawab Miranda berlari melihat ke cermin memperhatikan area belakangnya.
Rangga hanya tersenyum tipis.
Si Otong yang sudah tidak sabar terus memerintahkan otak Rangga agar segera mengejar Miranda dari belakang.
"Dia sedang merayapi tubuhmu," bisik Pria itu lagi.
"Arrkh!" Miranda kegelian membayangkan binatang itu merayap di tubuhnya.
"Kamu bohong kan Mas?"
Rangga lalu merapatkan tubuhnya menarik baju Miranda ke atas. Terlihat punggung mulus Miranda yang membuat jakun pria itu naik turun.
Reflek Rangga langsung menciumnya dan terlihat jelas oleh Miranda dari tampilan cermin.
"Ih kamu yang kecoa nya!" Kata Miranda memutar tubuhnya menolak dada Rangga. Ia berusaha menghindar.
Rangga hanya tersenyum.
"Jika suami lagi 'ingin' apa istri boleh menolak?" langkah Rangga terus mendekati Miranda yang mulai melangkah mundur.
Miranda berhenti mundur, keduanya saling menatap.
"Mas Rangga kan bisa melakukannya dengan wanita lain!"
"Yakin kamu tidak cemburu?"
"Tidak!"
"Ouh Iyah!"
"Pernikahan ini hanya untuk Olivia, bukan karena cinta ataupun kepuasan!" Jawab Miranda dengan tegas.
"Tapi bagaimana jika aku ingin melakukannya dengan kamu?" Kata Rangga langsung memeluk Miranda.
"Ayolah, saat ini aku ingin sekali melakukannya!" bisik lembut Rangga mulai nakal mencium kecil telinga wanita itu, membuat Miranda merinding dan jantungnya berdebar-debar.
"Aku bisa apa sebagai seorang istri, hanya bisa pasrah, menolak salah, menerima juga salah!" gumamnya dalam wajah meringis.
"Tapi jangan masukin ke dalam!"
Miranda berbalik badan membelakangi Rangga.
"Aku tidak ingin hamil!" ucapnya Miranda😑
Rangga mendekap romantis sang isteri dari belakang.
Aroma tubuh pria itu serta hangatnya dekapan Rangga membuat Miranda merasa sangat nyaman.
"Jika pun kamu hamil, aku pasti tanggung jawab!" bisik Rangga langsung mengangkat Miranda menuju sofa yang empuk. Mengunci pintu dengan rapat dan mulai beraksi dengan melampiaskan segala hasrat ***** yang jarang terlampiaskan di atas sofa. Satu persatu pakaian mereka lepas dan berjatuhan ke lantai, namun terlihat Miranda tidak begitu respon, tetapi tidak bisa menolak.
"Mungkin beginilah takdirku, menjadi pemuas ***** Rangga dan aku hanya bisa pasrah!"
Segala gaya mereka lakukan di atas sofa demi menuju kenikmatan bersama, kenikmatan yang tidak tertahankan lagi membuat suara ******* tetap bergeming di kamar Olivia.
Bayi Olivia hanya bisa tertidur lelap di saat kedua orangtuanya sedang menikmati indahnya cinta.
"Huh!"
"Ah!"
"Kamu hebat banget, Beb! Aku suka!" puji Rangga sambil mengelus rambut Miranda dengan lembut, ia tidak pernah kecewa dengan layanan sang istri muda. Gairah wanita itu selalu membuat Rangga traveling serta merasa candu tingkat tinggi kepada tubuh Miranda.
"Aaaarrgh!" Teriakan keduanya sebagai akhir dari permainan.
"Hah!"
"Hah"
Nafas mereka terengah-engah ibarat sedang berlari mengitari lapangan sepak bola.
Rangga mencium lembut dahi Miranda yang tergeletak lemas di atas sofa.
"Terima kasih sayang!" ucapnya merasa puas.
"Aku tidak mencintaimu Mas, ini hanya kewajiban ku sebagi istri. Jika suatu hari nanti, kamu akan menikah dengan wanita pilihan keluargamu, aku mohon sekali kepadamu, Mas! Tolong akhiri pernikahan ini. Aku berjanji, tidak akan menelantarkan Olivia," ucapnya tidak berani menatap Rangga.
Rangga hanya tersenyum tipis dan mengusap cepat ubun-ubun Miranda, ia bergegas memakai pakaian. Sudah banyak panggilan tidak terjawab di ponselnya lalu keluar dari kamar Olivia. Miranda masih tergeletak lesu di atas sofa, saat sadar tidak berbusana, ia pun berlari membersihkan diri ke kamar mandi.
"Jangan sampai aku hamil?" batinnya sambil membasuh tubuh.
Setelah Mandi.
Miranda mulai gelisah memandangi kalender di ponselnya.
"Tapi sepertinya ini bukan masa subur ku!" batin Miranda.
Miranda bergegas membuka lemari dan mulai menyadari jika pakaiannya tidak ada di kamar Olivia, hanya ada pakaian bayi saja serta seragam Babysitter, merasa tidak ada pilihan lain, Miranda terpaksa memakai pakaian seragam itu.
***
Terlihat juga Rangga mulai mengguyur seluruh tubuhnya dengan air shower di kamar mandi miliknya. Ia masih membayangkan indahnya bercinta dengan Miranda yang sensasi lebih nikmat, berbeda saat bersama Tasya, Miranda sangat patuh jika Rangga memerintahkan gaya bercinta favoritnya. Terlihat ia senyum-senyum sendiri.
"Gimana Tong! Sudah segar kan🤩!"
"Tapi mengapa akhir-akhir ini ia terlihat sangat jutek, sedikit berbeda dari kemarin!" batin Rangga.
Sehabis mandi dan memakai pakaian, ketika bercermin Rangga masih terlihat senyum-senyum sendiri. Ia sudah berpenampilan wangi, tampan menggoda kaum hawa. Rangga bergegas masuk ke ruangan kerjanya karena sore itu banyak sekali rapat online yang terbaik olehnya.
"Tlek" Miranda masuk ke ruang kerja Rangga.
"Aku ingin mengerjakan tugas, di mana leptop ku?" tuntut Miranda menemui Rangga di ruang kerjanya dahinya terlihat berkerut.
Sontak Rangga memperhatikan pakaian Miranda dari atas sampai bawah.
"Mengapa kau memakai seragam Babysitter!"
"Aku tidak punya pakaiannya lagi!" jawabnya ketus dan tidak ingin mencari perhatian di depan suaminya.
Rangga menarik tangan Miranda, membawanya ke dalam kamar khusus ke dalam ruangan pakaian.
"Tampilan kamarnya berbeda lagi!" batin Miranda.
"Mulai hari ini mandi di kamar ku saja, semua pakaian kamu sudah tersedia disini, tinggal pilih, kamu mau pakai pakaian yang seperti apa?" kata Rangga membuka satu persatu isi lemari khusus pakaian wanita.
Miranda terbengong sekaligus takjub dengan melihat isi lemari itu, bak toko pakaian yang mahal dan sangat indah.
"Tunggu, ini pakaian apa?" Miranda menunjuk ke arah pakaian lingeria hitam nan sexy yang bergantungan.
"Bukannya dulu kamu ingin membeli pakaian seperti ini, pakaian tidur yang mirip untuk menjaring ikan ******?" kata Rangga dengan senyum tertahan.
😳😳😳 "Menjaring ikan ******???" ia berusaha mengingat.
"Tidak memakai pakaian jaring-jaring menangkap ikan ****** seperti itu saja, kau sudah begitu tergiur dengan tubuh ku bagaimana jika aku memakai pakaian itu, bisa-bisa setiap malam on air terus!"
"Tapi sampai disini aku justru merasa aneh, mengapa Rangga membelikan aku pakaian yang mahal-mahal seperti ini dan di taruh di ruang pakaian pribadinya, bukankah aku hanya seorang istri siri. Entah mengapa aku merasa khawatir, takut berharap lagi?" gumam Miranda yang terlihat mati rasa.
"Woi, malah melamun, kagak pernah yah lihat pakaian mahal seperti ini!" gaya sombong Rangga.
"Iyah, aku ini kan orang kampung, mana pernah punya pakaian mahal seperi ini!" jawab apa adanya Miranda dalam raut wajah datar.
"Heh!" Rangga hanya tersenyum.
"Apa kamu ingin memakai pakaian jaring-jaring ini?"
"Tidak, aku ingin pakaian yang rumahan biasa saja!"
"Biasa gimana?"
"Karena aku tidak biasa memakai pakaian mahal seperti ini, nanti aku beli saja sendiri di pasaran!" ucap Miranda buru-buru keluar dari kamar Rangga.
"Hei," Rangga mengejar istri sirinya itu sampai ke depan pintu.
"Mas Ranggaaaa" teriak seorang wanita cantik nan sexy tiba-tiba datang dan langsung menghampiri keberadaan Rangga! Petugas keamanan sempat mengejar wanita itu.
"Maaf Tuan, Nona Tiara ini langsung masuk saja!" ucap kesal sang petugas menarik keluar tangan Tiara.
"Ih! lepasin, kalian tidak tau yah, jika saya ini calon istrinya Mas Rangga alias pengganti Tasya Kamila," ucap tegas Tiara dengan mata melotot kepada para petugas itu.
"Yah kan Beb!" Tiara langsung merapatkan tubuhnya kepada Rangga lalu mengalungkan tangannya di leher Rangga dengan manja.
Seketika itu pula, Miranda langsung memalingkan wajahnya.
"Apaan sih?" Rangga mencoba melepas tangan Tiara.
"Aku bawa sesuatu buat Olivia!" ucap centil Tiara sambil melirik Miranda.
"Siapa wanita ini? tanya Tiara memperhatikan Miranda dari atas sampai bawah.
"Ouh Babysitter Olivia yah?" tebak Tiara.
Mendengar ucapan Tiara semuanya terdiam.