
Saat Rangga dan Miranda jalan-jalan dengan sepeda motornya, mereka berhenti melihat-lihat pameran mobil dan sepeda motor terbaru di desa itu.
"Udah lah Ga, lu kagak mungkin bisa beli yang kayak beginian, ngapain lihat-lihat di sini!" ucap layas, salah satu pria kaya karena harta orang tuanya. Ia dan teman-temannya senang menertawai Rangga.
Seketika Rangga menggenggam kuat tangannya ingin meninju wajah songong lelaki yang usianya sebaya dengan dirinya.
Miranda bergerak cepat menarik tangan suaminya.
"Sudahlah Mas? Ayo kita pulang."
"Awas kamu yah! Jika nanti aku kaya, kau dan keluarga mu bahkan nenek-nenek mu akan aku beli buat ngurusin sangkar semut di kampung ini!" ucapan kesal Rangga dengan wajahnya yang masam.
Mereka hanya tertawa dan mengacungkan jempol ke bawah👎
Begitulah kesan sinis dan remeh orang-orang desa memandang kehidupan Rangga dan Mira. Mereka menganggap jika Rangga bisa memiliki mobil dan sebuah motor terbaru hanyalah sebuah angan belaka.
***
Begitu cepat waktu berlalu, ekonomi rumah tangga Mira dan Rangga semakin membaik. Namun cerita bahagia itu hanya lah sesaat, badai kehidupan kembali menerjang.
"Miraaa...Miraaa...!" Teriak Karjo datang dengan anggota lainnya membopong Rangga menuju rumah.
Begitu Miranda membuka pintu rumahnya, betapa terkejutnya ia melihat Rangga lemas tidak berdaya, wajahnya sangat pucat.
"Yah Allah! Mas Rangga kenapa Pak?" tanyanya mulai panik langsung mengarahkan mereka ke kamar. Rangga diletakkan di sana.
"Dino! Tolong cepat panggilkan bidan desa!" Perintah Karjo pada anggotanya.
"Baik Pak!" Jawab Dino bergegas keluar.
"Sepertinya Rangga masuk angin dan kelelahan, ia terjatuh saat sedang mengaduk semen. Apa tadi dia tidak sarapan?"
"Sarapan Pak!" Jawab cepat Mira.
"Yah sudah, beberapa hari ini dia istirahat saja dulu!"Â
"Terima kasih banyak Pak, sudah mengantarkan Mas Rangga ke rumah!"Â
"Kalau begitu kami pergi dulu!"
"Baik Pak!"
Karjo dan beberapa anggotanya pergi meninggalkan kediaman Rangga dan Miranda.
***
Rangga hanya bisa tergeletak lemas tidak berdaya, bahkan ingin bicara pun ia begitu berat.
"Mas! Minum dulu!" Mira membantu Rangga meminumkan air hangat. Tidak berapa lama Bidan desa pun datang dengan sepeda motornya.
Setelah pemeriksaan. Rangga positif gejala typus, ia terpaksa di rujuk ke rumah sakit besar dan harus rawat inap beberapa hari disana, kondisinya sangat drop dan lemah. Akibat terlalu lelah, tidak ada suplemen kuat yang bisa mendukung asupan gizi Rangga. Selain bekerja, ia juga banyak berpikir mengembangkan disainnya bahkan sampai larut malam. Di tambah lagi perang cinta bersama Miranda di atas ranjang yang hampir setiap malam mereka lakukan, cukup menguras energi Rangga.
***
"Angin begitu sejuk menampar wajah dan tubuhku.Â
Begitu aku mengetahui kondisi Mas Rangga sakit, aku sangat panik juga bingung. Tetapi saat pihak rumah sakit mengizinkannya pulang, hatiku mulai lega. Aku berusaha merawatnya sampai kondisi Mas Rangga benar-benar pulih. Saat itu aku senang sekali, akhirnya ia bisa sembuh kembali. Namun sayang, keuangan yang selama ini sudah sempat terkumpul, harus habis ludes tidak tersisa sedikit pun, bahkan untuk makan saja sangat sulit.
Ibu Rianti dan Pak kasiman alias mertuaku sudah sepakat untuk tidak mengizinkan Mas Rangga bekerja terlalu ekstrim. Ia kembali seperti dulu, hanya bisa ngojek dan menggambar di warung. Mas Rangga tetap kukuh mempertahankan bakat arsiteknya, juga tidak ingin bekerja menjadi kuli kasar lagi dengan alasan tidak sanggup.
Aku sangat malu harus datang ke rumah mertuaku meminta uang belanja kami. Meski meraka merasa tidak keberatan tapi aku bisa melihat guratan wajah mereka yang begitu kecewa dan bertambah berat. Terkadang aku tidak ingin datang karena lebih baik menahan lapar. Pak Kasiman hanya percaya memberi uang kepada ku dan entah sampai kapan kami harus bergantung kepada mereka. Aku juga tidak lagi mengasuh balita, karena ibunya sudah tidak bekerja.
Aku tidak tau, mengapa ekonomi rumah tangga kami begitu sulit. Disain bangunan dan interior yang sudah banyak di ciptakan oleh Mas Rangga, satupun tidak ada yang laku, tapi ia tetap tidak ingin menyerah.
Sejak kejadian Mas Rangga memukul Mas Ardi, aku sulit mendapat pekerjaan di desa itu. Mas Rangga sudah terkenal sangat pencemburu. Entahlah! Pikiranku sangat penat, kusut, aku hanya bisa menangis diam-diam, tidak bisa bicara juga tidak bisa membantah, dadaku terasa sesak, Ingin ku curahkan semua ini kepada ibu tapi aku masih tetap bertahan tidak ingin membuatnya bersedih. Terkadang aku ingin jajan, membeli sesuatu tetapi hanya bisa menahannya, aku galau dan tidak bersemangat.
Aku merasa terkekang, sungguh pernikahan ini begitu menyiksa. Aku sangat sedih, tapi aku tidak tau harus mengadu kepada siapa. Meski ibu sudah berkali-kali menyuruhku datang ke rumah, namun Aku takut untuk pulang, aku tidak bisa menyimpan masalah jika sudah bicara kepada ibu."
Mira hanya mengurung diri di rumah, ia merasa kesepian jika Rangga sedang di warung. Ia tidak berani keluar bahkan tidak bergaul. Mira merasa orang-orang sekitar sering menggunjing dirinya.
***
Minggu siang, Karina adik ipar Narwati datang berkunjung ke rumah Miranda.
Seketika itu Mira terkejut menghapus cepat air matanya yang sedang duduk melamun diatas kasur.
"Wa'alakumsalam, Itu seperti suara Bude!" Miranda berlari membuka pintu.
"Bude!"
"Mira!" ucap Karina.
Keduanya langsung berpelukan rindu. Mata Mira terlihat berkaca-kaca ingin rasanya ia langsung bercerita namun wanita itu masih menahannya.
"Mira kamu kurus sekali, wajahmu kusam dan lesu, kamu sakit yah?"
"Enggak kok Bude, Mira baik-baik saja, ayo masuk!"
Karina sedikit kepo lalu masuk dan melihat-lihat isi rumah Mira yang masih kosong dan sederhana.
"Dimana Rangga?"
"Ada di warung."
 "Kabarnya ia sakit kemarin?"
"Iyah, tapi sudah sembuh!"
"Masak apa kamu hari ini, Bude boleh makan di rumah mu?" Karina langsung berjalan ke dapur, wanita itu iseng sudah terbiasa berlaku heboh dengan Mira dan ibunya.Â
Mira hanya diam saja.Â
Karina celingak-celinguk mencari makanan di dapur namun tidak mendapatkan apa-apa.
"Kamu tidak masak?"
"Iyah!" Jawab Mira.
"Buatkan Bude minuman yang manis!"
"Air putih saja yah Bude!"
"Hem, yah sudahlah!"
("Benar-benar tidak ada makanan di rumah si Mira ini")
Keduanya duduk bersama.
"Lumayan jauh juga rumah kamu!" Komentar Karina.
"Di sini sewa kontrakan masih murah Bude!"
"Ouh!"
"Kedatangan Bude kesini, mau memberi kabar, kalau ibu kamu sedang sakit!"
"Hah...sa...sakit!" Mira sangat terkejut.
"Sepertinya ia sangat rindu dengan kamu, mengapa selama menikah kamu tidak pernah melihat ibumu. Mira, kau kejam sekali!" tegur keras Karina.
Mira hanya menunduk! Seketika itu ia sudah bertekad ingin bertemu dengan ibunya, Mira langsung bangkit mengambil beberapa potong pakaiannya.
"Yah sudah, antar kan Mira pulang Bude!"Â
"Sekarang?"
"Iyah!" Jawab Mira sangat yakin.
"Apa kamu tidak perlu izin dulu dengan Rangga?"
"Nanti aku telpon saja dia! Ayo cepat Bude!"
"Ba... Baiklah!"
Setelah Mira mengunci pintu, Keduanya pergi menuju rumah Narwati.