
"Selamat datang!" Sambutan Fudo Gin, Melani, Vino serta yang lainnya. Sania terlihat menepi begitu melihat kedatangan Keluarga Rangga, ada rasa malu di hatinya karena pernah hampir membunuh Olivia.
Makan dalam hidangan yang lezat, bernyanyi bersama di iringi tawa dan kebahagiaan, mereka tampak bersemangat melakukan pesta kecil yang meriah serta pemberian kado spesial untuk Olivia si bayi yang beruntung dan bersuka cita bersama tanpa ada hal yang menyinggung masalah hubungan Rangga dan Miranda.
"Sania?"
"Eh, kak Mira?"
"Hari ini kamu cantik banget, hampir saja aku tidak mengenalinya!"
"Terima kasih! Kak Mira juga cantik banget kok!" Jawab Sania malu-malu.
Miranda membalas dengan senyuman manis.
"Maaf!"
"Soal apa?"
"Aku pernah..."
"Ouh, semua sudah clear kan!"
Sania mengangguk.
"Kenapa duduk sendiri di belakang, ayo ke depan!"
"Aku takut dengan Mas Rangga kak!"
"Tidak apa-apa, kami sudah melupakan masalah itu, lagian Mas Rangga sedang bernostalgia bermain catur dengan om Fudo dan Vino!"
Miranda memaksa Sania hadir ke ruangan depan.
"Sania, bukannya kamu ingin bernyanyi! Ayo!" pinta Melani.
"Sania malu Mi!" Seketika wanita itu tidak bersemangat akibat pria pujaan hatinya telah di miliki wanita lain.
"Ayo, untuk apa malu-malu!" Melani mendorong bahu Sania untuk naik ke podium kecil.
"Tapi Mami...!"
"Semua sudah dapat giliran bernyanyi, tinggal kamu yang belum!"
"Hei, kalian yang sedang bermain catur disana, tolong berhenti dulu, dengarkan Sania bernyanyi yah," teriak Melani.
π΅πΆπΆπΆπ΅π΅π΅
Sania pun bernyanyi dengan tema lagu galau sebagai ungkapan hatinya sedang patah. membuat yang mendengar merasa terhibur dan terhipnotis dengan suara sang Dokter yang merdu.
"Wah! Suaranya bagus yah!" ucap mereka spontan bertepuk tangan memberi semangat kepada Sania, kecuali Vino.
"Lumayan lah!" Batin Vino.
"Ciciye, Rangga menendang kecil kaki Vino yang menatap serius tampilan Sania!"
"Apa in sih!" kata Vino dengan senyum menghindar.
***
Pukul 17.00 wib sore hari, party kecil dua keluarga itu pun berakhir.
Rangga dan keluarga berpamitan.
"Semoga kalian selalu bahagia yah dan jauh dari masalah!" pesan Melani kepada Rangga dan Miranda.
"Terima kasih yah Mami."
"Mami juga banyak berterima kasih kepada kamu Rangga, berkat pertolongan kamu sekarang Vino jauh lebih dewasa dan lebih sedikit sudah bertanggung jawab dengan pekerjaannya, untuk masalah jodoh, Mami hanya bisa pasrah dan menunggu ia jatuh cinta kembali!"
"Ok siiip" Rangga langsung memeluk Melani sebagai ibu angkatnya.
"Miranda, tolong jangan sia-siakan suami seperti Rangga yah?"
"Hehehe, Baik Mami, terima kasih yah Mami atas hadiahnya!"
"Sama-sama sayang!"
Vino menarik tangan Rangga dan bicara berbisik.
"Gua baru dapat kabar, sekretaris Rusdy yang mengurus tentang harta Gono gini pernikahan mereka telah mati tertembak sore ini!"
"Sepertinya Jane tidak terima jika pembagian itu tidak adil?" komentar Rangga.
"Yup, benar sekali!"
"Apa kau takut?"
"Tugasku hanya menetapkan Olivia sebagai pewaris tahta dan pembagian harta untuk Miranda! itu saja!"
"Aku yakin sekali, Jane sedang merencanakan sesuatu dan Miranda menjadi target berikutnya."
"Benar!"
"Sama sekali aku tidak mengharapkan pemberian harta dari si kakek tua itu (Rusdy) untuk Olivia, yang aku cemaskan adalah keselamatan Miranda dan Olivia!"
"Kamu tenang saja, Aku akan tetap ikut andil menjaga mereka!"
"Terima kasih banyak yah Vin!"
Akhirnya Rangga dan keluarga kecilnya meninggalkan lokasi rumah orang tua Vino.
***
"Sayang, apa kamu tidak mau cek ke dokter?"
"Cek ke Dokter, untuk apa Mas?"
"Hehehe, sepertinya jika rumah kita di penuhi suara-suara bayi, tentu lebih seru kan!" Kata Rangga dengan tawa cengengesannya.
Miranda hanya tersenyum.
"Maafkan Mira yah Mas, bukannya tidak ingin buru-buru hamil, tapi kasihan Olivia yang masih membutuhkan kasih sayang penuh dari seorang ibu, aku takut jika hamil nanti tidak bisa konsentrasi penuh dengan Olivia, jadi aku terpaksa menundanya dengan pil anti hamil di setiap masa suburku!" Batin Miranda.
"Sabar yah Mas! Bagaimana jika tunggu Olivia berusia 6 bulan dulu dan Kita sudah menikah resmi?" bisik Miranda.
"Hehehe, tadi itu, aku hanya bercanda, enggak tau kenapa, aku ingin sekali anak dari rahim kamu!" Bisik genit Rangga langsung mencium bibir manis istrinya.
"Hihihi! Sabar dong!" senyum perempuan itu mencubit gemes hidung sang suami.
"Ouh yah sayang! Besok siang, aku akan menghadiri meeting besar di Singapura sekaligus membawa pulang cincin pernikahan yang sudah aku pesan. Dua Minggu kemudian kita akan segera fitting baju pengantin."
"Berapa hari, Mas? Aku akan ngambek jika kamu pulangnya terlalu lama!" rengek manja Miranda.
"Hahahaha, hanya dua hari saja! Aku juga tidak akan sanggup jika berpisah terlalu lama dengan kamu dan Olivia!"
"Hihihi!"
Tawa bahagia keduanya sambil berguling-guling.
"Nanti kita akan melakukan akad nikah resmi kembali sesuai dengan ketentuan Departemen Agama. Aku sudah mengurus semua data kita disana. Kamu tidak keberatan kan jika kita akad lagi!"
"Tentu tidak sayang. Mas, Mira bahagiaaaaa sekali dan ini seperti mimpi!"
"Berjanjilah tidak akan pernah meninggalkanku lagi Mira, ini kesempatan mu yang terakhir, karena saat ini aku memaksa hatiku terbuka lagi untukmu" ucap Rangga dalam tatapan penuh cinta
"Mira janji, bahkan bersumpah Mas!" Perempuan itu mengambil tangan Rangga lalu menaruhnya di atas puncak kepalanya.
"Kita akan susah dan senang bersama!" ucap Miranda meyakinkan Rangga.
Rangga tersenyum bahagia. Kembali merasakan cinta yang pernah hilang.
***
Kembali ke pelukan Rangga dan aku telah jatuh cinta kepadanya merupakan perjalanan kehidupannya yang tidak pernah aku bayangkan dan ternyata cinta itu sangat indah, mulai detik ini aku akan belajar bagaimana merawat dan menjaganya dan berkorban untuk cinta seperti yang sudah di lakukan oleh kak Tasya.
***
Singkat cerita.
Tepat pukul 13.00 wib siang hari, Rangga sudah bersiap-siap akan terbang dan meninggalkan kota Jakarta. Terlihat Miranda membantu mempersiapkan segala keperluan suaminya.
"Kamu itu paling detail dengan segala kebutuhanku?" puji Rangga.
Miranda tersenyum.
Rangga mencium dahi Miranda.
"Terima kasih yah sayang!"
"Iyah Mas!"
"Rusdy Hamzah sudah resmi menceraikan Jane! Mungkin Vino akan menyelesaikan semuanya, termasuk menetapkan Olivia sebagai hak ahli waris tunggal Tasya sementara dan kelanjutannya sahnya nanti akan di lanjutkan saat Olivia sudah cukup usia dan Vino akan membutuhkan dampingan kamu untuk menyelesaikannya karena Tasya juga memberikan hak harta untuk kamu sebagai ibu pengganti dirinya?"
"Iyah Mas!"
"Ingat jangan pernah keluar tanpa seorang bodyguard!"
"Siap Bos!"
"Kabarnya, sebagian besar harta milik Rusdy Hamzah, juga akan dilimpahkan kepada Olivia, tapi itu belum pasti?"
"Ouh Iyah?"
"Mengapa seperti itu, kasihan juga yah Mas dengan Tante Jane itu?"
"Hahahaha, untuk apa kamu kasihan dengan orang jahat seperti dia!"
"Iya janda itu sangat rapuh dan kesepian loh Mas!"
"Hahahaha, itu bagi kamu dan bagi para wanita yang baik-baik diluar sana, untuk tipe wanita seperti Jane! kesepian tidak berlaku, belum resmi bercerai, dia sudah tidur dengan banyak lelaki!"
"Ouh iyah!"
"Lagian Jane dan Hamzah tidak memiliki anak, jadi wajar jika Rusdy melimpahkan lebih banyak hartanya untuk Olivia!"
Setelah selesai, sejenak Rangga menggendong Olivia dan mencium putri kesayangannya itu, spontan Sang bayi itu tersenyum.
"Iyah dia tersenyum!" Jerit histeris bahagia Rangga.
"Itu artinya, Papa harus bawa oleh-oleh buat Olivia!" jawab Miranda memperagakan suara imut bayi.
"Emm, Tentu!"
"Nang...Ning...Nang...Ning...Nang.....Ning...Nang...Oi...Oi...!"
Rangga menari lucu sambil menghibur bayinya.
"Hahahaha" Miranda tertawa terbahak-bahak melihat tingkah bahagia sang suami.
Sungguh kebahagiaan yang indah.
***