MIRANDA

MIRANDA
Part 15-MRD



Pernikahanku dengan Damar hanya berjalan 3 bulan saja dan itupun serasa berabad-abad lamanya. Ternyata dia seorang bajingan, super tega.


Profesi Damar sebagai Manajer di Perusahaan hanya untuk menutupi kedok bejatnya mencari gadis desa yang polos, bodoh serta miskin seperti aku.


Setelah dinikahi lalu di ceraikan begitu saja dan akan di jual kepada pria hidung belang ke luar Negeri. Ia seperti mucikari yang menjijikan.


Bagaimana caranya dia memalsukan identitas aslinya kepada semua orang, aku pun tidak mengerti, ia juga gemar berselingkuh dan yang paling membuat aku tidak sanggup lagi, sebelum melakukan hubungan badan, Damar suka menyiksaku terlebih dulu, meskipun ia memberi uang belanja yang besar. Aku juga memiliki mertua baru yang sangat kejam yang sepertinya melindungi perlakuan keji sang anak.


Mungkin ini semua karma bagiku, karena aku telah meninggalkan suami yang sedang berjuang untuk diriku dan orang tuanya, serta kesalahan ku yang tidak mendengarkan permohonan Ibu Rianti, sosok mertua yang sangat menyayangi ku seperti putrinya sendiri.


Aku menyesal, sungguh sangat menyesal, ternyata bercerai dari Mas Rangga bukanlah solusi terbaik. Ingin sekali aku bersujud di kaki mereka. Andai saja... waktu bisa di putar kembali.


"Hiks...hiks...hiks...! Ampuni dosa ku yah Allah. Maafkan aku!"


Aku yang mudah terhasut rayuan Bude Karina, percaya begitu saja dengan Damar, mengambil keputusan cepat dan terkesan terburu-buru tanpa dipikirkan dahulu. Aku juga tidak terbuka dengan kakak dan ibuku.


Karina adalah wanita yang tidak memiliki kehormatan sebagai seorang istri, Pamanku telah menceraikannya karena telah berselingkuh dengan teman Damar si gila itu.


Aku tidak berani pulang ke desa, aku takut, sekaligus malu, semua warga desa pasti akan menghujat ku habis-habisan.


***


Setelah merasa semua aman, Miranda kembali melanjutkan perjalanannya, ia terlihat bingung melangkah tanpa tujuan, tas, ponsel, uang dan semua identitasnya tertinggal di kamar hotel.


"Haduh kepala ku sakit sekali? Haus? Perutku sangat lapar, bagaimana ini? Aku harus kemana? Ibu...kakak...Ya Allah, tolong lah aku, jika hari ini memang waktu kematianku, aku ikhlas!"


"Gubrak!" Miranda pingsan saat ingin menyebrang jalan.


"Tiiiiiiiiiiiiiiiin...." Sebuah mobil berhenti dengan suara gesekan ban akibat rem dadakan yang kuat, posisi mobil hampir saja melindas tubuh Miranda.


Seketika itu orang ramai berkerumunan.


"Saya tidak menabraknya?" ucap tegas wanita cantik berusia 30 tahun. Ia bernama Tasya Kamila. Seorang pengacara hebat dari Indonesia. Ia tengah berada di Malaysia sedang mengurus sarjana psikologinya yang sudah selesai dan akan segera menikah.


Tasya Kamila langsung berlari keluar mobil menghampiri tubuh Miranda yang tergeletak penuh dengan luka. Ia memperhatikan wajah perempuan asal desa itu.


"Tidak mungkin! Wajah ini mirip sekali dengan Alm adikku bernama MIRANDA!" Batin Tasya.


"Tolong angkat dia, bawa ke mobil saya!" ucap Tasya bergegas membukakan pintu mobilnya. Mobil pun melaju menuju rumah sakit terdekat.


***


"Bagaimana kondisinya Dok!" tanya Tasya.


"Tidak apa-apa, ia hanya sedikit kelelahan serta luka-luka kecil saja, besok juga sudah bisa pulang!"


Tasya memperhatikan raut wajah Miranda yang masih belum sadarkan diri.


"Dia benar-benar mirip dengan Miranda?" batin Tasya bangkit ingin mengambil ponselnya. Seketika itu tangan Miranda meraihnya.


"Eh😳!" Tasya terkejut.


"Terima kasih sudah menolongku?" ucap lemah Miranda dalam bibir bergetar, tiba-tiba saja wanita malang itu tersadar dan sudah berada di atas bed rumah sakit.


"Kau sudah siuman!"


"Nona orang Indonesia juga?"


Tasya mengangguk.


"Siapa nama kamu?"


"Miranda Putri, aku berasal dari Jawa Barat?"


"Mi... Miranda???" Tasya sangat terkejut!


"Tidak hanya wajah mereka yang mirip namanya juga sama, ini sungguh keajaiban?" batin Tasya masih terbengong.


Miranda memberikan senyum manisnya,.


Tasya masih terpaku dalam pikiran yang cukup terkejut.


"Nona!" Miranda kembali memanggil dengan nada lemahnya.


"Ouh! Saya Tasya Kamila seorang Pengacara juga Psikologi, senang bertemu kamu, oh Iyah! Jangan panggil Nona, panggil Kakak saja yah! Usia saya 30 tahun!"


"Pengacara???" gantian Miranda yang terbengong.


"kalau boleh tau apa yang terjadi denganmu?" tanya Tasya kembali duduk mendekati Miranda.


"Bisakah kakak membantu ku, aku berjanji akan mematuhi semua keinginan mu?" ucap Miranda dalam tatapan memohon.


"Hah! Jangan begitu, saya senang membantu?" jawab cepat Tasya.


Miranda pun menceritakan semua kisah pilunya selama menikah dengan Damar.


"Aku dipaksa datang ke Malaysia ini, ternyata ingin di jual, untuk membela diri demi kehormatan ku, aku telah menusuk pria si hidung belang itu dengan pisau kecil, aku tidak tau apakah dia mati atau tidak, saat ini para ajudannya telah mencari ku dan pasti ingin membinasakan ku? Aku takut sekali kak...Hiks... Hiks!"


Seketika itu Tasya sangat iba mendengar semua kisah pilu kehidupan Miranda.


"Jangan takut, aku akan menolong mu, percaya kepadaku?" jawab tegas Tasya menggenggam kuat tangan Miranda, Tasya sangat senang saat bertemu Miranda, ia merasa sedang bertemu kembali dengan adiknya yang sudah meninggal.


"Terima kasih Kakak, tidak hanya wajahmu yang cantik, hatimu juga! Kau wanita sempurna!" senyum Miranda dalam bibirnya yang pucat.


Tasya pun membalas senyuman itu.


***


Kasiman sudah tidak bekerja lagi atau mengajukan pensiun di kantor lurah. Rangga membeli semua aset ayahnya yang dulu sempat terjual bahkan menambahnya agar lebih banyak, sehingga sang ayah menjadi orang yang sangat dihormati dan disegani di desa itu.


Rangga juga membangun sekolah gratis khusus bagi anak-anak yatim piatu dan tidak mampu, ia juga membangun Mesjid besar di kampungnya. Kasiman dan Rianti sangat bangga kepada putra mereka hingga sang ibu tak henti-hentinya menangis haru kebahagiaan. Kesuksesan Rangga serasa mimpi di siang bolong. Rianti selalu bersujud mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT.


Berkali-kali Rangga membujuk Rianti dan Kasiman agar pindah ke Jakarta, namun pasangan itu memilih menetap di desa.


"Ayolah Bu! Tinggal di Jakarta bersama Rangga!"


"Nak, kan sudah ada Intan, kakakmu disana, dia juga sudah menjalankan usahamu."


"Ia tapi kan..."


"Bapak dan Ibu ini sudah tua, tidak cocok tinggal di kota, di desa banyak ternak dan lahan yang mau di urus!"


"Hmm, yah sudahlah Bu!"


"Oh yah Nak! Apa kau berencana akan menikah!"


"Ia Bu. Secepatnya, Rangga akan segera menikah, sudah ada calonnya! Ia berasal dari keluarga Bangsawan, Namanya Tasya Kamila, seorang psikologi dan pengacara hebat! Usianya 30 tahun!"


"30 Tahun?? Mengapa lebih tua dari kamu?" Tanya sang ibu, sampai mengerutkan dahinya.


"Seorang wanita karier yang sukses, usia 30 tahun itu masih tergolong muda Bu! Lagian Rangga sudah klik Bu dengannya, ia banyak membantu Rangga dalam segala hal urusan, termasuk mengembangkan perusahaan Arsitektur Rangga yang sedang rintis!"


"Hem, yah sudah lah, jika memang dia sudah menjadi pilihan mu? Alhamdulillah, jika kau bisa menikah Nak! semoga kau juga bisa cepat memiliki keturunan!"


"Amin!"


***


Rianti masih terpikir tentang Miranda yang kabarnya tidak pernah terdengar lagi di desa.


"Apa kabar dengan Miranda? Mengapa aku tiba-tiba rindu kepadanya. Semoga dia juga sudah berbahagia," batin Rianti duduk melamun di area teras yang luas, di keliling taman yang indah.


****


Guys jangan lupa di Like, Vote, Hadiah, Komentar manis, star 5 yah☺️☺️.


Terima kasih 🙏