MIRANDA

MIRANDA
Part 67-MRD



Terlihat mobil Rangga sudah sampai di depan rumah Jane yang besar, kediaman pribadi yang sepi tanpa penghuni.


"Rumahnya tutup dimana dia?" gumam Rangga berpikir.


Sebuah nomor tidak di kenal tiba-tiba mengirimkan titik lokasi (sharelok) dengan caption tulisan;


"Jika kau ingin mengambil bayimu, datanglah ke tempat ini!"


(Pesan itu di susul dengan kiriman gambar Olivia yang sedang bermain kecil)


Tanpa persiapan yang matang, Rangga bergegas memenuhi permintaan seseorang yang sudah memberikan alamat keberadaan Olivia.


Lokasi rumah lama yang jauh dari pemukiman. Tempat yang sudah disiapkan oleh Jane dan Fernando


Tidak lama kemudian Rangga sampai di lokasi yang di pilih.


"Bruaaaaak!" Suara tendangan keras dari kaki Rangga membuka paksa pintu masuk yang terbuat dari kayu lama sehingga pintu terbuka lebar. Rangga datang tanpa rasa gentar sedikitpun bersama 4 orang Bodyguard di belakangnya.


"Halo Rangga yang ganteng, apa kabar!" sambut manis Jane sambil menggendong Olivia.


"Lepaskan anakku, atau peluru ini akan menembus dahi mu!" Jawab lantang Rangga terus melangkah menuju posisi duduk Jane.


"Ahahahahaha," tawa perempuan itu merasa lucu.


"Baiklah, aku akan melepaskan bayi mungil mu ini, asal kau segera menandatangi dua surat yang telah disiapkan oleh hukum ku," ucap Jane memberikan Olivia kepada pengawalnya.


"Heh😏 sampai mati pun aku tidak ingin menuruti perintah licik mu itu! Bersiaplah!" Kata Rangga ingin melepas peluru ke arah Jane.


Dari arah samping sebuah panahan menyambar cepat senjata Rangga. Hingga terlempar jauh dan anak buah Fernando mulai keluar menyerang Rangga dan empat orang anak buahnya dari belakang secara brutal.


Terjadi duel hebat di antara mereka tanpa menggunakan senjata api. Rangga dan Kawan-kawannya masuk dalam perangkap Fernando dengan mudah.


***


Kabar penculikan Olivia ternyata sudah sampai ke telinga Miranda. Membuat perempuan itu semakin bingung dan gelisah, ia berkali-kali menelpon Vino namun tidak di angkat.


"Sania ayo antar aku ke kantor Vino!"


"Ta...tapi Mba!"


"Ayo cepat, sudah tidak ada waktu lagi!" Miranda menarik kuat tangan Sania.


"I... Iyah!"


Keduanya berlari menuju ruang parkiran dan Sania membawa Miranda menuju kantor Vino.


Di tengah perjalanan Miranda juga mendapatkan pesan yang sama seperti Rangga.


Pesan singkat berisi titik lokasi dengan caption tulisan;


"Jika kau ingin mengambil bayimu datanglah ke tempat ini!" (beserta foto Olivia)


Miranda langsung meneruskan isi pesan misterius kepada Vino.


Namun tetap saja tidak mendapatkan tanggapan dari pria itu.


"Bagaimana ini, Vino benar-benar tidak merespon!


Tidak mungkin Rangga bisa menghadapi sendiri, apalagi Vino pernah mengatakan jika nenek jahat itu memiliki kekasih yang membantunya," batin gelisah Miranda.


***


Kantor besar vino Febian.


Dua perempuan itu berlari kencang memasuki ruangan Vino.


"Pak ada 2 perempuan bernama Sania dan Miranda ingin menemui Bapak!" suara staf penerima tamu yang memberikan informasi terlebih dulu kepada atasannya.


Dengan nafas terengah-engah, akhirnya mereka sudah berada di depan ruangan Vino.


"Mba masuklah, Sania tunggu di luar saja!"


"Baiklah!" ucap Miranda langsung menekan sebuah tombol masuk.


Ketika pintu terbuka. Miranda memasuki ruangan dengan tergesa-gesa.


"Kak Vino! Apa kakak sudah membaca pesanku?" tanya Miranda yang sedang mendapati Vino duduk santai di kursi besarnya.


"Tentang apa?" ia terlihat pura-pura tidak tau, meski sebenarnya Vino sudah standby mengirimkan pasukannya menuju lokasi yang sudah di pilih oleh Jane.


Tangan Miranda saling berpegangan erat pertanda ia bingung bagaimana cara membujuk Vino sahabat Rangga itu.


"Kak, selamatkan Olivia hiraukan Rangga, Miranda mohon🙏" ucapnya dalam mata berkaca-kaca!"


"Heh!" Vino hanya tertawa sinis.


"Miranda...Miranda, kau rela melakukan semua ini? Apakah karena terlalu mencintai Rangga atau kau yang tidak bisa lepas dari Budi Tasya? Katakan saja, aku sungguh penasaran!"


Mendengar pertanyaan Vino, Miranda hanya terdiam kaku.


"Demi kak Tasya dan aku sudah terlanjur sayang kepada Olivia?" jawabnya dalam bibir bergetar.


"Jika semua yang kau lakukan ini hanya karena sebuah Budi baik! Hari ini juga, aku akan membayar semua hutang budi baik Tasya kepada keluarganya sebesar 3 kali lipat, dengan syarat kau harus melupakan semua tentang Rangga, Tasya dan Olivia, bagaimana?"


tanya Vino bangkit, berdiri di hadapan Miranda dengan melipat kedua tangannya, menguji jawaban Miranda.


Miranda masih terdiam dan Vino terus menunggu jawaban dari perempuan itu.


"Kak, ini bukan waktunya kita saling bernegosiasi, Mira mohon🙏 kebaikan mu saja, bukankah Mas Rangga juga banyak membantu kakak!"


Vino mulai menghidupkan sebatang rokoknya.


"Aku juga sudah banyak membantunya, masalah itu sepertinya kami sudah impas, kau tau sendirikan, jika aku sudah putus hubungan dengan Rangga, jika bukan dia yang meminta sendiri, untuk apa aku ikut campur dengan urusan pribadinya, aku tidak punya kepentingan disana!"


Miranda semakin kaku dan tidak bisa berkata-kata lagi.


"Rangga bukan suami mu lagi, Olivia juga bukan anak kandungmu, kau juga sudah mengembalikan harta Tasya, lalu untuk apa kau datang kesini hanya untuk memohon kepadaku agar menyelamatkan mereka? Itu yang membuat aku penasaran! Jika kau bisa jujur! Mungkin aku bisa berubah pikiran!" Kata Vino.


Miranda sejenak menundukkan wajahnya lalu mulai memberanikan diri menjawab pertanyaan Vino.


"Yah! Semua ini aku lakukan karena A... aku memang mencintai Rangga, meskipun saat ini ia sangat membenciku dan aku ingin berkorban untuknya tapi selain itu, aku juga ingin mewujudkan harapan satu-satunya kak Tasya dalam mengasuh Olivia, ia ingin putrinya tetap hidup, tumbuh sempurna layaknya seperti anak-anak kecil lainnya, bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan ayah yang utuh, ia tidak ingin putrinya itu menjalani kesulitan hidup sama seperti dirinya yang sudah kehilangan kasih sayang seorang ayah dan ibu.


Ini bukan masalah Budi yang bisa di bayar atau tidak. Bagiku kebaikan kak Tasya yang luar biasa ketika sedang mendapati kondisiku saat itu, layaknya seperti sampah yang terbuang dalam kubangan. Tetapi ia dengan bahagia memungut ku, penuh dengan kasih sayang, menghidupkan jiwaku yang sudah mati, mengubah duniaku, entah itu hanya karena alasan aku ini mirip dengan adiknya, aku tidak perduli. Tetap saja kebaikannya tidak bisa di nilai dengan apapun," Jawab simpel Miranda membuat Vino tertegun.


"Hem, tidak salah, jika Tasya memilih wanita ini untuk menggantikan dirinya. Perempuan yang berjiwa tulus serta apa adanya dan Rangga sangat beruntung bisa mendapatkan cintanya, aku tidak tau lagi jika si brengsek itu bisa menyia-nyiakan wanita seperti Miranda!" Batin Vino.


"Jika kak Vino tidak ingin menyelamatkan Olivia, tidak apa-apa, Miranda akan tetap datang menemui Jane dan mengambil bayi itu, tapi kakak harus ingat, keselamatan Olivia juga harapan besar dari Miranda Agustina!" kata Miranda balik badan menuju pintu keluar.


"Baiklah!" Mendengar ucapan Vino, seketika langkah Miranda terhenti.


"Aku akan menyelamatkan Olivia sekaligus Rangga, tapi kau harus berjanji kepadaku!"


"Janji?" batin Miranda masih berdiri membelakangi Vino lalu kembali berbalik menghadap pemuda itu.


"Janji apa?"


"Jangan pernah menerima cinta Rangga kembali! Menikahlah dengan pria lain!"


Miranda semakin terlihat tegang menatap Vino.


"Bagaimana? Apa kau setuju? Karena aku ingin cintamu kepada Rangga yang menjadi taruhannya disini!" ucap Vino menaikkan kecil pelipis kirinya.