MIRANDA

MIRANDA
Part 39-MRD



Malam minggu yang indah.


Miranda merasa takjub dengan perlakuan lembut dari Rangga.


"Terima kasih Mas?"


Keduanya berdiri menikmati suasana malam yang romantis.


***


Di sebuah ruang inap pasien yang cukup luas penuh alat-alat medis yang masih melekat erat di tubuh Tasya. Mulai terlihat ada gerakan kecil di jemari Tasya, namun kedua matanya masih terpejam.


***


Sementara Vino yang single dengan sigap berpesan agar Dokter yang ia curigai diam-diam harus diperhatikan jika masuk ke ruangan Olivia dan Tasya yang sepertinya menjadi target pembunuhan.


Terlihat Vino duduk melamun, malam itu ia mendapat tugas dari Rangga agar menjaga ruang Tasya dan Olivia. Sambil duduk termenung, ia mengingat tentang sosok yang pernah singgah di hatinya.


"Miranda Putri memang sangat mirip dengan Miranda Agustina, tidak hanya fisik. Bahkan sikap dan tingkah lakunya juga sama, aku tidak menyangka kemiripannya sampai sedetail itu. Rasanya tidak masuk akal. Di dunia ini ada saudara kembar tetapi bukan dari rahim yang sama. Tidak salah, jika Tasya menganggap istri muda Rangga itu adalah adiknya lalu menyayanginya bahkan rela berbagi apapun kepadanya."


Sejenak Vino terbayang saat menjelang kematian Miranda Agustina.


"Kak Vino! Terima kasih sudah banyak membantu kami!" ucap adik Tasya itu saat terbaring lemah dengan kondisinya di rumah sakit.


"Miranda, bisa kah kau tetap hidupku untukku, Aku mencintai kamu!" Kata Vino dengan mata berkaca-kaca.


Wanita itu hanya bisa menangis memandang Vino dengan raut wajah yang sangat pucat.


"Maafkan Mira Kak, Mira tidak bisa hidup bersama mu, meski aku pun juga mencintaimu."


Vino memeluk erat tubuh Miranda dengan meneteskan airmata.


"Aku mohon, berjanjilah untuk tetap menjaga kak Tasya demi aku, pilihkan ia jodoh yang terbaik, ia bagai malaikat bagiku, segalanya untukku," permintaan terakhir Miranda Agustina kepada Vino.


***


"Sampai detik ini aku belum bisa move on dari kamu Miranda. Demi cintaku padamu aku akan melindungi Tasya dan putrinya. Sayang! Miranda Putri sudah ada yang memiliki, andai itu bukan Rangga, sudah pasti aku akan merebutnya kembali. Rangga sangat mencintai Miranda, bahkan ia terlihat takut jika aku menggodanya. Tetapi Miranda Putri bukanlah Miranda Agustina aku harus menyadari itu," batin galau Vino Febian menyandarkan kepalanya.


***


Suasana Restoran Roof Top


"Mas, suka bintang yang mana?" tanya Miranda dengan senyum manisnya.


Mira mengajak Rangga menatap langit yang hitam.


"Tentu bintang yang paling bersinar?" kata Rangga menatap manis ke wajah Miranda.


Keduanya lalu tersenyum.


Aksi jahil Rangga tiba-tiba ingin menjatuhkan tubuh Mira lalu berlari, membuat wanita itu terkejut hebat reflek menjerit.


"Mas Rangga!" Wanita itu mengejar gemes Rangga lalu ingin memukul dan mencubitnya.


"Hahahaha!"


"Hahahaha!"


"Hahahaha!"


Keduanya berlarian kecil sambil tertawa-tawa.


Saat Miranda berhasil mendapati Rangga, ia langsung memukuli Rangga dengan gemes.


Rangga kembali mengangkat Mira.


"Aku akan membuang! Hahaha!" canda Rangga dengan tawanya yang penuh kebahagiaan.


Miranda menggigit kecil leher Rangga merasa kegelian.


"Au!" Jerit pria itu reflek menurunkan istrinya Lalu keduanya saling menatap manja.


"Kamu bisa bertanggung jawab jika si Otong ku bangun!"


"Blek 😋 Biarkan saja si Otong menangis, aku tidak perduli!" ucap Mira.


Keduanya saling menggelitik i.


"Hahahaha!


"Hahahaha!"


Tiba-tiba terdengar teriakan segerombolan 10 wanita cantik nan sexy menghampiri keduanya.


"Mas Rangga...Mas Rangga...Buat party mengapa tidak mengundang kita?" Teriak mereka.


Para wanita itu berlari menghampiri Rangga lalu menyeretnya dengan centil.


"Bu...bukan begitu!" Seketika Rangga gugup.


"Kita juga mau dong, diajakin dinner bareng, di traktir makan ala romantis seperi ini!" Rengek manja mereka menyeret Rangga di kursi yang lain.


"Hais! Ini pasti kerjaan si Vino!" Batin kesel Rangga.


Miranda hanya melihat bengong aksi centil para wanita itu berebut menggoda i Rangga.


"Pria kaya memang akan menjadi santapan wanita! Tidak seperti dulu saat Mas Rangga miskin penuh dengan cacian para wanita."


"Tapi, Aku tidak boleh cemburu, ataupun marah!"


"Dan sebaiknya aku tidak mencintai pria lagi, aku takut sakit hati!" Batin Mira berkata-kata sendiri, kembali memandang suasana malam, menikmati angin berhembus.


"Apa sebaiknya aku pulang saja! Atau tidur di rumah sakit! Siapa tau kak Tasya bisa sadar malam ini!" Batin Miranda mulai melangkahkan kaki pergi melewati Rangga dan para wanitanya.


"Mira!" panggil Rangga berusaha keluar dari kerumunan wanita yang berusia menahannya dengan pelukan manja mereka.


"Tidak apa-apa Mas, Mira pulang duluan yah!" ucapnya berusaha tersenyum.


"Eh, Jangan," ucap Rangga bangkit mengejar Miranda.


Sontak para wanita itu mengejar balik Rangga.


"Mas jangan pulang dong, kita makan malam dulu!" ucap mereka serentak.


"Kita akan puas kan Mas Rangga malam ini, Mau pakai gaya apa," ucapan genit salah satu dari mereka.


"Kalian bicara apa sih!" Hentak Rangga.


"Eh, Mas Rangga ini milik kami, tidak ada yang bisa merebutnya kecuali Tasya istri sah Mas Rangga!" Hentak sinis mereka beramai-ramai.


"I...Iyah nikmati saja, sa...saya hanya temannya bukan siapa-siapa!" ucap Mira gugup menghadapi para wanita itu.


Mendengar hal itu Rangga tertegun.


"Permisi!" Miranda sangat cepat melangkah turun. Tidak menghiraukan mereka lagi, Ia sempat kebingungan turun mencari pintu keluar sampai meminta bantuan penjaga keamanan gedung.


***


Tidak berapa lama Dokter yang di curigai Vino berjalan dengan santai melewati dirinya.


Reflek Pria itu bangkit dalam sandarannya.


"Hem, mungkin dia sedang mengambil kesempatan saat Rangga dan Miranda tidak ada di sini dan ia terlalu ceroboh jika tidak menyadari jika aku ada disini!" gumam Vino diam-diam mengikuti Dokter itu dari belakang dan memerintahkan agar semua anggota bodyguard bersiap-siap.


"Tlek!" Suara pintu kamar Olivia mulai terbuka, suasana sangat sepi, sang bayi terlihat tertidur pulas di sebuah inkubator yang sangat nyaman.


Suasana ruang inap rumah sakit yang di sewa, lalu di sulap bak kamar bayi pribadi rumahan yang sangat nyaman, penuh dengan warna pink yang indah.


Saat memasuki ruang Olivia, sang Dokter sejenak terpana dan kagum melihati suasana ruangan bayi itu lalu matanya berhenti memandangi wajah mungil Olivia sampai langkah berhenti tepat di hadapan sang bayi.


"Anak ini tidak boleh hidup, Tasya harus merasakan seperti apa sakitnya kehilangan seseorang yang di cintai, Bayaran Tante Jane juga bisa membayar donor ginjal ayah?" batinnya melakukan apa saja demi sebuah tujuan.


Tangannya mulai mengambil sebuah suntikan yang membahayakan seorang bayi dari saku jas spesial Dokter.


***


Miranda berdiri di lobi sebuah gedung dengan wajah kusutnya sambil membuka aplikasi Taxi online.


"Mengapa tiba-tiba perasaanku gelisah seperti ini?"


Tiba-tiba mobil Rangga dengan cepat menghampiri Miranda.