MIRANDA

MIRANDA
Part 43-MRD



Miranda berjalan menuju taman melewati lorong rumah sakit dalam kondisi kurang semangat.


Dan aku seperti tidak sanggup di posisi kedua, tidak sama sekali, lebih baik daripada harus berbagi!


Arrgh! Apa yang sedang kau pikirkan Mira, wajar jika Rangga memperlakukan istrinya dengan istimewa, lagian tidak tau apakah kak Tasya akan bertahan hidup atau akan pergi selamanya. Aku tidak pantas cemburu, aku hanyalah istri cadangan saja!


Dari senyum Rangga, ia begitu mencintai kak Tasya, tetapi mengapa ia mau tidur dengan ku juga, sepertinya aku yang terlalu terbawa perasaan. Sejak dahulu, Rangga tidak pernah mencintaiku, ia hanya menyukai tubuhku saja.


Rangga juga memperlakukan para fans wanitanya dengan lembut dan kasih sayang. Tidak tau wanita mana yang sebenarnya begitu spesial di hatinya.


"Huuft"


(Hembusan nafas yang panjang Miranda, duduk menghadap sebuah taman)


Apa yang sedang terjadi dengan ku, hayo lah Mira, kau itu terlalu bodoh, baper, padahal kau itu bukan siapa-siapa, hanyalah budak yang malang dan tidak pantas bersanding dengan Rangga. Bukankah kau yang seenaknya dulu pergi meninggalkan Rangga demi mengejar Damar, wanita yang terlalu bermimpi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Rangga juga tidak pernah ingin menikahi ku jika bukan atas perintah dari kak Tasya. Aku yang tidak punya malu, saat ini hadir kembali di hidupnya."


Batinnya terus menghujat dirinya sendiri, tanpa sadar wanita itu terus memukuli kecil kepalanya.


"Kenapa kepalanya dipukuli?"


"Kak Vino๐Ÿ˜ณ?" melihat kehadiran Vino secara tiba-tiba Reaksi Miranda sangat terkejut.


"Jika kepalanya tidak ingin dipakai lagi, katakan saja, biar aku jual?" ucap pria itu dalam nada berbisik.


Miranda cepat-cepat menghapus air matanya.


"Eh! kamu sedang menangis yah?" Vino duduk di samping Miranda.


"Ouh hoh (senyum mencari alasan), ini tadi, mata Mira kemasukan sampah sepertinya kak!"


"Sampah? Sampah apa? Bukan karena Rangga kan?"


"Ouh, bukan!"


"Hem, nih anak pasti sedang cemburu! Resiko punya dua istri, tapi mereka lumayan damai juga sih! perlu belajar lagi dari Rangga bagaimana mengatur jadwalnya" gumam canda Vino yang mulai berminat memiliki dua istri.


"Ouh yah, apa kak Vino ingin bertemu dengan Mas Rangga!"


"Aku lagi bawa si tua yang nakal, ia sedang ke toilet?"


"Si tua yang nakal? Siapa itu?"


"Hehe, siapa lagi kalau bukan Rusdy Hamzah, Papanya Tasya?"


"Rusdy Hamzah?"


"Hem!"


"Di...Dia benar-benar datang?"


"Yup, namanya juga putrinya, apapun yang terjadi tidak ada yang bisa memutus ikatan darah!"


"Benar!"


"Ini juga atas permintaan Tasya!"


"Apa jangan-jangan kak Tasya beneran akan pergi selamanya!"


Gumam Miranda yang sudah merasa memiliki firasat buruk. Ia juga teringat Tasya pernah mengatakan;


"Mungkin aku akan berdamai dan memaafkan Ayah ku ketika aku ingin mati?"


Dengan cepat Miranda bangkit dan berjalan cepat menuju ruang Tasya.


"Miranda!" Panggil Vino terkejut wanita itu pergi begitu saja.


"Vino, Ayo!" Ajak Rusdy mengejutkan pria itu.


"Mari om!"


"Kau tidak perlu khawatir, om yang akan memberi pelajaran buat Jane, saat ini om sedang mengajukan tuntutan dan gugatan cerai kepadanya! Bukannya tidak ingin mengejar wanita itu, tapi untuk saat ini kita harus fokus pada Tasya dan putrinya dulu!"


"Baik Om!"


Keduanya berjalan cepat.


"Dasar lu tua Bangka, sekarang ini lu baru nyesel, andai saja lu papa gua, sampai mati tidak akan gua maafkan!" gumam kesal Vino.


***


Ruangan Tasya.


"Benar kan kondisi kak Tasya semakin memburuk" Batin Mira melihat suasana mulai tegang juga mencekam, sudah ada tim Dokter disana.


Kami semua terlihat panik. Pengobatan canggih yang diberikan selalu gagal untuk mengembalikan kesehatan kak Tasya. Lupus yang ia derita sudah berada di stadium tinggi dan semakin kritis setelah melahirkan.


*


"Tasya! Maafkan Papa Nak!" ucap Rusdy dalam mulut bergetar disertai derai airmata penyesalan yang berlinang deras di kedua pipinya. Sosok ayah itu mengelus lembut kepala putrinya. Tasya begitu menikmati, merasa reflek kembali ke masa kecil. Betapa ia sangat merindukan kasih sayang dan perhatian dari seorang Ayah yang sebenarnya ia sangat banggakan.


"Tasya juga pah...papah...Ma..aafin Tasya...Pah!" Nafas Tasya semakin berat. Gerakan oksigen pernapasannya terus semakin turun.


"Kamu tidak salah nak, Papa yang salah, papa sudah mengabaikan kalian semua, papa merasa gengsi juga malu menemui kamu nak!"


"Katakan apa yang harus papa lakukan nak?"


"Tasya yang salah, papah...maafin ajah!"


"Tentu Papa sudah memaafkan kamu sayang, Jangan meminta maaf..hiks...hiks...hiks...


Dokter apakah anak saya tidak bisa lagi di selamatkan, tolong Dokter...toloong...."


Rusdy terlihat panik dan kelimpungan sampai mengguyur tubuh satu per satu Dokter yang hanya berdiri tertunduk.


"Rangga mengapa kau diam saja ayo lakukan sesuatu!"


**


Aku terus memperhatikan di sisa-sisa nafas kak Tasya, ia hanya bisa mengucapkan kata maaf dalam derai air mata. Sebuah pemandangan akhir perjalanan manusia yang sangat lemah ketika sedang bertemu dengan Tuhannya.


Menatapnya seperti itu, kesedihan ku tidak bisa menahan air mata ku. Aku bisa merasakan jika ia sedang menyesali semua kesalahan yang pernah ia lakukan dan menahankan rasa sakit yang amat dahsyat dalam menghadapi sakaratul maut.


Matanya mulai berdiri ke atas, nafas yang sudah mendekati kerongkongan. Merasa tidak tahan, aku terpaksa keluar, hanya ada tim Dokter, Mas Rangga dan Ayahnya di ruangan itu itu.


Aku hanya bisa pasrah dan berdoa.


"Ya Tuhanku, dalam detik terakhir, mudahkan ia menghadapi Sakaratul Maut Engkau, yang sungguh teramat sakit itu"


**


"Tasya...!" Panggil serentak Rangga dan Rusdy.


"Maaf sebentar!" Dokter mulai mengambil tindakan terakhir dengan cepat mengeluarkan peralatan medis.


Sampai gerakan jantung dan pernapasan Tasya semakin berada di titik nol seiring matanya meredup.


"Selamat Jalan Tasya!" Batin Triana yang sudah berusaha semaksimal mungkin. Ia sempat meneteskan airmata atas kepergian salah satu sahabatnya itu.


"Maaf Om, Tasya sudah pergi?" ucap Triana dalam nada yang berat.


"Tasyaaaaaaaaaaa!" Jerit histeris Rusdy dalam derai airmata penyesalan yang teramat sakit menjatuhkan kepalanya di tubuh Tasya mengguyur tubuh sang putri berharap tangisannya bisa menghidupkan putrinya kembali.


Mendengar jeritan keras Rusdy dari luar Miranda terkejut.


"Kak Tasya, benarkah ia sudah pergi?" batinnya dalam hati yang tidak percaya.


Dokter keluar.


"Bagaimana Dok!" Tanya Miranda dan Vino serentak.


"Tasya sudah pergi, tolong siapkan pemakamannya!" ucapan dr Triana dengan mata memerah.


Sontak Miranda dan Vino masuk dalam tergesa-gesa ke ruangan Tasya.


"Kak Tasya!" Miranda hanya bisa berdiri terpaku merasa semua terasa begitu cepat berpisah seperti mimpi yang indah, lalu terbangun di kehidupan yang Nyata. Ia baru saja merasa bertemu dan menikmati kebersamaan dengan sosok kakak seperti Tasya.


"Tasya! Aku tidak percaya kau tiada?" ucap Vino menatap Rangga yang hanya tertunduk.


Rusdy masih terlihat menangis tersedu-sedu, ia ingin mengulang waktu untuk kembali memperbaiki hubungan buruknya dengan sang putri. Namun semua telah terlambat.


"Tidak ada gunanya kau menangis lagi, dasar kau pria brengsek!" Rangga memukul Rusdy Ayah mertuanya itu. Ia begitu emosi dan sangat geram sampai tidak bisa menahan amarahnya.


Dengan cepat Vino menangkap Rangga.


"Sabar Ga!"


"Dengar baik-baik Rusdy, jangan pernah menyentuh Olivia, jika kau tidak bisa membunuh istrimu itu, aku yang akan membunuhnya!" ancaman keras Rangga dalam bibir bergetar.


Rusdy hanya menunduk merasa gagal menjadi sosok Ayah.


"Ayo, tenangkan dulu dirimu!" Vino memaksa Rangga keluar.


Miranda pun bergegas keluar.


"Miranda?" panggil Rusdy..


***


***


***


***


Emaaaaaaaaak!! jangan lupa, bom Like yah.


๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ Bom Like dari Part 1 sampai terkahir.


tambah Gift dan Vote juga.


Okeh yah....


Yang Nangis sampai tarik ingus๐Ÿคง langsung absen di kolom komentar๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


Waduh, Babang Rangga istrinya tinggal satu enih!! Bakal kawin tiga enggak yah guys๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”


Seperti apa cinta dan kehidupan si MIRANDA lagi.


stay Tued.