
Terlihat Sania menghela nafas merasa puas dengan omelan nya terhadap Vino.
Selang berapa lama, Melani menelpon putranya.
"Apa tidak ada wanita lain yang harus kau nikahi selain Sania, Mami ingin ke kantor kamu!" tanya Melani.
"Jangan Mi! Ntar lagi Vino juga akan pulang!"
"Baiklah, Mami akan tunggu kamu, dia tidak mencintai kamu dan menolak jelas lamaran ini, Mami tidak ingin konyol melamar wanita tanpa bertanya terlebih dulu!"
"Vino sudah tau, Mi?" jawab singkat Vino dalam nada kecewa.
"Kamu mau di masakin apa?" sang ibu mengerti jika anaknya sedang merasakan kecewa berat.
"Enggak ada Mi!"
"Trup!"
Tepat pukul 23.12 malam, Vino meninggalkan kantornya, ia tidak langsung pulang, singgah di sebuah klub cafe malam (Bar) Langganan Vino dan Rangga.
"Gua pingin minuman yang paling mahal!" pinta Vino kepada pelayan minuman bernama Albar.
"Dimana Rangga!" Albar adalah pelayan minuman, sekaligus sudah menjadi teman mereka.
"Biasalah, dia sedang sibuk di atas Ranjang!" jawab singkat Vino.
"Ahahahahaha! Apa kau cemburu!" tawa lepas si pelayan itu.
Vino hanya tersenyum lebar.
"kalau buat Lo Bro, wanita sekali petik saja, langsung datang!" kata Albar.
"Bosan gua dengan perempuan!"
"Wadidau!" teriak kecil si pelayan dengan senyumannya, keduanya sempat berbincang dan tertawa bersama. Namun cafe malam itu semakin ramai, sehingga Albar harus melayani pelanggan lain.
Vino masih terus menggenggam gelas minumannya, dalam tiap tegukan minuman, banyak kenangan manis yang melintasi pikirannya saat bersama Miranda dan Sania, dua wanita cantik dengan karakter berbeda namun mampu menggetarkan hatinya, mengisi kesepiannya.
"Jadi kamu mau yang setia!" ucap Vino yang masih mengingat kata-kata terkahir Sania, Malam itu ia ingin sekali menelpon Rangga untuk mencurahkan segala isi hati yang sedang resah karena cinta. Namun ia tidak ingin menganggu ketentraman kakak angkatnya itu.
"Baiklah, aku akan setia untukmu sampai mati!" kata Vino kembali meneguk minuman yang tanpa terasa ia sudah banyak meneguknya.
"Dulu aku selalu mengatakan kepada Rangga, hidup tanpa cinta, tanpa wanita itu baik-baik saja, ternyata seperti ini sakitnya. Aku juga bahkan menertawakan kekonyolan Juno, pria memang selalu takluk dan kalah dengan wanita.
Cinta yang tidak bisa memiliki itu sungguh amat sakit, sakit melihatnya ada dunia ini dan ia baik-baik saja tapi kita tidak bisa memilikinya, apalagi sampai melihatnya bersanding dengan pria lain," gumam Vino terus meneguk minuman.
Vino kembali meminta minuman kepada Albar.
"Eits, Lu udah mabuk, Bro. Jangan di minum lagi!" tegur Albar, si pelayan minuman.
"Lu tenang aja, gua ada supir!" ucap Vino berbohong.
Albar percaya saja, karena ia tau, jika Vino tidak bersama Rangga, biasanya pria itu selalu di dampingi oleh bodyguard dan supir. Namun malam itu Vino tidak ingin di temani oleh siapa pun, karena desakan Vino. Al akhirnya menambahkan takaran yang di minta oleh pemuda itu.
Pukul menunjukkan 01.12 dini hari. Melani sangat gelisah lalu memerintahkan ajudannya untuk mencari keberadaan Vino. Sang ibu sudah memiliki firasat yang tidak baik kepada anaknya. Sementara Ayah Vino masih berada di Jepang.
**
"Hanya Rangga yang tau dimana keberadaan Vino" Melani memberanikan diri untuk menganggu ketentraman Rangga dini hari itu.
**
# Rumah Rangga.
"Mas, sepertinya ponsel kamu, terus berdering!" Miranda membangunkan Rangga. Kondisi fisik Miranda sudah baikan.
"Ngantuk yank, paling itu dari penelpon yang tidak penting!"
"Jangan-jangan itu wanita lain," batin Miranda sempat ingin tidur kembali, namun ponsel Rangga terus berdering. Selama menikah Miranda tidak ingin melihat panggilan ataupun memeriksa isi ponsel suaminya, meski pria itu meletakkan bebas posisi ponselnya di rumah. Miranda tidak siap dan tidak ingin mau tau, jika suaminya memiliki wanita simpanan.
Merasa penasaran, Miranda akhirnya bangkit, karena ponsel Rangga terus berdering. ia begitu terkejut jika panggilan itu datang dari Maminya Vino.
"Mami Melani! Pasti ada hal yang tidak baik dengan Vino" batin Miranda buru-buru membangun Rangga.
*
"Rangga, Mami mohon, tolong cari Vino, telponnya tidak aktif, ia belum pulang, padahal ia sudah berjanji akan kembali pukul 23.00 tadi, hanya kamu yang tau dimana ia berada!" ucap Melani dengan nada beratnya, hati seorang ibu yang risau.
"Ba...baik Mami!" jawab cepat Rangga tanpa banyak bertanya.
Rangga terlihat gelagapan saat Mami sempat merasa khawatir dengan kondisi Vino. Pria itu sudah menganggap mereka adalah keluarganya.
"Mas, hati-hati!" Pesan Miranda.
Pukul 01.20 Rangga mulai melaju dengan mobilnya.
"Ia pasti ke Bar si Al!"
"Ada apa sebenarnya dengan anak itu. Akhir-akhir ini, aku kurang memperhatikannya?" batin Rangga.
**
# Bar
"Gua pulang dulu, makasih!" ucap Vino melambaikan tangannya ke arah Al.
"Bos, lu yakin baik-baik saja!" tanya Albar.
"Hem...Hei Al..loh jangan kebanyakan liat-liat Yupi, entar Otong lu Beku ...Hahaha!" Vino yang masih sempat bercanda meski dalam kondisi mabuk berat dan hampir saja ia menabrak meja yang ada di depannya.
"Apa benar dia ada supir!" batin Al kurang percaya, setelah beberapa menit ia pun mengikuti Vino.
Al sempat mencari-cari mobil Vino di parkiran memastikan benarkah ia ada supir atau bodyguard, Tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih melewatinya sangat kencang dan melihat Vino menyetir sendiri.
"Gila, tu anak dalam kondisi mabuk berat, apa mungkin dia bisa nyetir!" Al terlihat khawatir dan mencoba menelpon Rangga.
Di dalam mobil. Vino menghidupkan musik-musik DJ, ia pun bernyanyi dengan riang gembira. Masa bodoh dengan wanita.
Mendapat telpon dari Al, Rangga semakin gusar.
"Apa jangan-jangan dia begini karena Sania!" batin Rangga terus melaju kencang.
Vino sengaja menonaktifkan ponselnya, ia tidak ingin di ganggu oleh siapapun dalam aktivitas senang-senang yang mampu membawa nya flying ke dunia indahnya.
**
Rangga terjebak macet.
"Aarrkh Gila, dini hari begini bisa-bisanya macet parah, Haiiiiiiis!" Rangga menyandarkan kepalanya.
Tidak sabar menunggu lama, pria itu keluar dan bertanya kepada orang-orang.
"Di depan ada kecelakaan Mas, mobilnya naik ke pembatas jalan dan menabrak pohon."
"Penumpangnya pria atau wanita, muda atau tua?" Rangga semakin gusar, pikirannya mulai kacau.
"kalau tidak salah pria Mas dan masih muda!"
Sangking paniknya dan tidak ingin membuang waktu, Rangga berlari kencang mendapati lokasi tempat kecelakaan terjadi. Ia meninggalkan mobilnya begitu saja.
Dalam nafas terengah-engah, Rangga menggeser kerumanan orang, sebagian orang disana lebih banyak yang merekam kejadian itu daripada tanggap menolong, ada juga yang langsung menelpon polisi.
"Vinoooooo!" teriak keras Rangga berusaha membuka pintu mobil.
Orang-orang tidak berani cepat menyentuh mobil Vino karena mereka menduga penumpang mobil sudah tewas di tempat.
"Tolong Pak, dia adik saya, tolong!" teriak Rangga histeris...
Beberapa orang akhirnya membantu Rangga.
"Vinooooo, bertahan lah" kata Rangga.
kondisi Vino tidak ada yang terluka parah berkat adanya bantuan canggih Airbag yang melindunginya.
Banyak yang menduga bahwa Vino sudah tewas di tempat karena kondisinya yang tidak bergerak lagi.
Namun Rangga tidak putus asa, ia berjuang keras membawa Vino ke rumah sakit dengan bantuan mobil pinjaman. Seperti biasa kehadiran polisi dan ambulan cukup memakan waktu yang lama untuk tiba di lokasi tempat kejadian.
Saat sampai di rumah sakit. Rangga terus mengawal bad dorong Vino masuk ke dalam ruang ICU.
"Vino bertahanlah, aku mohon, aku mohon, kau harus kuat!" kata Rangga sempat meneteskan airmata.
Rumah sakit adalah tempat yang membuat Rangga depresi, ia juga bingung bagaimana caranya memberi kabar kepada Mami Melani.
kondisi Vino masih tidak sadarkan diri. Rangga juga mencium adanya bau alkohol di mulut Vino.
***
😄Hayo tebak, Vino tewas atau tidak, guys?
Makan tuh cinta Vin, padahal emak-emak cakep banyak banget bertaburan di Noveltoon, apalagi yang jomblo kesepian! Wkkwkkwk.
Jangan lupa Vote yah Mak, biar Vino bisa dinyatakan masih hidup.