MIRANDA

MIRANDA
Expart-MRD



Drrrt... drrrt... drrrt


Bunyi getaran Ponsel Vino membangunkan pria itu, Tangannya mencoba meraih ponsel dari balik selimut.


"Mami!" gumam Vino menerima panggilan lalu menyambungkan panggilan itu ke layar besar.


"Bagaimana, seorang Pimpinan Perusahaan bangun pukul 08.00 pagi," omelan Mami.


"Boleh saja, asalkan tidak setiap hari!" jawab Vino bangkit menggosok giginya.


"Mami punya kabar bagus buat kamu Vino?"


"Apa?"


"dr Jhon mengatakan ada harapan besar, jika kamu, masih bisa memiliki keturunan!" kata Melani dalam mata berkaca-kaca.


"Mami tidak perlu khawatir, Vino sudah memiliki anak!" ucapnya sibuk merapikan wajahnya.


"Anak dari Mana?"


"Anak Vino dan Sania?" jawab Vino.


"Jangan bercanda kamu!" sangkal Melani.


Vino hanya terlihat cuek meski raut wajah ibunya sudah berubah.


"Apa wanita itu masih mengganggu pikiran mu, Mami enggak ingin kejadian-kejadian aneh bermunculan tentang pengakuan seorang Ayah dan tiba-tiba saja kamu memiliki banyak anak!"


"Vino tidak mengakui yang lain selain anak hasil dari hubungan ku dengan Sania!"


"Vino mau siap-siap dulu mah!"


"Trup!"


Vino mengakhiri panggilan itu dan banyak berkata panjang.


"Sebenarnya seperti apa hubungan mereka, mengapa tiba-tiba saja bisa memiliki anak?"


"Apa mereka pernah tidur bersama? Bukan kah Vino tidak menyukai wanita itu!"


"Haaaaaais!" Melani mendadak pusing.


"Tliiit!" bunyi pesan di ponsel Melani membuyarkan pikirannya.


"Anak perempuan yang Mami katakan mirip dengan Vino dia adalah anak kandung Vino dan Sania!"


Namanya Miranda Bella!"


Vino mengirimkan foto Miranda Bella ke ponsel Ibunya.


"Semudah itu Vino percaya? Tapi aku akan tetap melakukan test DNA!" gumam Melani memandangi foto Miranda Bella. Entah mengapa wanita itu senang menatap wajah Miranda Bella sampai ia tersenyum tipis.


"Namanya juga Miranda, apa tidak ada nama yang lain?" keluh Melani.


"Tuhan jangan Engkau permainkan lagi harapanku, aku sangat lelah, benarkan bocah ini darah daging Vino!"


"Tapi Vino tentu tau, siapa darah dagingnya!"


ucap Melani dalam sorotan mata berkaca-kaca.


**


Di Kantor kerja Sania Naya datang membawa berkas pasien.


"Ciye yang lagi senyum-senyum sendiri!" tegur Naya teman sekalian partner bisnis kecantikan Sania. Naya juga mengetahui jalan kisah hidup Sania yang penuh dengan perjuangan yang terjal.


"Tampaknya ada yang sedang bahagia!"


"Aku sudah kasih tau Vino kalau Miranda Bella adalah anaknya!"


"Ouh Iyah?"


"Jadi, pria yang kemarin ajakan Mira ke swalayan itu, beneran Vino?" tanya Naya yang baru bertemu dengan langsung dengan Vino, selama ini ia hanya melihat dari sebuah foto.


Sania mengangguk.


"Iyah!"


"Ganteng dan keren, kamu beruntung banget so San, pantes Miranda cakep, ternyata Ayahnya Ok punya!"


"Terus reaksinya gimana?"


Sania pun menceritakan kisah pertemuan mereka yang cukup dramatis di kediaman Vino.


"Ohohohohoho so sweet banget!" komentar Naya.


"Tapi aku masih bingung Nay, apakah aku, cinta dengannya dan bisakah kami bersatu!"


"San, kamu itu sudah menolak banyak lamaran dari pria, apa itu kurang menyakinkan diri kamu bahwa sebenarnya hatimu itu sedang menunggu Vino!"


"Karena, aku hanya ingin Miranda benar-benar ada di tangan sosok Ayah yang tepat! Jujur aku tidak ingin menuntut apa-apa dari Vino!"


"Dan Ayah kandung adalah pria yang tepat!" jawab Naya.


"Haduh, Sania! Hari gini kamu masih sanggup menolak pria seperti Vino, aku saja tidak percaya jika pria tampan, mapan dan setia itu ada di dunia nyata, selama ini aku hanya menemui sosok di komik dan novel saja!"


Sania masih tampak diam.


"Justru itu, banyak wanita yang tertarik dengannya dan ia juga memiliki banyak pacar!"


"Playboy Maksud kamu?"


"San, enggak masalah play boy saat lajang, setelah menikah dia akan tetap setia dengan. Seperti sistem pria-pria bule!"


"Menurut kamu!"


"Jalani saja dulu, tidak boleh menolak kebahagian, hanya karena takut dikhianati, siapa tau Vino adalah cinta sejati kamu! Kalian itu harus menikah demi masa depan Miranda Bella!" Naya mengukuhkan hati Sania yang tidak percaya diri karena pernah di tinggal oleh Raka.


***


Rasa penasaran besar Melani muncul sehingga diam-diam mengutus orang-orang khususnya untuk datang mengambil sampel bagian tubuh Miranda Bella agar melakukan Test DNA secepatnya.


Dengan cara yang rapi dan tidak mencurigakan, utusan Melani langsung mendatangi kediaman Antonius saat Sania sedang bekerja untuk bertemu dengan Miranda.


*


Dua hari berlalu Sania dan Vino masih di sibukkan dengan urusan mereka masing-masing.


Suatu sore di saat semua pekerja mulai pulang termasuk Sania.


Sania dan Naya masih terlihat di parkiran dengan mobil mereka masing-masing.


"Apakah anda yang bernama Dr Sania Lauren?" seorang pria bertanya dengan raut wajah cemas dan terburu-buru.


"I...Iyah benar, ada apa yah?" jantung wanita itu reflek berdetak kencang karena akhir-akhir ini kondisi Antonius mulai melemah.


"Tolong segera ikut saya Dok, karena Bos kami yang bernama Vino Febian tiba-tiba kejang lalu pingsan saat tengah berolahraga di lapangan pusat kota."


"Kalau boleh tau Vino siapa yah?" tanya Sania penasaran.


Pria itu menunjukkan foto terbaring Vino Febian, Direktur utama PT VERON Group.


Sontak Sania terkejut kakinya langsung lemas.


"Nay!" menatap Naya dalam wajah sedih yang tidak bisa di sembunyikan.


"Sebelum pingsan, ia tidak ingin di tangani oleh dr pribadinya melainkan hanya kepada dr Sania Lauren!" ucap si ajudan.


"Temani aku Nay, Aku lemas banget, ada apa lagi dengannya?"


"Ya sudah Yuk!" jawab cepat Naya.


"Eh Dok, ikut saya saja!" kata si ajudan menunjukkan mobil mewahnya.


"Yah sudah ayo pak!" ucap Naya membawa peralatan medis.


"Kenapa kalian tidak langsung membawanya ke rumah sakit!" Sania tampak marah di dalam mobil.


"Saya tidak tau Dok! saya ini hanya seorang supir yang di perintahkan!"


Sania terlihat gusar dan sangat cemas.


"Kamu tenang yah! Aku rasa itu kejang biasa yang terlalu lelah berolahraga!" ucap Naya mengelus kepala Sania yang bersandar di pundaknya.


"Aku takut banget Nay, ini seperti de Javu!" ucap Sania.


Tidak lama kemudian mobil yang membawa kedua dokter muda itu tiba di lokasi tempat.


orang-orang ramai sudah berkerumunan.


Sania langsung berlari panik ke tengah lapangan. Kerumunan itu memberi ruang masuk cepat untuk Sania. Sementara Naya masih mempersiapkan alat medis di dalam mobil.


"Vino...hiks...hiks...!" Sania memangku kepala Vino sambil menangis histeris.


"Kenapa kalian tidak membawanya ke rumah sakit, ayo panggil ambulance!" jerit Sania.


"Vino bangunlah aku mohon!" tangis Sania pecah tak terbendung, ia bingung harus melakukan apa.


**


**


Di lain tempat, Team kesehatan khusus Fudo dan Melani datang menemui mereka.


"Ini Tuan hasilnya?" si Dokter bersama ahli uji LAB menyerahkan kertas hasil Test DNA berupa sampel rambut Miranda Bella. Sebuah pengujian Cepat dari Laboratorium berteknologi canggih.


Tangan Melani terlihat bergetar menerima kertas hasil uji Lab Test DNA itu.