MIRANDA

MIRANDA
Expart-MRD



Antonius mengelus manja rambut halus Sania.


"Apa kau masih memikirkan pria yang tidak pernah menyukai mu itu, Nak?" tanya sang Ayah.


Sania hanya diam saja.


"Jika kau sayang kepada Ayah mu ini, tolong jangan jadi seperti kakak mu yang terlalu bodoh mengejar cinta yang tidak pernah mencintainya! Katakan kepada hatimu, dia bukan jodohmu, ikhlaskan Nak! Raka sama sekali tidak menyukaimu. Ayah melihat pria itu lebih mencari wanita yang lebih berpenampilan mewah dan kaya, sejenis pria matre dan aji mumpung, jangan cari tipe pria seperti itu, tipe pria yang terlalu lemah, carilah yang benar-benar tulus mencintaimu, harta tidak menjadi patokan untuk saling mencintai."


"Iyah Ayah!"


"Kau harus semangat, meski seluruh dunia ini mengejek mu, Ayah yakin sekali, Tuhan akan mengganti Raka dengan pria yang jauh lebih baik!"


"Terima kasih Ayah!"


"Sebaiknya Ayah tidak boleh tau apa yang terjadi dengan ku semalam! Maafkan Sania ayah, putrimu sudah ternoda i 😥 semua harus aku korbankan hanya untuk bertahan! Cinta bukan lagi prioritas bagiku!"


"Sepertinya ponsel mu berbunyi!" kata Anton.


"Iyah!" Sania berlari masuk ke dalam kamar dan mendapati ponselnya yang masih berdering.


"Vino? Mau apa lagi dia?" Sania menekan tombol perintah tolak pada layar ponselnya dengan raut wajah kesal. Tidak ingin lagi meladeni perintah pria itu.


**


"Wow, panggilan di tolak? Artinya ia sudah bangun!" kata Vino buru-buru keluar dari klub, sampai ia tidak menghiraukan lagi panggilan dari para temannya.


Menghidupkan mobil lalu melaju kencang menuju rumah Sania.


**


Suasana Rumah Melani.


Seorang wanita muda nan cantik serta centil menemui Melani di rumahnya.


"Tante, katanya Vino akan melamar Angel, manaaaa??"


"Angel sayang, kamu tau sendiri kan kalau Vino orangnya tidak bisa di paksa, Tante juga sebenarnya sangat bingung, sebenarnya ia ingin melamar wanita yang mana?" pungkas Melani.


"Tapi Angel malu banget Tante, Angel sudah kasih tau kepada semua keluarga!"


Spontan Melani mengusap keringat di dahinya nya.


"Haduh, ini sudah wanita yang sekian kalinya datang dan bicara seperti ini, dasar anak kurang aseeeem, segitu mudahnya ia bicara melamar dengan semua wanita. Vinoooo, awas kamu yah, begitu kamu nanti kamu pulang, aku akan menghajar kamu!" ucapan dongkol Melani dalam hati.


"Tante kok diam aja sih, seenaknya buang badan begitu?" bentak Angel membuat Melani naik pitam.


Dasar anak muda sekarang berani melawan orag tua.


"Heh? Kamu tau tidak? kenapa Vino gagal melamar kamu, karena kamu perempuan yang sama sekali tidak punya attitude! Sekarang juga kau keluar dari rumah saya! PENGAWAAAAAL!!!" jerit Melani.


Angel pun di tarik paksa agar keluar dari kediaman orang tua Vino.


"Huuuuuuft, punya satu anak saja, rasanya hampir struk memikirkan tingkahnya, ampun?"


"Apa jangan-jangan dia suka dengan Sania, senyum anak itu cukup bahagia saat bersama dr muda itu!" batin Melani mulai curiga dan mulai mengingat setiap ekspresi saat Vino bersama Sania.


Tiba-tiba seorang pengawal menghampiri ibu satu anak itu.


"Maaf Nyonya...Ehm...Tuan Vino mengetahui jika...sa...sa...saya mengikutinya?"


"Huuuft, kerja begitu saja kamu enggak becus, makanya jika ingin mengikuti seseorang itu jangan terlalu dekat?" hentak Melani.


"Menjawab lagi kamu, pergi?" usir Melani yang semakin emosi. Sang pengawal pun pergi dengan cepat.


***


Pukul 22.00 Wib. Malam hari.


Pesan singkat Vino kepada Sania;


"Aku sudah di depan rumah kamu, tolong keluar sebentar, kita perlu bicara!"


Dengan berat hati, akhirnya Sania keluar dari rumah. Ia pun melihat sang Ayah sudah masuk ke dalam kamarnya.


Dalam wajah lesu Sania menemui Vino.


"Ada apa?" kata Sania dalam raut cemberut, Sontak Vino langsung balik badan dalam senyuman yang lega.


"Bagaimana kondisi kamu, aku sangat khawatir?" menyentuh dahi Sania namun wanita itu menangkisnya.


"Aku tidak apa-apa?" jawab ketus Sania.


"Syukurlah?"


"Mulai hari ini aku akan menjamin hidupmu dan hutang-hutang mu!"


"Aku bisa mengatasi masalah hidupku dan aku berjanji, akan mengembalikan uang yang pernah kau berikan kepadaku!"


Vino semakin tidak bisa bicara, tatapan Sania semakin tajam menatapnya.


"Aku sangat benci kepada kamu Vino, aku sangat membencimu, kau itu sangat jahat, kau pria kejam, aku tidak tau aku salah apa kepadamu sampai kau tega memperbudak ku seperti binatang yang harus patuh kepada majikannya. Kak Tasya dan Mas Rangga sudah berdamai denganku dan mereka justru bisa mengerti dengan kebencian yang aku rasakan.


Aku tau, kau adalah pria kaya dan hebat, bisa melakukan apapun yang kau inginkan tanpa harus melalu perjuangan.


Sementara aku, hidupku ini sangat malang, aku sudah kehilangan kakak, ibu, Ayahku sakit parah, kami banyak hutang sampai rumah harus terjual, mobil serta harta benda lainnya, aku kesulitan untuk membayar uang sekolah. Aku kehilangan pria yang aku cintai, tidak ada yang mau berteman dengan ku, semua orang menghina keterpurukan ku, bahkan keperawanan ku pun ikut hilang. Sebenarnya aku salah apa, aku ini salah apa? Mengapa dunia begitu kejam, aku harus mengorbankan semuanya (Dalam derai air mata yang teras Sania menguyur tubuh Vino ) tolong jelaskan kepadaku, apa aku punya salah sampai kehidupan ini menyiksaku, ayo jawab Vino!"


"Hiks...Hiks...Hiks...Hiks!" Sania menangis sampai sesunggukan.


"Sania, Maafkan aku, tolong katakan apa yang harus aku lakukan agar kau bisa bahagia!" kata Vino dalam mata berkaca-kaca, selama ini ia tidak peka dengan masalah yang di hadapi wanita itu sampai dirinya merasakan cinta.


"Aku hanya ingin kau menghilang dari hidupku dan tolong jangan ganggu aku lagi, hanya itu yang ku inginkan, aku mohon🙏!"


"Me...Menghilang??" Vino semakin terdiam.


"Ini!" Sania memasukkan kartu debit itu ke dalam saku kemeja Vino.


"Terima kasih dengan niat tulus dan semua bantuan mu, tapi aku tidak ingin menimbun hutang lagi. Urusan kita sudah selesai, anggaplah kita tidak pernah bertemu!"


"Sania dengar aku baik-baik, aku tidak punya niat sama sekali untuk mengambil keperawanan mu, aku hanya bercanda, aku akan bayar semua hutang-hutangmu, aku akan membelikan kau mobil mewah, membangunkan rumah bahkan klinik atau rumah sakit impian mu, aku juga akan membuat semua orang yang pernah menghinamu datang bersujud meminta pertemanan lagi kepada mu!"


"Tidak perlu Vino, terima kasih atas semua penawaran hebat mu, aku hanya ingin hidup tenang tanpa beban, tanpa pandangan sinis orang lain, tetap saja penawaran itu akan membuat orang-orang berpikir jika aku ini perempuan yang hanya menjual dirinya demi kesenangan. Apa yang pernah terjadi dalam hidupku mungkin semua ini sudah menjadi takdir yang harus aku lalui agar aku menjadi kuat!


Sekali lagi, tolong jangan ganggu hidupku, mulai hari ini, kita berjalan dengan kehidupan kita masing-masing dan semoga kau bahagia!"


Sania langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumahnya.


"Trup!"


"Sa...Sania!" Vino hanya tertunduk bingung penuh dengan rasa bersalah😥