
Hari-hari yang di penuhi dengan kebahagiaan, hanya ada senyum serta tawa yang manis dari semua keluarga tersayang serta sahabat terbaik, ketika menyaksikan pernikahan sakral Vino Febian dan Sania Lauren yang di selenggarakan mewah bernuansa alam di pantai terindah Kuta Bali.
Antonius juga sangat bahagia melihat putrinya. Kakinya begitu kekar berjalan mengantarkan Sania menuju Vino Febian, pria yang selanjutnya akan menjaga sang putri selamanya.
Seorang pendeta mengukuhkan cinta sejati keduanya dalam suka dan duka bersama. Terlihat ada airmata yang jatuh di kedua pipi Sania, mata Vino juga tampak berkaca-kaca mengingat kisah cinta mereka yang cukup berliku-liku.
Sania terlihat sangat anggun dan cantik dengan gaun putih mewahnya, paras oriental nya yang menggoda serta kulit putih bersih bersinar membuat Vino, tersenyum-senyum bahagia. Miranda Bella juga tampak anggun, cantik dan sangat menggemaskan. Mereka terlihat Bahagia dan berfoto bersama.
Fudo dan Melani sangat bahagia dengan pesta pernikahan anak semata wayangnya. Banyak yang beranggapan jika Vino menikahi seorang janda muda yang sudah memiliki seorang anak.
Di kesempatan waktu berduaan. Kedua pengantin saling memandang penuh kemesraan.
Hari ini, Sania sudah resmi menjadi istri kamu, Mas! Bisakah kamu setia untuk ku selamanya?" ucap Sania memandangi wajah Vino dengan cinta.
"Ehm, sepertinya itu terlalu sulit?" jawab Vino sambil garuk-garuk kecil kepalanya.
Sontak wajah Sania berubah cemberut, kesal dengan jawaban sang suami, ia pun membuang wajah sendunya tetapi tidak bisa marah.
Vino hanya tersenyum lalu memeluk manja istrinya dari belakang.
"Cemburu itu tanda cinta, terima kasih kamu telah mencintai ku, kau satu-satunya wanita yang bisa menaklukan hatiku, lalu bagaimana caranya aku bisa berpaling lagi!" kata Vino menciumi pundak Sania yang terbuka.
Raut wajah Sania kembali sumringah hingga bibir manisnya tersenyum bahagia mendengar ucapan dari sang suami.
Rupanya ciuman itu semakin bringas.
"Mas, jangan disini, di liatin orang!" tegur Sania.
"Hehehe!" π
"Maklum, udah enggak sabar!" bisik Vino.
Keduanya terlihat mesra bersama.
"Sayang, aku pengen tanya sama kamu, apa alasannya, kau memberi nama Miranda untuk putri kita?"
"Karena aku berharap dengan memberi nama Miranda, ia bisa bertemu dengan kamu.
Meskipun, sejujurnya aku tidak siap dan banyak hal yang aku takutkan jika Miranda Bella bertemu dengan Ayah kandungnya.
Miranda juga sebuah nama seorang wanita yang cukup berkesan di hati kamu. Meski cerita masa lalu itu tidak bisa dilupakan setidaknya aku ingin menggantinya dengan cerita tentang putri kita. Dia lah Miranda cinta pertama kamu yang sesungguhnya."
Mendengar jawaban Sania.
Vino hanya tersenyum-senyum,
"Jadi kamu cemburu?" tuduh Vino mendekatkan wajahnya ke wajah Sania.
"Enggak!" jawab Sania dengan wajah imut.
"Aaaa... Boooong...!" seru Vino.
Keduanya berciuman mesra.
***
Acara pernikahan yang panjang, dengan makan malam yang seru dengan semua keluarga dan sahabat terdekat, terlihat juga kesibukan Rangga dan Miranda Putri dengan anak-anak mereka yang masih kecil. Miranda yang seumuran dengan Olivia terlihat kompak bermain bersama.
Miranda Bella juga sudah Mulai nyaman dengan Fudo dan Melani.
**
Miranda... Miranda...panggil Rangga dan Vino, sontak Miranda Putri dan Miranda Bella saling melihat membuat mereka tertawa bersama.
Fudo dan Melani juga mulai dekat dengan cucu perempuan mereka yang cerdas itu.
"Selamat yah Vin!" kata Rangga.
"Terima kasih Brother, kamu adalah seorang kakak yang hebat, aku enggak tau harus bilang apa!" mata Vino terlihat berkaca-kaca, Rangga kembali memeluknya sambil berbisik di telinga Vino.
"Kamu juga sosok adik yang hebat! Kita saling mendukung, semoga kedepannya hubungan ini semakin jauh lebih baik!"
"Iyah!" Angguk cepat Vino.
"Sudah malam pertama belum?" ledek Rangga.
"Belum lah, gimana? kami masih sibuk!" jawab Vino.
"Hahahaha, dimana aja bisa Bro!"
"Hehehe!" tawa Keduanya semakin akrab.
Sampai larut malam, Fudo Melani, Vino dan Sania masih meladeni tamu undangan.
***
"Aaarg, capek banget..." Vino menghempaskan tubuhnya di atas ranjang pengantin mereka.
Terlihat Sania baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian handuknya dan rambut yang masih lembab.
Ia berjalan mendapati lemari pakaian, namun dengan sigap Vino menarik tangan sang istri dan menuntutnya duduk di atas kasur.
"Enggak perlu pakai baju!"
"Ihihihi!" sontak Sania tertawa sampai menutup mulutnya.
"Aku malu Mas!"
"Malu? Sama suami sendiri malu? Kemarin kamu engga malu padahal aku belum jadi suami kamu?" ucap Vino.
"Iyah, itu kan aku enggak sadar!"
Vino mulai serius menatap Sania birahi nafsunya mulai naik sampai terlihat jakun tenggorokannya naik turun.
"I Love u!" ucap Vino mengecup bibir Sania.
"I Love u Too!" balas Sania dengan senyuman.
Keduanya mulai terlihat menjalani aksi malam pertama sebagai pengantin.
Vino mulai meraba kaki mulus Sania.
"Sayang, mengapa dulu kamu suka pakai stoking?" tanya Vino penasaran.
"Ouh, gitu, tapi sejujurnya, aku sudah jatuh cinta dengan kamu, sejak pertama kali melihat mu bicara dengan Tante Jane!"
"Gombal!"
"BenaranβοΈ"
"Tapi kenapa Mas Jahat sama aku!"
"Aku itu kan orangnya memang enggak percaya dengan rasa suka kepada wanita, jadi aku lebih menipu diriku sendiri, aku juga ingin tau kamu itu orangnya seperti apa?"
"Bilang aja gengsi, malu karena aku itu jelek dan miskin!"
"Enggak kok (mengusap-usap puncak kepala Sania) yah bersyukur sih, aku lebih tertarik dengan sifat kamu daripada fisik, karena fisik itu hanya bersifat sementara dan akan pudar oleh waktu.
Sania tersenyum bahagia mendengar ucapan Vino.
Tiba-tiba bel kamar mereka berbunyi.
keduanya cukup terkejut, lalu Vino membuka pintu.
"Mamaaaaa!" Miranda langsung memeluk Sania.
"Sayang!"
"Mira mau tidur sama kalian enggak mau sama Babysitter!" rengek putri kecil mereka.
Meski sudah sangat ingin, Vino hanya bisa menahan hasratnya demi rengekan Putrinya.
"Yah sudah, tidur sama Papa yah!" Vino langsung menggendong Miranda.
"Asyiiik!"
"Mirandaaaaaaa!" Tiba-tiba Fudo dan Melani datang memanggil karena sang Babysitter mengadu kepada mereka.
"Bobo bareng Oma, Yuuuuk!"
"Enggak mau!" ucap Sania memeluk erat Vino.
"Kami ada banyak mainan loh!"
Melani tidak putus asa ia menunjukkan ragam mainan canggih dari ponselnya yang sudah ia siapkan di kamar hotel mereka. Akhirnya Miranda Bella tertarik dan memilih tidur di kamar Opa dan Omanya.
"Ingat, program kalian anak kembar!" kata Melani menutup pintu kamar Vino dan Sania.
Keduanya saling berpandangan.
"Ciah si Mami dan Aku harus cepat!" Vino mengangkat tubuh Sania membuat wanita itu menjerit kecil karena terkejut.
"Hihihi, Mas!" kata Sania.
Di mulai dari ciuman mesra sampai bercinta bersama, waktu menuju dini hari itu terlihat dua sejoli sedang sibuk melakukan panasnya bercinta di atas ranjang pengantin mereka, kesepian kamar itu hanya diisi dengan suara jeritan kecil serta desah*an berat dari Sania dan Vino menuju puncak kenikmatan bersama. Keduanya tampak terlelap tidur sampai menjelang pagi.
Mereka terbangun bersama, Sania mengecup dahi Vino membuat pria itu terbangun.
"Mas, sakit enggak?" tanya manja Sania merasa khawatir dengan kondisi kejantanan Vino.
"Yaaaaa.... Sakit-sakit enak lah!" jawab Vino.
"Gimana?"
"Apanya?" tanya Sania.
"Rasanya?"
"Yah, enak!" jawab Sania malu-malu sampai pipinya terlihat memerah.
"Ahahahahaha!" tawa Vino juga terlihat malu-malu di malam pertama pernikahan mereka.
"Ini seperti mimpi!" ucap Sania.
"Oh, Iyah!"
"Meski berharap, tapi aku lebih merasa tidak percaya kita bisa bersatu lagi!
Semua tantangan kehidupan yang sudah ku lalui adalah pelajaran berharga yang aku dapatkan."
"Sampai sekarang aku merasa bersalah, tidak ada saat kamu sedang mengandung dan melahirkan Miranda Bella!
"Mungkin itu adalah dosa yang harus aku tebus. Mas!"
Vino mengelus rambut Sania.
"Aku janji! Next, aku akan selalu ada buat kamu, Lelaki hebat itu bukan karena kejantanannya mengahadapi rintangan tapi bagaimana ia bisa membahagiakan wanita yang sudah ia pilih untuk hidup bersamanya selamanya!"
Vino kembali mengecup dahi Sania.
"Satu ronde lagi, sebelum Miranda datang!" bisik Vino kembali mengelus tubuh mulus Sania.
"Ih, kamu Mas!"
"Mau enggak?"
"Iyah deh, Mau!" jawab Sania malu-malu kucing.
"Di kamar mandi aja yah, di ranjang bosan!" ucap Vino mengangkat tubuh Sania.
kedua terlihat cekikan tertawa bahagia.
...TAMAT...
Maafkan ππππ Author yah guys baru bisa menyelesaikan Miranda karena ada banyak kegiatan di dunia nyata.
Sejujurnya kisah Vino dan Sania sudah selesai, namun Part ini menyempurnakannya.
Terima kasih buat kalian yang sudah membaca dan mendukung Novel- Novel Author.
Jika ada kesempatan lagi, sampai bertemu dengan kisah lainnya.
Terima kasihπ€π€π€