MIRANDA

MIRANDA
Part 83-MRD



Diiringi Lagu-lagu cinta, Rangga berkata-kata dalam hatinya.


Miranda...Saat pertama menatap dirimu, harus aku akui, tidak ada cinta untukmu selain nafsu. Aku mulai jatuh cinta kepadamu saat kau begitu lembut dan menyayangi keluarga ku dan bukan karena sesuatu, tulus, lugu dan sangat polos. Aku yang dulu pemalas sampai rela bertekad keras untuk berjuang membahagiakan kamu, tapi jalan itu terlalu terjal, saat sedikit lagi meraih puncak, justru kau melepaskan tanganku.


Miranda... Aku sayang banget kepadamu, kau adalah wanita yang yang sudah memporak-porandakan kan hati dan jiwa ku, saat kau tinggalkan aku, itu seperti kiamat yang menakutkan, aku belum pernah mencintai dan menyayangi wanita sedalam ini bahkan lebih dari diriku. Meski sudah ku coba menjalaninya dengan wanita lain, namun malah semakin kehilangan arah.


Besarnya rasa cinta ini bukan membuat kau nyaman bersama ku, justru membuat mu sangat menderita dan takut untuk mencintai lagi. Maafkan aku sayang, aku terlalu jahat untuk mu. Aku percaya, karena ketulusan hati mu lah Tuhan kembali mempertemukan kita melalui Tasya. Kau itu wanita yang sangat baik, sampai hari ini aku tidak mampu pindah ke lain hati, ingin rasanya aku menghentikan waktu, agar kita bisa terus bersama seperti ini. Tapi apakah mungkin? Diri ini bisa kembali lagi memiliki mu, karena dari sorotan matamu terlihat kau tidak menginginkan ku lagi,"


Rangga mengelus lembut rambut Miranda sampai membuat wanita itu mulai bergerak membuka mata.


Reflek Rangga langsung menarik cepat tangannya dan pura-pura tertidur.


"Mas, kenapa berhenti?" tegur Miranda.


"Ouh! Tadi aku sedikit lelah dan mengantuk jadi berhenti sebentar lebih baik!"


"Mas yakin, masih kuat menyetir mobil nya?"


"I...Iyah yakin!" Jawab gugup Rangga terlihat grogi saat Miranda terlalu dekat menatap wajahnya.


"Aku keluar sebentar, mau merokok satu batang saja, buat ngilangin kantuk!" Kata Rangga buru-buru membuka pintu mobil.


*


Sesampai di rumah, Rangga tidak bisa tidur, ia terus menatap video keseruan mereka sambil senyum-senyum sendiri di atas kasur.


Miranda terkejut saat ia ingin tidur, karena sudah ada Boneka besar serta buket bunga kecil yang harum dengan keasliannya.


Wanita itu membaca sebuah tulisan.


"Selamat tidur Bundanya Olivia"


tertanda R. Alias Rangga.


(Rangga mulai belajar menjadi pria yang romantis)


Miranda langaung memeluk dan mencium aroma bunga yang segar.


"Sebenarnya kau pria yang baik Mas dan kau harus mendapatkan wanita sempurna lagi seperti kak Tasya!" Batin Miranda.


*


"Mas, I love You, ummach, aaarh!


Arrg...uuuuh...iiih"


"Gubrak!" Rangga terjatuh dari kasur bersama gulingnya. Lelaki itu bermimpi sedang bercumbu panas bersama Miranda si otong pun sempat tegang.


"Ternyata hanya mimpi! Sial!" Batin Rangga sambil garuk-garuk kepala.


Ia melihat jam dinding sudah bergerak di angka 10.00 pagi hari.


"Yah, ampun kenapa aku terbangun kesiangan!" Batin Rangga melangkah menuju kamar mandi.


*


Meskipun hari Minggu, banyak sekali kegiatan yang harus Rangga ikuti, Mulai dari bermain golf sampai nongkrong dengan para aliansi bisnisnya. Namun hari itu Rangga menolak semua schedule yang telah di susun sempurna oleh para sekretaris. Ia ingin mengajak Miranda dan Olivia jalan-jalan lagi, hasrat yang maunya ingin dekat terus dengan Miranda.


Rangga melihat Olivia dalam gendongan Iroh.


"Dimana Miranda?"


"Nona sedang keluar Tuan?"


"Keluar? Sama siapa?"


"Katanya mau bertemu dosen bareng teman-temannya!"


"Ouh!"


***


Siang hari tidak tau harus apa? Rangga hanya melihat jam menunggu Miranda pulang kerumah.


"Sudah siang, dia belum pulang juga? Apa dia benar bersama dosen dan teman-temannya?" ucap kegelisahan Rangga mulai memegang ponselnya.


Mencoba menelpon tapi gengsi.


"Arrgh sungguh menyiksa!"


"Tlililit!" Sebuah telpon dari ajudan Rangga.


"Bos! Gawat?"


"Gawat apa?"


"Miranda bertemu dengan Vino, mereka sedang duduk berdua di cafe xx!"


"Baiklah, aku akan segera kesana?"


"Tapi Bos!"


"Tapi apa?"


"Mereka sudah pulang, ini laporan tadi pagi Bos pukul 08.30 sampai dengan 09.30 ?"


"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"


"Huuft, Apa yang mereka bicarakan?"


"Saya tidak tau Bos, saya hanya mengintai dari jauh?"


"Goblok kamu! Harusnya telingamu kau lepas dan lengket kan di meja mereka! Benar-benar tidak profesional kamu," bentak kesal Rangga.


"Maaf Bos!"


"Apa ia menyentuh tangan Miranda atau lainnya!"


"Hem...Sepertinya tidak Bos, ia hanya menyentuh gelas Miranda!"


"Hem, Kemana sekarang Miranda!"


"Sepertinya dia sedang menuju pulang Bos!"


"Ok kalau begitu!"


"Trup!" Rangga langsung menutup panggilan itu.


"Huuuft!" Terduduk di sofa.


"Kira-kira apa yang mereka bicarakan? Haduh si Fakri benar-benar tidak bisa di andalkan selama menjadi pengintai!"


"Hampir 3 tahun aku belum pernah bermalas-malasan seperti ini!" Batinnya setelah rehat Rangga bangkit memilih bermain dengan Olivia.


Rangga yang hari-harinya selalu gelisah dengan hubungan Miranda juga Vino.


"Oliviaaaaa!" Teriak Miranda berlari menghampiri bayi gemes itu.


"Dari mana Bun? Pergi enggak bilang-bilang!" tanya santai dan manis Rangga yang duduk disana. Miranda tidak menyadari keberadaan Rangga yang sedikit tersembunyi dari Olivia.


"Astaghfirullah, kok dia belakangan ini, seperti hantu sih, tiba-tiba nongol dimana-mana, bukannya pagi-pagi begini sudah pergi ke lapangan golf!" Gumam Miranda.


"Lagi cari Mangsa" ucap ceplos Miranda.


"Haha di depan kamu ini ada mangsa, malah diabaikan!"


"Siapa?"


"Aku!"


"Tanyak? hahahaha" tawa Miranda pergi menggendong Olivia.


Rangga reflek tersenyum baper.


"Tumben, Hari ini dia girang banget! Jika senyum seperti itu dia sungguh cantik, gemesin, aaargg langsung traveling kemana-mana!"


"Atau jangan-jangan...enggak mungkin perempuan yang di maksud Vino adalah Miranda!" Batin Rangga mulai semakin gelisah.


Hari itu juga ia memerintahkan orang-orang agar mempersiapkan tempat romantis dalam Rangka melamar kembali Miranda dengan yang lebih sungguh-sungguh dan spektakuler.


***


Di lokasi tempat berbeda seorang wanita bernama Sania Lauren tersenyum bahagia sehabis menerima gaji Dokter dari pihak rumah sakit.


Tiba-tiba teman Dokter Sania datang menghadang wanita itu.


"Sini hutang loh!"


"Tapi Din, saya kan janji dua Minggu lagi."


"Duuuuuh, kelamaan!" Dini teman Sania mengambil hampir setengah gaji Sania.


"Kenapa banyak sekali!"


"Kamu kan punya hutang dengan teman lain juga? Jadi mereka titip ke gua, untuk minta langsung ke loh?"


"Tapi Din biar aku yang kasih!"


"Sudahlah Sania, hutang itu harus di bayar, jangan di tunda-tunda terus, egois banget sih loh!" ucap Dini pergi begitu saja.


Sania hanya bisa terduduk lesu. Tetap memiliki hutang kecil-kecil karena besarnya kebutuhan hidup dan perobatan sang Ayah.


"Semenjak Kakak pergi, Finansial ku benar-benar kacau balau, gaji pas-pasan, persaingan Dokter di Ibu Kota benar-benar banyak, aku tidak punya modal untuk sekolah lagi dan buka praktek sendiri. Teman-teman menjauhi karena aku tidak bergelimang harta dan banyak hutang, mana Ayah sakit. Pengeluaran ku tidak seusai dengan pendapatan.


Sania teringat dengan pesan Juno;


"Adikku yang cantik, harus menjadi Dokter yang berhasil, Okey!"


"Beginilah jika menjadi Dokter dengan biaya pas-pasan, Ayah sampai sudah menjual rumah agar bisa mendukung ku! Kakak pergi begitu saja, meninggalkan beban itu kepada ku."


"Semua ini karena si es Vino, aku jadi banyak absen, tidak dapat uang masuk! Is nyebeliiiiiiin😖😖, sampai kapan aku harus jadi budaknya."


"Raka akan menikah Minggu depan, benar-benar hidupku hancur, hancur banget...hiks...hiks...aku enggak punya semangat lagi, aku benar-benar patah hati, sedih😭 kenapa Raka enggak pernah tau jika aku ini sangat mencintainya sampai memaksakan diri untuk jadi Dokter, hiks...hiks...hidup, ini benar-benar tidak pernah memberikan keadilan untukku, orang-orang yang ku sayang tidak bisa ku genggam!"


"Tlililit!" Ponsel Sania berdering panggilan dari Vino.


Terlihat wajah Sania yang begitu tidak bersemangat menerima panggilan dari Vino.


"Bisa tidak? Sehari saja dia tidak memerintah, aku capek banget?"


***