
Khusus Extra Part lebih banyak menampilkan kisah Vino dan Sania
Visual Vino Febian.
Visual Sania Lauren (dr muda)
***
Satu Minggu Sebelum pernikahan Rangga dan Miranda berlangsung.
***
Dengan tubuh bergetar Sania Lauren melangkah memasuki rumah.
"Sania, kamu kenapa Nak?"
Antonius bergegas menghampiri putrinya yang terlihat pucat.
"Aku kurang sehat Ayah, ingin istirahat saja!" jawabnya dalam nada lemah.
"Ayo!" Anton memapah Sania ke dalam kamar.
"Badan kamu panas sekali, Nak!"
"Ayah, tolong ambilkan air putih, aku harus minum obat dan ingin tidur!"
"Ia baiklah!"
Sehabis minum obat, wanita itu langsung rebahan dan tidak lama kemudian reaksi kerja obat mulai memejamkan matanya.
Antonius memandangi wajah lelah putrinya yang baru saja bekerja setelah lulus dari kedokteran.
"Tuhan, bantulah anakku, berikan dia kekuatan!" Doa sang Ayah dalam kesedihan. Tanpa sengaja Anton melihat sebuah undangan dalam Tas Sania yang terbuka.
Pria paru baya itu cukup terkejut melihat undangan dari Raka. Anton mengetahui jika putrinya menyukai pria yang bernama Raka.
"Apa karena ini ia menjadi sakit?"
"Huuuft! Semoga ia bisa tegar dan kuat, tidak seperti kakaknya yang tega meninggalkan kami hanya karena cinta!" Harapan Anton, ia pun membuang undangan itu ke tong sampah, lalu beranjak pergi menutup pintu kamar Sania.
***
Sore yang cerah.
Sepulang dari kantor, sehabis meeting dengan Rangga. Vino Febian kembali menelpon Sania, ia terlihat sudah berada di dalam mobilnya, namun tetap tidak ada panggilan yang menjawab.
"Gila! Ini sudah panggilan yang kedua puluh kali nya, enggak salah gua nelpon perempuan sebanyak ini dan enggak di jawab pula. Aaargh! Benar-benar parah lu Vin," reaksi kesal Vino menyandarkan paksa tubuhnya ke bangku mobil.
"Tapi...Apa dia baik-baik saja!" perasaan khawatir mulai merasuki Vino sore itu. Ia pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Sania bekerja.
Di perjalanan, Vino melirik ke arah kaca spion mobilnya. Ia mulai curiga dengan sebuah sedan hitam yang selalu mengikutinya, seri plat mobil yang tidak asing bagi Vino.
Vino berhenti secara tiba-tiba, lalu diam-diam menyekap seseorang yang belakangan terus mengikuti dirinya.
"Siapa yang menyuruh kamu?" ancam Vino dengan pisau tajamnya.
"A...ampun Tuan!" jawabnya gugup.
"Jawab sebelum pisau ini merobek nadi lehermu!"
"Nyo...nyo memerintahkan sa..sa..saya agar mencari tau keberadaan Tu...Tuan sedang dekat dengan wanita mana?"
"Jika kau ingin masih mendapatkan gaji, pergi sekarang!" bentak Vino mendorong kuat tubuh si pengintai.
"Ba...baik Tuan?"
lalu Vino kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit untuk bertemu dengan Sania serta mencari tau kondisi wanita itu.
📱📱📱
Vino menelepon salah satu staf pria yang mengatur kehadiran para Dokter di rumah sakit X.
"Maaf Pak, Sania tidak bekerja hari ini! Karena laporan yang saya terima, ia sedang sakit dan sudah pulang?"
"Sakit?" Vino begitu terkejut dan semakin khawatir dengan kondisi mantan tahanannya itu.
"Benar!"
"Baiklah, Terima kasih atas informasinya!"
"Oh Iyah Pak!"
"Ada apa?"
"Pihak Rumah Sakit akan segera mengeluarkan (drop out) Sania Lauren karena absennya yang terlalu banyak dan sering meninggalkan pasien secara tiba-tiba."
"Heh!" Vino tersenyum sinis.
"Tidak masalah jika kalian mengeluarkannya, karena aku bisa membangunkan rumah sakit untuknya!"
"Trup!" Vino langsung menutup ponselnya dengan nada kesal.
📱📱📱
Mengetahui Sania sakit, Vino bergegas membeli parsel buah segar yang mahal.
"Dia sakit apa yah? Apakah begitu parah?" batin Vino mulai gelisah.
"Perasaan, aku enggak begitu kuat menekankan "oting" miliknya tadi malam (MP)???"
"Jangankan tau nomor ponsel Bokap nya, wajahnya juga gua enggak kenal!"
**
Sore itu Vino berjuang keras mencari rumah kontrakan Sania yang baru. Sania pindah rumah ke area lingkungan kelas yang lebih menengah, memasuki gang yang kecil yang muat satu mobil dan sepeda motor saja. Vino sedikit lupa rumah Sania, karena baru satu kali ia pernah mengantar Sania pulang dan itupun saat malam hari.
"Aku yakin ini pasti rumahnya?"
Tanpa rasa ragu Vino memarkir mobilnya di pinggir jalan dan melangkah memasuki rumah Sania yang berukuran 10 x 15.
"Rumahnya lebih bagus dari pada rumah kontrakan sebelumnya!" gumam Vino tanpa terasa langkahnya sudah tiba di depan pintu rumah Sania.
***
"Tok...tok...!" Suara ketukan pintu Vino yang sedang membawa parsel buah segar.
Kondisi Antonius sudah membaik, ia tidak lagi menggunakan perawat pria, dengan langkah yang lambat pria tua itu berusaha mendapati pintu.
"Trek!" pintu terbuka Vino sedikit grogi.
"Sore Om!" Sapa manis Vino.
Antonius memperhatikan fokus wajah Vino, ia sama sekali tidak mengenal sosok pria yang ada di hadapannya, meskipun nama Vino sudah tidak asing baginya, namun Anton tidak pernah bertemu dengan Vino secara langsung.
"Siapa yah?" ucap Ayah Sania masih menatap Vino berusaha mengenali pria itu.
"Ehm, saya Vino Febian Om!" langsung Menjulurkan tangan dan menyerahkan bingkisannya.
("Ancur-ancur, kok gua jadi takut begini yah ketemu Ayahnya" batin Vino masih tersenyum manis)
"Vino!" Antonius pun menyambut cepat tangan pria muda itu.
"Majikan Sania?"
"Hahahaha benar sekali Om!" Tawa cengengesan Vino.
"Ayo, Mari masuk!" Antonius mempersilahkan Vino dengan sopan dan sungkan, ia pun meletakkan parsel buah itu di kamar putrinya.
"Maaf yah Tuan, kami baru saja pindahan jadi tidak ada sofa masih kosong," ucap sopan Anton.
"Iyah om, enggak apa-apa, duduk di bawah juga enak!
"Mau minum apa Tuan?"
"Ouh, enggak usah om, saya kesini mau bicara sebentar dengan Sania!"
"Sania masih tidur, tadi tiba-tiba saja dia pulang dengan kondisi tubuh yang panas!"
"Boleh saya melihatnya om!" kata Vino dalam raut wajah sangat khawatir.
"Baiklah, mari Tuan?"
"Maaf om, saya lebih nyaman jika om panggil saya dengan Vino saja!"
"Ahahahahaha, Iyah baiklah!"
**
Kedua pria itu, masuk ke dalam kamar Sania, sejenak Vino memperhatikan kamar wanita itu yang tidak memiliki barang-barang spesial,
"Ternyata ada juga kehidupan seorang Dokter yang tidak mewah!" batin Vino.
Ia terlihat sangat khawatir dengan kondisi Sania, sampai memberanikan diri untuk memegang dahinya.
"Syukurlah panasnya sudah turun, aku sedikit lega!" Batin Vino. Sambil terus menatap wajah Sania yang masih terlelap tidur.
"Seperti dia sudah mendingan yah Om!"
"Iyah, syukurlah?"
Keduanya keluar dari kamar Sania.
"Seorang Dokter pasti tau bagaimana cara mengobatinya kan!" kata Anton dengan senyum nya.
"Hehehe, Benar Om!"
"Saya senang sekali bisa bertemu dengan nak Vino ini, sudah lama saya ingin bertemu!" ucap Anton.
"Maaf, kemarin saya sangat sibuk, Om!"
"Iyah tidak apa-apa, Sania selalu cerita, jika Tuannya, itu orangnya sangat baik dan Dermawan, terima kasih yah nak, sudah membantu Sania dalam melunasi hutang-hutangnya?"
Vino tersenyum cengengesan sambil berkata dalam hatinya;
"Baik? Enggak salah dia bilang gua ini baik, Apa dia tidak cerita soal semalaman! Aku rasa si Bapak belum tau jika keperawanan putrinya udah gua jebolin tadi malam."