MIRANDA

MIRANDA
Part 80-MRD



"Bagaimana aku bisa mengubah perasaan ini menjadi perasaaan yang biasa saja, jika kau selalu ada di saat aku benar-benar butuh," bisik manja Rangga di telinga Miranda dengan jelas.


Tiba-tiba ponsel Rangga berdering keras. Miranda mengambil kesempatan untuk melepaskan diri dari dekapan pria itu, tanpa sepatah kata pun, ia melangkah meninggalkan kamar Rangga.


"Siapa sih ganggu aja!" Batin Rangga meraih ponselnya.


***


Ballroom Hotel.


Suasana pesta syukuran dan perkenalan Olivia Putri sebagai penerus takhta keluarga Tasya itu sangat megah dan istimewa.


Rusdy Hamzah tidak dapat menghadiri acara tersebut karena sedang menjalani masa tahanannya sebagai tersangka kasus pembunuhan Jane. Rusdy hanya mewakilkan kepada tim sekretaris dan para ajudannya.


Selain rekan bisnis Rangga dan Tasya, Papa Olivia itu juga mengundang puluhan anak yatim dan anak-anak kurang mampu untuk melengkapi acara syukuran itu.


Miranda juga tampak anggun, namun ia memilih gaun yang lebih sederhana tidak ingin berpenampilan istimewa karena ia ingin fokus mengurus dan menggendong Olivia saja.


Meski tampak sibuk, sesekali mata Rangga terus mencuri-curi pandang ke arah Miranda yang berada di sebelah Rianti dan Kasiman. Diam-diam memandang Miranda adalah kegiatan favorit yang sering ia lakukan saat pertama kali menemukan wanita itu di desanya. Pernikahan siri antara Rangga dan Miranda juga mulai terdengar sayup-sayup di telinga para crazy rich rekan bisnis Rangga juga Vino.


Semua telah berkumpul penuh suka cita bercampur kesedihan.


"Mengapa acara syukuran ini baru kamu adakan sekarang Nak?" tanya Rianti.


"Bu! Rangga ingin Olivia berusia lebih dari enam bulan dulu, setidaknya ia lebih sehat dan lebih kuat menghadapi banyak orang, lagian Rangga juga baru ada waktu yang pas!"


"Ouh, begitu, Yah sudahlah!"


"Padahal, hari ini adalah hari seharusnya aku dan Miranda akan akad resmi menikah kembali, namun terpaksa harus menundanya. Mungkin untuk saat ini, ia belum bisa menerima ku, tapi aku yakin tidak lama lagi kami akan segera menikah!" Batin Rangga dengan senyuman kepercayaan yang besar.


Acara terus berlangsung dengan khidmat, mulai dari keagamaan, hiburan musik sampai dengan perkenalan Olivia sebagai penerus Perusahaan Tasya.


Di temani Intan, Rangga menggendong sendiri putrinya itu naik ke atas panggung. Dalam tepuk tangan dan sambutan yang sangat meriah.


"Pertama-tama saya ingin mengucapkan rasa syukur, terima kasih kepada Tuhan yang maha kuasa, kepada ibuku tercinta serta Ayah yang di sebelahnya.


Saya juga berterima kasih atas dukungan dan Doa para sahabat juga rekan bisnis sekalian. Kalian adalah tim yang hebat yang banyak sekali membantu saya dan Almarhum istri saya Tasya Kamila, dalam mengembangkan bisnis disain, properti, hingga tekstil.


Kelahiran Olivia Putri adalah satu kebahagiaan kami yang tidak terhingga. Semoga Olivia Putri bisa tumbuh dengan sehat sempurna, menjadi anak yang Sholehah, cerdas agar mampu menjadi pemimpin perusahaan yang lebih maju ke depannya sebagai cita-cita dari ibunya"


Mendengar ucapan Rangga semua hadirin langsung memberikan tepuk tangan yang sangat meriah dalam suasana haru juga membanggakan.


"Ranggaaaaaa sudah bisa mencari ibu untuk Olivia!!" Teriak mereka beramai-ramai.


Pria itu hanya tersenyum manis dalam tampilannya yang menawan.


"Mencari istri itu memang mudah, namun untuk mencari pengganti yang benar-benar bisa menjadi sosok ibu yang baik untuk Olivia itu sulit sekali! Saya hanya butuh doa dari kalian semua, semoga saya bisa segera menemukan ibu pengganti yang benar-benar diinginkan oleh Olivia"


Setelah beberapa kata sambutan lainnya. Rangga, Olivia dan Intan akhirnya turun ketika sudah mempersilahkan acara perjamuan makan bersama.


Rangga dan Olivia langsung di serbu oleh para wanita single yang di sebut-sebut akan menggantikan Tasya di samping Rangga.


Intan begitu bahagia saat adiknya di kelilingi oleh wanita yang menjadi pilihannya.


Mereka tampak ingin menggendong Olivia, namun Rangga menolak.


Sementara Miranda terus memantau Rangga berdiri bersiap-siap menunggu Olivia agar dikembalikan lagi ke pangkuannya.


"Apa dia cemburu melihat aku di kelilingi wanita Seperi ini!" Batin Rangga penuh percaya diri dalam senyum tipisnya.


*


Apa kau masih menyukai Rangga. Sapa Vino dari belakang mengejutkan Miranda.


"Kak Vino? Kakak baru datang yah?" Senyum Miranda.


"Tidak juga, sudah dari tadi, kamu saja yang tidak lihat!" Jawab santai Vino.


"Ouh!"


"Apa kau cemburu Rangga sedang di kelilingi wanita seperti itu!"


"Aku hanya mengkhawatirkan Olivia, kasihan jika ia kontak fisik dengan orang banyak?"


"Masih ingatkan dengan perjanjian kita?"


"Perjanjian apa kak?"


"Ouh, Iyah! Aku hanya seorang Babysitter, kakak jangan khawatir!"


Vino tersenyum manis.


"Baguslah!"


"Terima kasih banyak yah kak!"


"Untuk apa?"


"Jarang sekali ada sosok yang setia mendukung sahabatnya dari nol hingga berhasil, kakak adalah sahabat Mas Rangga, meski kalian sering bertengkar tetapi kalian sudah seperti kakak beradik yang tidak terpisahkan!"


"Ouh Iyah? Tapi kenapa kamu yang berterima kasih?"


"Sebagai adik angkat kak Tasya, tentu aku harus berterima kasih, Tasya tidak hanya sekedar kakak, tetapi ia adalah sahabat yang selalu ada di saat aku butuhkan, meski terkadang kami bertengkar dan salah paham, namun justru itu yang membuat hubungan kami semakin dekat. Tetapi sayang, ia sudah tidak ada lagi di dunia ini dan aku sangat merindukannya!'


"Cukup terharu, dua istri yang berdamai untuk suami, Rangga memang beruntung!" Kata Vino dalam senyumannya.


Miranda hanya tersenyum kecil.


"Ouh Iyah! Apa kakak ingin makan!"


"Boleh, tapi harus kamu yang ambilkan!"


"Baiklah kak!" Jawab polos bahagia Miranda.


*


"Bukankah cemburu itu masih ada rasa cinta?" batin Rangga dengan bangga namun saat ia menoleh ke arah Miranda, ternyata wanita itu sedang menghidangkan makanan untuk Vino.


"Sial, ngapain dia menghidangkan makan untuk si es Vino!" Rangga terlihat seperti cacing kepanasan, keluar dari kerumunan dengan berbagai alasan dan Langsung berjalan mendapati meja Miranda dan Vino.


"Ouh Iyah kak? Sania tidak ikut?"


"Dia ada tugas darurat di rumah sakit, jadi tidak bisa hadir!"


"Ouh!"


"Kamu tidak makan!"


"Iyah kak, belum lapar?"


"Makanlah nanti kamu sakit!" kata Vino.


"Iyah!"


Begitu Vino melihat Rangga datang bersama Olivia. Vino langsung tersenyum tipis. Ia memberikan satu sendok suapan puding ke mulut Miranda dan terlihat jelas oleh Rangga.


"Apa yang dia lakukan?" batin panas Rangga menahan amarah, ia tidak bisa marah seperti dulu lagi dan berusaha menguasai dirinya.


Miranda sontak terlihat bingung dengan aksi Vino.


"Ayo makan!" kata Vino.


"Miranda, Olivia butuh kamu?" ucap cepat Rangga.


"Ouh, Iyah!"


Dengan sigap pula Miranda berdiri, wanita itu tampak bahagia Olivia kembali berada ke


pangkuannya lagi.


"Bawa ia ke kamar tempat istirahat!"


"Baik Mas!"


Rangga tidak bisa marah ataupun menegur kedekatan Vino dan Miranda.


Ia hanya duduk santai di depan Vino.


"Kapan lu akan menikahi salah satu di antara calon wanita-wanita itu. Intan Ada benarnya juga, Lu harus segera mencari ibu pengganti Olivia, sekaligus pimpinan sementara untuk perusahaan Tasya!"


Rangga terlihat diam saja, sambil melahap puding itu.