MIRANDA

MIRANDA
Part 21-MRD



Rangga memperketat sabuk pengaman Miranda.


"Rangga kau mau apa?" Lepasin aku!" Miranda terus meronta-ronta di dalam mobil tetapi lelaki itu tidak perduli.


Dalam laju yang sangat kencang, Rangga membawa Miranda menuju rumahnya yang mewah. Sampai pria itu mengabaikan panggilan dari beberapa sekretarisnya yang sudah berkali-kali menghubunginya untuk segera hadir mengikuti rapat yang telah disiapkan.


"Dimana anak itu?" gumam Vino yang juga menunggu Rangga.


Bertemu Miranda malam itu membuyarkan semua rencana Rangga.


Setelah mobil memasuki pekarangan rumah Rangga yang sangat mewah, ia menyuruh Miranda keluar dari mobilnya.


Sejenak Miranda sempat terkagum-kagum melihat kemegahan rumah Rangga.


"Ini rumah ku?" ucapnya dengan lantang.


"Aku tidak menduga, jika Rangga yang dulu sangat miskin bahkan membeli beras saja begitu susah, kini bisa membeli rumah semewah ini?" batin Miranda merasa tidak percaya.


Rangga kembali menarik tangan Miranda masuk ke dalam rumahnya yang di fasilitasi banyak sensor dan memperlihatkan interior yang sangat berkelas.


Miranda lagi-lagi terpukau sampai akhirnya Rangga berhenti membawa Miranda di area garasi mobil yang Luas, tempat koleksi kendaraan Rangga dengan berbagai macam gaya model dengan harga berkisar di atas Milyaran rupiah.


"lihat, lihat semua ini Miranda, aku sudah membuktikan kepadamu, jika aku bisa kaya, ini adalah hasil jerih payah ku selama ini yang dulu kau anggap remeh, yang dulu selalu kau katakan jika aku ini tidak pernah bekerja, tidak pernah berjuang. Begitu kau tinggalkan aku, aku bisa mendapatkan semuanya, termasuk wanita yang jauh lebih baik dari kamu yaitu Tasya. Meski Tasya tidak membantuku secara materi, namun secara mental serta didikan yang menguatkan aku bisa sampai ke puncak setelah kau menghempaskan ku!" ucap tegas Rangga.


Rangga membuka dompetnya lalu menghamburkan lembaran-lembaran uang tepat di depan Miranda.


"Sekarang aku kaya, aku sangat kaya, aku bisa membeli apapun yang aku mau!" ucap Rangga dengan bangga.


"Aku bisa mendapatkan wanita-wanita yang jauh lebih berkelas bukan wanita miskin dan murahan seperti kamu."


Miranda hanya terdiam dengan mata memerah.


"Apakah dengan menceraikan aku, kau bisa bahagia? Dimana suami kamu yang kau anggap bisa sebagai dewa penolong itu?"


"Setelah kau di buang oleh suami mu dan mengetahui sekarang aku sudah kaya, kau datang lagi kepadaku melalui istriku? Apa kau tidak punya rasa malu Miranda?"


Wanita itu hanya menelan paksa ludahnya dan meneteskan airmata sambil menundukkan kepalanya.


Melihat Miranda menangis justru malah membuat hati Rangga terasa pedih.


"Aku memang salah, tidak bisa bertahan untuk mu saat itu, aku minta maaf. Tapi aku tidak pernah menyesali segalanya. Kisah kita sudah berlalu, mungkin ini takdir yang harus aku jalani.


Aku hanya milik Rangga yang miskin. Kamu jangan khawatir, tujuanku datang ke sini tidak untuk mencari masalah, aku hanya ingin membalas Budi baik kak Tasya yang sudah banyak menolongku.


Meskipun saat ini kau sudah kaya,


Sedikitpun aku tidak berniat untuk kembali lagi kepada mu, untuk merebut mu dari kak Tasya, itu tidak mungkin. Aku tidak pernah mencintai kamu, aku juga tidak pernah tertarik dengan mu. Kau yang sudah tega menghancurkan hidupku, merusak masa depanku.


Dulu aku tidak menuntut emas berlian hanya sekedar uang belanja yang lebih layak dan saat ini aku sadar, aku bukanlah wanita yang pantas bersanding lagi untukmu," ucap tegas Miranda membuat hati Rangga semakin sakit dan terpukul.


Dengan emosi Pria itu langsung membuka jas kemejanya merasa geram dengan Miranda.


"Kau suka uang kan? Aku akan memandikan mu dengan uang, asalkan kau menjadi pemuas ku!" ucap Rangga menarik pinggul Miranda dan mengecup paksa bibir wanita itu.


Miranda meronta-ronta menginjak kaki Rangga.


"Prak, kau memang gila" tampar Miranda.


"Meskipun aku pelacur sekali pun, aku tidak akan mungkin tidur dengan suami kakak ku sendiri!" Jawab tegas Miranda.


"Lepasin aku, Rangga kau pria gilaaaa!" hardik Miranda berusaha melepaskan diri.


Terdengar suara langkah seseorang memasuki ruang garasi.


"Rangga!" Panggil Vino.


Keduanya menoleh kaget ke arah Vino.


Seketika Miranda melepaskan diri dan turun dengan cepat.


Untuk pertama kalinya Vino bertemu dan melihat langsung sosok Miranda. Ia cukup terkejut, mantan istri Rangga itu, tiba-tiba ada di rumah sahabatnya.


Merasa gugup, Miranda melangkah cepat keluar dari garasi itu.


Sudah terlihat dari pagar supir Tasya menjemput Miranda.


***


"Semua Aliansi bisnis kita sudah menunggu mu di kantor, aku mencari-cari dirimu ternyata kamu disini!" Kata Vino.


"Tunda saja, pikiran ku sangat kacau!" Kata Rangga melangkah pergi menuju kamarnya.


"Apa karena Miranda?" Tebak Vino.


"Kau masih mencintainya?" ucapan Vino kembali hingga menghentikan langkah Rangga.


"Apakah aku layak untuk mencintai wanita yang telah membuang ku hanya karena demi uang? Heh😏 itu terlalu menghancurkan harga diriku sebagai pria," ucap gengsi Rangga.


Vino hanya terdiam dan membiarkan langkah Rangga pergi ke kamarnya.


***


Sesampai di kamar, Rangga masih mengingat ucapan-ucapan Miranda.


"Huaaaaaaarrg!" Rangga menjerit kesal dengan menjatuhkan semua barang-barang yang terletak di atas meja kerjanya.


"Mengapa aku bisa selemah ini hanya karena seorang wanita? Aku bisa menangis hanya karena Miranda...Hiks...Hiks...cinta ini sungguh menyiksa, meresap menghancurkan tulang-tulang ku, semua kekayaan ini serasa tidak berguna tetap tidak bisa membalaskan rasa sakit hatiku yang dalam kepada Miranda. Bahkan sudah menikah dengan Tasya sekalipun tidak bisa menghapus jejaknya dan menggantikan cintanya."


*Sejenak Rangga terbayang saat kebersamaannya yang indah dengan Miranda, dikala susah selalu bersama, mulai dari hot*nya bercinta di atas ranjang, canda tawa bersama walau selalu ada pertengkaran kecil diantara mereka, selalu makan sepiring berdua demi lauk tercukupi, Miranda memeluk Rangga saat mereka berkeliling naik motor jelek, hingga bermain air di pantai dan sumur. Miranda juga sangat menyayangi orang tua Rangga. Sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya, benar-benar utuh di benak Rangga.


"Apakah kau bisa merasakan betapa sakitnya di tinggal pergi. Miranda, tau kah kamu bertahun sudah lamanya aku membalut luka hatiku ini sendiri agar bisa membuka lembaran baru dengan wanita lain, tergeletak lemas tak berdaya di atas kasur tetapi harus memaksakan diri dan terus berjuang demi bisa menunjukkan kekayaanku dan membuat kau menyesal telah meninggalkan ku, aku juga tidak ingin pulang ke desa hanya karena tidak ingin lagi bertemu denganmu, tidak ingin mencari tau tentang dirimu, tapi mengapa saat ini dengan mudahnya kau hadir kembali lalu dengan entengnya mengatakan jika kau tidak pernah mencintaiku, sakit...Haaaaah, sangat sakit!"


Rangga tidak melanjutkan jadwal kerjanya lagi malam itu. Ia lebih memilih tergeletak lemas di atas kasur menatap langi-langit kamar dalam sorotan mata yang jauh mengenang masa lalu.


***


"Saya ditugaskan Nona untuk menjemput Nona Miranda!"


"Ayo Pak!"


Di dalam mobil tak henti-hentinya Miranda mengusap bibi bekas ciuman Rangga.


Terlihat Vino mengejar mobil yang membawa Miranda lalu mengetuk jendela tempat posisi duduk wanita itu.


Setelah kaca mobil turun.


"Bisakah kita bicara sebentar?" pinta Vino kepada Miranda.