MIRANDA

MIRANDA
Part 30-MRD



Reflek Miranda berdiri dan merasa gugup, dengan cepat pula Rangga langsung mengecup bibir manis sang istri hingga keduanya jatuh ke kasur secara bersamaan.


"Rangga lepaskan aku, aku tidak bisa melakukan ini," rengek Mira tak lagi memanggil nama Rangga dengan sebutan Tuan.


Dalam sekuat tenaga ia menolak tubuh Rangga, tanpa diduga tangan Rangga tergelincir kemudian terjatuh dan tersungkur mencium lantai.


"Haduh, nasib-nasib!" Keluh Rangga memegang bibirnya terasa sakit akibat bertubrukan dengan lantai.


"Ouh, aduh...aduh apa dia baik-baik saja!" Miranda panik dan turun melihat kondisi Rangga.


"Haduh sakitnya!" Rangga pura-pura lesu.


"Begini amat minta jatah" Batin Rangga meringis menatap Miranda.


Miranda berusaha menolong Rangga,


Namun justru Pria itu bangkit dengan tegak karena tidak ingin membiarkan si otong yang sudah sangat gelisah. Rangga berusaha mengangkat Miranda naik ke atas kasur lalu sangat cepat merangsang birahi wanita itu yang sebelumnya sudah pernah merasakan nikmatnya bercinta dengannya.


"Arrkh"


"Arrkh"


"Kak Tasya bagaimana ini, aku tidak bisa menghindarinya," rintihan batin Miranda dengan wajah meringis.


"Arrkh" jerit kecil Miranda saat jari Rangga mulai bermain liar di area intimnya.


"Jangan Rangga, aku mohon jangan, ingat kak Tasya yang lagi sakit."


Rangga tidak menghiraukan ucapan Miranda.


"Dia istri yang banyak berjuang untukmu!" Miranda berusaha menepis tangan liar Rangga.


Dengan cepat Rangga menangkap tangan Miranda sambil berkata;


"Kau juga istriku, Tasya sudah izin!"


"Tetapi aku bukan istri untuk di ranjang, bukan kah itu sudah kesepakatan kita!" kata Miranda.


"Sudah lama sekali aku menyimpan hasrat ini, aku sudah tidak tahan lagi!" Batin Rangga menghiraukan ucapan Miranda. Ia sudah sangat terdesak.


Pergulatan hebat itu pun terjadi. Miranda tak bisa menepis serangan rangsangan Rangga sungguh sangat cepat dan liar. Wanita itu juga punya hasrat yang tidak bisa ia tangkis saat Rangga mengulang kembali adegan kenikmatan itu dan ia pun terpaksa menerima semua rangsangan panas bercinta Rangga dari atas sampai bawah.


***


Ilustrasi;


"Hayo Rangga, hayo cepat, sepertinya dia sudah takluk" Otong kegirangan🍌🤗


***


"Kak Tasya maafkan aku!"


"Maafkan Mira!"


"A...akh...a...aku tidak bisa... Menepisnya!"


"Ah....aku...!"


"Ah...aku tidak ku...kuat!"


"A...aku tidak berniat mengkhianati kamu, kak!" rintihan batin Miranda berkata-kata.


Merasa tidak sabar dan begitu beringasnya Rangga di atas ranjang, ia pun sampai merobek baju Mira dan melemparnya ke lantai.


"Aaau!" Jerit kecil wanita itu sekaligus terkejut hebat dengan tingkah Rangga.


"Ah..."


"Ah..."


"Aaaaaaaaaark!" Jerit panjang Mira saat keperawanannya mulai di bobol oleh pendekar Otong.


Rangga reflek menutup mulut Mira yang mengeluarkan suara terlalu kuat.


"Kecoa gosong, sakiiiiiiiit😟!" keluh Miranda.


"Aduh sempit! ini benar-benar masih seperti perawan, sama waktu pertama kali aku melakukannya di tepi sungai, de Javu man !" Batin Rangga kesenangan.


Si Otong yang sudah sangat keras dan akhirnya berhasil membobol goa sempit milik Miranda dan tertancap sempurna, siap mengobrak-abrik 'dompet' milik Miranda.


"Sakiiiit.....!"


"Arrkh....!"


Miranda terus meringis mengepal kuat kain sprei.


"Sabar sayang!" ucap Rangga mengelus dahi Miranda.


Keduanya mulai terbang dalam lautan cinta merasakan indahnya surga dunia.


"Ah...!"


"Ah...!"


"Ah...!"


"A...a..kuh..." Miranda merasa sesak tak mampu lagi berkata-kata menahankan antara sakit dan kenikmatan.


Ruang kamar Rangga yang di penuhi suara-suara jeritan kecil Miranda serta des*han hebat Keduanya, mereka tenggelam dalam lautan kenikmatan yang hampir mencapai klim*ks bercinta.


***


Si Otong dengan puasnya Mandi celup.


"Yupi....yupi....Ayo Rangga hajar terus...🍌🍌🍌🏊🏊🏊"


Si Otong keluar masuk celap-celup kegirangan.


"Terima kasih Rangga. Yuhuuuuuuu...kolam kesayangan Ku"


***


"Mengapa aku tidak bisa lari dari Rangga, ia ibarat magnet yang menarik ku kembali dan mengapa harus kak Tasya yang menjadi istri Rangga. Aku tau saat ini ia sedang kesakitan dan berjuang keras antara hidup dan mati..


Maafkan aku kak! Aku terpaksa. Aku juga tau Rangga adalah pria yang sangat kau cintai, dia milikmu, dia suami yang sah di mata hukum, aku yakin kau tidak akan pernah rela dengan apa yang telah kami lakukan malam ini, Aku sayang kepada mu kak. Aku sedih dengan semua ini."


Miranda terbayang betapa bahagia Tasya saat akan menikah dengan Rangga.


"Aku sangat mencintai Rangga, adikku!"


"Aku rela berkorban untuknya."


"Maafkan Miranda kk"


"Aku minta maaf 😥" Miranda meneteskan airmata.


Malam yang serasa panjang bagi Rangga dan Miranda, keduanya bercinta di 2 ronde yang panjang dalam gaya-gaya bercinta kontemporer sampai Rangga merasakan kepuasan dan mereka terlihat bermandikan keringat.


"Arrrrg, aku puas sekali, aaah...Hah!" gumam Rangga tergeletak kelelahan, nafasnya terengah-engah. Hasrat yang selama ini terpendam sudah dapat tersalurkan dengan sempurna. Ibarat pipa yang tersumbat sudah bisa mengalir kembali.


Sementara Miranda meringkuk membelakangi Rangga, tangannya mengepal kuat selimut bedcover tebal, merasakan antara perih di organ intim, kesal tetapi ada bekas kenikmatan bercinta yang diberikan Rangga yang sebenarnya tidak bisa ia lupakan. Sebuah perasaan campur aduk.


Bercinta dengan keterpaksaan itu terulang kembali bersama Rangga.


Rangga menoleh ke arah Miranda yang membelakangi dirinya. Sontak pria itu menarik tubuh Miranda lalu memeluknya dengan erat penuh kasih sayang. Sambil mengecup manis dahinya. Pertanda puas akan permainan yang diberikan Miranda.


"Aku benci kamu Rangga!"


"Aku benci!"


"kau tega melakukan ini di saat kak Tasya sedang koma!" Miranda memukuli dada kekar Rangga dengan kesal.


Rangga diam saja, kembali mendekap Miranda di dadanya agar tetap ada di pelukannya.


Airmata itu masih membasahi pipi Miranda sampai ia tertidur kelelahan.


Ucapan batin Rangga ;


"Sejauh mungkin aku sudah berlari kencang menghindari dirimu, semua itu justru serasa bagai duri dalam tenggorokan, sangat sakit dan menyiksa. Tanpa mu separuh jiwa ini terasa mati. Harus aku akui, Miranda wanita yang bisa mengubah hidupku dan tubuhnya yang terasa sangat nikmat, hatiku selalu bergetar kepadanya bahkan Tasya yang sudah memberikan segala hidupnya untuk ku, tidak bisa menggantikan getaran dan kenikmatan itu, Ini memang tidak adil bagi Tasya tapi aku tidak bisa menghindari Miranda."


"Aku mencintai kamu Miranda, tapi aku sangat trauma dengan caramu meninggalkan ku, apakah setelah kau bertemu dengan pria yang lebih baik dari ku, kau akan meninggalkan ku lagi, aku belum tau sampai dimana cintamu untukku, entah mengapa aku merasa cinta ini bertepuk sebelah tangan!"


Jam bergerak menunjukkan pukul 01. 12 wib dini hari.


Lama Rangga menatap manisnya wajah kelelahan Miranda yang tertidur dalam pelukannya. Akhirnya ia pun ikut tertidur kelelahan setelah panasnya bercinta dalam malam pertama di pernikahan mereka yang kedua kalinya.


Tertidur berpelukan tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuh mereka kecuali selimut tebal sebagai penutup. Meski secara hukum negara mereka belum dia akui sebagai pasangan suami isteri, namun secara agama sudah diperbolehkan.


***


"Goooooooooooooulll🍌🍌 🥰😍 Nanti, Otong mandi celup lagi yah Tuan Rangga."


***


.


.


.


Jangan lupa Vote dan beri gift yang banyak yah guys🙏


Terima kasih🙏🙏