MIRANDA

MIRANDA
Expart-MRD



Setelah melakukan rapat besar dengan berbagai investor dalam dan luar negeri, akhirnya PT VERON GROUP bergabung dengan perusahaan yang menjadi Aliansi Veron akan mengadakan pembangunan Apartemen yang difasilitasi oleh Mall besar serta ruko mewah.


Vino tetap mempercayai Rangga sebagai disainer terbaiknya.


Obrolan Rangga dan Vino setelah rapat selesai.


"Romi mengatakan kau akan menetap beberapa bulan di Kalimantan?" tanya Rangga.


"Iyah, gua harus tetap ada disana paling tidak sampai 70% pembanguan berdiri dan memastikan penjualan Apartemen dan Hotel terjual setengah dari target kita!"


"Baiklah, kerja yang cukup bagus, seorang pimpinan terjun langsung!" puji Rangga, ia memperhatikan raut wajah Vino yang sendu.


"Apa kau sedang mengingat seseorang?"


"Tidak!"


"Miranda pernah berkomunikasi dengan Sania, aku dengar wanita itu sudah memiliki anak perempuan!" ucap Rangga.


"Oh Iyah, terus apa urusannya denganku!" jawab ketus Vino.


"Yah, aku harap kau tidak larut dalam masa lalu, move on dari Sania yang mungkin sudah bahagia dengan rumah tangganya, dan seperti harapan Mami, kau juga segera menikah!"


"Menikah atau tidak, itu bukanlah target yang harus aku gapai saat ini!" jawab Vino bangkit meninggalkan Rangga begitu saja, entah mengapa hatinya seperti terpercik api saat mendengar Sania sudah menikah dan memiliki anak perempuan.


***


Sania Lauren adalah dr muda cantik berusia hampir 25 tahun. Senyum wanita manis pekerja keras itu sangat bahagia saat menerima sertifikat izin dari pemerintah untuk membuka klinik kecantikan. Tampilan Sania sudah berbeda, ia semakin cantik dan mempesona, memiliki wajah putih glowing dan kulit yang mulus.


Sania melanjutkan sekolah kedokterannya di bidang kecantikan, ia juga mempelajari beberapa problem penyakit kulit. Jatuh bangun perjuangan wanita itu akhirnya mengantarkan ia berhasil menggapai cita-citanya.


Sania juga mendapat banyak piagam tentang kecerdasannya mengatasi berapa penyakit kulit, khususnya di area wajah yang di derita oleh banyak wanita di sebuah rumah sakit besar di Kalimantan Timur.


Baru-baru ini Sania juga mendapatkan tawaran manis yaitu beasiswa dari pemerintahan untuk bisa mendapatkan gelar dr spesial kulit namun dibutuhkan waktu 3 sampai 4 tahun untuk mendapatkan ijazah tersebut.


Tawaran itu masih ia simpan, Karena saat ini Sania ingin fokus membuka klinik kecantikan dan sedang bekerja sama dengan beberapa pengusaha untuk menciptakan skin care kecantikan yang menyehatkan kulit.


"Akhirnya, sertifikasi ini aku miliki, Aku bahagia sekali!" teriak kecil Sania.


"Selamat yah Sania!"


"Terima kasih Naya, kau cukup banyak membantu ku!" memeluk Naya sahabat Sania selama berada di Kalimantan.


"Sama-sama, apa kau akan membeli ruko mewah untuk lokasi klinik mu!"


"Sepertinya, begitu!"


"Lihat, tadi aku dapat brosur dari teman aku, akan ada pembangunan Apartemen, Mall dan ruko-ruko mewah di jalan XX. 100 orang cash pembeli pertama akan mendapatkan sepeda motor. Lokasinya sangat strategis tepat di pusat kota!"


"Kamu sudah mirip dengan marketingnya."


"Nih lihat!" Naya menyodorkan sebuah brosur dengan disain ruko yang menarik.


"Tapi pembangunannya kan belum jadi, apa tidak khawatir?" tanya Sania.


"Teman aku bilang, ini PT besar, kalau kamu kurang yakin, bisa juga kok melalui cicilan. Nanti kamu boleh pilih disain ruko yang seperti apa yang kamu mau!"


"Begitu yah, boleh deh!" Angguk Sania.


"Aku akan antarkan kamu ke lokasi tempatnya nanti!"


"Terima kasih Naya!"


***


Pekan demi pekan terus berlalu, Vino akhirnya mendarat di sebuah lapangan khusus di Kalimantan Timur dengan jet Pribadinya. Kemudian menuju rumah yang sudah di siapkan untuk sang Presdir.


Untuk pertama kalinya, Pria itu memijakkan kaki di kota Kalimantan.


Keesokan harinya peninjauan langsung menuju lokasi pembanguan Apartemen dan Mall yang sudah berdiri hampir 50% Pembangunan yang cukup cepat berdasarkan target yang sudah di siapkan.


Dalam pengawalan team, Vino dan Aliansi Bisnisnya juga turun langsung meninjau lokasi pembangunan itu. Tidak hanya Vino dan rombongannya mereka juga mengundang beberapa Investor asing yang sudah bergabung dalam pembangunan proyek besar itu.


"Di sekitar ini, kita juga akan membangun perumahan hijau lengkap dengan Playground anak-anak Pak!"


"Iyah, usahakan ada tatanan olahraga untuk Masyarakat setempat!" Pinta Vino.


***


Sania akhirnya tertarik untuk membeli Ruko Mewah yang di tawarkan oleh temannya Naya. Sore itu mereka janjian bersama di lokasi yang tidak jauh dari proyek Vino.


Dua tahun lebih berlalu, Sania sudah memiliki putri cantik bernama Miranda Bella, putri semata wayangnya itu sudah berusia 2 tahun 3 bulan, lincah, cerdas dan sudah sangat pintar berbicara.


"Mama hanya sebentar sayang! Please!"


"Ikuuut!" tangis sang anak semakin menjadi-jadi.


"Bawalah dia!" perintah Antonius.


"Tapi kamu harus janji, harus tertib, tidak boleh pergi tanpa sepengetahuan Mama, karena ini bukan ke tempat taman bermain!"


"Janji!" Jawab cepat Miranda dengan senyum manisnya.


Tidak sanggup melihat tangisan sang anak yang sering di tinggal pergi. Akhirnya Sania membawa putrinya.


**


Mobil Sania tiba di lokasi tempat.


Mobil Naya sudah menunggu tepat di kantor marketing milik temannya.


"Kamu bawa anakmu?" tanya Naya terheran-heran.


"Aku tidak punya pilihan, sudah dua hari pengasuhnya izin pulang untuk mengurus KTP, tapi sore ini akan segera kembali. Aku kasihan dengan Ayah, pasti dua hari ini ia sudah kelelahan menjaga Mira!"


"Yah sudah lah, Ayo!" ajak Naya membawa Sania menemui temannya.


Sampai di lokasi keduanya sudah di sambut hangat oleh tim marketing dari PT VERON.


"Sepertinya PT ini tidak asing bagiku! Argh, udahlah, tidak perlu mengingat tentang masa lalu!" batin Sania.


lama berbincang mulai dari nego harga, disain bentuk ruko yang diinginkan sampai dengan sang Marketing juga menawarkan kepada Sania disain interior klinik yang modern dan mewah.


Hal itu membuat Miranda Bella jenuh, dan mencoba melihat ke luar taman. Diam-diam anak lincah itu pergi meninggalkan ibunya.


"Di dalam Sangat membosankan!" gerutu si Bocil cilik.


Miranda yang lincah berjalan menuju taman lalu berlari-lari kecil dengan bahagia disana, setelah bosan ia pun duduk termenung.


Vino dan para teamnya memutuskan menyudahi tinjauannya karena sudah menjelang sore. Kedua bola mata lelaki itu tiba-tiba saja tertuju pada gadis cilik yang duduk sendiri dalam bibir manyunnya.


Vino tersenyum lalu dan begitu penasaran ingin mendekatinya, sambil merehatkan diri.


"Bos apa kita langsung balik saja!" tanya Romi.


"Tunggu sebentar, gua ingin duduk sebentar disana!"


"Baiklah Bos!"


langkah Vino berjalan menuju anak perempuan itu.


"Hai bocah manis, apa kau hanya sendiri?" sapa Vino dengan senyum manisnya.


Sontak perempuan cilik itu terkejut sekaligus terkesima dengan senyum Vino yang sangat tampan.


"Iyah Mamaku sedang sibuk berbicara, aku sangat bosan menunggunya, apakah Om juga sedang bermain di taman ini?"


"Yah begitulah, wah berapa usia kamu, bicara mu sudah sangat lancar!"


"Mama ku, bilang aku sudah tahun lebih!"


"Ouh begitu yah, Om juga punya keponakan lucu seperti kamu, namanya Olivia!"


"Kalau adik namanya siapa?" tanya Vino balik.


"Miranda Bella!" jawab bocah cilik itu dengan jelas.


"Miranda?? Kenapa hidupku tidak pernah lepas dari nama Miranda?" batin Vino sambil tersenyum.