
Agar kondisinya kembali fit, Rangga menghentikan banyak aktifitas kantornya dan menyerahkannya kepada Vino. Ia berpikir tidak akan mungkin terus-terusan bekerja hingga merasa kelelahan, sementara Tasya sedang berjuang keras melawan penyakitnya dan rasa sakit yang sedang mengandung anaknya.
Pria itu juga berpikir tidak akan sanggup menahan hasratnya jika Miranda ada di rumahnya.
Rangga berusaha bangkit pergi dan meluangkan waktu untuk melihat kondisi Tasya. Menemani sang istri berkeliling taman dengan kursi roda, menghiburnya.
Sesekali keduanya bercanda dan terlihat sangat kompak. Kemudian Rangga menggendong Tasya masuk ke dalam kamarnya. Tanpa sengaja Miranda mendengar percakapan keduanya setelah pulang dari kampusnya.
"Mas kamu benar sudah baikan?" tanya Tasya merasa tidak percaya.
"Aku hanya kelelahan saja!"
Tasya menatap haru suaminya, tubuh wanita itu semakin hari semakin kurus dan rambutnya mulai habis.
"Kamu suka rangkaian bunga yang mana sayang!" tanya manja Rangga matanya terlihat berkaca-kaca melihat kondisi sang istri yang terus memburuk.
"Aku suka yang ini!" Jawab manja Tasya memilih buket mahal yang di bawa oleh Rangga dan menciumnya.
"Terima kasih yah Mas, kau masih perduli denganku!"
"Tentu aku perduli dengan mu, kau adalah istriku, meskipun banyak wanita di luar sana yang menggodaku dan orang lain selalu menilai buruk tentangku, tapi aku tidak akan sanggup meyakiti hati seorang istri seperti kamu."
Tasya sangat terharu mendengar ucapan dari Rangga.
"Kehamilan ku sudah sampai tujuh bulan Mas? Besok rambut ku akan dibotak dan segera menjalani kemoterapi!"
"Lalu, bagaimana dengan anak kita?" tanya Rangga begitu khawatir.
"Dia sangat kuat dan sehat, ia harus terpaksa dilahirkan, Mas!"
Mendengar hal itu Rangga langsung berlutut di depan Tasya.
"Terima kasih sayang, kau sudah banyak sekali berkorban untuk ku, aku belum sempat membahagiakan kamu, Tasya. Kau yang selalu mendorongku agar tetap tegar menghadapi segala masalah, sampai hari ini kau juga tetap bertahan demi anak kita!"
"Iyah Mas, aku sudah cukup bahagia bersama kamu, tidak salah pilih suami. Terima kasih atas kasih sayang dan kesetiaan kamu, Mas!"
"Menahan hasrat seksual tidak sebanding dengan sakit dan lelahnya perjuangan dan pengorbanan kamu?"
Rangga tersenyum manis dan mengecup kening istrinya.
Di kejauhan Miranda menatap jelas kemesraan keduanya.
***
"Kenapa aku merasa iri, perasaan apa ini. Ini sungguh memalukan!" batin Miranda memukul-mukul kecil dahinya.
***
"Mas, mau kah kamu memenuhi permintaan ku yang terakhir kalinya?" Pinta Tasya menggenggam lembut tangan Rangga.
"Permintaan apa sayang, katakanlah. Aku pasti akan melakukanya!" ucap Rangga.
Tasya terdiam sejenak. Meski berat, wanita itu tetap harus mengatakannya.
"Ayo katakanlah sayang, kamu mau apa?
Pakaian mahal? Tas? Atau rumah mewah?" Tebak Rangga.
"Aku tidak membutuhkan itu lagi. Yang aku butuhkan kebahagiaan orang-orang yang aku sayangi!"
Rangga terdiam.
"Lalu apa?"
"Aku merasa usiaku sudah tidak lama lagi Mas?"
"Tasya!"
"Aku sadar, aku tidak bisa lagi berperan menjadi istri dan ibu, anak kita juga butuh belaian kasih sayang seorang ibu setelah lahir ke dunia ini dan juga kamu yang butuh pelampiasan *****!"
"Tasya tolong, jangan bicara yang tidak-tidak!"
"Mas, menikah lah lagi demi anak kita?"
"Menikah lah dengan Miranda!"
"Mi... Miranda?" Mulut Rangga langsung bergetar mengulang nama itu.
***
Mendengar hal itu jantung Miranda juga ikut berdetak kencang.
***
"Sebenarnya kalian masih saling mencintai.
"Tasya apa yang kau ucapkan!"
"Aku ini seorang Psikolog Mas, jangan bohongi aku, kau masih mengigau memanggil namanya!"
"Harus aku akui Miranda memang cinta pertama ku dan aku belum bisa total melupakannya tapi aku tidak berniat sedikitpun untuk kembali lagi kepada wanita yang telah tega meninggalkanku, lebih memilih kepentingannya sendiri dari pada berkorban untuk selalu setia dan menemani pasangannya."
"Kalian hanya salah paham, selama ini Miranda yang tulus merawat ku, aku tidak percaya anak kita diasuh oleh wanita lain selain Miranda! Aku juga tidak percaya kau bisa mencari wanita sebaik dan setulus Miranda!"
"Apa dia sengaja melakukan ini kepada Tasya, agar ia bisa kembali lagi kepadaku dan juga menguasai harta istriku," prasangka buruk Rangga muncul di benaknya, ia justru semakin membenci wanita itu karena cinta yang terabaikan.
"Sebelum operasi dilakukan, kalian harus menikah, aku sudah mengundang kakaknya untuk hadir di Jakarta sebagai wali, Miranda sudah pernah menikah, jadi kalian bisa rujuk kembali!"
"Aku tidak mau!"
"Mas, anak kita butuh Ibu dan Ayah, semua atas nama kepengurusan anak kita di rumah sakit, sudah aku limpahkan kepada Miranda!"
"Mengapa kau begitu mempercai wanita itu, dia saja tega meninggalkan aku, apa lagi anak kita!"
"Aku tidak pernah salah memilih dan itu lah tujuannya, mengapa Mas harus menikahinya, agar kalian bisa bekerja sama membesarkan anak kita!"
"Tasya tapi...!"
"Aku sudah mencari tau, kasus tentang perceraian kalian dahulu! Miranda tidak salah mengajukan perceraian kepadamu, karena suami wajib menafkahi seorang istri!"
"Alasan, banyak cara untuk bertahan di dalam kesulitan, lagian ia tidak pantas untuk menggantikan posisi kamu!"
"Mas!"
"Tasya aku belum ingin menikah lagi! Tolong jangan paksa aku!"
Rangga pergi meninggalkan Tasya.
Miranda dengan cepat bersembunyi. Ia baru menyadari ternyata Rangga yang dulu berbeda dengan yang sekarang, pria itu tidak seburuk yang ada di pikirannya, entah mengapa Miranda merasa salut dengan keteguhan dan kesetiaan Rangga kepada Tasya dan terpercik sedikit rasa malu juga menyesal telah meninggalkan Rangga.
"Kak Tasya berhati malaikat memang pantas mendapatkan kesetiaan cinta dari pria seperti Rangga. Sampai kapan pun, aku tidak akan bisa menggantikan kak Tasya."
"Aku yang sudah buruk di mata Rangga tidak akan pernah percaya lagi dengan sikap dan setiap ucapan ku. Aku terima dengan sikapnya seperti ini."
***
"Kakak, Mira berjanji akan mengasuh anak kakak sampai ia tumbuh dewasa, aku juga sudah menuliskan pernyataan itu secara hukum. Tapi tolong jangan paksa aku dan Mas Rangga menikah kembali, aku bukan wanita yang pantas untuk Mas Rangga, kak!" Rengek Miranda.
"Jika kau tidak mau, kau harus mengganti rugi 2 kali lipat dari semua biaya yang sudah aku berikan kepada mu, juga keluarga mu!"
"Kakak!" Miranda menangis terduduk di atas lantai.
"Dan jangan pernah menolak jika Rangga ingin melampiaskan nafsunya kepada mu!"
"Hiks...hiks...mengangkat ku sebagai adik, apakah semua ini sudah menjadi rencana kakak?"
"Entahlah, aku juga merasakan sakit yang teramat sakit!" Jawab Tasya.
"Lalu mengapa kakak memaksa aku menikah dengan suami kakak sendiri," Hentak Miranda.
"Karena aku tidak punya pilihan Miranda!" Bentak Tasya sekuat tenaganya.
"Andai saja aku bisa membeli sebuah kesehatan, aku tidak akan rela berbagi suamiku seperti ini meski dengan saudara kembar sekalipun. Aku sangat mencintai Rangga!"
***