
Huru-hara kecil pun terjadi di area ruang gawat darurat itu karena suara amukan keras Melani kepada Sania.
Fudo dan Rangga berusaha menarik Melani yang sudah kesetanan ingin menghajar Sania.
"Mami! Ini rumah sakit, tolong tenang lah, tindakan mu hanya merusak suasana!" hentak Fudo kepada istrinya.
"Ini urusan Mami Pi!"
"Ampun Mami...Hiks...hiks!" tangis Sania.
"Jangan...panggil...aku Mami, aku tidak sudi mendengarnya!" melani mendorong dahi Sania dengan jari telunjuknya.
Sania masih menangis sesunggukan.
"Harusnya, kau bersyukur Sania, Vino bisa mencintaimu, jujur aku sendiri tidak sudi jika Vino harus menikahi dokter miskin seperti kamu, tapi karena aku terlalu menyayangi Vino lebih dari diriku aku mewujudkannya demi kebahagiaannya. Andai saja kau bisa lebih penurut, aku bisa mewujudkan apa yang kau inginkan termasuk mimpimu menjadi dokter terhebat di Negeri ini!" ucap Melani dengan wajah bengisnya.
"Sudahlah Mami...sudah, tidak ada artinya jika kau marah kepada Sania!" tegur Fudo.
"Sebentar Papi...!"
"Dengar Sania, jika sampai Vino tidak mampu melewati masa koma nya, aku akan membunuh Ayahmu sebagai gantinya, agar kau tau seperti apa sakitnya kehilangan harapan terbesar ku," ancam Melani dalam wajah memerah penuh amarah kepada Sania.
Sania tidak bisa berkata-kata lagi, ketakutannya semakin hebat, airmata terus bercucuran di kedua pipinya.
"Sudahlah Mami, tenang!" bujuk lembut Rangga dan Sania hanya bisa menundukkan kepalanya.
Mereka kembali menunggu dalam kecemasan. Rangga yang aktif dengan ponselnya terus mencari informasi apa yang terjadi belakangan kepada Vino. Pria itu tidak pernah lepas dari ponselnya.
Mereka masih menunggu dan terus menunggu tanpa rasa lapar dan haus.
Tidak berapa lama seorang suster keluar membawa kabar.
"Kepada Bapak dan Ibu, pasien bernama Vino Febian sudah sadarkan diri!"
Mendengar kabar seperti itu, semua terlihat sangat bahagia.
Melani dan Fudo reflek berpelukan bahagia penuh haru. Wajah indah mereka mulai terpancar, harapan besar itu hidup kembali.
"Saya ingin melihat anak saya suster!" permohonan mewek Melani.
"Mohon Maaf yah Ibu, belum bisa, karena para, dokter sedang melakukan pemeriksaan intens!" ucap lembut si perawat wanita itu.
"Sabar yah Mami, kita harus bersabar!" Fudo menguatkan istrinya, Melani hanya mengangguk.
Terlihat Rangga menghela nafas panjang.
"Sania, bisakah kita bicara sebentar?" Pinta Rangga.
Wanita itu menyetujui.
"Ikut aku!" pinta Rangga.
Disana Rangga mulai bertanya kepada Sania, apa yang sebenarnya terjadi, ia pun menceritakan segalanya dengan jujur kepada Rangga. Lelaki itu terlihat menyimak setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulut Sania.
"Aku mengerti perasaan kamu Sania, tapi kamu harus paham, jika Vino itu punya cara sendiri untuk bisa jatuh cinta kepada perempuan. Ucapan kasar yang sering ia lontarkan kepadamu itu hanyalah sebuah ucapan semata, yang hanya ada di bibir saja, tidak akan sampai ke hatinya, dia memang sangat jahil dan suka menguji mental seseorang, tingkahnya terkadang membuat kita ingin membunuhnya, karena Vino itu anak tunggal ia suka berpetualang pada jiwa-jiwa setiap orang, saat dia nyaman dia akan langsung menggenggamnya.
Mungkin awalnya, ia sangat membenci kamu tapi justru kebencian itu luluh karena simpatik.
Kemarin aku hampir ingin membunuh kamu, Namun Vino mencegahnya, ia berkata akan menggantinya dengan hukuman menjadi pelayan dirinya sampai batas yang ia tentukan. Jadi, jika kau tidak senang dengan perlakuan Vino selama ini kepadamu, akulah orang yang paling bertanggung jawab, kau boleh marah dan menuntut balik. Jika kau meminta bantuan dengan masalah keuangan, aku bersedia membantumu.
Sania hanya terdiam.
"Aku paham apa yang pernah terjadi antara kau dan Tasya. Tidak ada yang bisa menerima jika orang-orang yang kita sayangi harus pergi karena ulah seseorang. Belakangan aku berpikir, bahwa membalas sebuah kejahatan tidak akan pernah ada habisnya, meskipun hati terasa puas justru ia seperti jebakan yang terus menjerat, memberikan cabang masalah yang baru. Apakah kesengsaraan Tasya di akhir hidupnya tidak cukup puas untuk kamu, harta yang dulu ia pilih, justru melilitnya menuju kesengsaraan sampai ia mati, benar-benar tidak bisa menikmati keegoisan yang ia perjuangkan, dan itu amat sakit Sania, tidak perlu panjang lebar aku harus menjelaskannya. Dendam kamu sebenarnya sudah terbalaskan oleh Tuhan.
Demi menebus kata dan perlakukan Vino yang kasar, ia menghapus semua hutang-hutang mu, mengapa aku katakan menghapus semua, lihat ini!"
Rangga menunjukan rekapan pembelian tanah Juno yang di beli dengan harga tertinggi, berkas itu masih tersimpan rapi di tas Vino.
"Agar kau bisa melunasi hutangmu dan karena kau menolak pemberian uang yang Vino berikan!"
Sania terkejut, firasatnya benar jika Vino andil dalam pembelian tanah itu.
"Vino juga mengancam akan menonaktifkan semua teman dokter kamu yang sudah melakukan tindakan pembullyan terhadap dirimu, jika mereka tidak datang meminta maaf dan bersujud di kakimu!"
Sania semakin tersudut.
"Ada lagi yang luar biasa yang akan membuatmu takjub" ucap Rangga yang sudah mencari cepat semua informasi tindakan terakhir Vino tanpa sepengetahuannya baik melalui sekretaris maupun orang kepercayaan Perusahaan mereka.
Rangga memperlihatkan ponselnya kepada Sania. Tentang perencanaan Vino untuk membangun sebuah rumah sakit besar dengan nama dan atas nama SANIA
"Kau bohong, tanpa kau sadari, kau pun sudah jatuh cinta kepadanya, hanya saja kau tidak punya kepercayaan diri karena Vino terlalu hebat untukmu!" tebakan Rangga yang tidak bisa ter tangkis lagi oleh Sania.
Sania tak mampu berkata-kata lagi, airmata nya mulai jatuh.
"Tanpa Vino kau juga kesulitan, kau juga tidak di akui sebagai dokter oleh negara jika kau tidak bisa menebus semua masalah administrasi tagihan yang tergantung di Universitas.
Apakah kau merasa mampu membayar hutang-hutang keluarga mu? Di perlakukan hina itu hal yang wajar saat kita berada di titik nol, namun seseorang yang membantu kita saat berada dalam keterpurukan, itu yang tidak biasa.
Memangnya kau siapa? Apakah kau seorang Ratu terhebat di dunia ini, hingga Vino harus bertarung nyawa demi hanya meminta maaf darimu?" penekanan keras dari Rangga membuat semakin tersudut.
"Hiks...hiks...! Maafkan aku!" Sania kembali menangis sesunggukan.
"Yah, hanya kata Maaf yang bisa kita katakan saat kita melakukan kesalahan!
Vino masih bisa melewati masa komanya, itu artinya keberuntungan masih berpihak kepadamu, jika tidak kau harus merelakan Ayahmu untuk mati, Melani adalah wanita serta ibu yang sangat baik, bahkan kau juga sudah dianggap sebagai putrinya. Jangan salahkan dia jika ia marah kepadamu. Vino adalah segalanya baginya."
"Apa yang bisa aku lakukan, Mas Rangga?" ucap mewek Sania.
terlihat pria menghela nafas.
"Huuuft, hanya ada satu pilihan yang bisa kau ambil, yaitu pergilah, pergi sejauh mungkin. Menghilang dari hidup Vino, lupakan segalanya tentang kalian, jangan pernah kau berani menginjakkan kaki mu di Jakarta ini lagi apapun alasannya kecuali TAKDIR yang mempertemukan dan mempersatukan kalian kembali. Seperti kisah cintaku dan Miranda!" ucap tegas Rangga.