MIRANDA

MIRANDA
Expart-MRD



Satu jam sebelum kedatangan Sania dan Miranda Bella di rumah Vino Febian.


Entah mengapa Vino usil memajang foto imut Miranda Bella di Histori WhatsApp nya. Ia sempat mengabadikan wajah bocah cilik itu di ponsel pintarnya yang sedang tersenyum manis.


Kebetulan Vino sedang mencari model anak perempuan untuk di jadikan Brand Ambassador pakaian anak yang saat ini menjadi bisnis besar Melani.


1 menit kemudian, Histori itu langsung mendapat komentar dari sang Bunda.


"Anak siapa Vin? Cantik dan imut? Apa itu next model kita?"


"Hehehehe, anak teman Mi?"


"Tapi kalau diperhatikan, wajahnya mirip kamu loh! waktu usia segitu?" ucap latah Melani.


"Serius Mi?"


"Iyah, dulu Papi kamu itu protect banget, Jadi Mami baru bisa abadikan momen kecil kamu di kamera sejak usia tiga tahun ke atas, tapi nanti Mami cari-cari deh foto kecil kamu, biar kamu bisa bandingin dengan anak kecil itu!" ungkap Melani terucap begitu saja.


"Iyah deh Mi!" jawab Vino kemudian chat mereka berlanjut saling tanya kabar dan tentang bisnis.


* Setelah chat dengan sang ibu berakhir, Vino termenung sejenak dalam kata hatinya;


"Entah mengapa setelah bertemu mereka, aku ingin bertemu lagi, ada hasrat rindu yang sudah lama sekali aku pendam. Mami bilang, Miranda Bella mirip dengan ku di masa kecil, Apakah ini pertanda dia adalah anakku? dan Selama ini Sania telah menyembunyikannya?"


Vino terbayang dengan ucapan ibunya 6 bulan setelah kecelakaan. Saat itu Vino sedang terlihat tertidur padahal ia masih bisa mendengar.


Melani menangis di samping Vino sambil mengelus rambut putra semata wayangnya itu.


"Anakku, semoga kau selalu sehat sayang! Ini adalah doa terdalam di setiap jiwa seorang ibu yang tulus dan tidak bisa di hargai dengan apapun. Harapan Mami, semoga kamu bisa memiliki keturunan. Mami tu pengeeeen banget punya cucu perempuan yang lucu, lincah dan cerdas, selebihnya kau boleh punya anak laki-laki sebanyak-banyaknya!" ucap Melani sambil berlinang airmata kala itu.


"Jika Miranda Bella adalah benar anakku, aku akan menangis dan bersujud di kaki Sania."


"Arrgh, aku tidak ingin semua ini menjadi harapan palsu dan tidak perlu buru-buru, biarkan semua berjalan seiring waktu, jika dia benar anakku, ini adalah hadiah termahal dari Tuhan yang pernah aku miliki!"


*


"Tliiit!"


"Iyah?"


"Bos, sekitar 15 menit lagi, Konsumen bernama Sania akan sampai?"


"Ok baik, Terima kasih!"


"Trup"


*


Vino bergegas menuju ruang pakaian. Ia sudah menyiapkan perlengkapan yang membuat anak kecil tidak bosan Jika sedang berada di rumahnya.


Pria itu mulai bingung memilih pakaian apa yang akan di pakai untuk menyambut kedatangan Sania dan Miranda Bella.


Sambil tersenyum hati kecil Vino berkata;


"Aku enggak tau, kenapa aku begitu excited, ingin bertemu mereka, mengalahkan saat aku bertemu dengan para Pejabat dan Presiden! Sampai rela memenuhi isi kulkas dan membeli permainan anak perempuan!"


**


Kediaman Vino selama di Kalimantan Timur.



"Uuuu🥰..ini tempat apa Mah?" tanya centil Miranda menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Ini rumah, sekaligus tempat pertemuan para Investor dan Aliansi Perusahan Veron Group yang mulai kokoh berdiri di Kalimantan!" si Staf menjelaskan.


"Ouh begitu yah!" jawab Miranda dengan gayanya yang pura-pura paham.


"Huuuuuus, sok tau kamu!" tegur Sania membuat Miranda tersenyum lebar.


"Bun, si kecil cerdas banget yah!" puji para staf yang terus membawa mereka menuju ruang khusus Direktur utama atau Presiden Direktur.


Melalui ruang-ruang khusus menggunakan kunci mode kartu chip pegawai, bak memasuki sebuah markas rahasia yang tidak bisa di lewati oleh orang-orang sembarangan.


"Silahkan masuk Ibu! Maaf kami hanya bisa mengantar sampai di sini saja!" kata para staf itu.


"Ta...tapi!" ucap Sania ragu, pintu pun tertutup.


"kok aku jadi takut begini!" batin Sania dalam jantung berdetak cepat.


"Waaaaaa, ruangan ini mewah sekali," Miranda mulai gesit berlari kesana kemari.


"Mama...Mama...Mama...ada kolam renangnya juga, Miranda mau berenang!" teriak polos bocah itu.


"Miranda jangan berlarian yah Nak! Ini bukan rumah kita!"


Miranda terlihat tidak perduli, membuat Sania kewalahan tanpa seorang Babysitter.


"Ini rumah polisi, nanti kita bisa di tangkap!" Sania menakuti.


"Bukan, om-om dan tante-tante tadi (para staf) itu sudah kasih kita rumah cantik ini!" kata tegas Miranda dengan gayanya.


Miranda malah semakin menjadi-jadi naik ke sofa yang sangat empuk dan melompat-lompat di atasnya.


"Mirandaaaaaaaaaaa!" teriak tertahan Sania sampai urat leher Sania seakan-akan hampir putus dalam wajah marah memerah.


"Hi...hi...hi...haha...hahaha!" bocah kecil itu malah tertawa cekikikan dalam lompatannya membuat Sania ingin menangis 😭😭


"Kalau kamu enggak bisa dengar kata Mama! Awas yah, Mama pukul😡 kamu!"


Sania terlihat marah, sudah kehabisan kesabaran.


Sontak Miranda berlari mengejek Sania.


"Bluue,😛 BLueee😛 BLueee😛 Blueee😛Mama jelek...Mama jelek!" keduanya sangat sulit untuk akur.


Tak lama kemudian, Vino pun muncul bak pangeran yang turun dari langit, sangat tampan dan harum.


"Om Ganteeeeeeeeng," teriak Miranda berlari ke arah Vino dan langsung memeluk nya.


Langkah cepat Sania terhenti dan terkejut melihat kemunculan Vino.


Miranda bersembunyi di balik Vino, sambil berkata;


"Mama jelek...Mama jelek...Belum Mandi!" 😛🤪 ejek Miranda.


Spontan Vino tidak bisa menyembunyikan tawanya, ia merasa lucu melihat penampilan Sania yang kewalahan dengan tingkah Miranda kecil.


"kenapa aku bodoh sekali, seharusnya aku bertanya siapa orang utama Perusahaan Veron, takdir apa ini, mengapa aku bisa berada di rumah Vino!" batin Sania berdiri kaku dan tidak bisa berkata apa-apa.


"Apakah ini rumah om?" tanya polos Miranda dengan suara nyaringnya.


Sontak Vino begitu bahagia ia terjongkok di depan bocah kecil itu.


"Iyah sayang? Ini rumah Om?"


"Horeee..., Rumah om cantik sekali!"


"Mira suka?" tanya Vino menatap jelas dua bola mata Miranda.


Bocah kecil itu mengangguk cepat.


"Mau tinggal disini?" tanya Vino.


"Mauuuuuu!" teriak imut Miranda.


"Mira?" tegur Sania.


Gadis cilik itu tidak perduli lagi dengan ibunya, membuat Vino tersenyum-senyum.


"Om juga ada hadiah buat kamu!"


"Hadiah? Apa?" wajah senang bocah yang mendengar kata hadiah.


"Ayo, mari kita lihat!"


"Iyyah!"


Vino mengajak Miranda menuju sebuah lemari.


Sania hanya terduduk dan bengong memperhatikan kekompakan keduanya.


"Surprise!" kata Vino membuka lemari.


"Wow🤩🤩🥳 ada banyak Mainaaaan!" mata Miranda cerah berbinar-binar ia sangat bahagia.


kumpulan Mainan anak perempuan termasuk boneka yang bermerek dengan harga berkisar ratusan sampai jutaan rupiah.


"Ini buat Mira, Om?"


Vino langsung mengangguk sambil berkata


"Yes"


"Terima kasih Om ganteng!" Miranda melompat kegirangan.


"Ahahahahaha😄!" Vino tertawa bahagia.


"Masih ada kejutan lagi!"


"Ouh Iyah!"


"Ayo ikut Om!"


"Baiklah!" Miranda centil setia mengikuti langkah pria itu dari belakang, sosok pria yang sebenarnya Ayah yang ia cari dan ia rindukan selama ini.


Kemudian Vino membuka kulkas yang penuh berisi makanan ringan atau Snack pilihan.


"Wuaaaaah!" lagi-lagi Miranda kecil terpukau🤩🤩😍😋🤤🤤


"Jangan pulang dulu, sebelum isi kulkas om, Mira habisin!" ancaman manis Vino.


"Terima kasih Om!" 🥺🥺 memeluk Vino dalam mata Miranda yang berkaca-kaca.


Sania yang terabaikan terus memperhatikan mereka, ia sampai tepuk jidat dan geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya.🤦


"Bagus banget akting kamu yah Mira, kayak enggak pernah di beliin jajanan!"


"Biasanya dia tidak bisa akrab secepat ini dengan orang asing, tapi dengan Vino......???"


"Inikah yang dinamakan chemistry seorang Ayah dan anak perempuan yang tidak bisa di putus oleh siapapun, termasuk aku ibunya," ucap Sania.