
"Vino adalah anak tunggal dari Melani dan Fudo, kehidupannya tidak terbiasa dengan kusulitan, selalu hidup bergelimang kemewahan, kemudahan, tentu ajaran itu membuat ia tumbuh menjadi karakter yang manja dan mental sangat lemah, ia sama sekali tidak memiliki prestasi apapun.
Hal ini baru di sadari oleh kedua orang tuanya ketika mereka ingin mewariskan perusahaan. Sampai kakeknya membawanya ke Tokyo mengajarkan ia banyak hal tentang kesulitan selama satu tahun, hal itu membawa banyak perubahan dan kami pun bertemu.
Aku banyak mengajarkan arti sebuah kegigihan kepadanya dan aku juga sudah sangat mengenalnya. Vino itu tidak bodoh, hanya saja, ia tidak terbiasa dengan tantangan dalam dunia apapun! Jadi tidak heran jika ia begitu mudah depresi ketika tidak menemukan jalan keluar, tidak punya tempat bicara yang tepat."
Sania hanya diam mendengarkan ucapan Rangga.
"Kami juga belum tau seperti apa kondisi Vino selanjutnya, Melani sudah sangat membenci kamu, selagi ada kesempatan, pergilah, hanya itu yang bisa kau lakukan saat ini. Berpisah adalah hal yang baik buat kamu dan Vino!"
Sania hanya mengangguk pasrah.
Rangga mengeluarkan kartu debit lengkap dengan password-nya.
"Di dalam kartu ini ada uang cash sejumlah 500 juta? Ini adalah uang Tasya, ia berpesan kepadaku, Jika Sania ingin sekolah lagi, tolong berikan uang ini kepadanya. Jadi aku pikir, sekarang lah saat yang tepat, Aku mohon jangan di tolak, ini adalah amanah.
Tasya tidak mungkin mengembalikan lagi kakakmu lagi, namun setidaknya uang ini mampu mengobati sedikit hatimu yang hancur."
Tangan Sania sampai bergetar dan berlinang airmata menerima kartu debit itu dari Rangga.
"Kau bebas menggunakan uang ini untuk apapun, untuk membeli rumah, mobil, membayar hutang atau memang ingin meneruskan pendidikan kedokteran mu lagi, itu terserah kamu. Tapi aku berpesan, gunakan uang ini sebaik mungkin, untuk menunjukkan kepada orang-orang yang suka menghina mu, kau jauh lebih berjaya dari mereka," menatap Sania Rangga serasa de Javu tentang dirinya dulu. Pria itu tau betul seperti apa rasanya berada di posisi Sania.
"Baiklah Mas Rangga, terima kasih atas segalanya, terima kasih banyak, Sania minta maaf dengan apa yang pernah ku lakukan. Aku berharap kak Tasya tenang di alamnya, aku sudah memaafkannya, sebenarnya dia adalah wanita yang baik, hanya takdir yang tidak menjodohkan mereka, pantaslah kak Juno menggilainya. Sania akan selalu ingat pesan Mas Rangga, balas dendam hanyalah menghadirkan masalah yang baru!" ucap mewek Sania, tidak lama kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Rangga.
Rangga masih menatap Sania yang mulai melangkah jauh darinya sambil berkata dalam hatinya.
"Kasihan juga dia, baik dan polos, terlihat lemah tapi mentalnya luar biasa, meski sudah mendapat bullyan sana sini, namun tetap berdiri tegak, aku yakin dia akan sukses, pantas Vino mulai tertarik dengannya. Jika mereka berjodoh pasti akan bertemu lagi!"
**
"Tlililit" Bunyi ponsel Rangga dari orang perusahaan kepercayaan mereka.
"Bos, Apakah pembangunan rumah sakit atas nama Sania tetap akan di lanjutkan!"
"Batalkan!"
"Tapi Bos!"
"Batalkan (nada lebih tinggi), apa kau tidak mendengar ucapan saya?"
"Ba...baik Bos!"
"Trup!"
*
Hari terus berlanjut. Segala persiapan Sania untuk pindah menuju kota yang baru telah sempurna.
Terlihat Sania sedang duduk melamun sambil memegangi ponselnya di ruang tunggu keberangkatan pesawat menuju kota Kalimantan.
"Telah banyak kisah kelam yang sudah aku lalui di kota ini, banyak pula pelajaran hidup yang aku dapatkan dan aku berharap di kota yang baru, aku bisa memulai segalanya lagi dari nol dalam kisah yang lebih indah. Keberhasilan adalah tujuan utama ku. Semoga kau selalu bahagia Vino! Terima kasih atas segalanya, Terima kasih atas pengorbanan mu, aku sendiri tidak tau seperti apa perasaan ku padamu, tapi malam itu... Aku menikmatinya meski dalam keadaan sakit, terpaksa ataupun hancur" ucapan hati Sania.
"Nak, Ayo?" ajak Antonius memecah lamunan putrinya untuk segera naik ke pesawat.
"Iyah Ayah!"
Sania mengukuhkan langkahnya sambil berkata dalam hati.
"Selamat tinggal Jakarta, Selamat tinggal semua kenangan yang ada, aku tidak akan memijak kota ini lagi, sampai kisah ku dan Vino sudah terlupakan oleh waktu (Tua) atau takdir yang mempertemukan kami kembali, seperti janjiku, kepada Mas Rangga"
***
Hari-hari berlalu.
Kondisi vino semakin membaik, para dokter menyatakan tidak ada luka dalam yang serius, hanya luka fisik ringan di area dahi dan sikunya. Namun tim medis mendapati terdapat benturan keras di organ intim Vino, terutama pada area buah zakarnya (telur) sehingga ia tidak sadarkan diri atau koma sesaat kecelakaan teejadi, hal itu di prediksikan karena kondisi Vino yang sedang mabuk sehingga sabuk pengaman Vino tidak terpasang dengan sempurna.
Para dokter juga sepakat tidak mengizinkan Vino untuk melakukan hubungan intim selama masa dalam perobatan.
Mendengar kesimpulan penjelasan dokter, Melani mulai panik dan takut.
"Apakah anak saya masih bisa memiliki keturunan Dok!!" ucap Melani dengan berlinang airmata.
"Untuk hal itu, ibu harus tetap optimis, penyembuhan yang baik akan mengembalikan kondisinya,"
"Baiklah Dok, terima kasih!" ucap Fudo yang tidak pernah menyerah dengan kondisi putranya.
Tim Dokter juga menyarankan pengobatan Vino melalui sistem rawat jalan.
Tidak menunggu lama lagi, Melani dan Fudo terbang membawa Vino menuju California selanjutnya menggunakan perawatan herbal di Tokyo sampai kondisi sang anak benar-benar pulih kembali.
Enam bulan berlalu.
Vino harus menjalani banyak terapi dan pengobatan herbal di Negeri Matahari terbit, sambil belajar manajemen secara online. Fokus terhadap karirnya. Pemuda itu lebih banyak diam dan menyendiri.
Selama masa pengobatan. Fudo dan Rangga memegang kendali perusahaan Vino. Melani fokus menemani pengobatan putranya namun sesekali ibu satu anak itu pulang ke tanah air.
Jika ada waktu luang, Rangga berangkat ke Jepang untuk melihat kondisi Vino dan terus memberikan ia semangat.
*
Wajah sendu Melani duduk melamun di ruang sofa kantor Vino. Rangga datang membawa hidangan kecil untuk wanita yang sudah banyak membantu dirinya.
"Mami, makanlah, tubuhmu sudah semakin kurus!" ucap Rangga meletakkan makanan itu tepat di hadapan Melani.
"Terima kasih banyak Nak! Mami sudah tidak memikirkan diri ini lagi," mata wanita itu terlihat berkaca-kaca.
"Kita harus tetap optimis, satu tahun Vino akan kembali sembuh!"
"Itu juga harapan, Mami!"
"Oh Iyah, kapan Miranda melahirkan!"
"Mungkin sekitar 3 Minggu lagi!"
"Rangga terima kasih banyak atas bantuan mu, kami sangat bangga dan bahagia memiliki kamu, saat ini fokus saja kepada istri dan keluarga mu dulu Nak! Vino sudah jauh lebih baik."
"Baik Mami!"
"Besok pagi Mami akan berangkat ke Tokyo!"
"Iyah, Kami harus tetap semangat, jangan menyerah!"
"Kamu sangat beruntung Rangga, sudah memiliki istri dan dua orang anak, Tante tidak tau, apakah Vino bisa seperti mu!" ucap Mewek Melani mengusap kelelahan airmata nya.
Apakah Mami tau, jika sebelum kecelakaan, Vino ternyata mengkonsumsi pil penenang.
Apah?" Melani merasa tidak percaya.