MIRANDA

MIRANDA
Part 10-MRD



Hari menjelang sore. Terlihat Rangga kembali pulang.


"Sepertinya akan ada harapan disain ku akan laku di pasaran, hanya tinggal tetap fokus dan sabar, demi Mira aku harus terus semangat!" Batinnya menyandang tas ransel dan menenteng sebungkus makanan.


"Assalamualaikum," Rangga Berusaha membuka pintu.


"Di kunci? Dimana Miranda?" Batinnya mulai bertanya-tanya dan terpaksa membuka pintu rumahnya dengan kunci cadangan.


"Mira!" Rangga terus memanggil dan mencari, tetapi tidak menemukan, ia bergegas mengambil ponsel lalu membaca sebuah pesan;


"Mas, Ibu ku sedang sakit, untuk sementara waktu ini, Mira tinggal di rumah Ibu dulu!"


"Ok Sayang! Semoga Ibu cepat sembuh yah. Kapan mau pulang telpon saja, aku akan menjemputmu,😘!" Balas Rangga dengan memberi emot romantis, setelah itu tidak ada lagi balasan dari Miranda.


***


Sesampai di rumah Narwati, Miranda langsung memeluk ibunya. Wanita yang tampak tua dari usianya itu sangat bahagia melihat kehadiran sang putri ada di hadapan mata.


"Nak, akhirnya kau mau datang melihat ibu mu, tangis haru Narwati, padahal kita masih satu desa, mengapa kau tidak ingin datang lagi ke rumah ibu, apa Rangga melarang mu?" ucap sedih Narwati masih dalam pelukan Mira.


Seketika Miranda menangis tersedu-sedu. Melampiaskan masalah yang ia pendam selama ini. 


Sontak pula Narwati dan Karina, saling menatap dan merasa heran dengan Miranda.


"Mira, kamu kenapa?"


"Bu, Mira mau tinggal di sini saja!" ucapnya masih dalam tangis sesunggukan.


"Maksudnya?" Narwati dan Karina semakin penasaran.


Miranda yang sudah lama menahan perasaan akhirnya menceritakan semua apa yang ia rasakan selama hampir 8 bulan menikah dengan Rangga. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya jika sudah di introgasi oleh ibunya. Setelah bercerita segalanya terasa lega juga plong. Ibarat batu besar yang menimpa pundaknya kini terlepas begitu saja. Ia juga mengatakan ingin bercerai dari Rangga. 


Setelah mendengar penjelasan Mira. Narwati berkata;


"Sabar yah Nak, mungkin rezeki kalian belum muncul, masih dalam tantangan!"


"Mira sudah terlalu sabar Bu!" Jawabnya.


"Mba! Biarkan saja si Mira Jika ia ingin bercerai, suami yang tidak memberi uang belanja kepada istri memang pantas di ceraikan. Kecuali dia sedang sakit, Lah! Si Rangga kan sehat walafiat, Bapaknya kerja di kantor lurah, kalau Karina tidak salah Mba, keluarga-keluarga si Rangga juga orang yang tidak terlalu susah kok!" ucapan Karina ibarat menambah bumbu masako.


Narwati hanya terdiam, ia memandang putrinya dengan mata yang sayu.


"Jika tidak menafkahi dalam satu atau dua bulan, mungkin masih bisa di terima yah Mba, ini sampai 8 Bulan? Yang benar saja. Terus bagaimana kalau nanti mereka punya anak, emang bisa beli susu pakai daon!" 


Mira hanya menunduk sedih.


"Pantas di rumahmu tidak ada makanan, ternyata benar-benar tidak punya uang. Mira! Bude dukung jika kau ingin bercerai dari si Rangga, kau harus tegas. Kau masih sangat muda, masih bisa mencari yang lebih baik!" Karina begitu tidak terima mendengar rintihan keponakannya itu, mengomel sambil makan keripik.


"Yah sudah lah, nanti kita pikirkan lagi! Apa kau sudah makan Nak?" tanya lembut Narwati.


Mira hanya menggeleng.


"Sudah sana pergi makan!"


"Bagaimana kondisi Ibu?"


Miranda bergegas pergi ke dapur, ia sangat senang berada di rumah ibunya.


"Mba, Mba itu harus tegas, coba lihat si Mira semakin kurus, wajahnya terlihat pucat, kasihan sekali. Lagian heran lihat si Rangga ini, sudah memperkosa anak orang sampai hamil, tidak memberi nafkah pula, Huuuft...apa sih mau nya?"


"Rin! Tolong jangan ribut-ribut dulu yah, mungkin Mira perlu menenangkan diri saja!"


"Iyah Mba!"


"Mba istirahat dulu."


"Karina juga mau makan!"


"Pergilah!"


Narwati yang tadi mulai terlihat segar kini lesu kembali, ia masuk berjalan lambat ke dalam kamar.


"Mir!" Sapa Karina di meja makan, keduanya duduk bersama.


"Pokoknya Bude dukung kamu bercerai dengan Rangga, kamu tuh sudah cukup sabar tidak diberi nafkah selama delapan bulan, jika Bude jadi kamu, sudah lama Bude ceraikan."


Mira hanya diam saja ia terus mengunyah.


"Iyah Bude!" Jawabnya lambat.


"Kamu jangan khawatir, begitu nanti kamu cerai, Bude akan kenalkan kamu dengan seorang pria yang mapan. Bude yakin jika nanti kau menikah dengannya, penampilanmu pasti berubah tidak kusut dan lusuh seperti ini, bakalan naik turun mobil, kena AC, tinggal di rumah mewah, pakaian bagus, wajahmu glowing. Pokoknya Mira, hidupmu pasti bahagia. Uang tidak lagi menjadi penghalang kebahagiaan mu. Lihat ibumu sudah semakin tua, kasihan sekali dia, setiap hari sangat lelah bekerja, setidaknya kau menjadi harapan cerah ibumu dengan menikahi pria mapan." 


"Sebenarnya, dulu Bude ingin menjodohkan kamu dengan dia, karena dia pernah melihat kamu saat menginap di rumah Bude dan sepertinya dia tertarik. Eh malah si Rangga yang nyerobot duluan, sudah berandalan, nyebelin lagi, dari awal Bude tidak setuju jika kamu menikah dengan Rangga, tapi yah bagaimana lagi, saat itu kamu sudah terlanjur hamil."


Mira hanya diam dan begitu menyimak ucapan Karina. Jiwa Mira yang masih terlalu muda di tambah lagi kepahitan ekonomi rumah tangganya, membuat ia semakin tidak stabil. Ibarat berada dia atas awan, terombang-ambing mengikuti kemana arah angin berhembus.


***


Malam hari tiba, Rangga kembali terus merancang disain-disain bangunan dan interior yang lebih spektakuler, bukannya kendor justru semangatnya semakin membara. Tanpa ia sadari pria itu sudah menghabiskan 2 bungkus rokok!"


***


Mira memijat kaki ibunya.


"Di pikir-pikir dulu kalau mau cerai Nak! Itu keputusan yang sangat di benci Allah. Coba kamu sabar, bantu Rangga dalam Do'a, masalah uang belanja, nanti ibu juga ikut bantu. Kamu tinggal sementara disini dulu juga tidak apa-apa, asalkan jangan sampai cerai. Ibu lihat Rangga itu baik kok, mungkin rezeki kalian saja yang belum pas!"


"Tapi Mira ingin bercerai dari Mas Rangga Bu! Mira sudah bosan dan tidak tahan dengannya!"


("Capek mendo'aknnya, jika hanya main game di warung," gumam kesal Mira)


"Terus kamu berpikir menjadi janda juga enak!"


"Tidak apa-apa, asalkan hidup tidak terkekang, Mira ingin hidup senang agar bisa membahagiakan ibu!"


"Haaaah!" Hela Hembusan nafas panjang kepasrahan Narwati. Miranda sudah kukuh ingin berpisah.


Ucapan bumbu Masako Karina sudah masuk kedalam pikiran Miranda.


**