
(Komunikasi menggunakan bahasa Inggris)
"Wow, ternyata di dunia ini ada sahabat sejati yang masih setia! Cukup terharu juga," tepuk tangan Fernando datang menghampiri mereka.
"Fernando? Ternyata kau dalang semua ini!" hentak Rangga.
Pria itu hanya tersenyum sinis dalam keangkuhannya.
"Kembalikan wilayah bisnisku yang sudah kalian rebut?" tunjuk sinis pria asing itu ke arah Vino dan Rangga.
"Baiklah, itu hanya hal mudah, gua akan memberikannya, asal elu berhasil menguburkan jasad kami!" jawab Vino langsung bergerak menyerang lawannya.
Fernando pun akhirnya bertarung hebat melawan Vino.
"Bruz"
"Syut"
"Drag"
Suara-suara pertarungan hebat mereka tanpa senjata. Keahlian bertarung Fernando yang tidak bisa di remehkan.
Rangga berusaha membantu tetapi Vino menghalaunya karena kondisi ayah Olivia itu sudah terlihat lemah namun ia tampak begitu Semangat dengan kehadiran Vino dan Miranda.
"Hebat juga kemampuan Vino dalam bertarung, baru ini aku menyaksikannya," puji Rangga dalam hati.
Vino terus menambah pasukannya sehingga membuat pertahanan Fernando mulai runtuh.
Rangga tetap ingin membantu sahabatnya itu, ia menghajar habis sosok Fernando yang fisiknya tidak setangguh kedua pria yang menyerangnya.
Vino juga memerintahkan anak buahnya untuk mengambil dan mengamankan Olivia.
Melihat bantuan yang datang bertubi-tubi untuk menyelamatkan Olivia. Kiandra berusaha ingin lari, namun anak buah Vino bergegas melumpuhkan kaki Kiandra hingga ia jatuh tersungkur, Babysitter Olivia itu menjadi tahanan yang diamankan.
Terjangan bertubi-tubi dari Vino yang di bantu oleh Rangga, membuat Fernando jatuh tersungkur mencium lantai menggelepar tidak berdaya.
Terlihat Miranda juga sedang beradu dengan Jane.
Miranda menampar keras Jane dan Jane membalasnya.
"Mati lah kau!" ucap Miranda mencekik kuat leher Jane.
"Arrg...argh...!" Jane kesakitan dan berusaha melepas tangan Miranda yang kuat.
"Kembalikan anak ku!" ucap ibu angkat Olivia itu dengan wajah yang sangat marah.
Tangan kanan Jane berusaha meraba-raba mengambil pistol.
Saat senjata itu di genggam oleh Jane. Ia langsung menyodorkannya kepada Miranda.
"Kau pikir semudah itu, perempuan bodoh!" hentak Jane membuat Miranda terkejut dan mulai mundur perlahan.
"Kau masih berani melawanku!" Kata Jane menarik dan mendekap Miranda dengan pistolnya.
Miranda mulai tampak takut.
"Hei, semuanya!! jangan ada yang bergerak, jika tidak perempuan ini akan mati di tanganku!" Teriak Jane yang sebenarnya sudah ketakutan karena melihat semua penyerangan anggota Fernando termasuk kekasihnya itu mulai ambruk seketika.
Suasana mulai tegang.
"Miranda!" ucap kaget Rangga dan Vino.
"Kemampuan si nenek itu memang tidak bisa diremehkan!" gumam Vino yang berusaha menolong Miranda.
"Jangan gegabah dulu!" Rangga mencegah Vino, ia takut Jane melepas peluru itu di kepala Miranda.
"Hayo cepat tanda tangan surat itu!" Perintah Jane mendorong paksa tubuh Miranda dengan pistolnya.
Diam-Diam Vino memberi aba-aba kepada salah satu pasukan yang ia percaya agar merebut senjata yang ada di tangan Jane.
Miranda mulai membungkukkan tubuhnya mengambil sebuah pulpen dalam tangan yang bergetar.
"Aaah!" Tiba-tiba terdengar sura jerit kesakitan Jane saat sebuah peluru menembus cepat lehernya.
Vino dan anak buahnya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu dan bergegas menyelamatkan Miranda.
Semua mata tertuju kepada sosok pria yang menembak Jane ternyata ia adalah Rusdy Hamzah, mantan suami Jane.
"Om!" batin Vino.
Rangga serasa tidak percaya, jika Rusdy menembak Jane hingga tidak berdaya.
"Kaaau...!" ucap Jane tubuhnya ambruk. Ia tidak menduga Rusdy melakukan itu kepadanya.
Pria itu berjalan terus mendekati Jane yang sudah meringkuk tidak berdaya dalam tahanan anak buah Vino.
Rupanya Rusdy belum puas, ia kembali mengarahkan pistol dalam jarak dekat tepat ke area tengah dahi Jane.
"Hari ini adalah hari pernikahan ku dengan Ibunya Tasya dan aku ingin kematian mu menjadi kado terindah dalam pernikahan kami.
Berani-beraninya kau mengganggu cucuku.
"Door!" Peluru panas itu langsung menembus dahi Jane membuat mata wanita itu melotot menahan kesakitan sebagai akhir dari hidupnya, tubuh yang ia banggakan kini terjatuh ke lantai.
Semua yang menyaksikan merasa tidak percaya.
Tidak lama kemudian segerombolan polisi militer datang memenuhi lokasi sesuai dengan rencana Vino.
"Mengapa om lakukan ini, kami memanggil Polisi!" kata Miranda kepada Rusdy.
"Tidak apa-apa Miranda, siapapun yang ingin menghancurkan kebahagiaan kalian, aku yang akan membunuhnya. Tidak perduli, jika nanti aku berada di tahanan. Perempuan ini memang layak untuk mati, aku sangat puas karena sudah berhasil membunuhnya, jika ia hidup maka ia akan tetap membuat keributan dalam hubunganmu bersama Rangga dan akan terus mengganggu cucuku."
Dalam mata berkaca-kaca Rusdy berkata.
"Terima kasih banyak Miranda, ketulusan hatimu membuat Vino masih berkenan membantu Rangga. Tolong tetap asuh cucuku, dia harta kami satunya!"
Miranda hanya mengangguk. Rusdy Memegang kedua pipi perempuan itu layaknya putri kecil yang menggemaskan.
"Bisakah kau memanggilku dengan sebutan Papa, kau sangat mirip sekali dengan putriku!"
"Tapi aku tidak pantas Om!"
"Sangat pantas!"
Miranda yang sangat menginginkan sosok Ayah dalam hidupnya langsung memeluk Rusdy kembali dalam lelehan airmata.
"Terima kasih Papa!"
"Menikahlah dengan Rangga, kalian harus hidup bahagia bersama Olivia!"
Mendengar pesan itu Miranda hanya terdiam kaku.
"Kepada Bapak Rusdy, mohon ikut kami ke kantor Polisi!" ucap kepala Polisi yang langsung memborgol tangan Pria itu.
"Miranda ingat pesan Papa!" ucap Rusdy dalam pengawalan Polisi yang membawanya menuju mobil.
"Membunuh Jane adalah impian Rusdy, jadi jangan katakan jika hal itu adalah kesialan baginya!" Kata Vino sudah berdiri di belakang Miranda.
"Kak Vino, Terima kasih banyak yah kak?" ucap Miranda penuh dengan rasa haru yang dalam.
"Iyah Miranda, yang penting kau selalu bahagia dan jangan pernah bersedih lagi!"
"Iyah Kak!" senyum manis Miranda.
***
Kiandra, Fernando, dan semua anggota gengnya di bawa oleh pihak berwajib.
"Aku tidak menduga Kiandra tega melakukan ini!" batin Iroh.
Intan langsung mendapati Kiandra.
"Manusia tidak tau diri kamu yah!" menampar Kiandra dengan penuh emosi.
"Maaf ibu, kami akan memprosesnya di kantor Polisi!" ucap si petugas.
Rangga langsung mendekap Olivia. Mencium lembut sang putri. Ia memerintahkan agar Intan dan Iroh membawa Olivia ke rumah sakit.
"Kamu juga perlu ke rumah sakit Rangga!" kata Intan.
"Iyah, kalian pergi saja dulu!" jawab Rangga berjalan tertatih-tatih menghampiri Miranda dan Vino yang bersiap-siap menuju mobil.
Vino yang melihat kedatangan Rangga langsung memainkan aktingnya dengan melebih-lebihkan sakit di area perutnya.
"Aduh, sakit!" Vino sedikit menunduk.
"kenapa kak?" Miranda tampak cemas sampai tidak sadar Rangga sudah berdiri di antara mereka.
"Sedikit sakit?" jawab manja Vino.
"Kita ke rumah sakit yah kak! Ayo Kak, Miranda Papah saja!"
Seketika itu pula wajah Rangga berubah menjadi masam.
"Miranda!" panggil Rangga membuat wanita itu menoleh ke belakang.
Hati kecil Miranda yang cukup iba melihat kondisi Rangga yang jauh lebih parah dari Vino. Terlihat darah segar masih menetes di area pelipisnya. Ingin sekali ia menolongnya. Tapi Rangga bukan lagi suaminya.
"Terima kasih, kalian masih berkenan menolongku dan Olivia. Miranda, aku benar-benar minta maaf karena telah menuduh mu lagi berselingkuh dan berkata kasar kepadamu, tolong maafkan aku!" ucap Rangga dalam wajah kesedihan.
"Iyah Mas, tidak apa-apa, Miranda sudah biasa di hina orang!" jawab singkat Miranda.
Saat Rangga ingin bicara meminta Miranda agar ia berkenan kembali pulang kerumahnya lagi untuk mengasuh Olivia wanita itu menoleh cepat ke arah Vino.
"Ayo Kak!"
"Let's Gou!" jawab Vino dengan gembira.
Rangga hanya bisa berdiri lesu dalam penyesalannya.