MIRANDA

MIRANDA
Bab 37-MRD (Visual)



INTERMIZO


Visual Miranda Putri (Kembang desa yang lugu)



Visual Rangga Dewa, setelah kekar dengan dada kotak-kotaknya.



Guys! Mohon dimaafkan yah, jika Visual sementara tokoh utama tidak sesuai di hati para emak-emak. Jika tidak sesuai silahkan abaikan saja, mungkin kalian punya visual idaman sendiri yaitu suamiku, istriku, pacarku, selingkuhan ku🤭


Jangan di Bully yah misalnya;


Visualnya enggak nyambung lah Thor, kok begini, kok begono, hidungnya kok kembang Thor? kupingnya kok lebar?


Novel ini tidak membahas visual. Mencari yang di atas saja Author harus ritual dengan Mbah Google dua hari, dua malam (😆😆 wkwkwk, versi Lebay)


*****


Lanjut👇


Mendapat panggilan serius dari sang Majikan, Iroh berlari tergesa-gesa sambil membawa pakaian wanita lengkap dengan dalaman.


"Aduh apa yang sedang terjadi, bukan kah semuanya sudah sempurna!" Batin Iroh.


Saat memasuki kamar.


"Maaf Tuan, stok pakaian wanita hanya sedikit, gaun ini tidak semewah yang di pakai Nona Miranda tadi!"


"Ouh tidak masalah!" Miranda dengan cepat mengambil pakaian itu dari tangan Iroh lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.


"Mulai besok, stok pakaian wanita yang banyak di rumah ini!" perintah Rangga.


"Baik Tuan!"


"Apa ada masalah dengan pakaian yang tadi di pakai oleh Nona Miranda, Tuan?" tanya Iroh merasa penasaran, karena ia sudah memberikan gaun terbaik.


"Aaargg! Sudahlah, kamu tidak perlu tau, setelah kami pergi, tolong sterilkan kebersihan kamar saya!"


"Baik Tuan!"


Iroh pun pergi dan tidak lama kemudian Miranda keluar dengan gaun yang lebih simpel dan sederhana namun tetap terkesan mewah, sangat cocok untuk Miranda, juga lebih menarik di mata Rangga.


"Aku lebih nyaman dengan pakaian ini!" Ucap Mira.


"Besok-besok pipis lagi yah di celana!" ucap jutek Rangga sekaligus mengejek.


Mendengar hal itu, Miranda mulai kesal.


"Kamu juga pernah pipis di celana!" Hentak Miranda tidak terima.


(Saat kesel dengan Rangga, panggilan Tuan pun terabaikan)


"Hem😳!" Tiba-tiba Rangga terkejut.


"Kapan?" ucapnya menantang.


"Jangan berdalih, saat kamu sakit typus dulu, sudah dua kali aku menyucikan bau pipis cel*na d*lam kamu," ucap geram Mira.


Wajah Rangga langsung berubah salah tingkah dengan pura-pura lupa. Ia terbayang sejenak dengan masa itu.


"I..Iyah, itu kan karena sakit, telat ke kamar mandi!" Jawab gugup Rangga merasa malu.


Sejenak keduanya terdiam kaku.


"Lupakan tentang itu ayo pergi?" Rangga menarik tangan Miranda bergegas keluar dari kamarnya.


Keduanya pun melangkah menuju mobil yang sudah di siapkan Rangga.


***


"Masuklah!" Pinta Rangga pintu mobil terbuka ke atas.


"Ini mobil siapa?" Tanya Mira sedikit takjub.


"Mobil tetangga!" Jawab sebel Rangga.


"Tetangga?"


"Yah mobil aku lah! Ayo buruan naik!"


Tak ingin mencari masalah, Miranda akhirnya masuk ke dalam mobil Rangga.


Terasa Adem dan sangat Harum


Rangga mulai melajukan mobil barunya.


"Dulu kami juga sering berkeliling di malam hari, saat itu masih menggunakan motor jelek, sekarang dengan mobil yang sangat nyaman! Meskipun menggunakan motor jelek cukup menyenangkan," gumam Rangga mengingat kisahnya dulu.


"Mengapa Tuan mengajak ku makan malam, bukankah Tuan sangat membenci ku?" tanya Miranda.


"Entahlah, memangnya aku bisa apa dengan takdir! Tasya menyuruhku untuk memperlakukan mu dengan baik!" Jawab Rangga sok jual mahal.


"Panggil saja aku Mas, aku merasa aneh jika kau memanggilku dengan sebutan Tuan?"


Miranda terdiam, rautnya begitu pasrah menghadapi kehidupan.


"Maaf, sudah mengotori kamar Mas!"


"Anggap saja kita impas! Lagian aku bisa memahami kondisi kamu?"


"Kondisi apa?"


"Kondisi trauma dari Damar!"


"Apa kak Tasya cerita banyak tentang ku pada orang-orang?" gumam Mira malu bertanya.


"Terkadang yang kedua itu belum tentu baik malah menyakiti!" ucap Rangga.


Wanita itu semakin diam tak berkutik, pandangannya hanya menatap jauh ke depan. Dalam perasaan campur aduk, malu, penuh penyesalan.


"Rasanya aku ingin menghajar habis si Damar itu, karena sudah membuat Mira menjadi ketakutan seperti ini" Batin Rangga.


"Apa kau merasa de Javu? Sampai berpikir aku akan menjual mu!"


Miranda hanya diam saja.


"Tolong jangan bilang kepada orang-orang, aku malu sekali!" Rengek Miranda.


"Soal apa, pipis di celana?" tebak Rangga tetap fokus menyetir mobilnya.


"Hahahaha!" Spontan Miranda tertawa cekikikan sambil memukul bahu Rangga.


"Eh, dia tertawa!" Batin Rangga terkejut sampai membuat ia tersenyum tipis.


"kemarin-kemarin aku hanya melihat murung wajahnya yang penuh dengan tekanan! Padahal aku hanya ingin kita seperti ini saja Mira, baik dalam kondisi susah, maupun senang, namun kau terkadang suka membuatku jengkel!" Gumam Rangga.


Di jalan yang sedikit macet Mobil terus melaju membawa ke sebuah tempat makan malam spesial yang sejak siang tadi sudah di persiapkan oleh Rangga.


Setelah perbincangan lucu itu, keduanya terlihat saling diam hanya ada lagu romantis yang menemani mereka.


"Entahlah, aku benar-benar tidak berdaya dengan cinta ini, aku tidak bisa apa-apa saat sudah bersamanya, terkadang aku benci, tetapi aku menyukainya, merindukannya. Meski sebenarnya luka itu belum sembuh, aku juga terlihat pria yang konyol, memungut kembali barang yang sudah aku buang. Bukan kah banyak sekali wanita yang jauh lebih baik dari Miranda tapi aku tidak bisa melupakannya, benar-benar tidak bisa membencinya dan kini takdir pun kembali mempersatukan kami.


Aku tidak perlu buru-buru mengatakan cinta dan kasih sayang ini kepada Miranda, tetapi akan terus membuatnya nyaman bersama ku, sampai ia menyadari siapa yang benar-benar tulus berjuang dan mencintainya, sampai ia mengatakan cinta itu sendiri kepada ku, sampai ia merasa cemburu saat aku berada di dekat wanita lain. Sampai ia tidak rela jika kehilangan diriku, Karena semakin menyatakan cinta kepadanya, ia hanya semakin membenciku dan tidak mempercayainya." ungkapan hati Rangga.


Tak lama kemudian mobil berhenti di sebuah gedung Apartemen bertingkat yang di dalamnya terdapat restoran roof top yang menyenangkan.


"Apa kau masih merasa takut?" tanya Rangga saat berhenti memarkirkan mobilnya."


Miranda mengangguk kecil dengan pandangan yang lesu.


Reflek Rangga menarik bahu Miranda agar menjatuhkan kepalanya di dada Rangga yang kekar, sebagai perlindungan bahwa ia bukan suami yang sanggup menyiksa istri (KDRT) apa lagi sampai tega menjual istrinya kepada pria lain.


"Maafkan aku pernah memperkosa mu?"


Miranda hanya terdiam, ia begitu nyaman menyandarkan sejenak tubuhnya di dada Rangga.


"Jika aku tega menjual istriku sendiri, sudah dari dulu aku melakukannya!"


Miranda bergegas bangkit merasa tidak enak terlalu lama di dada Rangga.


"Mas memang hebat bisa sukses seperti ini!"


Mendengar pujian dari Miranda, telinga Rangga naik setengah inchi.


"Tapi sepertinya, ini semua karena perjuangan kak Tasya juga!" kata Miranda.


"Tentu, sebab itulah aku sangat menyayanginya!" jawab cepat Rangga.


Miranda tertegun sambil mengangguk kecil.


"Ayo!"


"Mau kemana!"


"Hadeh, yah mau makan malam donk!"


"I...Iyah!"


Rangga dan Miranda keluar dari mobil.


Melalui Ruang lift, keduanya terlihat kaku berjalan bersama.


Pria itu melirik-lirik tangan Miranda yang sedang berjalan memperhatikan suasana gedung, Rangga pun berkata dalam hati;


"pegangan tangan enggak yah? Tapi sepertinya ini terlalu cepat. Takutnya Nanti dia merasa terpaksa."


***


"Ini gedung apa, mewah sekali?


Apa tidak pemborosan, makan malam saja di tempat se mewah ini!" batin kampungan Miranda.