MIRANDA

MIRANDA
Expart-MRD



"Hehehehe๐Ÿ˜" Spontan Vino tertawa cengengesan, aksi nakalnya tertangkap basah oleh anak perempuannya.


"Hohohoo, Om hanya kagum dengan rambut Mama kamu yang bagus!" mengelus rambut Sania.


Keduanya sama-sama berdalih dengan melontarkan senyum cengengesan kepada Miranda. dr kecantikan itu mulai membalikkan tubuhnya, merapikan pita kemeja yang sempat terbuka sambil ngedumel dalam hati.


"Duuuuuh, gawat!! Rasanya pingin mukuli kepala Vino pakai panci deh! Vino enggak ngerti kalau Mira itu anaknya kritis banget. Semoga apa yang ia lihat, tidak menjadi pertanyaan besar kepada Ayah!"


Miranda menghampiri keduanya.


"Mira juga adu kekuatan bersama kakek, kejar, tangkap, lalu peluk sampai tidak bisa bergerak lagi! Pemenangnya adalah yang paling kuat," ucap polos Miranda bergaya adu silat yang lucu dalam ocehan yang masih belum sempurna.


"Iyah...Iyah...Iyah!" wajah nyengir Vino sambil garuk-garuk kecil.


"Miranda pasti yang paling kuat kan!!" puji Vino.


"Iyah!"


"Kenapa enggak main lagi?" tanya Vino.


"Disana aku kesepian, tidak ada teman!" rengek Miranda menunjuk kearah tempat ia bermain sendiri.


"Mira, kita pulang yuk, sudah hampir malam!" ajak Sania.


"Gimana kalau kita main perang-perang an!" Vino mengalihkan ajakan Sania, karena ia masih ingin bersama mereka.


"Haayuuuk!" Miranda menjawab usulan Vino dengan riang gembira.


"Kalau elu mau pulang, pulang sana!" bisik Vino memberi raut ejekan kepada Sania.


Sania tidak bisa mencegah aksi Vino.


Vino dan Miranda bergandengan berjalan kompak menuju kolam.


"Tidak ada yang seru!" kata Mira setelah memperhatikan suasana tampilan minimalis taman dan kolam renang.


"Tenang!" Tidak lama kemudian dengan kekuatan perintah, Vino menyulap area taman dan kolam renang menjadi wahana mini anak kecil yang ceria dalam kumpulan bola-bola dan tembak air.


Saat mengetahui Miranda adalah buah hatinya yang terpisah selama ini, Vino semakin menyayangi gadis cilik itu.


"Kereeeeen!" puji dan senyum bahagia Miranda mengacungkan jempol ke arah Vino. Sania hanya terduduk setengah tiduran sambil memegangi dahinya.


Vino dan Miranda sudah bersiap dengan tembakan air mereka.


"Ayo kita mulai!"


"Ayo!" sambut semangat Miranda.


"Serang Mama...!" perintah Vino mengajak Miranda agar mengarahkan tembakan air itu ke arah Sania


"Aaih ๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฉ!" Sania reflek melompat dan menghindar.


Mereka berkejaran.


"Ahahahahaha!" Miranda tertawa bahagia.


Tidak bisa menghindari, akhirnya Sania ikut bermain perang-perangan air bersama Vino dan putrinya sampai ke tiganya basah kuyup, saling lempar bola-bola kecil dalam tawa dan kebahagiaan yang ceria, tanpa di sadari bahwa momen itu adalah hal yang terindah dan berharga untuk perkembangan psikologi usia kecil seperti Miranda. Mereka juga berenang bersama, setelah jatuh bersamaan ke kolam air.


Tawa riang mereka menghidupkan suasana kelam dan kerasnya perjuangan Vino dan Sania.


Miranda tetap dalam gendongan Vino karena kolam cukup dalam bagi bocah seperti Miranda.


*


Setelah puas bermain, mereka berganti pakaian, Vino memberikan fasilitas pakain untuk kedua wanita yang ia sayangi itu.


Vino juga mengajak makan malam spesial di ruangan yang khusus, untuk Miranda dan Sania. Namun setelah makan sedikit, bocah cilik itu tampak kelelahan Hingga tertidur dalam pangkuan ibunya.


Sania meletakkan Miranda di tempat yang aman.


Saat Sania bersiap hendak makan,


tiba-tiba Vino menyodorkan potongan daging empuk kepada Sania, membuat wanita itu tertegun.


"Terima lah suapan ini, aku ucapkan terima kasih dari lubuk hati ku yang terdalam, meski tanpa kehadiran ku, kamu rela berjuang sendiri melahirkan dan membesarkan Anak kita, karena tidak ada perjuangan yang paling hebat di dunia ini selain perjuangan seorang ibu untuk anaknya."


Sania merasa terharu lalu menerima suapan manis dari Vino, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Demi Miranda, kita harus menikah! (pinta Vino tanpa ragu) sebagai Ayah, aku enggak rela, jika ia tumbuh dalam asuhan single parent. Miranda harus memiliki Ayah dan Ibu!"


"Aku tidak akan mencegah hubungan kalian...dan...untuk menikah, berikan aku waktu?" jawab Sania.


"Waktu??"


"Hubungan ini mungkin terlihat mudah tapi aku...(gugup) tidak semudah itu," kata Sania mengalihkan pandangannya.


"Aku belum bisa meyakinkan diri untuk menjadi pasangan mu!" jawab Sania menatap Vino.


Vino terkejut dengan jawaban Sania, sejenak ia pun sampai terdiam.


"Iyah, kau benar, menikah bukanlah komitmen yang main-main, kita perlu saling menyatukan hati dan aku berharap Miranda adalah jembatannya!


Aku menyadari jika aku belum ada di hati mu, kamu masih terbuai dengan pria yang dulu engkau idamkan, tapi itu tidak masalah, karena apa yang kamu rasakan juga pernah aku rasakan. Kita adalah dua insan yang sama-sama berjuang mencari pintu keluar dari masa lalu seseorang! Tapi sebagai pria, aku janji! Aku akan tanggung jawab dengan setiap langkah yang sudah aku pilih dan ku pastikan kau akan bahagia bersama ku!" kata Vino dalam tatapan yang dalam. Sebuah ucapan yang sungguh-sungguh.


keduanya saling menatap.


"Selama bersamanya, baru kali ini aku melihat Vino berkata serius!" batin Sania


Vino mencium tipis dahi Miranda yang tertidur pulas.


"Aku juga enggak ingin terburu-buru agar Miranda langsung memanggil sebutan Papa untuk ku, biarkan ia dulu nyaman bersama ku! Sampai gelar panggilan papa untukku pantas terucap dari lisannya!"


Sania mengangguk manis! Pertanda setuju.


"Dan kau harus bertanggung jawab menikahi aku!" Vino memencet hidung Sania, membuat Wanita itu reflek menjerit kecil.


"Aw!"


"Kenapa harus aku yang bertanggung jawab!" tanya Sania.


"Kerena malam itu aku terus memikirkan baku hingga mabuk berat dan kecelakaan pun terjadi. Akibatnya, saat ini para ahli kedokteran memprediksikan diriku sulit untuk memiliki keturunan, itu juga yang membuatku tidak ingin menikah dengan wanita manapun, aku pasti disalahkan!"


"Blue๐Ÿ˜›, bukan urusanku," ejek Sania membuat Vino gemes-gemes manja lalu memutar lembut tangan Sania.


"Sakit!" teriak Sania berdiri menghindar lalu balas mencubit genit tulang rusuk Vino. keduanya sempat kejaran kecil lalu mendarat di sebuah tembok mulai adu dahi sampai adu hidung kemudian adu bibir....Teeeeeeeeeeet.......#+@& (Sensor ๐Ÿคช ) Argh sampai area wajah Sania menjadi cemilan manis buat Vino.


Vino ingin mengajak Sania melakukan se*s kilat dalam posisi berdiri namun wanita itu menolak.


"Jangan Vino, Please!"


Melihat raut mewek Sania. Vino mengurungkannya.


"Baiklah, Aku akan segera menikahi kamu!"


"Aku tidak keberatan jika keindahan malam itu terulang kembali, tapi aku tidak ingin menjadi korban cintamu. Soal kepuasan, kau bisa hari ini bersama ku, besok dengan yang lain! Aku hanya ingin memiliki mu tanpa rasa khawatir, kau akan meninggalkanku."


"Jadi kau masih meragukan aku, Baiklah, mungkin aku lebih bersabar lagi dan harus benar-benar membuktikan jika aku ini serius. Terima kasih sayang! Kau sudah melahirkan Miranda, Vino tertunduk di hadapan Sania, pria itu begitu masih tidak percaya dengan kehadiran Miranda, sampai ia meneteskan airmata kebahagiaan."


***


Malam semakin larut, puas bersama Sania dan Miranda, Vino mengantarkan langsung keduanya, terlihat Miranda tertidur pulas di bangku belakang dalam selimut yang lembut. sementara Mobil Sania sudah di antar pulang anak buah Vino terlebih dulu.


Sesampai di depan rumah Sania.


"Benarkah tidak ada pria lain selama kita berpisah?" tanya Vino.


Sania hanya tersenyum tipis.


"Jika ada aku sangat cemburu!" kata Vino dengan senyum malu-malu.


"Mas Vino lihat ke atas langit!" reflek Vino melihat ke atas dengan cepat bibir indah sania mengecup tipis pipi Vino.


"Argh... Hahaha ini Frank yang sangat manis!" kata Vino tersipu malu dalam wajah memerah. Keduanya tersenyum-senyum bersama.


Keharmonisan mereka mulai terjalin indah.


Saat Sania keluar dari mobil hendak membangunkan Miranda, Vino juga bergegas keluar.


Sebelum membawa Miranda masuk.


Vino mendorong lembut tubuh Sania ke mobil.


"Aku masih enggak ingin pisah dengan kamu!" Kata Vino semakin mencintai ibu dari anaknya itu.


Tatapan manis Sania menantang mata ke bucinan Vino.


"Apakah ada hari yang lebih indah dari hari ini?"


Vino kembali mengelus sayang wajah Sania.


***


***


***


๐Ÿ’ƒMabuk...Mabuk...Cinta...woi....๐Ÿ’ƒ


yang jomblo mulai panik...panik...benaran panik enggak?? ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†