MIRANDA

MIRANDA
Part 32-MRD



Suasana meja makan sempat hening.


"Bi! Tolong buatkan saya 3 butir telur ayam kampung setengah mateng plus madu!"


Rangga butuh stamina tambahan, akibat terlalu banyak memompa Miranda di atas ranjang.


((πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†))


Mata Intan sedikit melotot 😲 mendengar permintaan adiknya itu sampai harus menghentikan kunyahan nya sambil berkata dalam hati;


"Memangnya berapa ronde tadi malam mereka lakukan? Sampai anak ini harus makan 3 telur ayam kampung?"


Rangga kembali sarapan roti dengan santai.


"Bukankah kau mengatakan Miranda hanya sebagai istri formalitas saja, untuk sekedar memenuhi kemauan Tasya sebagai tanggung jawabnya mengasuh Olivia!"


Adik lelaki Intan itu terlihat sangat cuek, ia hanya menikmati sarapannya, sama sekali tidak menanggapi ucapan Intan. Sang kakak pun berkata lagi;


"Tidak habis pikir dengan dirimu, wanita yang jelas-jelas sudah kau buang bahkan sudah bekas pria lain, masih saja kau menjilatnya!"


"Aku butuh *****!" Jawab spontan Rangga.


"Heh😏! Apa tidak ada tempat pelampiasan yang lebih baik? Saat ini banyak sekali wanita mapan seperti Tasya ingin menikahi dirimu?"


"Klenteng!" Suara hempasan sendok pada piring Rangga, pertanda kesal dengan ucapan kakaknya.


"Jika kau datang kesini hanya untuk mengomentari masalah pribadiku saja, sebaiknya kau pulang!" Rangga menatap tajam ke arah kakaknya.


Intan langsung terdiam, tak mampu lagi untuk membantah. Ia tau karakter adiknya itu keras tidak bisa ditantang.


Keduanya lalu sarapan dengan tertib, Kemudian saling berkomunikasi masalah pekerjaan.


***


Setelah istirahat dan berganti pakaian, Miranda kembali bergegas ke rumah sakit.


"Bagaimana kondisi bayi Olivia Dok?"


"Semuanya bagus, tidak ada masalah!"


"Huuft, Alhamdulillah!"


"Kita hanya perlu bersabar sampai menunggu usianya genap sembilan bulan, jangan khawatir! Di sini kami akan tetap memantau perkembangan bayi Olivia dengan baik!"


"Terima kasih banyak Dok!"


Miranda menatap penuh cinta, imut serta lucunya wajah mungil bayi Olivia yang masih di dalam tabung inkubator. Tabung yang sangat nyaman bagi Olivia serasa membuat sang bayi berada di dalam rahim.


"Ehm, lucunya, selamat datang sayang!" gumam Miranda tersenyum manis menatap bayi Olivia.


***


"Suster! Apakah saya boleh masuk ke ruangan pasien Tasya Kamila."


"Ouh silahkan!"


Dengan cepat langkah Miranda mengikuti suster yang menuntutnya masuk ke ruang khusus tempat dimana Tasya terbaring koma dengan alat bantuan darurat medis. Ruangan yang tidak bisa di masuki sembarang orang, kecuali orang-orang yang sudah dipilihkan oleh Tasya.


Miranda juga harus memakai pakaian khusus yang diberikan medis untuk menjaga steril ruangan antaran pengunjung dan pasien.


Air mata wanita itu langsung jatuh begitu saja, saat menatap sang kakak terbaring lemah di bed rumah sakit, masih berjuang antara hidup dan mati.


"Sampai detik ini, kau masih saja terbaring lemah seperti ini kak? Tidak kah engkau ingin bangun dan melihat putrimu yang sangat lucu dan cantik seperti kamu!"


"Andai saja ada keajaiban, aku sangat berharap kau bangun atau ada kesempatan hidup yang kedua kalinya. Mengapa nasibmu seperti ini kak? Kau orang yang sangat baik, juga sempurna! Aku belum pernah menemukan seseorang yang bisa menghidupkan semangat ku yang sangat mudah berputus asa seperti ini!"


"Ayo bangun lah kak! Aku mohon, aku ingin sekali mendengar suaramu, tawa dan canda mu, sebentar saja, aku janji akan melakukan apapun yang kau perintahkan asal kau tetap hidup, akan aku korbankan apa yang bisa aku berikan!"


Harapan Miranda dalam tetesan airmata berjatuhan. Ia mulai menjatuhkan kepalanya tepat di dekat lengan Tasya.


"Kak! Bukankah kau sudah berjanji, akan melihat aku di saat wisuda nanti, memakai toga kebanggaan. Aku sudah berusaha untuk mempercepat mata pelajaran kuliah agar cepat selesai!"


Lama wanita asal desa itu berada disisi Tasya, wajahnya sangat lesu menatap wajah tirus Tasya.


"Nona Miranda, waktu besuk anda sudah selesai, tidak bisa berlama-lama di ruangan ini!"


"Baiklah suster!"


Sebelum pergi, Miranda menyentuh lembut tangan Tasya, lalu mencium kecil dahi sang kakak.


Dengan langkah yang berat wanita itu membuka seragam pengunjung lalu keluar dari ruangan Tasya.


***


"Masih tentang diriku disini, Ini adalah momen yang paling aku suka sejak kecil, memandangi derasnya hujan membasahi bumi juga segarnya rerumputan basah dari terpaan debu. Aromanya mampu menenangkan jiwaku dan segala masalah yang ada.


Jika hari ini aku mengeluh! Tidak pernah merasa bersyukur. Lihatlah Kak Tasya yang memiliki segalanya namun tidak bisa ia nikmati.


kami adalah dua wanita yang ditakdirkan sulit menemui titik terang dalam mengarungi kehidupan. Orang-orang yang kak Tasya cintai pergi meninggalkannya dengan mudah, namun keluarga yang masih hidup dalam keadaan sehat justru tidak pernah perduli dengannya.


kini, Apakah ia akan meninggalkan putri dan suami yang sangat ia cintai juga? Entah lah. Kisah sedihku belum ada apa-apa nya di bandingkan dengan Kak Tasya. Meskipun, kehidupan materi ku sangat terbatas, rumah tanggaku hancur, aku tidak pernah bahagia merasakan indahnya cinta, setidaknya aku masih punya keluarga yang tulus menyayangiku!"


"Dunia memang bukan tempat mencari keadilan!"


***


Terlihat Rangga sedang gelisah bersandar di kursi malas ruang kerja rumahnya.


"Haduh mager banget mau ke kantor?"


"Tasya, Olivia, Miranda? 3 wanita yang saat ini memenuhi isi kepalaku"


Dalam pikiran yang kacau balau, pria itu terus memutar-mutar ponselnya di atas meja.


Sejak Miranda hadir kembali di hadapan Rangga, pikiran Lelaki itu tidak bisa fokus dengan pekerjaan.


"Dia lagi apa yah?"


Rangga mengambil ponselnya dan mengetikan sebuah pesan;


"Kamu lagi dimana?"


"Mau makan siang bareng?"


"Aarkh!"


pria itu kembali menghapus pesannya lagi karena merasa malu bertanya.


Dengan cara yang classic ia pura-pura salah mengirimkan laporan pekerjaannya kepada Miranda.


Miranda langsung membuka isi pesan yang masuk di ponselnya.


"Nomor siapa ini yah?" Wanita itu tidak mengetahui nomor pribadi Rangga. Lalu dengan tidak tahunya ia membalas.


"Maaf, ini siapa? Kamu salah kirim!"


Melihat balasan Miranda Rangga langsung tersenyum lebar dalam sandarannya. Bingung mau balas apa atau langsung menelpon.


"Tlililit!" Pria itu memberanikan diri menelpon Miranda.


"Dia menelpon?" Miranda ragu menerima telponnya.


"Halo!" Jawab Mira.


Rangga bangkit dari sandarannya tetapi terdiam sejenak. Jantungnya berdetak lebih cepat.


"Halo!" sapa Miranda kembali.


"Apa yang ada di pikiran kamu, bisa-bisanya tidak mematikan air shower di kamar mandi ku!" kata Rangga bingung ingin berkata apa.


"Rangga?" Batin Mira.


"Maaf, aku tidak tau cara mematikannya?"


"Harusnya kau bisa membangunkan ku!" nada suara pura-pura galak Rangga sambil tersenyum manja.


Wanita itu hanya diam saja dengan bibir manyunnya.


"Rumahmu terlalu kecanggihan!" Batin kesal Miranda.


"Ada dimana? Sepertinya aku perlu mengajarimu" tanya Rangga.


"Apain sih, hal yang tidak penting, siapa juga yang mau mandi di kamarnya lagi?" gumam kesal Miranda.


"Miranda! Bolehkah saya duduk di sini?" Tiba-tiba suara merdu Vino mengejutkan wanita itu dan terdengar jelas di telinga Rangga.


"Suara pria? Sepertinya aku mengenalnya!" Gumam Rangga😳


"Trup!" Miranda langsung mengakhiri percakapannya bersama Rangga, wanita itu sudah sangat kesal dengan lelaki itu.


***