
"Satu permintaan Rangga buat Mami, Jika kalian benar-benar sayang kepada Vino, berikanlah ia ruang untuk berdiri menata hidupnya tanpa beban ataupun paksaan. Vino ingin sekali membuat Mami dan Papinya bangga. Selama bersama ku, siang dan malam ia belajar, dan rela selalu pulang malam untuk terus mengasah kemampuan leadership nya. Namun semua itu bukan lah Sim salam Bim untuk seorang Vino, yang bisa di rubah dalam satu malam. Biarkan Vino fokus dengan karirnya dulu, untuk menikah ia masih kategori sangat muda dan belum siap menjadi kepala rumah tangga.
Tolong...tolong mami, berhentilah untuk menjodohkan Vino dengan wanita lain, ini justru hanya membuat ia semakin pusing, Pengaruh wanita itu cukup kuat untuk seorang pria. Apa lagi ia sudah pernah di tinggal mati oleh kekasihnya, tentu butuh waktu yang lama untuk mencari penggantinya.
Kalian terus mendesaknya menikah dan selalu cepat untuk mendapatkan keturunan, ini salah satu beban berat Vino. Mencari pasangan hidup yang cocok dan nyaman buat kita itu sangat sulit. Mungkin Sania merupakan wanita yang bisa mengerti dirinya, tapi sayangnya wanita itu menolak menikah bersama Vino untuk saat ini, belum lagi pekerjaan deadline yang cukup banyak.
Semua menjadi satu mengganggu kejiwaan Vino yang rapuh. Aku tau dia tidak ingin menganggu di masa pernikahanku saat ini dan tidak punya teman bicara untuk bisa mengerti dia, sebab itulah Vino harus menggunakan pil penenang."
Melani hanya menundukkan kepalanya, menyesali dirinya yang hampir setiap hari mendesak Vino agar segera menikah dan mendapatkan keturunan.
"Mam, Vino itu sangat saaayang kepada Mami, demi melihat kalian bangga, dari hari ke hari, ia terus belajar, itu juga yang membuat aku tertantang untuk membentuknya. Kemauannya sangat keras, ia sadar ia selalu memberikan kegagalan dan kekecewaan pada orangtuanya dalam bidang pendidikan. Ia ingin membuktikan kalau ia bisa sampai di kursi Presiden Direktur."
Melani mengangguk paham.
"Mami harus sabar, biarkan semuanya berjalan apa adanya, Mami harus percaya, suatu hari nanti, Vino akan bertemu dengan jodohnya. Jika takdirnya adalah Sania, mereka akan bertemu kembali, Vino dan Sania juga masih sangat muda, keduanya sama-sama belum siap untuk berumah tangga. Semua itu ada waktunya Mam!"
"Terima kasih Rangga! Hiks...hiks...hiks..., Terima kasih kau sudah menyadarkan ku, aku memang tidak bisa menjadi ibu yang baik"
"Saat ini yang bisa kita lakukan adalah mendukung penuh segala apapun yang menjadi pilihan Vino!"
"Iyah, baiklah."
***
Akhirnya Miranda melahirkan seorang bayi laki-laki melalui proses Sesae karena masalah pinggul wanita itu yang terlalu sempit. Rangga dan keluarga begitu terlihat bahagia.
Pria itu berjoget-joget riang di ruang inap Miranda dan sang Baby, Pria itu melampiaskan kebahagiaannya yang berhasil mendapatkan bayi laki-laki.
Miranda sampai tertawa geli melihat ulah lucu sang suami.
"Mas, gimana kalau tingkahnya dua kali lipat bandelnya Seperi kamu!" ucap Miranda.
"Enggak masalah, asalkan besarnya berhasil seperti Papanya!" bisik manja Rangga.
"Amiiin!" balas Miranda.
Keduanya terlihat bahagia sambil menatap sang buah hati tercinta dalam keranjang bayi.
Banyak rangkain bunga dan hadiah dari saudara dan kerabat serta rekan bisnis mereka.
Meski di bantu dengan pelayan dan beberapa Babysitter Rangga dan Miranda tetap masih dalam kerepotan, sebab Miranda juga mulai sibuk dengan bisnis Fashion serta mempersiapkan Wisuda Sarjananya.
***
Waktu terus saja berlalu. Hampir satu tahun Kondisi Vino semakin pulih, ia terus mengkonsumsi obat-obatan herbal dan menjalani banyak terapi demi bisa mengembalikan vitalitas prianya yang sempat terganggu.
Satu tahun kemudian Vino kembali ke Indonesia dan telah dinyatakan sembuh oleh para dokter serta tim shinse yang khusus menangani masalah Vino. Pelukan hangat Melani, Fudo, Rangga, saudara serta rekan dan teman bisnisnya, menghiasi wajah tampan Vino.
Beberapa dokter masih belum menyarankan jika Vino harus melakukan hubungan intim, para dokter sepakat hal itu di lakukan jika kesembuhan Vino sudah berjalan di atas 6 bulan.
"Anakku, rasanya Mami ingin mati melihat kondisimu seperti kemarin dan hari ini Mami sangat bahagia, tidak perduli seberapa banyak uang yang sudah kami habiskan untuk mengobati kamu!"
"Terima kasih Mami!" Vino memeluk bundanya.
"Maafkan Mami Nak!"
"Vino lah yang seharusnya minta maaf kepada Mami, seharusnya Vino bisa lebih terbuka!"
"Papi sangat bahagia Vino, mulai hari ini, Papi janji tidak menuntut banyak dari kamu?"
Ketiganya berpelukan haru bahagia. Keluarga itu juga membuat acara berupa syukuran besar atas pulihnya kondisi Vino Febian.
***
2 Tahun 6 bulan telah berlalu, terhitung sejak Vino mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.
Waktu yang cukup lama untuk seorang Vino terus berjuang dengan karir dan sekolahnya hingga ia berhasil duduk di kursi Presiden Direktur yang sebelumnya di tempati oleh sang Ayah. Perusahaan yang bergerak dalam bidang Disain, Properti dan Furniture menjadi satu grup yang masih dengan nama PT VERON GROUP. Vino juga bergabung dengan perusahaan Rangga yang bergerak di bidang Resto dan Cafe. Finansial pria itu semakin kokoh.
Melani dan Fudo begitu bangga saat mengadakan acara besar penyerahan tahta kepada sang buah hati, sebagai penerus Perusahaan.
Di usia 50 an Fudo Gin lebih ingin menghabiskan waktu bersantai dan menjalankan perusahaannya yang ada di Tokyo saja. Melani dan Fudo tidak ingin lagi menyinggung masalah kapan Vino akan mengakhiri masa lajangnya. Hal itu menjadi trauma bagi mereka, meskipun puluhan wanita sudah terus menawarkan diri, namun satupun tidak ada yang menarik di hatinya, Vino kembali menutup dirinya kepada setiap wanita dengan gaya dingin membeku membuat banyak wanita semakin menggilainya.
***
Baru-baru ini Vino telah membeli rumah mewah di sebuah komplek hijau eksklusif. Ia sudah tidak lagi tinggal di Apartemen, sedangkan Melani dan Fudo lebih sering menetap di Tokyo, namun mereka tidak pernah lepas dari video call. Sesekali Vino berangkat ke Tokyo mengajak kedua orangtuanya liburan berkeliling dunia. Menikmati dan mensyukuri apa yang saat ini di berikan oleh Tuhan. Meskipun keinginan Vino menikah dan memiliki keturunan adalah impian besar Melani dan Fudo.
Fudo dan Melani pasangan yang terlambat mendapatkan keturunan. Sehingga di usia mereka, keduanya sangat menginginkan kehadiran cucu.
**
Pagi yang cukup cerah, serta segarnya aroma bunga pepohonan yang hijau di taman rumah Vino.
Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor Vino selalu melakukan olahraga ringan, seperti berenang, menggunakan Treadmill atau bermain basket sendiri.
"Pagi Bos?" sapa Romi sekretaris Vino yang siap menjemput Vino di kediamannya menuju kantor.
"Pagi!"
"Sudah sarapan Bos!"
"Di kantor saja!"
"Baik Bos, saya akan siapkan!"
"Apa Headline news hari ini?" tanya Vino sambil merapikan jas kantornya di depan cermin. Ia terlihat sangat tampan dan gagah.
"Beberapa investor asing meminta agar VERON segera membangun Mall, Apartemen ataupun Perumahan eksklusif di Provinsi Kalimantan, 2 3 tahun ke depan Provinsi ini akan sangat berkembang pesat"
"Hem, Begitu yah!"
"Besok akan ada meeting besar dengan para investor Bos!"
"Bagaimana menurut mu?" tanya balik Vino yang terlihat bimbang saat mendengar lokasi Kalimantan, ia seperti kembali mengingat seseorang.
"Saya rasa ini peluang besar Bos! Kita harus segera terbang ke Kalimantan untuk langsung meninjau lokasi, saya akan persiapkan semuanya?"
Setelah menghela nafas, Vino akhirnya mengangguk tanda setuju dan berkata;
"Baiklah!"
***