
"Mas Rangga! Jenis kelamin anak kalian perempuan, Tasya memberinya nama Olivia Putri, namun kelahiran prematur, membutuhkan perawatan ekstra dari kami sampai usianya genap 9 bulan."
"Terima kasih An! (Rangga tersenyum bahagia bercampur haru). Tolong berikan yang terbaik untuk anak dan istri saya, berapa pun biayanya akan saya tanggung!"
"kami berupaya semampu mungkin, Mas!"
"Bagaimana kondisi Kak Tasya Dok?" tanya Miranda tidak sabar.
Triana sempat terdiam.
"Kondisi Tasya semakin memperihatinkan. Saat ini, ia masih dalam keadaan koma dan sangat kritis, hanya Tuhan yang tahu apakah ia bisa hidup kembali atau tidak?"
"Apah?" 😳 Rangga dan Miranda begitu terkejut mendengar kondisi Tasya dari Triana.
"Sebelumnya saya sudah memperingatkan Tasya untuk tidak hamil, kehamilan pada penderita lupus sangat berbahaya, dimana sistem imunnya tidak bekerja dan justru menjadi penyerang di tubuhnya!"
Rangga hanya terdiam sedih, pernikahannya yang baru seumur jagung bersama Tasya, harus kehilangan keharmonisan yang begitu cepat.
"Miranda?" Panggil Triana.
"Iyah Dok!"
"Begitu Olivia Putri lahir, kewajiban kamu untuk terus membantu kepengurusannya bayi sebagai ibu pengganti!"
"Siap Dok!"
"Aku harap kamu amanah untuk merawat Olivia, Miranda"
"Insya allah!" Angguk Mira dengan cepat.
Rangga melirik ke arah Miranda. Pria itu mulai menyadari bahwa keberadaan Miranda sangat berarti untuknya dan juga Tasya.
"Saya juga akan berusaha meluangkan waktu untuk anak saya!" kata Rangga.
Triana mengangguk tersenyum tipis.
***
Team medis mengajak Rangga dan Miranda untuk masuk melihat sang bayi, rasa haru dengan mata berkaca-kaca lelaki itu mengumandangkan azan untuk bayi mungil yang masih dalam tabung inkubator khusus, sebisa mungkin syarat itu dilakukan dalam panduan beberapa Dokter dan perawat.
"Mungkin aku terlalu banyak dosa, sehingga harus menjalani kehidupan yang sulit ini. Ayah janji sayang, akan melakukan apapun demi kamu dan merubah kebiasaan Ayah dengan yang lebih baik!"
Batin Rangga memandangi bayi Olivia yang sangat mungil dan cantik.
"Semoga Rangga bisa menjadi Ayah yang baik!" gumam Mira.
***
"Miranda, Mari ikut saya!"
Terlihat Triana mulai membawa Miranda kepada Dokter khusus menangani Olivia Putri. Disana Miranda banyak diberikan sedikit penjelasan tentang kondisi bayi Olivia.
"Nona Miranda, Olivia Putri masih dalam perawatan dan tanggung jawab kami selama 9 bulan ini. Untuk itu, tolong persiapkan segala perlengkapan bayinya dan penuhi semua list yang telah kami berikan."
"Siap Dok!"
Sementara Rangga melangkah kakinya untuk melihat kondisi Tasya, banyak panggilan yang terabaikan dari ponsel lelaki itu.
"Sayang bangun lah, lihat anak kita, wajahnya mirip sekali dengan kamu, tolong bangun. Jangan pergi dulu kau harus lihat putri mu," ucap kesedihan Rangga yang hanya bisa menatap lemah kondisi sang isteri sambil menunduk kepalanya.
Rangga tidak bisa berlama-lama di rumah sakit, banyaknya tuntutan pekerjaan yang harus memaksa ia meninggalkan Tasya, begitu juga dengan Miranda yang belum di izinkan penuh untuk merawat Olivia, ia juga harus segera menjalani ujian semester dan akan kembali lagi ke rumah sakit.
***
"Dimana Pak Atar, kenapa belum menjemput ku?" Batin Miranda mengeluarkan ponselnya.
"Halo! Pak, bisa antar Mira ke kampus?"
"Aduh Nona, Bapak sih oke-oke saja, mau jemput dan antar Nona Mira kemanapun! Ke luar angkasa juga Bapak bakal jemput kok! Hehehe!"
"Terus masalahnya apa, Pak?"
"Haduh gimana yah Non bilangannya, semenjak Nona Tasya sakit, semua urusan harus izin dulu ke Tuan Rangga, termasuk membawa mobil Nona Tasya pergi juga harus permisi dengan si Tuan."
"Ugh, nyebelin banget orang kaya baru itu?"
"Tapi aku memang bukan siapa-siapa!"
Gumam Miranda.
"Ouh! Begitu yah Pak, yah sudah, Mira naik Taxi saja!"
"Jangan Non, tunggu Bapak telpon!"
"Enggak apa-apa kok Pak!"
"Trup!"
Tanpa basa-basi lagi Miranda mengakhiri percakapan dengan supir pribadi Tasya itu.
"Yah! Salah lagi, si Non ngambek dah!" ucap sang supir.
Pak Atar langsung melapor kepada atasannya Rangga Dewa.
"Biar saya yang mengantarnya ke kampus!" jawab tegas Rangga yang sedang berjalan menuju parkiran mobilnya.
"Baik Tuan."
***
"Hari mulai gelap dan mendung, aku harus cepat-cepat ke kampus!"
Perlakuannya dengan ku sangat berbeda dari kak Tasya. Aku juga tidak sesuai untuknya, kami bukan pasangan yang serasi. Entah mengapa kisah hidup ini kusut kembali, padahal aku sudah sangat bahagia bersama kak Tasya dan nyaman hidup sendiri? Tapi mengapa harus terjebak lagi dengan Rangga?"
"Aku bukan siapa-siapa tanpa kak Tasya, aku merasa kehidupannya lebih menyedihkan daripada aku, hal itu yang membuat aku terus semangat dan rela melakukan apapun!"
Lamunan Mira di sebuah halte.
***
Sebuah lampu sorot mobil menyinari lekuk tubuhnya yang ramping sedang berdiri terpaku.
Mobil mewah itu berhenti tepat di hadapan Miranda, kaca mobil pun perlahan turun.
"Naik!" Perintah ketus Rangga dengan gaya sombongnya dari dalam mobil.
"Aku naik taxi saja!" Jawab Mira berjalan menjauhi mobil Rangga sambil menunggu Taxi online yang sudah ia pesan.
"Huuft!"
Rangga pun keluar dari mobilnya mengejar Miranda langsung mengangkat istri mudanya itu dengan enteng, layaknya lima kg beras dan tidak perduli banyaknya mata yang melihat aksinya.
***
"Uih, so sweet banget!"
"Tuh, cewek sok jual mahal!"
"Lagi berantem kali!"
Desas-desus orang-orang di sekeliling yang merasa Baper.
***
"Hei lepaskan aku!" Teriak Mira.
Rangga hanya diam saja tidak perduli.
Miranda terus meronta-ronta dengan kedua kakinya.
"Lepaskan aku Rangga!" hentak Mira.
Saat sampai di depan pintu mobil.
Rangga langsung menurunkan tubuh Mira.
"Panggil aku Tuan!" ucapnya dengan angkuh.
Miranda menatap tajam Rangga.
"Jangan pernah membantah setiap keputusan ku!"
Tatapan Rangga manis-manis menggoda menantang dua bola mata Miranda yang tajam dan besar.
"Masuk!" Perintah lelaki itu dengan tegas.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya wanita itu terpaksa membatalkan Taxi online yang sudah terlanjur ia pesan, kemudian masuk ke dalam mobil Rangga yang hanya di tumpangi dua orang saja.
Mobil mewah berwarna silver kilat itu pun melaju.
"Aku mau kuliah!" kata Miranda dengan wajah kakunya.
"em!"
"Kampusnya di Ja..."
"Sudah tau!" jawab cepat Rangga.
Suasana di dalam mobil cukup hening. Tidak ada percakapan antara keduanya. Miranda hanya menatap fokus ke depan dalam wajah khas sendunya.
Sementara Rangga mulai traveling dengan nuansa pernikahan.
"Malam pertama?"
"Benarkah Miranda operasi keperawanan?"
"Mau dilakukan dimana ya?"
"Aku harus minta duluan?"
"Arg!! Gengsi donk!"
"Aku bukan Rangga yang dulu, Rangga sekarang menjadi pujaan wanita."
Batin Rangga bertanya-tanya, sesekali terlihat lelaki itu curi-curi pandang ke arah Miranda di saat ia sedang menyetel musik dan saat mengoperasikan laju mobil.
Lantunan musik pop mendayu-dayu dalam perkataan batin antara Rangga dan Mira yang berbeda.
***
"Mulai hari ini aku sudah bisa melakukan persiapan menyusun skripsi, mumpung Olivia masih dalam perawatan Dokter?"
"Kira-kira kak Vino bisa di mintai tolong enggak yah. Kalau tidak salah dia juga kan jurusan sekretaris!"
"Aku bingung mau cari tema apa?"🤔
Batin polos Mira yang sama sekali tidak memikirkan tentang hotnya malam pertama. Bahkan ia lupa jika ia sudah menikah.
***
Maaf yh guys🙏 author sedang ada urusan pribadi jadi update Miranda agak macet nih.