MIRANDA

MIRANDA
Part 53-MRD



Mobil Rangga tiba di rumah.


"Aku akan pulang sedikit lebih malam?" kata Rangga membukakan safety belt Miranda. Lalu menatap wajah sang istri lebih dekat dalam sorotan cinta yang berapi-api.


keduanya sempat saling menatap manja, namun Miranda dengan cepat mengalihkan pandangannya.


"Baiklah Mas, kamu juga selalu semangat yah!"


"Ok!" senyum jatuh cinta Rangga.


"Tidur lah dan jaga Olivia!"


Wanita itu hanya mengangguk manis lalu bergegas turun.


"Bunganya?" kata Rangga.


"Ouh iyah?" senyum Miranda malu-malu.


"Ingat, jika terjadi apa-apa, cepat hubungi aku!"


"Iyah Mas!"


Miranda melambaikan tangan mengiringi kepergian Rangga.


"Huuuft, capek juga enggak pakai supir!" batin Rangga berniat menuju rumah sakit, melihat kondisi mertuanya.


***


Terlihat Miranda masih mencium aroma Buket Bunga pemberian Rangga, ia berjalan melangkah memasuki rumah megah itu.


"Eem, yang lagi jatuh cinta yah Non! Adu...duh berjuta rasanya?" tegur Iroh.


Miranda semakin tersenyum lebar.


"Bibi bisa aja!..."


"Iyah kelihatan dari pipinya!"


"Oh Iyah Bi, Dimana Olivia?"


"Ada Non, bersama Kiandra!" jawab cepat Iroh.


"Saya ke atas dulu yah Bi!"


"Silahkan Non!" hormat Iroh kepada istri majikannya itu.


Melihat Olivia tertidur pulas di keranjang bayinya, Miranda tersenyum bahagia dan merasa tenang.


"Sehat terus yah sayang!"


***


Waktu terus berlalu, tanpa terasa Olivia Putri sudah berusia 11 bulan. Imut lucu dan menggemaskan.


Kesembuhan Rusdy juga lebih cepat karena selama di rumah sakit, Sania di perintahkan Vino untuk mengawasi kerja Dokter dalam merawat pria tua itu sehingga ia sudah bisa kembali pulang meskipun masih dalam perawatan medis oleh perawat pria.


Hari itu Rangga langsung mengantarkan sang mertua sampai pulang kerumah dan memastikan kondisinya baik-baik saja.


"Sudahlah, tidak perlu lagi kau melakukan apapun untuk Jane, karena semua terasa sudah menjadi sia-sia, hanya merugikan dirimu saja. Semua orang yang kau sayangi itu telah tiada, untuk keselamatan Miranda dan Olivia biarkan itu menjadi tanggung jawab ku!" kata Rangga dengan tegas.


"Aku ingin memberi pelajaran kepada wanita itu!"


"Heh😏 aku sudah katakan, percuma dan semua akan menjadi sia-sia. Nikmati saja lah apa yang dulu sangat kau perjuangkan dan cintai mati-matian. Bukankah setiap pilihan sudah ada resiko yang akan di terima, kau tidak perlu menjadi pahlawan di mataku dengan bertarung nyawa demi menyelamatkan Miranda dan Olivia, karena aku juga tidak ingin ikut campur dengan urusan keluargamu."


Rangga pergi meninggalkan Mertuanya itu dalam kondisi terduduk lesu di atas kursi roda.


***


"Mengapa kerja si Kiandra itu sungguh terlalu lambat. Selagi pengurusan perceraian ku dengan Rusdy belum selesai, Olivia harus sudah ada di tangan ku! Tapi bagaimana caranya menyingkirkan pasangan kampungan itu!" batin Jane gelisah mondar-mandir memikirkan niat jahatnya.


***


Setelah berusia dua bulan, Rangga Dewa mulai berani menggendong Olivia saat di malam hari, tepatnya usai melakukan semua aktivitasnya yang padat. Rangga tidak lagi dugem, nongkrong atau party dengan teman-temannya. Ia sudah terlihat belajar menjadi sosok Ayah serta suami yang baik dengan meluangkan waktu di rumah demi bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya.


"Mas, cara menggendongnya terbalik!" tegur lembut Miranda.


"Oh Iyah!"


"Begini!" Miranda memperbaiki posisi cara menggendong Rangga yang kaku dengan benar.


"Duh putri Papa, umuach!" kata Rangga kegirangan menimang sang putri.


Keduanya tampak mesra dan bahagia menikmati imut dan lucunya wajah bayi Olivia.


"Ssssst! Dia sudah tidur!" Bisik Rangga.


Miranda menuntun Rangga, cara meletakkan bayi dengan baik di atas keranjangnya.


"Sekarang, giliran menidurkan ibunya!" Kata Rangga langsung mengangkat Miranda ke atas kasur.


"Eiih!" jerit kecil Miranda, kedua terlihat gelitikan manja di atas kasur sambil perang bantal.


"Sssssstt!" keduanya serentak.


"Aaaarkh!" teriak marah Miranda berusaha mengejar Rangga ingin membalas kembali.


"Hahaha biar lebih mancung!" Ejek Rangga terus berlari pecicilan sambil menoleh ke belakang dan tidak menyadari jika tubuhnya menubruk sebuah lemari.


"Hahahaha!" tawa puas Miranda.


Melihat Rangga kesakitan, wanita itu pun merasa iba, terjongkok di depannya.


"Duh sakit banget!" keluh Rangga.


"Itu Azab buat suami jahil! Hihihi!" tawa puas Miranda yang tertahan saat melihat wajah meringis Rangga.


Dengan cepat Rangga menidurkan Miranda lalu mencium bibir manis sang istri di lantai beralaskan ambal yang lembut.


Keduanya tersenyum manis.


"Aku mencintai kamu!" kata Rangga.


Miranda terdiam terlihat kaku tidak berkutik.


"Aa..Aku juga Mas!"


Kemesraan itu semakin indah dan nyata. Keduanya saling menunjukkan sikap jatuh cinta berjuta rasanya, sering senyum-senyum bahkan tertawa sendiri. Kompak dalam mengasuh putri mereka. Rangga juga sudah berniat ingin menikahi Miranda dengan diam-diam sudah memesan cincin emas berlapis berlian yang sangat indah dan mahal untuk acara pernikahan resmi mereka.


***


Pagi-pagi Miranda sudah terlihat mandi keramasan, wajahnya segar berseri-seri. Ia terlihat bahagia dan menyiapkan masakan enak bersama pelayan untuk suami tercinta, Miranda juga sudah mempersiapkan semua kebutuhan kantor sang suami. Wanita itu tetap berusaha menjadi istri yang baik di mata Rangga.


"Mas, Bangun, Ayo sarapan!" Miranda mengguyur sedikit tubuh Rangga.


"Sebentar lagi!"


"Nanti Mas terlambat, katanya mau masuk pagi."


"Enggak apa-apa!"


"Yah sudah!"


Rangga menarik cepat tangan Miranda hingga tubuh sang istri jatuh di pangkuannya.


"Pijat kepala aku yank!" pinta Rangga.


Miranda tersenyum senang Rangga sudah mulai memanggilnya dengan panggilan yank atau sayang.


"Baiklah!"


Dengan lembut Miranda memijat kepala dan kaki Rangga. Sambil elus-elusan manja di atas Ranjang.


"Kapan kita pindah dari kamar Olivia?" Rengek Rangga.


"Iyah Mas, tunggu Olivia sedikit besar!"


"Sepertinya Kiandra terlihat bagus mengasuhnya, jadi tidak masalah jika ia tidur di kamar ini menjaga Olivia saat malam hari?"


"Tapi Mira belum percaya Mas, Olivia masih kecil!"


"Di sini juga enak kan, Mas juga bisa melakukan pacuan kuda!"


"Iyah tapi kurang kencang, takut Olivia bangun!"


"Hahaha!" Miranda mencubit kecil hidung Rangga.


"Aw!"


"Pijatnya sudah selesai, mandi yah!"


"Mandiin!" Peluk manja Rangga di perut Miranda, menahan istrinya bangkit.


"Manja banget sih Mas!"


"Lalu mau manja dengan siapa lagi?" Jawab cepat Rangga.


"Yah sudah lah!" Kata Mira pasrah menarik tangan Rangga masuk ke dalam kamar mandi.


"Eits, bukan di sini, tapi di kamar mandi sebelah, khusus kamar mandi Rangga Dewa, jika di sini, bahaya dong!" Bisik Rangga menggandeng Miranda menuju kamarnya.


"Kan hanya sekedar Mandi!" kata Miranda.


"Ada deh!" bisik genit Rangga di telinga Miranda.


"Dasar mesum!" Miranda mencubit pipi Rangga Yang hanya tersenyum cengengesan dengan raut wajah bucin menggemaskan ☺️


***


Keduanya mandi dalam percikan air di dalam bak mandi dan jatuhan shower.


Tawa dan cekikikan bersama sampai mereka tenggelam dengan hasrat bercinta yang tidak terkendalikan dalam gaya-gaya yang menantang seperti putri duyung lagi mogok berenang, cicak kekenyangan nemplok di dinding dan buaya buntung lagi bergulat.


****


πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† Mantab Oi....Gas terus☺️ sampai jebol....Heheh