
Pukul 22.30 Malam hari, setengah jam sudah berlangsung.
Terlihat Rangga mondar-mandir di area ruang tunggu Rumah Sakit, berkali-kali ia menghela nafas panjang menanti kabar dari tim medis, berharap tidak terjadi apa-apa kepada Miranda.
"Kasih kabar enggak yah ke Rahmat? Haduh, lama banget lagi!" gumamnya mengusap dahi yang sudah berkeringat akibat rasa khawatir tinggi.
"Mau telpon Vino, tapi enggak usah deh! Malah tambah runyam" ucap Rangga terus berpikir sambil memegangi ponsel pintarnya.
"Trek!" Suara pintu terbuka.
Sontak Rangga langsung mengejar seorang Dokter yang berdiri tegap, tepat di bibir pintu berpenampilan seragam putih bersih.
Tidak di sangka Dokter itu justru tersenyum sumringah kepada Rangga. Wajah Ayah Olivia itu semakin tegang dalam balasan senyum kebingungan.
"Bagaimana kondisinya Dok?"
"Apakah Bapak suaminya?"
"I...Iyah!" Jawab gugup Rangga.
Tiba-tiba sang Dokter menjabat kuat tangan Rangga, membuat pimpinan perusahaan R.M Grup itu semakin tidak mengerti.
"Selamat yah Pak, istri anda sedang mengandung," kata si Dokter.
"A...Apah?😲" Mendengar ucapan Dokter itu, Rangga serasa ingin terbang (fly) tangannya bergetar kecil.
"Hahahaha,...hamil, Bercanda lu Dok!" Kata Rangga tidak percaya dengan senyum cengengesannya.
"Saya ini memang Dokter umum, tapi bisa saya pastikan istri Bapak sedang hamil, suster akan segera memindahkan pasien ke ruang USG, Dr Spog akan menjelaskan lebih detail disana. Saya permisi dulu!"
"Ini tidak mungkin!" Batin Rangga masih tidak percaya.
"Tapi... jika memang benar, iyeeeees, terima kasih Tuhanku?" Kata Rangga kegirangan.
Miranda sudah terlihat sadar dan terbaring di ruang USG, tidak berapa lama Rangga pun di persilahkan masuk.
Pria itu menatap senyum wajah Miranda yang penuh dengan rasa cemas.
Dokter mulai memeriksa Miranda dengan alat canggih.
"Aku tidak mungkin hamil, perasaan setiap mau berhubungan, kemarin aku selalu minum pil anti hamil, tapi apa jangan-jangan yang terakhir itu aku lupa😣...iiii nyebeliiiiiin... Semoga Dokter umum tadi salah, Rangga pasti akan menuduh, jika aku melakukannya dengan Vino!"
gumam Miranda semakin gusar.
Sang Dokter langsung memperbesar volume jantung si jabang bayi dan terdengar jelas di ruangan itu.
"Tidaaaaaaaaaak!" Batin Miranda ketakutan.
Rangga justru tersenyum ceria.
Miranda hanya tergeletak lesu setelah pemeriksaan itu. Tangannya masih terikat infus.
Dokter kandungan pria itu menunjukkan hasil print USG kepada Rangga.
"Usia kandungan Nona Miranda sudah mencapai 10 Minggu atau dua bulan setengah," kata sang Dokter.
"Ouh Iyah! Tapi, mengapa dia tidak tau jika dia sedang hamil Dok!" Rangga tersenyum menatap Miranda.
"Tidak mungkin saya bisa hamil Dok! Ka...ka...karena dua Minggu lalu saya masih datang bulan? Dua minggu setelah berhubungan saya sudah test hasilnya negatif," ucap Miranda dalam bibir bergetar.
"Hem, baru pasangan ini yang tidak senang dengan kehamilannya, apa mereka bukan suami istri!" Batin si Dokter.
"Hem begini, awal kehamilan rata-rata kaum wanita memang tidak menyadari jika mereka sedang mengandung. Kehamilan akan terlihat setelah melakukan test urin sendiri atau dengan pemeriksaan USG langsung. Namun ada banyak tanda kehamilan yang tidak lazim, salah satunya mengeluarkan darah layaknya sedang menstruasi, padahal itu tanda kehamilan. Darah yang di keluarkan lebih berwarna kecoklatan, frekuensi waktu dan banyaknya darah tidak seperti wanita yang sedang menstruasi.
Mengetes kehamilan dua Minggu setelah berhubungan, belum dapat dipastikan terlihat bahkan sudah 2 bulan penuh ada yang tidak terlihat sama sekali. Janin mba ini cukup kuat, tetapi Mba nya terlalu lelah dan banyak pikiran sehingga tubuhnya drop!"
"Alhamdulillah!" batin Rangga dalam senyum kebahagiaan.
"Jadi, saya sarankan, banyak istirahat, makan teratur, serta minum vitamin!"
"Terima kasih Dok!" Sambut cepat Rangga.
Miranda sudah diizinkan pulang malam itu.
***
Di dalam mobil.
"Hayo, kamu hamil anak siapa?" Ledek Rangga di hadapan Miranda.
Reflek Miranda langsung menangis kesal.
"Aku benci hamil, aku tidak selingkuh...hiks...hiks...!" ia Menangis sampai sesunggukan
"Hahahaha, Iyah...Iyah...jangan nangis," Rangga merangkul kepala Miranda dan mengusap rambutnya dengan lembut.
"Aku hanya bercanda, sudah di pastikan itu anak aku donk, usianya juga sudah dua bulan lebih, jadi gimana lamaranku masih di tolak!" Kata Rangga dalam senyuman menggoda.
Miranda hanya terdiam.
"Kartu mati, Hahaha!" Mencubit kecil hidung Miranda.
"Ka...kamu percaya ini anak mu Mas?"
"Iyah sayang! Aku tau kamu tidak melakukan apa-apa dengan Vino!"
"Terima kasih Mas!" ucapan haru Miranda, perlahan wanita itu tersenyum Bahagia dan memeluk erat tubuh Rangga.
Rangga mulai melajukan mobilnya.
"Tapi aku takut sekali menjalaninya lagi, Ya Allah restu i kami!"
"Ternyata benar ucapan adalah Doa, aku pernah berkata jika Olivia sudah berusia enam bulan, mungkin aku sudah siap hamil, semoga aku bisa mengasuh kedua anak ku ini!" Batin Mengelus perutnya.
"Cihuuuuuuy, Akhirnya Gol juga!" Gumam Rangga terlihat ia tersenyum-senyum di dalam mobil.
***
Sania langsung agresif membuka pakaiannya hingga mampu membuat air liur Vino hampir jatuh, pria itu mengagumi yupi milik Sania yang sangat kenyal dalam ukuran favoritnya. Vino mulai mencumbui lembut Sania yang hanya bisa tergeletak lesu di atas ranjang, kondisinya setengah sadar akibat pengaruh alkohol.
Dari perut turun ke pangkal paha. Namun Vino merasa kulit paha Sania dalam sebuah balutan tipis.
"Jadi selama ini ia pakai stoking berwarna gelap!" gumam Vino penasaran lalu membuka stoking tipis mirip warna kulit gelap dan pria itu terkejut.
"Wow! Ternyata paha dan kaki Sania sangat putih dan mulus!" Vino semakin meleleh 🤤🤤🤤
"Jadi selama ini ia menyembunyikan kesempurnaan tubuhnya dari aku!" Vino yang sering menghina jika Sania itu perempuan dekil.
"Tapi untuk apa?" Batin Vino tidak habis pikir.
Melihat kemolekan tubuh yang menggoda itu, serta rasa suka dan cintanya yang mulai tumbuh untuk Sania, Vino membuka cepat pakaiannya.
"Aku tidak tahan dengan penampilan ini, harus terpaksa menggadaikan juga keperjakaan ku?" Batin Vino mulai mencumbui panas, penuh semangat, Sania yang setengah sadar terlihat pasrah merelakan tubuhnya.
"Inilah hari dimana aku benar-benar hancur, keperawanan yang aku jaga demi Raka harus di nikmati pria lain, pria yang benar-benar tidak aku sukai, hatiku sangat sakit Raka harus melakukannya dengan wanita lain," gumam kehancuran Sania mengetahui jika tubuhnya sedang di nikmati oleh Vino.
"Jadi aku adalah pria pertama yang menyentuh bibir indahnya ini!" gumam Vino dalam jantung berdebar-debar😍.
Saat Vino ingin mengecup lembut dahi Sania terlihat tetesan airmata yang jatuh di kedua bola matanya.
"Dia menangis," Batin Vino mengusap airmata Sania lalu bangkit dari atas tubuh perempuan itu dan duduk dengan perasaan cemas.
"Aku tidak bisa melakukannya jika ia tidak ingin!" Kata hati Vino.