MIRANDA

MIRANDA
Part 85-MRD



"Uhuk...uhuk...! Uuuuek, uh!" suara muntahan kecl Miranda namun tidak mengeluarkan isi.


"Kenapa akhir-akhir ini, aku suka mual dan pusiiiiiing banget!"


"Apa karena aku terlalu lelah, mengetik sampai tengah malam?"


"Apa jangan-jangan aku hamil? Aaaaaaaa itu enggak mungkin! Mustahil, Ini kan sudah dua bulan lebih berlalu dari berhubungan badan dengan Mas Rangga, terakhir aku tes hasilnya negatif, aku juga menstruasi meskipun tidak normal. Mungkin aku terlalu lelah saja!" Batin Miranda sambil rebahan di atas kasur.


"Nona!" Panggil Iroh sambil menggendong Olivia masuk ke dalam kamar.


"Iyah Bi!"


"Ayo turun, Tuan mau ajak jalan-jalan Olivia sore ini!"


"Mira tidak ingin ikut, lagi kurang enak badan Bi, Tapi gimana yah ngomongnya sama Mas Rangga!"


"Jangan menolak Non! Nanti Tuan bisa marah, hanya hari Minggu begini ia punya waktu luang untuk putrinya. Nona Jangan khawatir, Tuan sudah memerintahkan Bibik untuk ikut! Biar Nona dan Tuan tidak terlalu lelah menggendong Olivia!"


"Beneran?"


Iroh mengangguk manis.


"Syukurlah!" Batin Miranda.


"Yah sudah, Mira ganti pakaian sebentar yah Bik!"


"Non!"


"Iyah!"


"Jangan lupa Dandan?" Iroh mengingatkan.


"Malas ah, belakangan ini Mira malas dandan, Bi" Jawab lesu Miranda.


("Bawaannya pengen mukulin + Tinju👊 Rangga aja" gumam Miranda)


"Iyah paling tidak pakai lipstik saja Non!"


"Baiklah!"


"Bibi tunggu di bawah yah!"


"Ok!"


"Oh Iyah Bi!"


"Iyah! Kemana semua baju seragam baju Babysitter di kamar ini?"


"Haduh Non, jangan pakai seragam Babysitter, Nanti Bibi bisa pecat!"


"Iyah Baiklah, Mira hanya bertanya?"


"Sudah di asing kan ke gudang, katanya mau buang ke laut? Tuan berpesan jangan sampai seragam itu Nona pakai lagi di rumah ini!"


Miranda sempat terkejut dengan ucapan Iroh😳😳😳😳😳


"Di buang ke laut? Ada-ada saja si Rangga!" batin Miranda.


"Bibi turun dulu yah Non, semua perlengkapan Olivia sudah di dalam mobil!"


"Iyah Bi, Terima kasih yah!"


Iroh pun keluar kamar dengan senyumannya.


"Sebenarnya Nona Miranda itu pantas sekali menggantikan kedudukan Nona Tasya, sudah cantik, baik, lembuuuut, sopan sekali, juga pintar. Kekurangannya hanya satu saja, terlahir dari keluarga sederhana, tidak bisa di pungkiri Tuan lebih nyaman dengan Nona Miranda daripada Nona Tasya dulu. Buktinya Tuan selalu meluangkan waktu buat keluarga kecilnya. Semoga ada keajaiban yang mempersatukan mereka kembali! Dengan sering jalan begini keduanya bisa saling dekat lgi," Batin Iroh.


"Kali ini harus berhasil, tidak masalah menahan rasa malu yang besar dari pada keburu sama si es Vino!" gumam Rangga terlihat sudah rapi saat keluar dari kamar, bertepatan Miranda juga keluar.


Keduanya sempat salah tingkah. Bingung mau bicara apa?


"Sudah siap?" tanya Rangga.


"Sudah Mas!"


Ketika Miranda berjalan tangan kanan Rangga gratil ingin merangkul bahu Miranda.


Spontan wanita itu dalam lirikan sensitif kepada Rangga.


"Hehehe, tangan kanan aku serasa pegal nih!" Kata Rangga dengan wajah cengengesan.


"Kebiasaan si kecoa gosong ini, ia suka merangkul di depan umum, orang-orang akan berpikir aku terus menggodanya!" Batin kesal Miranda.


Sang sopir Atir dan kepala pelayan Iroh ikut mendampingi majikan mereka, sore itu Rangga kembali membawa putrinya jalan-jalan, sekaligus ingin melamar Miranda di tempat yang lebih spesial.


...


Suasana Pantai sore menjelang malam, Angin kencang berhembus menyapu wajah Vino yang sedang rebahan di bangku tiduran pantai tertutupi payung lebar.


Tidak berapa lama Sania datang membawa cemilan dan minuman satu plastik besar, ia menunjukkan bungkusan itu tepat di atas mata Vino yang sedang rebahan.


"Tuan, lihat, Sania bawa apa? Semua ini tidak perlu di bayar, aku beli spesial untuk kita?"


Vino bangkit dari rebahannya dan memperhatikan Sania yang sudah berganti pakaian pantai. Rambutnya tergerai indah. terlihat cantik dan sexy. Kemolekan tubuh yang selama ini ia sembunyikan dengan pakaian besar dan jubah putihnya.


"Kau beli minuman sebanyak ini?"


(Sejenis minuman kaleng yang dapat memabukkan)


Sania hanya mengangguk manis.


"Untuk apa? Apa ini minuman favorit kamu?" tanya Vino dalam wajah tidak habis pikir.


"Aku belum pernah coba, tapi kata teman-teman ku, jika sudah minum ini, semua masalah bisa hilang!"


"Hah, bercanda lu, enggak lucu!"


"Kalau tidak biasa jangan di minum!" Vino bergegas membuang minuman kaleng itu.


"Eeeeeh, Jangan?" Sania menepis tangan Vino.


"Aku ingin melupakan pria itu dengan minuman ini dan ingin happy malam ini? Tolong temani aku!" Bujuk Sania dalam tatapan kesedihan.


"Heh (tawa sinis Vino) apa kau sedang menggodaku, berani bayar berapa?"


"Hatiku sakit sekali, aku ingin menghibur diriku yang malang ini, cinta yang tidak pernah berpihak," ucap polos Sania.


"Sania, masih banyak pria yang lebih baik dari dia yang lebih layak kamu cintai, lagian kamu itu seorang perempuan, harusnya dicintai bukan mencintai. Jadi mulai hari ini, carilah pria yang benar-benar tulus mencintai kamu?"


"Pokoknya aku ingin minum!" Sania langsung membuka dan meneguk minuman itu, kemudian terlihat wajahnya tidak biasa meneguk minuman beralkohol, membuat Vino merasa khawatir.


"Ya sudah satu kaleng saja!" Kata Vino.


"Enggak!" Sania merampas kembali semua minuman itu lalu berlari ke arah pantai bersikap mengejek Vino.


"Es Vinoooo, ambil kalau bisa! Hahahaha!" Sania bertingkah konyol sambil menjulurkan lidahnya mengejek Vino.


"Hais, kumat lagi gilanya, tapi lumayan panjang juga lidahnya!" kata Vino yang masih sempat-sempatnya memperhatikan lidah Sania.


Vino terpancing, bangkit mengejar Sania yang terlihat sexy menggoda.


"Hahahaha!" tawa Sania kegirangan, keduanya berlarian di bibir pantai dengan girang.


Tidak bisa di pungkiri selama ada Sania, Vino sudah jarang jalan dengan para penggemarnya (wanita) ia lebih sering mengajak Sania nongkrong, belanja keperluan rumah dan memerintah hal-hal yang tidak penting kepada wanita itu, diam-diam Vino tampak terhibur sejak Dokter muda itu menjadi tahanannya.


"Sania kamu jangan gila!" wanita itu tiba-tiba melorotkan sedikit celana pendek yang di pakai oleh Vino. kejahilan mereka hampir sama.


"Ahahahahaha!" tawa Sania kegirangan. Ia terus meneguk minuman kaleng yang ia bawa.


Keduanya terus berlarian seru dan akhirnya Vino berhasil merebut bungkusan minuman kaleng milik Sania.


"Hei!" teriak Sania menegur Vino, rambutnya diterpa angin pantai.


"Ambil kalau bisa!" kata Vino menyembunyikan minuman itu di bawah kursi.


Raut wajah cemberut Sania menghadap ke arah pantai.


Tiba-tiba Vino mendorong dan mengangkat kuat Sania dari belakang lalu membawanya masuk kedalam pantai tenggelam bersama.


Fenomenal so sweet and full romatic.


Sania terkejut hebat dan serasa tidak bisa bernafas. Vino kembali memunculkan Sania ke udara yang masih dalam gendongannya.


"Vinooooooooooooo!" jerit Sania menjambak rambut lelaki itu. Ia tidak perduli jika statusnya masih menjadi tahanan.


Pemuda itu hanya tertawa-tawa dengan mulut lebarnya.


"Aku tidak bisa berenang di lautan lepas seperti ini!" rengek ketakutan Sania menggenggam kuat tubuh Vino.


keduanya sempat berpandangan manis dalam suasana basah-basahan


"Ayo bawa aku ke daratan!" kata Sania meronta-ronta dalam gendongan Vino.


Terlihat fotografer pribadi mengambil momen keduanya.


"Baiklah, begitu saja kau takut!"


Vino mengeluarkan Sania dari air, keduanya tampak basah kuyup lalu tergeletak bahagia di pasir pantai yang halus sambil menatap langit senja berwarna jingga.


***


Lokasi Keberadaan Rangga dan Miranda.


"Mau makan apa Bun?" tanya sweet Rangga.


"Bun itu apa?" raut wajah jutek Miranda membuat dahinya tertekuk.


"Bun itu yah Buntalan lah?" ucap Rangga sambil tertawa-tawa bahagia.


Spontan Miranda menendang kaki Rangga.


"Aw!" jerit Rangga.


"Syukuri" batin Miranda ia begitu benci melihat Rangga.


"Haduh, Sekarang main fisik aja yah, sensitif banget!" kata Rangga membuat Iroh tersenyum-senyum sendiri.