MIRANDA

MIRANDA
Part 54-MRD



Rangga dan Miranda keluar dari kamar mandi dengan wajah-wajah segar berseri. Rentan usia mereka yang masih berapi-api dalam bercinta.


***


(Ilustrasi)


"U...U...Ui...😍 segarnya!" ucap Otong yang sudah terlihat keramasan.


***


Pasangan bahagia itu mulai berpakaian masing-masing. Di depan cermin besar, Miranda memakaikan dasi Rangga dengan rapi diiringi senyumnya yang manis. Spontan Rangga membalas senyuman itu. Miranda memberanikan diri menjinjitkan kakinya dan menarik pipi Rangga lalu mencium tipis bibir sang suami. Sebuah ciuman yang datang dari lubuk hati yang dalam, cintanya yang tulus.


"Terima kasih, jika aku masih ada di ruang hatimu!" kata Miranda membuat Rangga tidak berkutik.


"Aku bisa apa soal cinta ini!" Jawab Rangga.


"Maafkan aku yang pernah menyakiti hatimu!"


"Miranda. Aku tidak pernah menuntut mu menjadi wanita karir yang hebat dan terpandang. Cukup kau setia melayani keluarga dengan sepenuh hati, menjadi istri yang penurut, selalu ada untukku meski dalam kondisi apapun, itu sudah merupakan perjuangan yang hebat bagiku. Jika kau sudah bosan atau tidak ingin mencintaiku lagi, katakan saja, karena itu lebih baik daripada kau mengkhianati ku."


Miranda tertunduk.


Rangga menarik pipi Miranda.


"Aku juga minta maaf, Aku mengerti jika diriku juga salah, karena masalalu yang gagal membahagiakan kamu. Sebab itu lah, masih ada ruang di hatiku untuk menerima mu kembali. Hari ini kita mulai lagi dari awal. Apapun yang kau inginkan pasti akan aku penuhi, seperti janji ku dulu!"


Miranda tersenyum bahagia dan langsung memeluk sang suami.


"Terima kasih Mas!"


"Apa aku perlu membangun supermarket di depan rumah, agar kamu bisa jajan setiap detik atau memanggil tukang martabak tinggal di rumah kita?"


"Hahahaha!" Miranda tertawa lucu.


"Bukan itu yang aku inginkan dari kamu Mas," Miranda mengukir lambang hati dengan dua ujung telunjuknya di dada Rangga.


Dalam mata berkaca-kaca Miranda menatap fokus dua bola mata Rangga.


"Bolehkan aku minta hati dan cintamu sepenuhnya untuk ku, walaupun itu terlihat tidak pantas karena kita sudah berbeda kasta dan kamu juga punya banyak pacar di luar sana atau aku yang salah, telah merebut mu dari kak Tasya!"


Mendengar itu Rangga hanya tersenyum.


"Boleh-boleh saja sayang, tapi kau harus tau, hati yang sudah pernah terluka, masih akan tetap membekas dan jangan sampai tergores kembali!"


"Mungkin aku pernah meninggalkanmu Mas! dan memilih Damar, tapi percayalah, aku terpaksa menikahi pria itu dan tidak pernah mencintainya, hanya ada airmata penyesalan karena sudah meninggalkan dirimu," Miranda dengan raut wajah sedih.


"Di kelilingi wanita itu sudah menjadi resiko kamu, karena punya suami yang tampan dan kaya!" Rangga mencubit puncak hidung Miranda dengan gemes.


Tiba-tiba Miranda merasa sempoyongan sampai hampir terjatuh.


"Ada apa?" Kata Rangga menangkap tubuh Miranda.


"Aku sedikit pusing, mungkin kelelahan melayani kuda jantan!"


"Hahahaha!" tawa lucu Rangga.


"Mungkin karena belum sarapan!" Rangga mengangkat istrinya itu penuh Semangat menuju meja makan.


"Mas jangan, Ayo turunkan, Mira masih bisa berjalan sendiri, malu di lihat pelayan."


"Kenapa harus malu, rumah ini milik kita kan? Mereka hanya menumpang disini!"


((Apalagi yang baca🤪))


Rangga tidak perduli terus menggendong istrinya itu menuju meja makan.


"Iyah Tapi...!"


Para pelayan merasa terkejut melihat tingkah majikannya yang sedang di mabuk cinta itu. Merasa malu, Miranda sampai menyembunyikan wajahnya.


***


"Wah bahagia banget yah jadi Nona Miranda (NoMir)! Perasaan dulu Nona Tasya tidak pernah mendapatkan perlakuan manja seperti dari Tuan Rangga.


"Eh, kalian tau tidak jika si NoMir itu adalah istri pertama dari Tuan Rangga sebelum kaya."


"Hah😱 kok bisa!"


"Denger-denger nih yah! NoMir itu meninggalkan Tuan Rangga dengan alasan tidak mampu menafkahinya, lalu menikah lagi dengan laki-laki lain, Tapi sayang dia tidak bahagia dengan suami kedua!"


"Waaaa! Pantes Nona Intan sangat membenci NoMir, tapi kenapa yah Tuan Rangga masih menerimanya kembali!"


"Iyaaaa, semua demi cinta, Tuan Rangga sepertinya sangat mencintai NoMir!"


"Tapi si NoMir hebat juga yah! Bisa menaklukkan Tuan Rangga yang tidak pernah serius dengan wanita manapun, bahkan dengan Nona Tasya."


"Main pelet kali!"


"Hus!"


"Hoiii...Gibah saja kalian?" Hentak Iroh yang samar-samar mendengar percakapan mereka.


"I...Iyah Bu!"


"Heh, jika percakapan kalian di dengar oleh Tuan Rangga, kalian semua bisa di pecat.


"Ma...maaf...Bu...!"


"Ayo...ayo...ayo..." ucap mereka membubarkan diri masing-masing.


***


"Mari kita makan!"


"Tuh kan, pakaian Mas jadi kusut lagi!"


"Enggak apa-apa sayang!"


Miranda berusaha mengambilkan makan suaminya.


"Sudah, biar aku ambil sendiri."


Justru Rangga yang mengambilkan makan istrinya. Lalu menyuapi Miranda.


"A' "


Miranda menerima suapan Rangga.


"Sudah Mas, Mira bisa makan sendiri kok!"


"Ayo makan lagi!" Kata Rangga kembali menyodorkan suapan.


"Miranda makan sendiri saja yah, Mas! Malu ☺️di suapi begini."


"Hahaha kenapa malu?"


"Malu aja!"


"Yah sudah, yang penting kamu harus banyak makan dan minum vitamin yah! Bangun malam itu tentu melelahkan!" kata Rangga mengelus lembut rambut halus Miranda.


Miranda mengangguk dengan senyumannya.


Setelah sarapan.


"Aku pergi dulu yang sayang!"


"Hati-hati yah Mas!"


"Em!"


"Maksudnya hati-hati dari serangan para wanita nakal!"


"Hahahaha, cemburu yah!"


Miranda mengangguk manja.


"Yang cantik memang banyak, tapi cari yang jelek, imut dan baik seperti kamu langka!" ledek Rangga membuat Miranda salah tingkah reflek menjewer kecil telinga Rangga, dalam suasana canda mesra keduanya.


Miranda mengantarkan Rangga menuju mobilnya.


"Hari ini tidak ada jadwal kuliah kan?"


"Tidak Mas?"


"Aku usahakan cepat pulang!" kata Rangga masuk ke dalam mobil.


"Iyah Mas!"


"Nona Mira?"


"Pak Atir?" Miranda terkejut dengan kemunculan supir Tasya dan Rangga dulu.


"Apa kabar Non?"


"Baik, Alhamdulillah Bapak bisa bekerja lagi!


"Iyah Non! Bapak senang sekali, pergi dulu yah Non!"


"Iyah Pak!"


Miranda masih berdiri menatap kepergian mobil sang suami.


"Aku tidak akan pernah mampu menggenggam Rangga, tapi aku juga tidak bisa melewatkan cinta dan cumbuannya!"


Wanita itu kembali melangkah menuju kamar Olivia.


"Kiandra?" panggil Mira.


Melihat suasana kamar begitu sepi!"


"Kemana dia? Olivia juga tidak ada? Apa ia sedang memandikan Olivia?"


Tiba-tiba ponsel Kiandra berbunyi keras di atas meja, Miranda reflek langsung melihatnya.


"Tante Jane??" gumamnya terus memperhatikan layar ponsel Kiandra tanpa foto background.


Pikiran Miranda langsung tertuju kepada istri Rusdy Hamzah alias Nenek tiri Olivia.


"Apakah itu panggilan dari Tante Jane? Lalu apa hubungannya dengan Kiandra? Atau Tante Jane yang lain??? Tentu saja nama Jane bukan hanya satu di dunia ini kan!" batinnya meyakinkan diri.


Ponsel itu terus berdering. Miranda tampak gelisah.


"Atau untuk memastikannya aku terima saja!" Batin Miranda sampai tangannya bergetar ingin menyentuh ponsel Kiandra.


"Halo!"


****


Jangan lupa Like terus dan dukung novel MIRANDA yah! Dengan memberikan vote dan GIFTNYA yang banyak 🙏🙏 sudah membantu author lebih percaya diri dalam menulis novel recehan ini🙏