MIRANDA

MIRANDA
Part 71-MRD



Rangga berlari kencang hingga hampir menubruki para calon penumpang yang berjalan, ia begitu berjuang berusaha menerobos masuk mendapati ruang tunggu area Bandara, Sementara pesawat yang di tumpangi Miranda akan segera take off meninggalkan lapangan. Sudah terdengar jelas suara awak kabin yang merdu sedang mengumumkan pesawat akan segera terbang.


"Hah...Huh...Hah!" suara terengah-engah Rangga dengan keringat yang menetes berjatuhan dari dahinya.


Rangga berusaha bertanya tentang status penerbangan XX kepada para staf disana.


"Maaf Mas, baru saja take off!" Jawab mereka.


Rangga terduduk lemas dengan keringat yang membasahi kemeja putihnya.


"Mengapa Vino tidak mengatakannya kepadaku jika Miranda akan pulang? Dasar anak itu (Rangga mengepal kuat tangannya pertanda kesal, tetapi tetap saja ia tidak berani protes dengan Vino) apa dia benar-benar serius dengan Miranda!"


"Aah!" Lelaki itu bersandar lesu melepas lelah di bangku ruang tunggu.


***


Terlihat Vino Febian sudah memasuki kantor RM Group.


"Maaf Pak! Meeting hari ini mengalami jadwal pengunduran, sampai pukul 15.00 sore hari!" ucap Lukas.


"Saya hanya telat 10 menit saja, mengapa harus di undur?" kata Vino.


"Hem!" Lukas terlihat gelisah, karena Rangga berpesan agar kepergiannya ke Bandara tidak ada yang boleh tau.


Vino melenggang berjalan memasuki ruang Rangga.


"Dimana Dia?"


Lukas mulai kebingungan menjawab pertanyaan Vino.


"Pak Rangga sedang keluar sebentar, katanya ada urusan sedikit Pak!"


"Ouh begitu!


Pasti ia ingin mengejar pesawat Miranda?" gumam Vino merasa lucu.


***


Sesampai di kantor.


"Vinoooou!" Teriak Rangga dengan raut wajah yang sangat marah.


Teman akrab yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu terlihat tiduran dengan santai menutup wajahnya dengan sebuah buku di ruang sofa milik Rangga.


Rangga menjatuhkan buku yang menutupi wajah Vino. Lalu menendang sofa hingga bergetar.


"Kenapa kau tidak mengatakan jika Miranda segera pulang?"


"Bukan urusan elu kan?" kata Vino bangkit.


Rangga hanya diam saja menahan amarahnya.


"Vino jangan pernah permainkan Miranda!" hentak Rangga.


"Siapa yang ingin mempermainkannya? Justru ia sudah mengakui dan merasa sangat nyaman bersama ku?"


"Apah?"😳 batin Rangga yang membuat ia semakin tidak berkutik.


"Sebaiknya meeting hari ini dibatalkan saja, sore hari aku masih ada urusan!" Kata Vino meninggalkan ruang Rangga dengan santai.


***


Hari-hari terus berlalu.


Kehidupan Rangga yang mulai hampa meski di kelilingi banyak teman wanita bisnisnya. Pikirannya masih saja memikirkan tentang Miranda yang sudah hampir satu minggu menetap di desa Semangi.


"Apa ia tidak berminat lagi balik ke Jakarta, Bagaimana dengan kuliahnya?" Batin Rangga.


Rangga harus menjalani hari-hari yang begitu bosan dan terasa penat sampai rambut dan kumis serta jenggotnya mulai tumbuh bermekaran. Namun karena harta dan kemewahan yang ia miliki tetap saja, Rangga masih menjadi incaran manis para wanita-wanita cantik dan menggoda.


Olivia juga terlihat tidak montok lagi, mudah sakit dan sangat rewel sehingga menambah rasa stres Rangga di dalam rumah.


📱📱


"Apa ibu bisa bujuk kembali Miranda untuk merawat Olivia?" Kata Rangga melawan rasa Gengsinya.


"Huuuft, ibu tidak paham dengan hubungan kalian, ibu sangat kecewa dengan kamu, membujuk Miranda apa hanya untuk sekedar merawat Olivia atau ingin kamu nikahi lagi dan nanti kau cerai kan lagi?" Tanya Rianti yang begitu sudah jenuh menghadapi hubungan putranya dengan gadis asal desa Semangi itu.


Rangga sejenak terdiam.


"Aku sangat tidak percaya dengan sistem kerja Babysitter tanpa pengawasan yang bisa di percaya dan sampai saat ini aku belum bisa menemukan pengganti Miranda atau memang tidak ingin mengambil resiko lagi!"


Rianti hanya diam saja.


"Bu, tolong Rangga!"


"Baiklah, ibu akan mencoba membujuk Miranda kembali, tapi berjanjilah, tidak akan menikahinya lagi, ibu malu nak! Maluuuu sekali dengan ibu narwati, ibu sampai tidak ingin bertemu dengan keluarganya, mungkin Miranda itu tidak berharga di mata kamu, tapi ia sangat berharga di mata keluarganya. Apa lagi saat ini kau sudah memiliki anak perempuan, bayangkan jika dewasa nanti, Olivia mendapatkan suami seperti kamu yang sama sekali tidak menghargainya?"


"Tidak seperti itu juga Bu, tapi yah sudahlah, semua ini memang salahku, tetap aku lah yang salah, tidak ada satu orang bisa mengerti dengan apa yang pernah ku rasakan!" jawab Rangga dalam nada beratnya.


"Jika pun ada permasalahan dalam rumah tangga, bercerai bukanlah solusinya, Rangga. Dari dulu kamu selalu saja mengekang Miranda. Ibu tau kau sangat mencintainya. Cinta itu boleh nak, tapi jangan sampai keterlaluan, berikan ia kepercayaan. Ibu tau betul seperti apa Miranda! Dia itu gadis yang sangat baik dan polos, pikirannya tidak pernah berniat kotor, selalu tulus jika berbuat kebaikan, hanya saja nasib yang selalu membawa ia dalam kesulitan!"


"Iyah Bu!"


"Ibu harap kau menikah dengan perempuan lain saja, jangan bujuk ibu untuk melamarnya lagi!"


Rangga hanya bisa terdiam, tidak bisa membantah dan mereka pun mengakhiri percakapan.


***


Selama di desa, Miranda begitu bahagia, ia berkunjung ke sawah, ladang dan peternakan lainnya menikmati indahnya suasana pedesaan sambil melepas penat yang sudah terlalu dalam. Miranda juga tidak ingin memikirkan segala komentar orang desa terhadap dirinya.


Narwati hanya memandang sedih putrinya itu yang sedang bercengkrama indah dengan para bocil di desa juga bersama keponakannya. Rambut halusnya tergerai indah diterpa angin, senyum indah terus terpancar di wajah manis Miranda.


"Ya Allah berikanlah anakku jodoh yang terbaik!" batin kecil Narwati yang ikut sedih melihat nasib anaknya.


Selama di desa Narwati dan Rahmat tidak pernah menyinggung tentang masalah yang sedang menimpa Miranda, Narwati takut sang putri depresi seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya.


Keluarga Miranda hanya bisa menyambutnya dengan suka cita, Miranda banyak cerita tentang pengalamannya selama di Kuala lumpur dan juga suasana kuliahnya.


Mereka terlihat tertawa, bercanda bersama.


"Oh Iyah Bu, rumah kita sudah bagus? tabungan ibu juga masih ada, apa Mas Rahmat yang bangun?"


"kemarin Rangga dan Tasya yang membangunkan rumah kita sebagai ucapan terima kasih mereka karena kau bersedia mengurus Olivia dan Rahmat sebagai asisten Bapak Kasiman!"


"Jadi rencana itu memang benar di laksanakan oleh kak Tasya?" batin Miranda.


"Ouh, kok ibu baru bilang sekarang!"


"Takutnya nanti kamu marah! Karena membangun rumah ini, semuanya memakai uang milik Rangga."


"Enggak marah kok Bu!"


"Assalamualaikum!"


Tiba-tiba suara Rianti dan Kasiman datang mengejutkan Miranda dan Narwati.


"Wa'alakumsalam!" keduanya merasa tidak percaya dengan kedatangan keluarga Rangga.


"Silahkan masuk Bu!" sapa Narwati tetap ramah. Miranda hanya terlihat menunduk dan ia segera membuatkan minum.


"Apa Bapak dan Ibu perlu dengan Rahmat?"


"Ouh Tidak Bu! Emmm, kami ingin bicara santai dengan Miranda sekaligus mengabari kedatangannya!"


"Maaf yah Bu, Mira belum sempat datang ke rumah!" kata Narwati.


"Tidak apa-apa!"