MIRANDA

MIRANDA
Part 24-MRD



Tasya bersikeras ingin melangsungkan pernikahan Rangga dan Miranda. Akhirnya Rangga setuju menikah dengan Miranda demi memenuhi permintaan terakhir Tasya juga demi ibu calon anak mereka yang besok akan segera lahiran melalui sesar.


Rangga meminta persyaratan kepada Tasya yang wajib di setujui oleh Miranda;


Pernikahannya dengan Miranda hanya sebatas formalitas atau nikah secara siri yang tidak sah secara hukum.


Rangga tidak wajib mengakui Miranda sebagai istri di depan umum atau di dunia aliansi bisnisnya.


Miranda tidak berhak atas hartanya dan harta istrinya kecuali hanya sebuah pemberian.


Miranda harus siap menerima kapanpun Rangga ingin menceraikannya dan menikah dengan wanita lain.


Rangga begitu tidak adil kepada Miranda akibat rasa sakit hatinya yang belum bisa ia lupakan, juga prasangka buruk dengan niat tulus Miranda menolong Tasya. Suasana hati Rangga masih dalam suasana cinta di balut dalam kebencian.


***


"Tasya! Apa kamu yakin menyuruh Rangga menikah dengan Miranda, apa kau rela!" tanya Triana merasa tidak percaya.


"Memangnya aku bisa apa, An?"


"Aku sudah katakan kamu jangan hamil!"


"Hamil ataupun tidak! Penyakit ini tetap akan menyerang ku, aku butuh keturunan sebagai penerus hartaku juga harta ibuku, aku tidak rela jika hartaku jatuh ke tangan ayah dan ibu tiri ku atau orang-orang yang tidak berhak!"


"Apa kau yakin dengan Miranda? Bisa memikul amanah ini!"


"Entah mengapa justru kepercayaan ku lebih besar kepada Miranda dari pada Rangga!


Poligami ini sangat berat aku rasakan, jujur aku tidak ingin semua ini terjadi. Tapi aku tidak punya pilihan lain dan ini menjadi jalan terbaik. Aku juga tidak ingin suamiku jatuh ke tangan Wanita-wanita yang hanya ingin menghancurkannya saja, Miranda jauh lebih baik. Ia sangat polos, hatinya sebenarnya sangat tulus. Hanya nasibnya saja yang kurang beruntung.


Terima kasih atas semua bantuan kamu, An! Aku sangat bahagia di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangi ku!" ucap Tasya memeluk temannya itu.


"Hiks...hiks...kau hebat sekali Tasya! Aku belum tentu bisa seperti kamu," peluk Triana merasa haru dengan kisah pernikahan Tasya.


***


Saat Mira bertemu dengan Rianti dan Kasiman, wanita itu langsung berlutut minta maaf.


"Kami sudah memaafkan kamu Mira!" ucap Rianti memegang lembut kepala Miranda.


"Lupakan semuanya. Takdir telah mempersatukan kita kembali!" Kata Kasiman.


"Bu, Pak! Tolong hentikan pernikahan ini, Mira tidak menginginkannya, Mira sudah tidak pantas lagi menjadi istri mas Rangga Bu."


"Mira...Mira, kau masih saja berdalih, akting mu itu sangat memukau. kenapa dengan pernikahanmu yang kemarin, apa kau merasa tidak bahagia juga? Atau kau begitu panik saat adik ku sudah sangat mapan seperti ini. Lalu kau sengaja datang untuk kembali lagi kepadanya dengan memaksakan diri berbuat baik kepada Tasya, kasihan Rangga!"


"Intan, jangan berprasangka buruk seperti itu!" Tegur Rianti.


"Intan hanya takut Bu, wanita ini akan menjadi penghancur karir dan hidup Rangga lagi!"


"Kak Intan, Mira tidak ingin menikah dengan Rangga!"


"Alasan, ini lah sebenarnya tujuan kamu! Dengar yah Mira, sampai kapan pun aku tidak sudi punya adik ipar seperti kamu dan kau tidak pantas untuk adikku, kau tidak bisa di samakan dengan Tasya. Kau tidak pernah tau seperti apa sakit dan hancurnya Rangga setelah kau buang, ia tidak hanya lelah berkerja tapi terus mendapatkan hinaan kasar dari orang-orang desa!" Hentak Intan menunjukkan tegas ke arah wajah Miranda.


"Sudah intan!"


Intan langsung membais pergi meninggalkan mereka.


***


Sementara Vino masih di luar Negeri dengan segudang pekerjaan.


Hanya saksi, wali dan kedua orang tua mereka yang boleh hadir di acara akad pernikahan intim itu.


Narwati tidak hadir. Pernikahan itu hanya di wakilkan oleh Agus dan Rahmat yaitu paman dan Kakaknya. Narwati cukup senang putrinya bisa menikah kembali dengan Rangga meskipun harus menjadi istri kedua.


"Mas, tolong jangan beritahu kepada ibu tentang syarat pernikahan ini, aku tidak ingin ia kepikiran!" kata Miranda kepada Kakaknya, Rahmat.


"Maafkan Mas yh dik! Tidak bisa membantu kamu, sabarlah, jangan sia-siakan kuliahmu!"


"Iyah Mas!" Angguk Miranda dengan wajah sendu kesedihan.


***


"Rangga mengapa kamu mengajukan syarat pernikahan yang tidak adil kepada Miranda!" protes Rianti.


"Perempuan murahan itu pantas mendapatkannya, Bu!" ucap santai Rangga kepada ibunya.


"Dengar baik-baik Rangga, ibu tidak membela Miranda, tapi kau harus tau, jika Miranda tidak menggugat cerai dirimu saat itu. Kita sudah tinggal di kolong jembatan atau di kaki gunung, karena jujur keuangan ayahmu saat itu sangat kritis. Kau juga tidak akan sukses jika Miranda tidak menceraikan mu. Kau akan terus terlena dengan sifat santai mu.


Ibu tau, kau memang bekerja saat itu tetapi tidak sekeras saat Miranda sudah menceraikan mu, demi ingin membalas rasa sakit hatimu, kau berjuang keras untuk berhasil. Bagaimana pun, kau harus ingat, miranda pernah menemani masa kesulitan mu, sedangkan Tasya hanya ada saat kau akan tiba di puncak.


Kau juga sudah menjatuhkan talak tiga kepadanya, sangat wajar jika ia menikah lagi. Hanya saja nasibnya tidak beruntung. Karina memaksanya agar menikah dengan Damar. Karina juga mengancam Mira jika tidak menerima lamaran Damar, ia tidak akan memberi kebutuhan sembako lagi kepada Narwati. Harusnya kau berterima kasih kepada Miranda, ia juga pernah merawat ibu saat sakit, jika bukan Miranda tentu kau sudah tidak memiliki ibu lagi, Miranda juga yang akan mengasuh anak mu kelak, setidaknya kau bisa bersikap sedikit adil kepadanya?"


Omelan panjang lebar Rianti menjelaskan jasa baik serta kehidupan Miranda setelah bercerai dengan Rangga. Hingga membuat pria itu sedikit tertegun namun Rangga masih di balut rasa ego yang tinggi.


"Persyaratan itu hanya untuk jaga-jaga saja, Bu! Siapa tau dia ingin menikah dengan laki-laki lain lagi!" Ucapnya pergi meninggalkan ibunya.


Rianti hanya geleng-geleng kepala.


***


Setelah semua pengurusan akad selesai akhirnya momen ijab Qabul yang pernah diucapkan oleh Rangga sebentar lagi akan segera terulang kembali di sebuah Mesjid.


Kebaya putih yang halus, rok batik serta hijab yang menutupi rambut Miranda dan make up sempurna menyulap penampilan Miranda layaknya Bidadari yang sangat cantik turun dari langit.


Tasya hanya tergelatak lemah di atas kasur. Ia sudah tau usianya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi, meski semua alat medis sudah di kerahkan oleh Rangga. Tetap tidak bisa menyelamatkan sang istri.


"Kakak!" Miranda memegang erat tangan Tasya yang lemah.


"Kamu cantik sekali adik ku, aku sangat iri kepada kamu!"


keduanya langsung meneteskan airmata.


"Kak aku tidak ingin menikah, aku takut menjalani pernikahan, semua orang menyalahkan ku!" ucap Mira dengan airmata yang menetes.


"Tapi kakak tidak, kakak masih mendukung dan percaya kepadamu, jangan menangis nanti polesan make up kamu terhapus!" ucap lemah Tasya.


"Kak, Mas Rangga sangat membenci ku!"


"Pergilah Mira! Aku bilang pergi, semua orang sudah menunggu kamu!" Tasya langsung membuang wajahnya.


***


"Kebencian Rangga terhadap Miranda hanya di mulutnya saja, tidak sampai ke hatinya!" batin Tasya.


***