
"Alhamdulillah, akhirnya kak Tasya Kembali sadar!" ucap Miranda bersyukur.
"Kak Tasya!" seru Miranda mendapati kasur Tasya. Kondisi wajah wanita itu tidak secantik sehebat dulu lagi.
"Mira!" Panggil Tasya dengan nada lemah.
"Kak! Bertahan lah! Mira senang sekali kakak sudah kembali lagi."
"Dimana Rangga?"
"Di...dia sedang di jalan menuju ke rumah sakit, tadinya sudah berangkat ke kantor!"
Rangga yang sudah setengah perjalanan menuju ke kantor terpaksa putar balik. Setelah dr Triana memberi kabar istrinya sudah bangun dari koma.
Segenap tim Dokter berkumpul disana dan mulai memeriksa kondisi Tasya. Namun terlihat wajah-wajah pesimis mereka.
"Sepertinya ia harus tetap di sini, belum bisa di pindahkan, kondisinya masih belum stabil?" ucap para Dokter.
Setelah Tim Dokter membuka sebagian alat-alat medis yang melekat di tubuh Tasya, mereka pun pergi meninggal Miranda bersama Tasya.
"Apa kakak ingin melihat Olivia?"
Tasya menggeleng pertanda tidak.
"Kenapa?"
"Aku tidak sanggup, aku hanya ingin tegaskan sekali lagi kepada kamu, Tolong jaga Olivia sama seperti kau mengasuh anakmu kelak, jangan bedakan ia dengan anak-anakmu nanti, aku ingin Olivia bisa merasakan seperti apa indahnya kasih sayang ibu seutuhnya. Apapun yang terjadi Mira, aku mohon jangan tinggalkan anakku.
Aku sudah mengutus sekretaris ku dalam bantuan Vino untuk mewariskan semua hartaku kepada Olivia, juga pemberian untukmu sebgai ibu pengasuhnya."
"Kenapa kakak bicara seperti itu!"
"Jika kau tidak amanah, aku juga sudah siapkan kuasa hukum untuk menuntut mu!"
"Kak! Percayalah kau akan baik-baik saja, akan bisa berkumpul lagi bersama Olivia serta Mas Rangga.
"Aku bukan orang yang baik Mira, aku hanya manusia yang terhukum dengan kesalahan ku, aku pernah membunuh anak ku sendiri, aku Juga pernah menyia-nyiakan pria yang sangat mencintaiku, tapi semua itu ku lakukan karena Ayah yang tidak pernah perhatian kepada ku, tekanan pikiran, batin, serta beban hidupku yang menuntut ku tidak boleh meninggalkan karirku.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan kak! Apa kakak masih mengingat pria bernama Juno!"
Pandangan bersalah Tasya jauh memandang ke depan sambil berkata di hati kecilnya.
"Pada akhirnya Rangga juga tidak bisa mencintai seperti apa Juno pernah memberikannya kepadaku!"
Tasya hanya tersenyum.
"Aku ingin minta maaf kepada semua orang yang tersakiti, takdir ini sungguh menyiksaku!"
"Kak! Mas Rangga akan memberikan pengobatan terbaik untuk kakak! Percayalah kakak akan sembuh!" Miranda berusaha menguatkan.
Tasya hanya tersenyum dengan matanya yang sayu, ia merasa ucapan Miranda hanyalah sebuah iming-iming kebahagiaan yang tidak akan pernah terjadi lagi sambil terus menatap Miranda.
Jika aku boleh meminta, aku ingin sekali rengkarnasi di dalam tubuh dan kehidupan yang lain, merasakan seperti apa indahnya saling mencintai.
"Kakak!" Terlihat mata Miranda mulai berkaca-kaca.
"Apa kalian sudah malam pertama?"
"A...aku...ti..tidak bermaksud!" Mira mulai gugup.
"Tidak mungkin Rangga melewatkannya, menikahi ku hanya sebuah balas Budi dan rasa kasihan, persis sebuah perasaan yang pernah ku rasakan saat bersama Juno dan aku baru mengerti apa yang dulu Juno katakan "cinta adalah sebuah pengorbanan bukan tuntutan, walau tidak berbalas!"
Tasya hanya tersenyum, menatap Miranda.
"Maaf kak, Aku terpaksa melakukannya, aku juga tidak begitu menikmatinya!" ucap Mira begitu malu.
"Masalah menikmati atau tidak, hanya kalian yang tau, kau tidak perlu meminta maaf, kau juga istrinya!"
Terlihat Rangga berlari sangat kencang menuju ruangan Tasya, dengan nafas terengah-engah, pria itu sudah berdiri di depan pintu.
"Tasya!" Panggil Rangga.
"Mas Rangga sudah datang kak!" ucap Mira.
Dengan langkah yang cepat, Rangga datang menghampiri Tasya dan langsung mencium dahi dan tangan Tasya.
"Syukurlah kau sudah sadar, sayang! Aku bahagia sekali!"
Tasya tersenyum bahagia.
Miranda memandangi kemesraan keduanya. Terselip rasa tidak nyaman di hati wanita itu. Namun ia menepisnya.
"Aku keluar dulu kak!"
"Ah, kakak bicara apa, dia suami kakak!" ucap Mira langsung pergi.
Wanita itu pun keluar dan duduk sendiri.
***
Dua hari berlalu, hari yang terasa begitu panjang. Penuh cerita bak drama serial yang semakin memanas, terungkap sudah tujuan sosok Sania Lauren kepada Rangga dan Tasya. Tasya memaklumi semua perlakuan Sania terhadap dirinya akibat rasa sakit hati yang dalam dan ia tidak marah.
"Tolong, izinkan anak ku hidup! Aku mohon!
Berbesar hatilah untuk memaafkan diriku, aku berjanji akan memberikan pengobatan kepada ayahmu Sania?
Tanpa kau harus marah dan balas dendam kepada ku, aku sudah cukup menderita!"
ucap Tasya memohon dengan bibir bergetar penuh penyesalan.
Sania hanya diam terpaku tanpa mengeluarkan satu kata pun kecuali air mata.
Vino dan Rangga membawa wanita itu keluar.
"Katakan siapa orang yang menyuruh mu?" introgasi Rangga dengan mata yang tajam kepada Sania.
Vino menarik baju Rangga.
"Hei, Santai Bro! Soal ini serahkan saja kepada ku!" ucap Vino melindungi wanita yang ia beri nama Miranda.
"Penjarakan saja dia jika memang salah!" kata Rangga.
"Tidak perlu, aku sudah tau siapa dalangnya! Lagian bukan salah dia, tetapi salah istri mu!" bisik Vino.
Rangga memukul kecil kepala Vino.
"Mengapa kau jadi melindungi perempuan ini!
Jangan bilang kau sudah menikmati Yupi milik nya!" bisik Rangga.
"Mana mungkin aku suka dengan perempuan seperti ini?" bantah Vino.
"Heh😏 seekor sapi pun jika dirias kau juga berminat!" ledek Rangga.
Vino kembali memukul kecil kepala Rangga. keduanya sempat dorong-dorongan kecil membuat Sania bingung dengan pembicaraan rahasia keduanya.
"Vino ini rumah sakit, bukan Markas milik nenekmu!" tegur Rangga.
"Apa Tasya tidak cerita soal ini?" Tanya Vino.
"Sudahlah tidak perlu di bahas, aku sudah tau, itu semua masa lalunya! Tapi aku terima dia apa adanya?"
"Aku yakin kau menikahinya karena merasa kasihan?"
"Itu bukan urusan kamu? Sebaiknya kau urus perempuan ini!"
"Aman!"
***
Dari keterangan Sania, terungkap Jane Anita adalah dalang semuanya, seorang pria telah menyelamatkan wanita itu pergi ke luar Negeri sehingga gagal di penjara.
Tasya masih bertahan dengan usianya. Rangga hanya fokus mengurus istri pertamanya itu dengan lembut. Ia terpaksa mengabaikan pekerjaan lagi.
Hari itu dimana Tasya ingin di manja dan di temani tidur oleh Rangga. Terlihat begitu lembut keduanya berbincang dan bercanda bersama, terselip hati kecil Miranda rasa cemburu yang terpendam sebagai istri kedua yang tidak pernah merasakan sikap seperti itu dari Rangga. Diam-diam Ia penasaran, merasa kepo ingin mengintai canda mesra keduanya hingga tanpa sengaja di sebuah kesempatan memberikan Miranda menguping pembicaraan Rangga dan Tasya;
"Bolehkah Aku mencintai kamu Mas, aku sudah jelek dan tidak menarik lagi, aku juga bukan wanita yang baik?" Kata Tasya.
"Kau selalu saja mengatakan itu, semua orang punya masa lalu dan kita hidup di masa depan! Aku menerima kamu apa adanya, menyayangi dan mencintai kamu, Tasya!"
"Terima kasih, aku yakin sekali dan aku percaya Mas itu menyayangiku sepenuh hati, tetapi aku tidak yakin Mas, jika kau benar-benar mencintai ku, karena cintamu hanyalah untuk Miranda!" ucap Tasya.
Rangga sempat terbengong, demi membesarkan hati istri pertamanya itu dengan tegas ia berkata
"Kau istri sah ku, tentu aku lebih mengutamakan kamu dan mencintaimu Tasya, Aku sama sekali tidak mencintai Miranda, kalau pun pernah itu sudah menjadi masa lalu. pernikahan kami demi untuk Olivia. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak, fokuslah pada pengobatan kamu, aku berharap kau tetap hidup, berjuanglah demi Olivia!" Kata Rangga, ucapan itu terdengar jelas di telinga Miranda.
Tiba-tiba seorang pengawal melewati kamar Tasya, takut ketahuan Miranda pun bergegas pergi dengan wajah lesu.
Tasya hanya tersenyum, ia tau ucapan itu hanya untuk menyenangkan dirinya.
"Tapi aku sudah tidak tahan lagi Mas! dan aku ingin bertemu dengan ayahku!"
permintaan Tasya dengan nafas dan gerakan jantung yang mulai menurun dari kondisi normal.