MIRANDA

MIRANDA
Part 44-MRD



Mendengar panggilan dari pria bernama Rusdy Hamzah, Miranda berhenti lalu memalingkan wajahnya.


Rusdy berjalan lambat menghampiri Miranda lalu memegang puncak kepalanya.


Wanita itu sempat terkejut😳.


"Wajah mu memang sangat mirip dengan putriku yang kedua, ia juga bernama Miranda. Saya senang sekali dengan nama itu, saya berpikir Tasya tidak akan meninggalkan ayahnya. Tapi lihatlah, sekarang ibunya telah berhasil membawa dua putrinya pergi. Sepertinya, mereka sudah sepakat meninggalkan ku sendiri. Sungguh sakit kehilangan mereka...hiks..hiks dan semua serasa sudah terlambat."


Miranda terus fokus menatap wajah Rusdy yang bergelimang airmata, sosok pria yang benar-benar menyesal akan sesuatu yang pernah ia tinggalkan.


"Jujur, sebelumnya saya ingin sekali bertemu dengan Tasya, tapi dia begitu sangat membenci Ayahnya, percuma menyesalinya semua telah terlambat.


Tasya telah memberikan amanah putrinya kepada mu. Tolong🙏 jaga dia dengan baik! Semoga hatimu, sama seperti Miranda Agustina, adiknya. Saya tau, selama ini ia sangat kesepian. Menikah dengan Rangga adalah hal yang bisa membuat ia tersenyum kembali, setelah kematian ibu dan adiknya!


"Miranda akan berusaha semaksimal mungkin om!" angguk nya merasa iba.


"Terima kasih banyak Miranda."


"Tolong, maafkan sikap Mas Rangga tadi!"


"Tidak apa-apa, saya memang pantas mendapatkannya!"


Rusdy mengambil sesuatu dari kantung sakunya.


"Jika Olivia sudah besar, tolong berikan kalung berlian ini untuknya?"


"Wah, indah sekali!" sejenak Miranda takjub.


"Itu warisan turun temurun dari ibu saya. Setelah pergi dari rumah, Tasya dan Miranda sudah tidak mau lagi memakainya!"


"Baiklah Om, insya Allah, Olivia bisa tumbuh sehat seperti bayi lainnya dan Mira yakin ia akan cantik sekali jika memakai kalung ini!"


***


Acara pemakaman segenap keluarga terlihat serentak memakai pakaian hitam.


Semua seperti mimpi, pemakaman kak Tasya diiringi dengan cuaca yang cerah dalam hembusan angin yang lembut, terlihat juga satu, dua dedaunan berguguran.


Sebuah waktu yang mengantarkan ku berdiri terpaku menyaksikan pemakaman sosok wanita hebat yang aku kagumi. Dibalik suksesnya karir seseorang, selalu saja ada cerita pahit yang menguras airmata. Dimana cinta, perjuangan, pengorbanan, menjadi alasan kuat untuk tetap bertahan.


Hari ini, hari dimana rasa kesedihan, kehilangan menyapa setiap hati yang berkesan, termasuk aku adalah Miranda. Aku juga tidak pernah tau, perjalanan hidup seperti apa lagi yang akan menghampiri ku.


***


Setelah proses pemakaman Tasya selesai. Rangga dan segenap keluarga lainnya menaburi bunga di atas makam Tasya Kamila.


Semua kerabat sudah terlihat meninggalkan pemakaman.


Miranda memperhatikan wajah serta mata yang tertutup oleh kaca mata hitam Rangga yang tetap berdiri terpaku di bagian Nisan kepala Alm istrinya.


"Sabar Bro!" Tepuk Vino dari belakang.


Miranda pun pergi meninggalkan mereka.


"Iyah, terima kasih banyak Vin, kamu sahabat yang banyak sekali membantu ku! Meski hanya sesaat bersama Tasya, tetapi cukup berkesan!" ucap Rangga memeluk Vino.


"Iyah, dulu aku juga merasa tidak percaya saat berdiri di hadapan makam Miranda adiknya dan kini semakin tidak percaya secepat ini Tasya juga menyusul?"


Rangga hanya menunduk.


"Tapi, kau sudah melakukan yang terbaik sebagai suami!"


"Iyah, semoga saja begitu?" jawab Rangga yang terlihat masih sedih.


***


"Mira!" Sapa Rianti ibu Rangga.


"Ibu?" Miranda langsung mencium tangan Rianti yang kembali menjadi mertuanya.


"Bagaimana rencana mu!"


"Alhamdulillah, Alm kak asya sudah mengatur semuanya Bu?"


"Syukurlah!"


"Ibu masih akan di Jakarta kan?"


"Tunggu keputusan Rangga seperti apa?"


"Ouh, begitu!"


"Apa kamu akan pindah ke rumah Rangga?"


"Sepertinya tidak perlu Bu? Jika Mas Rangga ingin bertemu Olivia, ia boleh datang!"


"Oh Iyah? Sepertinya tidak begitu juga!"


Sapa Intan menyambar pembicaraan mereka bak petir di siang bolong.


"Mentang-mentang Tasya memberi amanah besar kepada mu, jangan merasa besar kepala untuk mengambil keputusan seutuhnya pada Olivia. Dia juga milik kami terutama Rangga Ayahnya!" kata Intan dengan lantang.


"Bicara apa kamu, Olivia juga masih terlalu kecil!" Hentak Rianti meninggalkan mereka menghindari pertengkaran.


"Miranda, jangan pernah kamu berharap, Rangga akan menjadikan mu sebagai pengganti Tasya!" hentak Intan.


"Aku juga berharap seperti itu?" Jawab Miranda santai lalu melangkah pergi meninggalkan kakak Rangga itu.


"Heh😏 munafik loh!" Batin Intan yang masih membenci Miranda.


"Kak Vino! Boleh Mira ikut pulang!" sapa Miranda.


"Loh, bukannya kamu ikut Rangga!"


"Ada yang ingin Mira bicarakan?"


"Wow, tentu boleh sekali!" Sambut Vino kegirangan.


Melihat Miranda melewati mobil Rangga menuju mobil Vino.


Rangga sempat terbengong dengan sigap pria itu menarik tangan Miranda.


"Eh!😳"


"Bisakah kau menjaga diri, bahwa kau itu istri dari seorang lelaki!" Kata Rangga dengan wajah dinginnya.


"Hahaha, tidak akan terjadi apa-apa Bro! Miranda hanya ingin bicara dengan ku!" ucap Vino.


"Masuk!" Pinta Rangga.


Miranda masih terpaku dalam wajah masam.


"Aku katakan masuk!" ucap Rangga dalam wajah cemburu.


Dengan keterpaksaan akhirnya Miranda masuk ke dalam mobil Rangga.


keduanya terlihat diam saja.


***


Rangga dan Miranda masih disibukkan dengan acara duka cinta atas meninggalnya Tasya Kamila.


Waktu pun terus berlalu, Rianti dan Kasiman akhirnya kembali ke kampung halaman. Mereka tidak ingin mencampuri setiap apapun keputusan Rangga.


"Bu?" Sapa Miranda kepada Rianti.


"Iyah!"


"Ini ada sedikit uang, tolong berikan langsung kepada ibu ku, sampaikan kepadanya putrinya sangat merindukannya dan ingin sekali pulang."


Sontak Rianti langsung memeluk Miranda.


"Baiklah Nak! Simpan saja uang kamu, katakan berapa uang yang ingin kamu berikan kepada ibu mu?" ucap Rianti menyodorkan kembali uang yang sudah tersusun rapi di dalam amplop.


"Tapi Bu...!"


"Berapa pun uang yang Rangga berikan kepada mu tidak bisa membalas semua kebaikan kamu yang sudah sangat banyak kepada Ibu. Mira! Meski Rangga dan Intan membencimu tapi ibu tetap memandang mu adalah penolong di keluarga kami, mulai dari kau merawat ibu, Bapak, sampai saat ini kau rela menjadi istri kedua yang tidak resmi demi merawat Olivia. Cucu Ibu!"


"Mira sudah terhutang Budi kepada kak Tasya Bu!"


"Tidak, hatimu itu sangat tulus dan sangat polos. Berapa banyak orang yang diberikan kebaikan seperti kamu, tetapi tidak bisa membalasnya, berada di posisi kamu tentu tidak enak, akan semua menjadi serba salah!"


"Terima kasih Bu, jujur Mira sangat bahagia memiliki ibu mertua seperti ibu!" ucap Tangis Mira.


"Seng sabar yang Ndok! Rangga itu hatinya baik, hanya saja dia memang sedikit keras! Ibu tidak bisa mengomentari hubungan kalian hanya berharap kau bisa bersatu lagi dengannya?"


"Mira tidak pantas lagi Bu!"


"Hahahaha...apa nya yang tidak pantas, meski namanya Rangga Dewa tetapi dia bukan Dewa kan!"


Miranda hanya tersenyum.


"Yah, sudahlah, jaga diri kamu baik-baik, tetaplah menjadi istri sebagaimana posisi sosok istri yang baik. Ibu percaya kamu bisa merawat Olivia dan Rangga.


Miranda hanya mengangguk.


***


Rangga masih memilih banyak diam namun tetap fokus bekerja. Sementara Miranda juga berjuang terus mengikuti jadwal kuliahnya dengan sesekali melihat perkembangan Olivia di rumah sakit.


"Untung masih punya istri satu lagi!" batin Rangga dengan wajah tersenyum malu-malu, ia mulai mempersiapkan kamar bayinya juga mendekor ulang kamarnya menjadi lebih spesial untuk menyambut kedatangan Miranda.


***


"Lihat-Lihat si Tuan sangat bersemangat menyambut kedatangan putri dan Nona Miranda!"


"Iyah Benar!" gumam para pelayan berbisik-bisik.


***