
Sedikit tarik nafas, Rangga datang mendapati Mira yang siap menggendong Olivia.
"Mba yang manis, tolong dong seragamnya jangan di pakai, ganti dengan yang lebih bagus, orang-orang akan berpikir jika aku ini sedang selingkuh dengan seorang Babysitter! Please banget 🙏" Kata Rangga dengan senyumnya yang lebar dalam tatapan memohon.
"Aku tunggu di bawah yah!" Rangga menggendong Olivia yang sudah terlihat cantik menggemaskan. Bayi lincah itu tampak bahagia di gendong oleh Papanya yang keren.
Miranda yang terlihat tidak bergairah hanya terdiam dalam jiwa yang hilang, mati rasa akan cinta, ia memang sengaja memakai pakaian seragam Babysitter dan tidak ingin berdandan cantik, agar orang-orang tidak salah paham tentang dirinya saat jalan berdua dengan Rangga.
"Ada yang bisa saya bantu Nona!" Tegur Iroh yang tiba-tiba masuk ke kamar Olivia atas perintah Rangga.
*
Sambil menunggu Miranda, Rangga membawa Olivia melihat kolam ikan di rumahnya.
"Anak Papa ini memang paaaaaling cakep, perempuan tercantik di dunia, mama-mama saja tidak bisa menandingi kecantikannya, yah kan sayang, ummach!" cium girang Rangga sambil menggendong Olivia.
Sang Ayah menunjukkan ikan-ikan yang sedang liar berenang di kolam. Sontak Kaki balita kecil itu meronta-ronta kegirangan, seolah-oleh ia ingin masuk ke dalam kolam dan ikut berenang juga. Seketika lelah letih Rangga seharian penuh di kantor terasa hilang saat melihat senyum dan tawa Olivia.
"Aku sudah siap?" Kata Miranda dalam wajah dingin tanpa senyuman. Seketika itu pula Rangga berbalik, ia sangat suka dengan tampilan anggun Miranda yang memakai gaun gantung model putri duyung. Tubuhnya yang langsing sangat serasi dengan gaun mahal itu. Rambutnya terikat separuh, alis tebal alami dalam bibir tipis merah jambu. Janda yang masih terlihat ranum ataupun Ting-ting.
"Naaah! Begini kan cakep banget, ini baru bisa di bilang jalan dengan istri!" Batin Rangga dalam senyum tipisnya.
"Ayo sini sayang!" Kata Miranda.
Dalam jantung yang berdetak kencang, Rangga melangkah cepat mendekati Miranda.
"Maksud aku, Olivia?" Kata Miranda.
"Ouh Iyah!" Rangga menyerahkan Olivia kepada Miranda.
"Ayo!" Ajak Rangga.
"Non! Ini perlengkapan Olivia!" Iroh menghampiri mereka.
"Iyah terima kasih yah Bi!"
"Langsung taruh di mobil" perintah Rangga.
"Baik Tuan!"
Setelah memastikan semua telah berjalan dengan baik! Mobil Rangga perlahan bergerak meninggalkan rumah, diikuti pengawal Rangga dalam mobil yang berbeda.
"Semoga mereka bisa bersatu lagi, pasangan yang benar-benar sangat cocok, Tuan itu terlalu mencintai Miranda sehingga ia begitu sangat cemburuan jika Nona ada bersama pria lain!"
Seketika Iroh teringat kata-kata Rangga saat sedang keluar dari kamar Olivia.
*
"Iroh, jika kau ikut bersama kami, sebaiknya kau tidak usah lagi bekerja di rumah ini!"
"Baik Tuan!" senyum Iroh yang sudah sangat mengerti.
"Bantu Miranda memilih pakaian yang bagus dan buat dia cantik?"
"Siap Tuan!"
*
"Mau ajak jalan putrinya atau Babysitternya...hihi...dasar si Tuan!" Iroh tersenyum geli.
***
Di dalam mobil keduanya tidak bicara, Rangga tampak tegang karena sudah lama tidak satu mobil berdua dengan Miranda.
Hanya ada suara Miranda yang sedang bicara dengan Olivia.
"Halo...Olivia mau jalan-jalan dulu iyah! Lihat itu sayang!" suara merdu Miranda memperlihatkan Olivia pada lampu-lampu indah menghiasi kota, membuat pria itu senyum-senyum sendiri.
Bocah imut itu begitu senang akhirnya sang Papa memiliki waktu untuk dirinya.
*
"Dia menolak lamaran ku, apa karena aku tidak membuatkan suasana yang spesial."
"Semoga Vino enggak tau, jika aku sedang jalan dengan Miranda! Bisa makin dalam mati rasa Miranda kepadaku, jika kejahilan Vino mengirimkan kembali para perempuan centil untuk mengganggu kami."
Untung saja Olivia lahir dengan selamat, jika tidak, aku tidak punya alasan lagi bagaimana caranya mendekati Miranda kembali. batin Rangga berkata-kata dalam hatinya.
*
"Mau makan dimana?" tanya lembut Rangga.
"Mira sudah makan Mas!"
***
Sesekali Rangga melirik ke arah wajah Miranda yang manis, tawa senyumnya saat menggendong Olivia.
Keduanya kompak berjalan bersama. Olivia dalam gendongan Papanya. Mata bayi cantik itu terlihat kesana kemari.
Sebelum menuju tempat wahana bermain para balita dan anak-anak Rangga memilih makan malam di resto Mall dalam suasana lokasi duduk yang santai untuk keluarga. Gemerlap Mall yang indah melepas penat ieduanya.
Duduk mereka pun terpaksa harus berdekatan karena Rangga ingin sesekali memangku Olivia.
"Beneran kamu tidak mau makan?" tanya Rangga setelah menyantap makan malam.
"Makan buah saja!" Miranda mengambil buah pisang saat Olivia duduk dalam pangkuan Rangga yang sedang minum susu.
"Eeeh, jangan makan pisang?" Tegur Rangga dengan cepat.
"Memangnya kenapa?" Tanya Miranda merasa bingung.
"Kurang bagus untuk perempuan single, Makan apel saja!" Rangga menukar pisang dengan buah apel.
Tak ingin berdebat, Miranda pun makan apel meskipun sebenarnya ia ingin makan pisang.
"Aku enggak kuat jika melihat kamu makan pisang di hadapan ku, bisa-bisa pisang ku yang di bawah nangis darah!" Batin Rangga senyum cengengesan di depan Miranda.
Setelah makan. Keduanya memasuki wahana khususnya bayi dan balita yang seru untuk menghibur Olivia. Bukan main girangnya bayi cantik itu melihat balita yang lain sedang bermain ceria. Meski Rangga juga memberikan fasilitas wahana bayi dan balita di rumahnya.
Rangga dan Miranda juga kompak menghibur Olivia. Tanpa gengsi dan Malu keduanya ikut bermain wahana anak-anak seperti naik kereta api, prosotan, lempar-lempar bola, main mobil an, demi menghibur sang buah hati, tawa.
Senyum Olivia dan Miranda menjadi kebahagiaan yang paling berharga bagi Rangga. Ia pun mengabadikannya di ponsel pribadinya.
"Inilah kebahagiaan ku yang sesungguhnya!" Batin pria itu.
"Mas kamu lucu banget pakai topeng hello Kitty!" kata Miranda sambil tertawa cekikikan, membuat wajah Rangga memerah.
Mereka tertawa bersama-sama.
Rangga juga mencoba berbagai wahana lucu-lucu untuk menghibur dua perempuan itu.
Keduanya juga mencoba cemilan enak disana.
"Ayo Mas, kita coba makanan itu!" Tanpa ia sadari Miranda menarik tangan Rangga
"Maaf!" ucap Miranda baru menyadari.
"Tidak apa-apa!" Jawab cepat Rangga.
saat pria itu ingin memegang kembali tangan Miranda, tangan wanita itu sudah menjauh, membuat Rangga hanya bisa mengigit bibir bawahnya.
***
Pukul 21.00 Malam hari, Olivia sudah tampak menggosok-gosok matanya, ia terlihat sudah mengantuk.
Sejenak Mereka berhenti tepat di toko boneka karena Olivia ingin dalam gendongan Miranda, wanita desa itu sempat melirik melihat deretan boneka besar nan cantik di toko itu dan Rangga pun memperhatikannya. Miranda sangat suka merapikan lemari boneka Olivia di kamarnya.
Melihat Miranda kerepotan membawa tas bayi dan tas perlengkapan bayi, Rangga pun dengan sigap mengambil semua tas yang ada di tangan Miranda.
"Itu Tas Mira Mas!"
"Yah sudah, biar aku yang bawa!" jawab Rangga merasa tidak malu membawa tas wanita di tengah keramaian orang. Rangga benar-benar bersikap lembut untuk Miranda.
***
Di dalam mobil, tampak Olivia sudah tertidur pulas.
"Apa kamu perlu seorang Asisten?" tanya Rangga.
"Tidak usah Mas, Bi Iroh saja!"
"Ouh Iyah, apakah itu gaji untuk 1 tahun?" tanya polos Miranda.
Rangga hanya tersenyum-senyum.
"Yah satu bulan dong!" jawab Rangga.
"kenapa banyak sekali?"
"Dulu aku memang pria yang sangat pelit di mata mu, karena jujur saat itu uangku benar-benar tidak ada, jika pun ada. Aku harus beli sebatang rokok, secangkir kopi dan bensin motor. Itu semua untuk modal melukis disain dan ngojek. Sekarang, aku sudah punya uang yang banyak dan aku tidak ingin kau mengatakan aku pelit, untuk merawat Olivia dari lahir, uang segitu tidak ada apa-apanya!" kata Rangga membuat Miranda terdiam.
"Terima kasih yah Mas!" jawab Miranda tak banyak bicara lalu memejamkan matanya, ia terlihat begitu lelah.
Tiba-tiba Rangga menghentikan mobilnya di pinggir taman, dengan wajah bahagia ia menatap lama Miranda yang tertidur sambil memeluk Olivia.
Kemudahan lelaki itu merebahkan sejenak tubuhnya sambil menatap bintang di langit.