MIRANDA

MIRANDA
Expart-MRD



Tanpa terasa tiga hari pun berlalu. Sania kembali pulang dengan perasaan bahagia. Ia dan Antonius mulai mencari-cari rumah sewa via online di daerah Provinsi Kalimantan, lokasi yang tidak jauh dari tempat kerja Sania yang baru.


"Apa Ayah sudah memberitahu kepada keluarga yang lain, kita akan pindah?" tanya Sania.


"Sudah Nak!" raut Antonius yang terlihat datar.


Sania mengetahui tidak ada satupun keluarga yang respon dengan kondisi ekonomi mereka yang sedang kesusahan, padahal Antonius sering membantu keluarganya.


"Dalam kondisi sulit begini, tentu tidak ada teman dan saudara yang mendekat, jangankan hanya sekedar bertanya kabar, melihat wajah Sania saja mereka seperti melihat hantu, penuh dengan catatan hutang, mereka takut kekayaannya akan habis karena menolong kita!"


(Sania memiliki Tante dan Paman dari pihak keluarga Ayah dan ibunya yang kehidupannya sudah mapan)


"Sudahlah Nak, minta pertolongan kepada Tuhan, bukan dari orang lain!"


"Iyah Ayah, meski mereka menganggap kita ada ataupun tidak, itu tidak masalah bagi Sania!" ucap sang putri yang pendiriannya sangat tegar.


"Ayah punya kabar baik!"


"Apah itu Ayah!"


"Ternyata tanah milik kakak mu yang ada di daerah Bekasi, ada yang berminat membelinya meskipun dengan surat yang tidak lengkap. Pembeli itu sudah dua minggu yang lalu mencari-cari alamat kita, mereka datang menjumpai Ayah di rumah ini, saat kamu sedang pelatihan."


"Benarkah Ayah!" raut sumringah Sania.


"Tanah itu di hargai dengan harga sangat tinggi, sebesar 400 juta Nak, Bapak tidak menyangka ada yang membeli semahal itu. kita bisa melunasi hutang rentenir sebelum berangkat ke Kalimantan!" ucap Antonius dengan mata berkaca-kaca.


"Iyeeeeee" Sania langsung melompat kegirangan, memeluk Ayahnya tercinta.


"Hahahaha!" tawa lepas Antonius penuh syukur.


"Terima kasih Tuhan, KAU memberi jalan untuk kami!" batin Sania.


"Tapi apa Ayah yakin, kak Juno pernah membeli tanah di daerah Bekasi itu!"


"Yakin Nak! Ayah tau soal tanah itu!"


"Syukurlah, aku takut ini datang dari Vino, dia itu sangat cerdas mengurus hal administrasi!" batin Sania yang tidak ingin tergantung dengan pria itu.


***


Pukul 10.23 WIB pagi menjelang siang di Kediaman Kantor Vino.


"Aku akan membuktikan kepada kamu Sania, jika aku benar-benar serius mencintaimu dan akan segera menikahi kamu?" batin Vino duduk di kursi kerjanya hanya di temani segelas kopi hangat.


"Aaah!" sambil memejamkan mata, Vino menyandarkan kepala di kursi empuknya itu.


"kangen dengan bubur buatannya, juga senyumannya, aku ingin mengulang bercinta lagi bersamanya!" Vino tersenyum manis.


Pria itu terhentak bangkit saat anak buah mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Bos! Semua sudah beres! Tanah di daerah Bekasi yang pernah sempat di beli oleh Pria bernama Juno itu, sudah kami beli dengan harga tertinggi!" menyerahkan identitas kepemilikan yang belum lengkap.


(Tanah yang tidak sempurna kejelasan suratnya sehingga tidak ada yang berani membelinya)


"Bagus?"


"Kalian tidak mengatakan jika semua ini karena perintah ku!"


"Tidak Bos! Bapak Antonius tidak mengetahuinya!"


"Terima kasih!"


"Dengan begitu kau bisa melunasi hutangmu sayang!" batin Vino yang belum mengetahui penempatan kerja Sania adalah pulau Kalimantan.


***


Mendadak juga sore itu teman-teman Sania yang iri dan suka menindas dirinya saat bekerja di Rumah Sakit, datang beramai-ramai ke rumah perempuan itu untuk meminta maaf dengan membawa bingkisan makanan serta sejumlah uang yang pernah mereka ambil tanpa memberikan haknya kepada Sania.


Mereka datang meminta maaf kepada Sania bahkan ada yang sampai menangis.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Sania kebingungan.


Tiba-tiba anak buah Vino sudah berdiri merekam dan mengawasi mereka.


"Sania tolong maafkan kami!"


"Kami mengaku salah kepada mu, dan ini kami kembalikan semua uang yang pernah kau bayar untuk menggantikan absen mu yang sebenarnya kami tidak menggantikannya. tolong maafkan kami Sania, jika kau ingin kembali bekerja lagi, kami siap membantu mu!" ucap salah satu di antara mereka.


"Apa semua ini kalian lakukan hanya karena di bawah tekanan seseorang (Vino)!"


"Iyah, tapi kami mengaku salah!"


"Aku sudah memaafkan kalian, tapi aku tidak berminat lagi kembali bekerja di sana, kalian adalah teman yang tidak akan pernah ada disaat aku butuhkan!" ucap tegas wanita itu.


Merekapun pergi setelah mendapatkan maaf dari Sania.


**


Di malam hari di sudut ruang.


Sania menatap uang yang berisi amplop dari temannya itu.


"Apa semua ini karena ulah Tuan mu itu, Vino?


"Sepertinya begitu Ayah!"


"Apa Ayah sudah makan!"


Sania mengalihkan pembicaraan.


"Sudah Nak!"


"Sania akan ambilkan obat Ayah!" wanita itu bangkit dari duduknya.


" Aku yakin dia menyukai Sania dan pria itu terlihat baik tapi mengapa putri ku ini, masih saja mengagumi Raka!" batin sang Ayah.


***


Vino yang terlihat sibuk di kantornya harus pulang sedikit lebih malam, dari atas jendela gedung kantor Vino, pria itu merehatkan diri dengan satu batang rokoknya, sambil menatap indahnya lampu-lampu pemandangan kota dan lalu lintas jalan raya yang padat.


"Dulu aku juga terlambat mencintai Miranda dan kini aku tidak ingin terlambat mencintai Sania!" ucapan kata hati Vino.


***


Kediaman rumah Rangga dan Miranda.


Terlihat Olivia sedang belajar berjalan dan sedang lincah-lincah di usianya yang sebentar lagi akan genap 1 tahun.


Miranda yang sedang menjalani masa kehamilan muda terlihat lelah.


"Nona! Jangan terlalu capek, istirahat lah, saya akan pantau Olivia!" ucap Iroh sang kepala pelayan.


"Terima kasih yah Bi, Apa Babysitter untuk Olivia sudah ada?"


"Masih di cari Nona, Tuan benar-benar selektif!"


Terdengar suara mobil Rangga pulang.


"Itu pasti Mas Rangga pulang!" Miranda berjalan mendapati sang suami.


Rangga terlihat gagah dengan pakaian kantornya dan Miranda sudah berdiri menunggu kedatangan suami.


"Mas Mira kangen!" ucap manja sang istri.


"Pasti ada maunya kan!" kata Rangga mencubit mesra hidung Miranda.


"Enggak ah!"


Rangga mengandeng mesra sang isteri.


Pria itu ingin mendapati Olivia.


"Bersihin dulu badannya!"


"Oh Iyah lupa!"


"Mau makan apa Mas!"


"Aku, makan kamu aja deh!"


"Aduh!" Miranda tiba-tiba memegang perutnya.


"kenapa sayang?" Rangga langsung terlihat khawatir.


"Wajah kamu pucat, pasti kamu gendongan Olivia kan!" tebak Rangga dengan sigap menggendong Miranda ke dalam kamar dan memerintahkan Dokter khusus menangani kandungan Miranda agar segera datang.


"Mira enggak apa-apa kok Mas!" rengek manja wanita itu.


"Jangan bilang enggak apa-apa, kamu sudah pernah keguguran!"


Miranda hanya terdiam.


***


Sebelum melakukan Pra lamaran, Melani beserta ajudannya berangkat sendiri menuju rumah Sania malam hari, wanita itu ingin menyelidiki terlebih dulu, seperti apa hubungan percintaan putranya dengan wanita yang dulu menjadi tahanan sang anak.


"Apa kamu tidak salah ini rumahnya!" tanya Sania kepada sekretaris pribadinya tepat berada di depan rumah Sania.


"Tidak salah Nyonya!"


"Terima kasih!"


Wanita berusia hampir mencapai kepala lima itu turun dari mobil dengan gaya elegannya.


**


"Sepertinya ada yang datang Nak!" kata Antonius kepada putrinya.


langkah dr muda itupun berjalan meraih gagang pintu rumahnya.


Saat membuka pintu rumah.


"Apa kabar Sania!" senyum Melani.


"Mami....!" Sania sempat terkejut.


Melani hanya tersenyum.


"Ba...Baik Mami, mari silahkan masuk!" Sania mempersilahkan dengan lembut.