
Satu Minggu berlalu, Miranda belum juga pulang ke rumahnya. Tampak Rangga terlihat sudah uring-uringan akibat tidak mendapat sentuhan cinta dari istrinya. Ia juga merindukan Miranda.
Diam-diam Karina memaksa Miranda agar mau berkenalan dengan Damar. Damar mengaku seorang duda yang berprofesi sebagai Manajer, sementara Karina bekerja menjadi cleaning servis pada sebuah perusahaan swasta. Damar terlihat sosok pria yang sangat ramah dan menyenangkan.
***
Minggu siang.
Terlihat Rangga baru saja pulang ngojek, ia berencana membawa Mira berkeliling dengan sepeda motornya di sore hari.
***
"Tlilit!"
"Yank! Apa ibu belum sembuh juga? Kapan kamu pulang? Aku kangen nih!" ucapan manja dan lembut Rangga.
Mendengar perkataan Rangga, Mira terpaku diam sambil berpikir!
"Mir? Kok kamu diam saja?"
"Mas, Sebaiknya kita pisah saja yah! Mira enggak mau pulang lagi, terserah Mas mau cari wanita lain juga boleh!" ucapan Mira itu membuat Rangga serasa mendengar petir di siang bolong.
"Apa sih yang kamu katakan!"
"Trup!" Mira langsung memutus ponselnya.
"Huuuft! Ada apa dengannya? Ini enggak benar, aku harus segera kesana!" Kata Rangga bergegas menghidupkan sepeda motornya melaju kencang menuju rumah mertuanya.
Miranda sudah mengerti reaksi Rangga, ia pasti akan datang menjemputnya, sementara Narwati sedang tidak di rumah. Dengan sigap Mira menelpon Karina, wanita itu pun langsung menemui Damar, agar mereka pergi ke rumah Miranda.
***
"Tok...tok...tok..."
"Assalamualaikum!" Suara lembut Rangga yang sangat segan untuk memasuki rumah mertuanya.
Sedikit lama Rangga menunggu. Akhirnya Miranda membuka pintu dengan wajah cemberut berdiri mematung.
"Kamu kenapa sayang, lagi datang bulan yah?" Kata Rangga sambil tersenyum manis.
"Seperti yang aku katakan tadi Mas! Aku tidak ingin pulang lagi, akhiri saja hubungan ini!"
Dengan lembut Rangga mengambil tangan Mira.
"Ayo kita pulang, kita jalan-jalan beli martabak kesukaan kamu!" Rangga mulai terlihat memaksa menarik tangan Mira.
"Mas, lepasin! kamu enggak ngerti yah! Aku enggak mau pulang!" Hentak Mira mulai emosi.
"Mira, aku ini suami kamu! Kalau aku bilang pulang, yah pulang!" Hentak balik Rangga.
"Aku tidak ingin bersamamu lagi Mas! Aku capek, aku bosan, kamu itu enggak punya uang buat nafkahi aku, aku juga tidak kamu bolehkan kerja, aku sangat terkekang!" Kata Mira dengan berlinang air mata.
"Hiks...Hiks...Hiks...!"
"Sayang! Aku tau kau sangat lelah, tolong sedikit lagi kau lebih bersabar, disain ku akan segera laku, aku percaya itu!"
"Mas! Aku tidak mengerti, apa kau benar-benar sayang kepadaku atau tidak. Selama aku menikah denganmu yang aku rasakan hanyalah kesedihan, aku juga tidak tau apa kau benar-benar berusaha sedang mencari nafkah atau hanya main game di warung?"
"Hah!" Senyum kepahitan Rangga merasa tidak habis pikir dengan tuduhan Miranda.
"Mira, andai saja kau tau betapa men-disain interior, bangunan itu sangat sulit. Aku yakin kau akan menangis melihatku. Semua sel-sel saraf ku sudah ku paksa bekerja agar aku bisa membuat sebuah karya yang menghasilkan uang! Jika pun aku bermain game itu hanya sebentar saja, hanya mengembalikan kesegaran otakku.
Aku sadar, aku adalah pria bajingan, aku ini sangat miskin, aku belum bisa menafkahimu secara layak. Tapi aku tidak pernah membohongimu dan akan terus berjuang untuk membahagiakanmu, Mira! Kedua orang tuaku menjamin kebutuhan kita selama aku belum memiliki penghasilan, aku sudah bicara kepada kedua orangtuaku dan semua uang yang mereka berikan itu menjadi hutang bagiku!"
Demi cinta, seketika itu juga Rangga menurunkan derajatnya sebagai seorang pria juga suami, ia berlutut di hadapan Miranda sambil memegang lembut kedua tangan istrinya, lalu mendongakkan wajahnya menatap Mira.
"Mira Aku sangat mencintaimu, bahkan lebih dari diriku! Tolong bertahan lah sebentar saja, jangan tinggalkan aku, aku mohon! Aku mengerti apa yang kau rasakan, bantu aku agar aku cepat sampai ke puncak," ucapan sedih Rangga yang terus menatap Mira, namun wanita itu enggan melihatnya.
Seketika itu Kirana datang bersama Damar.
"Mira! Kau baik-baik saja!" Kirana Langsung memeluk Miranda.
"Rangga, kau jangan memaksa Mira, dia ingin berpisah denganmu!" Hentak Karina.
"Heh, jika sudah tidak bisa menafkahi istri, sudah, lepas saja! Kasih kesempatan buat pria lain untuk membahagiakannya!" Sambar Damar, semakin membangkitkan keganasan Rangga yang sudah mengepal kuat tangannya.
"Bacot!" Teriak Rangga siap melepas tinjuan nya yang paling keras, secepat kilat Damar menghindar.
Seketika itu Miranda dan Karina menjerit histeris ingin menghentikan aksi mereka.
"Ada apa ini yah Allah! Narwati yang terlihat sudah pulang, bingung mengapa di rumahnya tiba-tiba terjadi hura hara yang menggemparkan.
Setelah Narwati mengetahui duduk permasalahannya, sontak ibu Miranda mengusir Damar dari rumahnya, lalu menghentak Karina.
"Karina, kamu punyak otak atau tidak, berani-beraninya kamu memperkenalkan Mira dengan pria lain, sementara dia masih memiliki suami?"
("Alhamdulillah ternyata ibu mertuaku masih berpikir waras" batin Rangga)
"Mba! Rina cuma hanya ingin lihat Miranda senang!"
"Diam!!! Dengar yah! Sekali lagi kamu ikut campur urusan keluarga Mira, Mba akan bilang ke Agus agar kau juga di ceraikan?"
"Hah! Sontak Karina terdiam!"
"Ma...maaf Mba!"
"Sudah pergi kamu!" Hentakan Narwati sangat tegas.
Seketika Karina bergegas pergi dengan sepeda motornya. Rangga merasa lega dengan sikap bijaksana sang mertua.
"Ayo masuk Nak Rangga! Maafkan kelakuan Bude Mira!"
"Iyah Bu!"
"Buatkan teh untuk suamimu," jewer kecil Narwati kepada Miranda.
Dengan berat hati Miranda membuatkan teh untuk Rangga. Kemudian, ia langsung masuk ke dalam kamar.
"Mira!" Panggil Narwati.
"Sudahlah Bu! Tidak apa-apa, jika dia ingin masih tinggal disini, tidak masalah!"
"Maafkan dengan sifat kekanak-kanakan Mira yah Rangga, usianya masih 19 tahun, dia masih terlalu labil!"
"Iyh Bu, Rangga yang seharusnya minta maaf, sudah memperkosa Mira dan sampai sekarang, belum juga bisa membahagiakannya, dulunya Rangga menikahi Mira karena terpaksa tapi sekarang Rangga sudah jatuh cinta kepada Miranda Bu!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca
Narwati terlihat memahami apa yang dirasakan oleh menantunya itu.
Keduanya bicara panjang lebar secara empat mata, Rangga menjelaskan semua apa yang terjadi dalam kondisi rumahnya tangganya, sehingga sang ibu mertua semakin paham karena sudah mendengar dari kedua belah pihak. Ia juga menunjukkan gambar disain yang sedang berusaha dia jual di pasaran online baik publish secara Nasional maupun go Internasional melalui ponsel.
"Rangga bersumpah Bu! Jika aku berhasil, aku akan bahagikan Mira, menjadikan ia perempuan yang paling bahagia di dunia ini!"
"Rangga, Ibu paham semua apa yang kamu katakan dan percaya dengan semua janjimu, ibu juga yakin kau akan sukses, entah itu bersama Miranda ataupun wanita lain, semua hanya tergantung takdir.
Tidak henti-hentinya ibu selalu berdo'a, agar rumah tangga kalian tetap bahagia jauh dari kata perpisahan. Kehidupan rumah tangga memang akan selalu di hampiri ujian yang berat. Tapi akan terlalui Jika keduanya saling berpegangan.
Saat ini, kau sedang di uji dengan perjuanganmu. Jujur, Ibu memang kecewa melihat sikap Miranda yang ingin melepas tanganmu saat dimana kau sedang dalam berjuang keras.
Percayalah, Ibu sudah menasehati Miranda, Ibu tidak mendukungnya agar bercerai. Tapi Ibu takut memaksanya, karena ia sudah pernah mencoba ingin bunuh diri, Miranda tipe orang suka memendam masalah.
Besok, masalah ini kita bicarakan lagi dengan kedua orang tuamu. Apapun keputusannya, itu lah yang terbaik, Ibu berharap Miranda masih bersabar menjalani kehidupan rumah tangga bersamamu!"
"Terima kasih yah Bu! Rangga senang sekali ibu bisa memahami kondisi ku. Oh Iyah! Apakah Ibu sudah sehat!"
"Alhamdulillah, sudah!"
"Kalau begitu, Rangga permisi yah Bu," pria itu segera bangkit dengan raut wajah lesu.
"Baiklah! Hati-hati yah Nak di jalan!"
"Assalamualaikum!"
"Wa'alakumsalam!"
***